Irama SMA

Irama SMA
Episode 22


__ADS_3

Sore ini seperti biasa Altar hanya nongkrong di warung biasanya bersama Mario. Sudah sejak tadi selesai jam pelajaran pertama Altar memutuskan untuk meninggalkan kelas dan memilih untuk diam di warung dan setelah jam pelajaran yang di adakan setengah hari Mario juga ikut menyusul Altar.


"Al, jadikan ke rumah si Kelvin nanti malem?" Ajak Mario


"Ayo" jawab Altar sambil meneguk kopinya.


"Btw Al Lo beneran suka sama Laisa?" Tanya Mario


"Menurut Lo?" Tanya Altar.


"Walaupun gue sahabat Lo, dalam urusan hati gue gak bisa nebak-nebak, soal itu Lo terlalu abstrak gak bisa gue prediksi. Soalnya yang udah-udah juga Lo jatohnya gak pernah serius" kata Mario. Karena dulu Altar memang sempat mempunyai kekasih dan hanya di jadikan bahan taruhan saja.


"Jadi menurut Lo kali ini gue serius?"


"Jadi kali ini juga nggak?"


"Eeeeh gue nanya, malah nanya balik."


"Oh, yaaa udah di bilangin gue gak tau"


"Gue gak terlalu bisa nyimpulin soal perasaan gue ke Laisa tuh bener apa nggak, karena gue emang biasa jail kan Lo tau sendiri, bukan cuma ucapan tapi juga tingkah gue. Tapi sejauh ini gue nyaman sama dia, gue bisa khawatir sama dia, dan terpenting jantung gue bisa jadi gak normal kalau sama dia dan Lo tau sendiri gue gak ada taruhan apapun kan soal ini buat dia. Lagian gue udah gak mau lah permainin anak orang kek dulu-dulu. Jadi di bilang serius nggak juga, dibilang nggak serius juga nggak juga" jawab Altar banyak.


"Gak laki ah Lo, kalau serius ya serius kalo nggak yang nggak.


"Perasaan asli tuh gak sesederhana itu anjirrr. Lagian itu anak orang gue mesti hati-hati. Udah gue bilang gak mau kaya dulu lah kalau urusannya perempuan."


"Iya gue tau, tapi menurut gue udah deh Lo sama Laisa aja jadian, resmiin" kata Mario lagi.


"Ya gak secepat itu juga anjirrr, semua orang juga butuh proses, kalau gue udah bulat pengen Laisa, gue bakal bawa dia dulu ke kehidupan gue, biar dia tau gue yang sebenarnya dan bisa nerima gue nantinya dan sekarang gue belum lakuin hal itu"


"Oke oke. Tapi Lo pernah jujur gak soal satu hal aja gitu, tentang pribadi Lo ke Laisa apa aja"


"Soal Kelvin yang di keroyok udah"


"Lengkap sama penyebab nya?"


"Nggak"


"Ya berarti belum kalau gitu."


"Aaaaah udah lah gue mau ngambil tas dulu ke kelas sambil cek Laisa latihan" kata Altar.


"yaudah gue balik yah, kalo jadi ke rumah si Kelvin kabarin gue" kata Mario dan Altar setuju lalu pergi.


Altar berjalan dengan dua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya dengan pikiran melayang jauh, dari mulai Laisa, obrolan sebelumnya dengan Mario soal Laisa dan juga sikap Laisa sejak Altar yang memutuskan belum siap untuk cerita semuanya walaupun pada kenyataannya Laisa sudah tau.


"Al" teriak seseorang di belakangnya itu Bintang yang kemudian berjalan setengah berlari menghampirinya.


"Apaan kak? Mau ikut balik? Gak bisa gue sama Laisa sorry" kata Altar langsung.


"Kampret" Bintang mengayunkan kakinya ke arah kaki Altar pelan. "Laisa udah balik, gue yang nganter dari tadiiiii banget" kata Bintang.

__ADS_1


"Waaaah Lo pagar makan tanaman Lo" kata Altar dengan nada kecewa.


"Basi Lo basi. Laisa pingsan tadi, jadi gue anterin dia balik ditemenin si Zidny temennya." Kata Bintang.


"Pingsan? Gara-gara?" Kata Altar kaget.


"Mau ke rumahnya atau ngobrol sama gue"


"Thanks deh kak gue cabut" kata Altar lalu pergi terburu-buru.


"Altar Altar" kata Bintang


❤❤❤


"Yaudah kalau gitu aku mau pamit yah" kata Zidny.


"Makasih yah Nak Zidny udah nganterin Lais" kata Yuni.


"Sama-sama Bun" jawab Zidny.


"Hati-hati Yah Zid" kata Laisa dan beranjak untuk mengantar Zidny ke depan.


Zidny sudah pergi dengan motornya, tinggal Laisa yang kini hendak berbalik untuk masuk tapi tiba-tiba satu motor masuk ke halaman rumahnya lalu turun seseorang yang tentunya Laisa kenal.


Laisa hanya diam melihat ke arah laki-laki yang sekarang berjalan menghampirinya.


"Kenalin, Saya Altar" kata Altar.


"Abisnya kamu bengong liat saya, kek gak kenal aja" kata Altar.


"Ngapain?" Tanya Laisa datar.


"Boleh masuk dulu nggak? Kebelet mau numpang ke kamar mandi" katanya nyengir dan dengan spontan Laisa tersenyum lalu berjalan masuk diikuti Altar.


Sesampainya di dalam Yuni dan Luna tentu saja ada, tapi dengan polosnya Altar hanya nyengir tidak berkata apa-apa.


"Bunda, Luna, saya gak dulu nyapa, saya kebelet banget" katanya hanya itu yang di ucapkannya lalu pergi ke arah kamar mandi yang sudah di tunjukan Laisa.


"Abang-abang aneh" cibir Luna.


"Itu dia kenapa Lais?" Tanya Yuni sambil terkekeh


"Udah lah Bun biarin" kata Laisa dengan mimik aneh.


Beberapa menit kemudian Altar datang dengan menundukkan wajahnya.


"Bunda, Luna saya minta maaf" kata Altar


"Lah?" Yuni malah tertawa "Udah gkpp duduk dulu" kata Yuni


"Lalu altar duduk setelah bersalaman kepada Yuni"

__ADS_1


"Kamu sengaja kesini?" Tanya Yuni.


"Nggak cuma kebelet aja" kata Altar datar.


"Ya ampun Bang Altar gemesin banget si" kata Luna.


"Becanda Bun, iya sengaja kesini mau jenguk Laisa." Katanya.


"Oke oke yaudah Bunda ambilin dulu minum" kata Yuni lalu pergi dan tak lama kembali.


"Makasih Bun" kata Altar.


"Yaudah, ngobrol-ngobrol aja dulu Bunda mau mandi dulu nih gerah" kata Yuni dan Altar mengangguk.


"Luna mau nge charger handphone dulu ah" kata Luna yang pergi ke kamarnya dan kini menyisakan Altar dan Laisa.


"Emmmh Lais tadi pingsan" tanya Altar.


"Iya"


"Kenapa? Kamu sakit?" Tanya nya lagi.


"Enggak"


"Terus kenapa pingsan"


"Gak tau"


"Tapi sekarang ngerasa baik-baik aja kan?"


"iya"


"Oh iya, syukur deh" jawab Altar dengan perasaan bingungnya. dia bukan tipe orang gugup dan selalu bisa menghidupkan suasana tapi kali ini dia benar-benar buntu tidak tahu harus bagaimana. perasaannya campuraduk dan tidak tahu dimana perasaannya yang nyata. Saat ini dia bukan altar yang seperti biasanya dia seperti makhluk kikuk karena memang di sisi lain Altar sadar satu hal dari sekian rasa yang sekarang menghampiri dadanya bahwa Laisa ingin tau lebih jauh tentang dirinya.


"Emmh Lais marah sama saya?"


"Gara-gara?"


"Nggak tau"


"Ya terus kenapa nanya marah apa nggak kalau gak tau?"


"Nebak aja" jawab Altar. "Yaudah berhubung saya udah tau kamu baik-baik aja sekarang saya pamit yah"


"Iya, hati-hati"


"Bilangin ke Bunda saya pamit"


"Iya" jawab Laisa dan Altar pergi.


Laisa tetap teguh pada pendiriannya karena ingin memastikan apakah Altar akan jujur padanya atau tidak. Jika Altar jujur Laisa akan merasa yakin untuk terus bersama Altar tapi sampai hari ini Altar belum juga jujur dan itu membuat Laisa kecewa dengan harapannya sendiri.

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2