
Kurang dari 10 menit. Bintang sudah sampai berjalan setengah berlari setelah turun dari taxi. Laisa dan Zindny langsung berdiri saat Bintang menghampiri keduanya.
"Kak Bintang." Kata Laisa.
"Kamu tenang dulu. Jangan panik." Kata Bintang menepuk bahu Laisa.
"Kunci mobil?" kata Bintang pada Zidny.
"Ini."
"Kalian tunggu di sini. Aku ngambil mobil dulu." kata Bintang dan keduanya mengangguk.
Bintang berlari menuju parkiran, untuk mengambil mengambil mobilnya. Semua orang yang menyapa nya dia abaikan karena terburu-buru.
"Bin." Panggil Neta yang melihat Bintang berlari. Bintang tidak memperdulikannya.
"Kenapa sih tuh orang. Bintang. Woy." kata Neta menghampirinya.
"Hemhh? apaan?" Tanya Bintang yang mendapat pesan masuk.
"Lo kenapa sih? Kayak di kejar setan tau gak?"
"Aah, Neta."
"Paan?"
"Lo telpon Kakak Lo sekarang, atau temennya atau siapapun yang biasa sama dia, tanya di mana kakak Lo sekarang, terus kabarin ke gue. Altar Kelvin sama Mario kayanya pergi buat ketemu kakak Lo. Lo tau kan apa yang bakalan terjadi kalau Altar mau nemuin Kakak Lo?" Tanya Bintang.
"Apa yang..."
"Udah nurut sama gue. Gue cabut duluan." kata Bintang dan pergi.
"Sial. Ada apa lagi sih." keluh Neta sambil mengeluarkan handphonenya dan menghubungi kakaknya.
"Ayo." kata Bintang pada Laisa dan Zidny.
Laisa dan Zidny segera masuk dan mobil segera melaju.
"Jangan panik. Altar udah biasa kayak gini. Santai aja, dia gak bakalan kenapa-napa." kata Bintang pada Laisa yang duduk di sampingnya.
"Iya Sa, tenang aja. Semuanya bakal baik-baik aja ko. Pasti." kata Zidny dari belakang.
"Aku takut Altar kenapa-napa. Ini semua soal aku dan kejadian malam itu." Kata Laisa pada Bintang.
"Iya aku juga takut Altar kenapa-napa. Jadi sebenarnya Altar tau dari mana?" Tanya Bintang dan Zidny segera menjelaskan semuanya. Semua yang dia tahu dari Mang Rohman.
"Gitu Kak. Kita juga gak tahu bakal kek gini."
__ADS_1
"Udah gak apa-apa. Toh emang kalaupun gak sekarang Altar pasti tetep denger. Altar tuh orang yang paling Anton benci. Menurutku ini bagus, biar jadi pelajaran buat si Anton, biar kamu gak di gangguin lagi." kata Bintang pada Laisa dan Laisa hanya diam.
"Jadi sekarang kita mau kemana Kak?" Tanya Zindny.
"Kita ke tempat tongkrongannya Anton dulu, semoga kita dapet petunjuk. Dari tadi aku udah telpon Kelvin Mario dan beberapa temen Altar dari sekolah lain yang aku kenal dan sering ikut Altar kalau ada yang kayak gini, tali semuanya nihil. Gak ada satu pun yang di angkat." kata Bintang.
"Aku boleh pake handphone Kak Bintang? Biar aku telpon mereka ulang." kata Laisa.
"Boleh." Kata Bintang dan menyodorkan handphonenya. "sandi nya Kamu." kata Bintang.
"Aku?" tanya Laisa polos dan Bintang tersenyum.
"K A M U." kata Bintang lagi.
"Oooh." jawab Laisa dan mulai membukanya tapi benar, tidak ada jawaban dari satu orang pun.
dreeeddd. dreeeddd.
Neta calling...
"Kak Neta." kata Laisa.
"Angkat. Loud speak. Sorry." Kata Bintang dan Laisa mengangguk.
"Hallo Net."
"Jalan. Gue mau ke tempat tongkrongannya Kaka Lo. Udah ada kabar?"
πMereka bener-bener berantem.
Suara Neta terdengar lemas. Begitupun dengan Laisa.
πLo langsung ke rumah sakit aja. Altar sama Anton ada di sana.
Kalimat itu membuat Laisa semakin panik. Air matanya mulai menetes satu persatu sambil menatap Bintang yang membagi matanya dengan jalanan.
Zidny mengelus bahu Laisa dan perasaan Bintang jadi tidak karuan melihat Laisa yang menangis di depan matanya sendiri.
"Lo kirim alamat rumah sakitnya. Gue kesana sekarang."
πOke. Jawab Neta.
Telpon terputus dan tangis Laisa pun pecah. Tangisnya tidak lagi tanpa suara. Laisa sekarang benar-benar seperti anak kecil yang sedang kehilangan barang favoritnya.
"Saaaaaa." kata Zidny dari belakang.
Bintang tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya benar-benar kacau mendengar kabar Altar yang masuk rumah sakit juga melihat Laisa yang terus menangis. Dia hanya fokus mengendarai mobilnya untuk sampai lebih cepat setelah menerima pesan alamat rumah sakit dari Neta.
__ADS_1
πππ
Di rumah sakit Mario dan Kelvin masih menunggu dokter yang menangani Altar di dalam. Begitupun tiga teman Anton yang juga sedang menunggu dokter yang menangani Anton.
Mario, Altar dan juga teman-teman Anton terlihat baik-baik saja. Kitu karena Altar sengaja ingin membereskan segalanya dengan Anton dan tidak boleh ada yang ikut campur.
"Ada banyak panggilan gak terjawab dari Kak Bintang." kata Kelvin.
"Sama." Jawab Mario.
"Apa kita telpon aja?" tanya Kelvin dan sebelum Mario menjawab Zidny Laisa dan Bintang sampai di sana.
"Kak Bintang." kata Kelvin dan Mario.
"Altar mana?" tanya Laisa dengan mata sembab nya.
"Dia masih di tangani di dalam." kata Kelvin.
"Apa parah?" tanya Laisa dengan suara yang bergetar.
"Mereka berdua gak sengaja jatuh dari lantai tiga gedung tempat mereka berdua berantem. Altar nyoba buat narik tangan Anton saat dia hampir jatuh, tapi dua-duanya malah jatuh bersamaan." Kata Mario dan Laisa mulai menangis kembali setelah mendengarnya. Zidny segera memeluknya dan membawanya untuk duduk.
"Kenapa bisa jadi gini? Kenapa kalian baik-baik aja sedangkan Altar malah babak belur?" tanya Bintang.
"Kita emang gak ikut-ikutan Kak. Altar tetep mau beresin semuanya sama Anton. Anton nawarin kesepakatan dengan cara berantem. Anton bilang kalau Altar menang masalah mereka berdua selesai dan kalau kalah Anton minta Laisa dan juga Altar yang harus sama Neta." Kata Kelvin "Altar setuju dan mereka berantem satu lawan satu." Lanjutnya.
Bintang hanya menghela nafas panjangnya. Belum dia merespon apa-apa Dokter yang menangani Altar keluar lebih dulu.
"Kelurga Altar?" tanya Dokter. Laisa dan Zindny berdiri. Begitupun dengan Kelvin bintang dan Mario.
"Saya Dok." kata Bintang "Saya kakak nya." lanjutnya.
"Mari ikut saya ke ruangan saya." kata Dokter dan Bintang segera pergi bersama dokter.
"Untuk saat ini, kondisi tidak bisa di katakan baik-baik saja. Ada benturan parah di kepalanya. kemudian satu tangan nya patah." kata Dokter. Bintang memejamkan matanya.
"Apa yang harus dilakukan selanjutnya?" tanya Bintang.
"Kami dari pihak rumah sakit hanya bisa menunggu Altar sadar terlebih dahulu sambil menunggu hasil pemeriksaan di kepalanya keluar. Setelah itu baru kami akan bertindak lebih jauh." kata Dokter dan setelah selesai Bintang segera keluar dengan perasaan bingung harus mengatakan apa pada Laisa.
"Gimana?" tanya Laisa.
"Kamu tenang dulu. Dokter masih nunggu hasil tes keseluruhan. Tapi keadaan Altar gak bisa di bilang baik-baik aja. Benturan di kepalanya cukup parah. Tangannya kirinya patah. Kita cuma bisa berdoa' sekarang, berharap Altar segera sadar, jadi dokter bisa bertindak lebih lanjut lagi." kata Bintang dan Laisa kembali menangis. Dia benar-benar di penuhi rasa bersalah pada Altar sekarang. Dia benar-benar merasa ini semua gara-gara dirinya.
"Altar, kamu harus bangun." Batin Laisa di tengah tangisannya yang tidak mau berhenti sejak tadi.
πππ
__ADS_1