
Laisa sampai di depan rumahnya.
"Kak, masuk dulu aja" kata Laisa dan Bintang mengangguk setuju.
Laisa mengetuk pintu dan Luna yang datang membuka pintu.
"Waw temen teh Lais cakep-cakep deh. Masuk kak" kata Luna.
"yeeeh bocah" kata Laisa dan Bintang hanya terkekeh.
"Makasih" Jawab Bintang.
"Sama-sama" jawab Luna dan menutup pintu.
"Bundaaaaaa. Teh Lais udah pulang sama pangeran lain" teriak Luna ngasal.
"Lunaaaa" kata Laisa.
"Becanda Bang sorry yah. Yaudah Luna ke kamar dulu lagi ngerjain tugas. Nanti Bunda dateng ko. Teh Lais kasih Abangnya minum" kata Luna.
"Iya centil" kata Laisa dan Luna hanya tersenyum lalu pergi.
"Adik?" tanya Bintang dan Laisa mengangguk.
"Lho? ko udah pulang? cepet deh." kata Ibunya.
"Lebih cepet Bun. Oh iya, kenalin Kak Bintang senior di musik" kata Laisa.
"Bintang, Tante" kata Bintang menyodorkan tangannya.
"Iya ganteng" jawab Ibunya.
"Buuun ah kayak Luna deh" kata Laisa.
"Yaudah kalau gitu saya pamit yah Laisa, Tan"
"Lah? ko bentar banget? minum dulu kali. Atau makan dulu kek"
__ADS_1
"Enggak Tante makasih. Saya harus beres-beres di sekolah" kata Bintang "Emh maksud saya saya harus pulang" ulang Bintang karena sadar ucapan pertamanya ambigu karena itu berarti Laisa pulang lebih dulu dan ada sesuatu yang terjadi.
Ibu Laisa diam sebentar mengamati segalanya lalu segera tersenyum manis.
"Yasudah kalau gitu. Tidak apa-apa. Lain kali main lagi yah kesini. Cobain masakan Bunda gitu" kata Ibu Laisa.
"Iya Tante pasti. Lais saya pamit yah"
"Iya Kak, makasih. hati-hati yah" kata Laisa dan Bintang mengangguk dengan senyumannya.
"Laisa masuk kamar dan bersih-bersih biar Bunda yang antar Kak Bintang ke depan."
"Iya Bun" jawab Laisa dan pergi ke kamar sedangkan ibunya menggiring Bintang keluar dari rumah.
"Nak Bintang, boleh ngobrol sebentar?" tanya Yuni Ibu Laisa.
"Oh iya Tan, Kenapa?"
"Duduk dulu sebentar" katanya dan Bintang menurut. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya tiba-tiba membuat Bintang bingung tapi dengan perasaan yang membuatnya kaget.
"Emm Maksud Tante?" tanya Bintang.
"Gak apa-apa Tante bukan mau nyalahin kamu ko. Tante gak nuduh kamu juga bikin sesuatu itu terjadi sama Laisa" kata Yuni seperti bisa membaca pikiran Bintang.
"Bukan gitu Tan. Emh sebenernya emang ada yang terjadi. Tapi Laisa bilang jangan sampai ada yang tahu" jawab Bintang.
"Haha kamu setia sekali. Oke kalau gitu Tante gak akan nanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Laisa anak Tante dan tentu saja Tante tau kalau ada apa-apa sama Laisa. Termasuk kejadian kali ini. Tante bisa tenang karena melihat keadaan Laisa setelahnya yang lebih baik. Itu tandanya Laisa mendapatkan penolongan yang baik. Tante bisa liat itu barusan." kata Yuni.
Bintang sedikit bingung tapi lebih banyak mengerti bahwa ada masalah pada Laisa.
"Maaf Tante, Bintang bener-bener gak bisa cerita apa yang terjadi sama Laisa. Tapi kedepannya saya bakal jagain Laisa ko Tante. Saya Janji" kata Bintang.
"Iyaaaa Tante percaya sama kamu. Kamu deket juga sama Laisa? Soalnya setau Tante Laisa cuma deket sama Altar." kata Yuni.
"Bisa di bilang gitu Tan. Zidny bilang Laisa cuma deket sama Saya dan Altar."
"Oh begitu. syukurlah Tante senang dua teman laki-laki Laisa sangat baik" kata Yuni
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta maaf Tan tapi saya bener-bener harus bertanya ini untuk lebih hati-hati kedepannya." kata Bintang dan Yuni mengangguk. "Apa Laisa semacam Phobia dengan laki-laki?" Tanya Bintang memberanikan diri. Yuni tersenyum senang mendengar pertanyaan Bintang.
"Kamu tidak apa-apa pulang lebih malam?" tanya Yuni.
"Gak apa-apa Tan" kata Bintang yang sudah terlanjur penasaran.
"Laisa trauma pada laki-laki" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Yuni mampu membuat Bintang duduk dengan tegap.
"Sudah sekitar dua tahun lebih. Dia tidak pernah dekat dengan laki-laki, dia tidak suka dekat-dekat sekalipun hanya dengan saudara-saudaranya. Mungkin jika hanya sekedar ngobrol Laisa biasa saja. Tapi seperti hubungan pertemanan yang lebih santai pada umumnya dia tidak bisa menerimanya. Untuk salaman saja dia baru terbiasa baru-baru ini. sebelumnya benar-benar tidak bisa" jelas Yuni.
"Penyebabnya?" tanya Bintang tiba-tiba membuat Yuni sedikit bingung harus di jawab atau tidak dan Bintang melihat itu.
"Kalau Tante gak bilang juga gak apa-apa. Yang pasti saya sudah tahu apa yang harus
saya lakukan pada Laisa." Lanjut Bintang.
"Dia salah satu korban pemerkosaan sekelompok orang. Dari tiga korban lain saat kelas 3 SMP di sebuah gudang sekolahnya. Kasus itu bukan kasus biasa karena dari 3 pelakunya salah satunya adalah oknum guru. Satu dari dua teman Laisa yang jadi korban, meninggal karena bunuh diri dan kenyataan itu makin membuat Laisa tak karuan. " Kata Yuni mengarahkan pandangannya ke sembarang arah.
Jantung Bintang berpacu lebih kencang mendengarnya. Dia benar-benar di buat lemas dengan apa yang di katakan Yuni. Ada sedikit kemarahan di dadanya tapi entah harus marah pada siapa.
"Salah satu alasan terbesar Tante pindah kesini adalah agar dia bisa lebih tenang. Awalnya Tante sangat khawatir, takut dia tidak bisa berinteraksi dengan baik di sekolah. Tapi bersyukur Tante liat ada Altar dan kamu yang bisa Laisa terima dan membuat keadaan Laisa jauh lebih baik lagi." Kata Yuni.
"Traumanya sangat parah. Dulu tak sehari pun Tante gak nangis karena keadaan Laisa. Tapi seiring berjalannya waktu dia lebih baik dengan bantuan psikiater dan yang lainnya. Tapi untuk urusan laki-laki, dia masih membatasi diri, dia akan menangis histeris kemudian sesak nafas jika trauma nya memburuk. Penyebabnya jika sesuatu yang dia anggap akan mengancam tubuhnya. Dia juga tidak bisa melihat kekerasan." Lanjut Yuni.
Bintang masih diam dengan perasaan yang di paksa untuk tenang.
"Hanya Altar dan kamu yang tahu tentang trauma Lais. Altar hanya tahu traumanya tanpa penyebab nya. Tante belum sempat cerita pada Altar. Tante minta tolong untuk jaga Laisa di masa-masa terakhir kamu sekolah. Tante juga minta ini pada Altar." kata Yuni.
"Tante tenang aja. Saya pasti jagain Laisa." kata Bintang masih berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Terimakasih yah. Maaf Tante membuat kamu pulang lebih lama" kata Yuni.
"Sama-sama Tante. Gak apa-apa. Yasudah saya pamit yah Tan. Tante jangan khawatir saya pasti jagain Laisa. Begitupun Altar. Saya dan Altar sendiri sangat dekat, jadi Tante benar-benar tidak perlu khawatir. Terimakasih sudah mengatakan hal seberat ini pada saya" kata Bintang tersenyum membuat Yuni ikut tersenyum.
"Hati-hati yah Nak" kata Yuni.
"Iya Tante. Mari Tan" kata Bintang dan berjalan menuju mobilnya setelah Yuni mengangguk.
__ADS_1
Mobil Bintang melaju dengan cepat, membelah jalanan ibu kota yang tak kunjung sepi. waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dia menelpon Malvin untuk memastikan keadaan di sekolah, Dan Malvin mengatakan semuanya akan pulang karena lelah dan besok kembali ke sekolah untuk membereskan semuanya. Karen besoknya adalah hari libur.
🎉🎉🎉