Irama SMA

Irama SMA
Episode 6


__ADS_3

Laisa membulatkan matanya saat melihat isi kelas yang berantakan pagi ini. Kursi-kursi sudah tidak berjejer seharusnya, semuanya benar-benar berantakan. Di ujung kelas terlihat Zidny sedang duduk di samping Kelvin yang menundukkan kepalanya di atas meja.


Laisa menatap Zidny dengan tatapan yang mengatakan "aku boleh masuk?" Dan Zidny mengangguk kepalanya seakan mengerti dengan apa yang di isyaratkan oleh mata Laisa.


"Kenapa? Ini ada apa?" Tanya Laisa kepada Sinta.


"Biasa lah" jawab Sinta "gue ke toilet dulu" lanjutnya.


"Yang hari ini piket bantuin beresin dong" kata Zidny di belakang dan beberapa siswa yang sudah hadir pagi ini segera membereskan meja dan kursi yang berantakan.


Laisa diam. Dia sedikit bingung dan bertanya-tanya apa yang terjadi pagi ini. Dia ingin bertanya pada Zidny tapi dia tidak beranjak dari samping Kelvin.


"Selamat pagiiiii" sapa Mario yang datang dengan Altar di belakangnya.


"Kenapa?" Tanya Mario.


"Biasa" jawab Zidny.


"Lagi?" Tanya Altar dan Zidny mengangguk. Altar berjalan menuju Kelvin yang menunduk meletakan dahinya di atas meja lalu menepuk punggungnya kemudian duduk di samping Laisa.


"Pagi Lais" sapa Altar.


"Pagi" jawab Laisa.


"Hari ini sehat?" Tanya Altar dan Laisa mengangguk sambil menatap Altar.


"Kenapa? Aku lebih ganteng hari ini?" Tanya Altar.


"Altar?" Kata Laisa.


"Apa?" Tanya Altar membalikan posisinya menghadap Laisa.


"Boleh nanya?"


"Itu hak kamu"


"Apa?"


"Nanya. Ayo mau nanya apa?"


"Tadi aku dateng kelas udah berantakan gak karuan. Dan aku liat..."


"Kelvin kenapa? Mau nanya itu?"


"Iya, kalau boleh tau si."


"Biasa" jawab Altar.


"Apa? kenapa semuanya jawab biasaaa" kata Zidny sambil memperagakan nada dan ekspresi saat yang lain mengatakan biasa soal Kelvin. Altar tersenyum lebar melihatnya.


"Gak usah tau, saya takut kamu jauh dari saya"


"Maksudnya?"


"Nanti kamu tau sendiri." Jawab Altar dan tersenyum dan Laisa mengerti lalu diam.


πŸƒπŸƒπŸƒ


"Selamat pagi anak-anak"


"Pagi buuuu" jawab semuanya serempak. Bu Tina guru matematika celingukan melihat semua siswa.


"Kelvin kenapa?" Tanya Bu Tina. Kelvin tidak menjawab masih tertunduk tidur di atas meja.


"Sakit dia Bu" jawab Altar.

__ADS_1


"Sakit apa?"


"Kepala sama mata" jawab Altar.


Emang iya? batin Laisa.


"Suruh ke UKS aja" lanjut Bu Tina.


"Gak mau katanya Bu pengen masuk pelajaran ibu" jawab Mario yang ada di samping Kelvin.


"Ada-ada saja" lanjut Bu Tina.


"Emang iya Kelvin sakit kepala?" Tanya Laisa.


"Menurutmu, iya?" Tanya Altar.


"Bukan." Jawab Laisa.


"Yaudah percaya diri aja. Menurutmu bukan yaudah bukan aja" jawab Altar tak lupa dengan senyum manisnya yang membuat Laisa selalu diam tapi kali ini di tambah kesal.


"Hari ini ulangan dan tidak ada yang protes" kata Bu Tina dan di sekolah manapun masing-masing siswa akan mengumpat guru tersebut dengan kejam, mungkin yang keluar dari mulutnya hanya desahan kesal tapi dalam hatinya masing-masing saling mengumpat tak karuan.


"Tumben Lo gak protes atau ngomong aneh?" Kata Zidny membalikan badannya kepada Altar.


"Lo gue diem salah, gak diem juga salah. Maunya apa si" kata Altar.


"Yaudah si gak usah nge gas nyet gue kan cuma nanya" kata Zidnya dan mendelikan matanya.


"Laisa ikut ulangan gak?" Tanya Altar.


"Ya mau lah" jawab Laisa.


"Yaudah saya juga"


"Lah ko?"


"Enggak" jawab Laisa.


Zidny mulai membagikan lembar soal dan lembar untuk jawaban dan semuanya mulai mengerjakan soal. Untuk beberapa kali Laisa menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan gusar.


"Ish" kata Altar, menutup kertas jawaban Laisa dengan kertas soal miliknya lalu menatap Laisa.


"Apa si?" Tanya Laisa setengah berbisik.


"Susah banget?" Tanya Altar.


"Emang kenapa?"


"Dari tadi ngehela nafas mulu. aku berasa capek dengernya"


"Sedikit susah" jawab Laisa.


"Mending jangan diisi. Nanti aja ngulang. Foto soal nya, pelajari di rumah, Bu Tina kalau remidi suka pake soal yang sama ko" kata Altar.


"Ih gak mau" kata Laisa dan sebentar melihat ke arah kertas jawaban Altar yang terlihat seperti ada coretan-coretan. "Kamu? Gak ngisi?"


"Susah" jawab Altar dengan nada mengeluh.


"Isi dulu, jangan langsung bilang susah"


"Kamu aja kesusahan apalagi saya" jawab Altar "ayo lanjutin lagi aja kalau gak mau nanti ngulang sama saya" katanya dan Laisa hanya sedikit menggelengkan kepalanya lalu mulai melanjutkan mengisi soal.


Sembilan puluh menit memangΒ  sangat cepat berlalu bagi semua siswa yang sedang ulangan berbeda dengan pada saat belajar materi sembilan puluh menit akan terasa seperti dua puluh empat jam.


"Silahkan semua jawaban dan soal disimpan di atas meja ibu akan mengambilnya." Kata Bu Tina dan semua siswa mau tidak mau harus menyimpannya padahal masih belum beres semua.

__ADS_1


"Oy" kata Mario pelan kepada Altar.


"Apaan?" Tanya Altar.


"Tumben Lo gak chat gue nanyain jawaban"


"Gue udah dapet jawabannya" jawab Altar.


"Selesai ngisi sendiri Lo?" Tanya Mario.


Dan dengan percaya diri Altar mengacungkan lembar jawabannya yang berisi lukisan seorang wanita yang sedang tertunduk seperti sedang belajar.


"Ash" kata Mario.


"Bagus gak?" Tanya Altar dan Mario hanya mengangguk.


"Astaga cunguk, Lo malah gambar" kata Zidny yang membalikan kepalanya kebelakang.


"Mirip Lo Lais" kaya Sinta sambil mengamati gambar wanita itu.


"Aku?" Tanya Laisa kepada Altar dan Altar hanya menggidikan bahunya.


"Kampret" kata Zidny dan Sinta hanya tersenyum lalu Laisa merasa malu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Jam pelajaran terakhir kosong sejak tadi altar tidak melihat kemana Laisa pergi.


"Zid Laisa mana?"


"Gak tau" jawab Zidny


"Lo?" Tanya Altar ke Sinta


"Gak tau juga mungkin masih di kantin" jawab Sinta.


"Telpon kek, bodoh amat si Lo, ngapain kemarin-kemarin mohon-mohon minta numb Laisa kalo sekarang gak di pake" omel Zidny.


"Udah ****, tapi gak diangkat" jawab Altar lalu pergi.


"Biasa aja dong nyet" kata Zidny.


"Mau kemana Lo?" Tanya Kelvin yang berpapasan dengan Altar di depan pintu. Kelvin sudah lebih baik dari pagi tadi sekarang.


"Sini dulu bentar" jawab Altar menepuk bahu Kelvin lalu segera melanjutkan langkahnya.


Altar berjalan melewati koridor untuk mencari Laisa, banyak yang menyapanya, dari adik kelas sampai kakak kelas dan Altar menjawabnya dengan mengacungkan tangannya sebagai tanda menjawab sapaan mereka.


"Altar" panggil seorang wanita. Itu Neta


"Apaan?" Tanya Altar


"Mau kemana?"


"Kedepan"


"Makan yuk"


"Udah"


"Emmh minum es atau nyantai gitu di kan..."


"Gue ada urusan Net" kata Altar dan mengacungkan tangannya sebagai kata selamat tinggal. Dan Neta hanya mendengus kesal dibuatnya.


Altar kembali berjalan untuk mencari Laisa sampai akhirnya Altar menemukan Laisa yang sedang duduk di bangku taman yang ada di samping sekolah dengan pohon rindang sebagai atapnya dengan telinga yang sengaja ditutupi earphone dan dengan mata terpejam. Rambut sebahunya tertiup angin sampai beberapa kali Laisa harus menyingkirkannya dari wajahnya.

__ADS_1


Diposisinya Altar hanya tersenyum dengan tangan yang memegang dadanya sendiri.


πŸƒπŸƒπŸƒ


__ADS_2