
Pagi di hari Senin selalu jadi hari yang membuat semua siswa siswi lebih serius dari biasanya. Lain hal nya dengan Altar yang masih berada di balik selimutnya.
"Den? gak sekolah?" tanya pembantunya yang masuk untuk mengambil cucian kotor. Tidak ada jawaban untuk pertanyaan, dia segera keluar.
Suara pintu tertutup membuat tidur Altar terusik dan mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut dan melihat gorden kamar nya yang di paksa cahaya ingin masuk.
Altar mengucek matanya pelan lalu segera bangun dan mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan semua ingatannya. Dia mengambil handphone untuk melihat waktu sekaligus mengirim pesan untuk Laisa.
"Waaaaah apa-apaan nih. Masa udah jam 7 lewat lagi. Waaaaah eror nih HP." katanya. Berbicara sendiri lalu dengan cepat membanting Handphonenya dan pergi mandi.
Setelah semuanya selesai, Altar segera keluar kamar dan lekas pergi dengan motornya tanpa mempedulikan pembantunya yang terus memintanya untuk sarapan terlebih dahulu.
sampai di sekolah hampir pukul delapan membuat Altar dengan terpaksa pergi ke warung mang Rohman terlebih dahulu.
"Pagi Mang" sapanya.
"Pagi. Kenapa gak masuk?"
"You know lah mang" katanya dan mengambil goreng tempe hangat lalu memakannya.
"Makanya bangun pagi" kata Mang Rohman.
"Iya besok enggak lagi, gak tau lusa." jawab Altar.
"Mang, saya makan dua gorengan, nanti bayarnya pulang sekolah yah sekalian. Saya juga nitip motor disini." kata Altar dan meneguk air teh tawar hangatnya.
"Iya. Udah sana. Upacara udah beres." kata Mang Rohman. .
"Iya" jawab Altar lalu segera berjalan ke samping warung mang Rohman. Memanjat tangga yang tersedia lalu meloncat dan sampai di area sekolah.
Altar segera berjalan masuk tanpa merasa berdosa karena tidak mengikuti upacara hari Senin seperti yang lainnya. Dia segera melangkah menuju kelasnya dengan santai.
"Woy!" kata seseorang dan itu Bintang.
"Kita kenal?" tanya Altar.
"Lo gak ikut upacara kan?" tanya Bintang.
"You know lah Bang." jawab Altar. Jika di sekolah Altar memang memanggil Bintang dengan sebutan Abang, karena dia masih tetap menghargai Bintang sebagai kakak kelasnya walaupun umur mereka sebaya.
"I know. Btw gue boleh pinjem motor Lo gak?"
"Buat apa? Lo kan bawa motor juga."
"Itu masalahnya. Gue bawa mobil."
"Oooh. Oke tapi buat apa dulu."
"Gue mau pergi sama anak-anak. Nanti, abis jam istirahat. Gue mau cek tempat buat bahan praktikum ujian biologi. Kata si Malvin akses jalannya gang gitu. Gue harus bawa motor kayanya biar gak ribet."
"Oh yaudah. Nih. Motornya di warung mang Rohman." Kata Altar.
"Oke. Tinggal bilang mau ngambil motor Lo aja kan?"
"Iya."
"Oke. Nih kunci mobil gue, takutnya gue langsung penelitian, terus sampe pulang sekolah. Lo bawa aja mobil gue."
__ADS_1
"Oke. Yaudah gue ke kelas."
"Oke. Belajar yang bener."
"Iya." jawab Altar dan pergi setelah menepuk pundak Bintang.
Altar dan Bintang segera pergi ke kelasnya masing-masing. Sampai di kelas Altar menemukan Laisa yang sedang duduk dengan Handphone di tangannya. Tapi dia memutuskan untuk menyapa sudah sahabatnya lebih dulu.
"Selamat pagi, everybody." sapa Altar dan menyalami Kelvin dan Mario.
"Lo manjat pagar kan?" tanya Kelvin.
"Kenapa sih Vin, harus buang-buang tenaga buat nanya itu ke Altar." kata Mario.
"Alarm gue gak nyala duh." keluh Altar pura-pura frustasi.
"B*cooot." kata Mario dan Kelvin barengan.
"Hahaha" tawa Altar dan segera menuju meja nya dan duduk.
"Pagiiiiiii." kata Altar.
"Pagi." jawab Laisa.
"Lagi apa?" tanya Altar
"Gak lagi apa-apa." jawab Laisa dan menyimpan handphonenya. "Kamu gak ikut upacara yah?" tanya Laisa.
"Kamu nyariin saya yah?" tanya Altar dengan senyumannya.
"Gak nyariin. Tapi emang gak liat kamu aja." kata Laisa lagi. Dia sedang berbohong.
"Apa?" tanya Laisa mengulum senyum.
"Apa, apa?" tanya Altar.
"Enggak." jawab Laisa.
"Eh, pulang sekolah jalan yuk."
"Ikut doooong" kata Zidny yang membalikkan badannya.
"Ayo." jawab Laisa pada Zidny. "Ayo Al, sama Zidny."
"Yaaaah Lo mau jadi nyamuk?"
"Gak apa-apa. Asal di traktir makan." kata Zidny.
"Dasar lalat." kata Altar.
"Sinta gak sekolah yah, sayang banget." kata Laisa.
"Gak apa-apa Lais. Aku sendiri juga gak apa-apa. Aku baik-baik aja jadi nyamuk juga." kata Zidny.
"Iya aku juga tahu kamu gak apa-apa. Tapi maksudnya ya bisa lebih seru lagi gitu." kata Laisa.
"Semua orang udah tau Zidny!" kata Altar dan Zidny hanya merotasi matanya.
__ADS_1
"Mau jalan kemana emangnya?" tanya Laisa.
"Kemana aja, asal ada kamu." kata Altar.
"Waaaaah bener-bener." kata Zidny.
"Apaan sih Lo." kata Altar.
"Elo yang apaan. Jijik gue denger nya."
"Suka-suka gue yah."
"Terserah." jawab Zidny dan membalikan lagi badannya.
"Gimana kalau kita ke rumah aku aja?" tanya Laisa "Makan di sana, aku telpon Bunda biar masak. Kebetulan Bunda bilang ke aku, kalau aku harus bawa kalian ke rumah." kata Laisa.
"Dalam rangka?" Tanya Zidny.
"Mengenal lebih jauh kalian. Tapi harus bawa kak Bintang juga sih kata Bunda." kata Laisa lagi.
"Yaudah ayo." kata Zidny.
"Kenapa harus sama Bang Bintang?"
"Kan yang deket sama aku kalian bertiga." kata Laisa. "Kata Bunda yang boleh ke rumah juga cuma kalian bertiga aja." kata Laisa lagi.
"Bunda kamu kek punya anak TK deh lucu." kata Altar. "Yaudah kita ajak Bang Bintang. Cuma gak tau deh dia bisa apa enggak. Soalnya barusan dia bilang mau pergi buat cek tempat praktikum nya gitu. Malah dia pinjem motor." kata Altar.
"Yaudah gak apa-apa kalau emang gak bisa. Tapi nanti aku tetep kabarin gitu kali yah." kata Laisa.
"Iya gitu aja." kata Zidny dan Altar hanya mengangguk.
Jam pelajaran pertama di mulai dengan pelajaran matematika yang membuat Altar langsung tertidur pulas di lima belas menit pertama pelajaran berlangsung.
Guru yang memang sudah tahu Altar tidak terlalu ambil pusing. Prinsip guru matematika itu cukup baik, dengan prinsip tidak peduli dengan prosesnya yang penting nanti di UAS nilainya harus bagus. Jika tidak, jangan harap ada bantuan apapun. Bahkan remidial sekalipun.
Jam pelajaran pertama berakhir seiring dengan Altar yang bangun dan meregangkan tubuhnya dan kembali menidurkan kepalanya di atas meja dengan mata menatap Laisa dengan senyumannya.
"Leher kamu gak sakit apa?" tanya Laisa yang jadi salah tingkah di tatap seperti itu oleh Altar. Sebenernya Laisa tahu, dari awal Altar hanya pura-pura tidur, dan selama itu Altar hanya menatap Laisa di posisinya.
"Sakit. Pijitin dong." katanya.
"Lain kali bawa bantal leher aja sekalian Al. Biar tidur kamu gak sia-sia." kata Laisa.
"Ide bagus tuh." kata Altar.
"Dasar." kata Laisa dengan senyumannya.
"Hahaha sebenernya aku gak tidur Lais. Cuma pura-pura aja." kata Altar.
"Jadi kamu tahu dong dari tadi saya liatin kamu?" tanya Altar yang membuat Laisa bingung harus menjawab apa sekarang.
"Hemh? enggak. Aku taunya karena kaki kamu gak bisa diem di bawah." kata Laisa mencari alasan lain.
"Oooh gituuuu." kata Altar yang tau Laisa sedang berbohong.
"Iya." jawab Laisa dan Altar hanya mengangguk-angguk kan kepalanya.
__ADS_1
🐝🐝🐝