Irama SMA

Irama SMA
Episode 12


__ADS_3

Hari-hari begitu cepat berlalu begitu banyak hal yang Laisa lalui. Hubungan nya dengan Altar masih baik. Begitupun dengan Zidny, Sinta, kedua sahabat Altar dan tak lupa dengan semua anggota ekstra kurikuler musik. Terutama dengan laki-laki yang bernama Malvin yang semakin hari semakin ramah namun tidak dengan perempuan yang bernama Neta, Laisa rasa setiap hari dia malah semakin ketus.


Jam pelajaran pertama sudah dimulai, tapi Laisa masih duduk sendiri.


"Kemana, Altar dan Kelvin?" Tanya Bu Tina kepada Mario


"Mungkin mereka telat bu" jawab Mario


"Kamu tidak tau kemana mereka?"


"Saya benar-benar tidak tahu Bu, kalau ada apa-apa mereka pasti bilang kepada saya atau saya juga pasti tidak ada, mereka kan sahabat saya."


"Jangan terbawa arus Mario, kamu itu murid yang pintar seharusnya kamu tidak perlu bergaul dengan mereka berdua yang hobi tawuran."


"Baik Bu" jawab Mario datar dan Bu Tina pun pergi depan.


"Bu Tina memang menyebalkan" bisik Zidny kepada Laisa


"Apanya?" Tanya Laisa


"Barusan bicaranya, padahal altar dan Kelvin tak seburuk itu. Yang namanya berteman kan sama siapa aja gak usah pilih-pilih, toh Mario juga bisa jaga diri kali emang gak mau terbawa arus" gerutu Zidny


"Iya si, ah sudahlah ayo perhatikan kedepan"


Jam istirahat sudah tiba Altar atau Kelvin belum ada yang sekolah.


"Kenapa ngelamun?" Tanya Zidny


"Nggk" jawab Laisa


"Nyok ke kantin" sambung Sinta


"Duluan aja gih, gue mau kerjain tugas biologi, gue belum beres"


"Oh good nanti gue nyalin boleh yah" kata Zidny


"Boleh si asal nanti abis dari kantin bawain jus. Setuju?" Tawar Laisa


"Bolehlah. Mau jus apa?"


"Melon"


"Oke" jawab Zidny dan pergi dengan Sinta yang menawarkan untuk membeli jus melon tersebut dengan uang seperuh-separuh karena Sinta pun ingin tugas yang dikerjakan Laisa.


Laisa memang mengerjakan tugas biologi tapi tidak begitu fokus, tetap saja dia memikirkan kemana Altar. Laisa hanya menerima pesan saat malam, ucapan selamat tidur konyol seperti biasanya. "Selamat tidur. Jangan lupa nafas" pesan dari Altar setiap malamnya.


Kemana si dia. Hpnya juga gak aktif. Batin Laisa


Laisa mengetik sesuatu lalu dikirimkan pesannya kepada Zidny. Laisa berjalan menuju tempat yang bisa membuatnya sedikit tenang. Tentu saja taman samping sekolah. Dengan membawa hp dan sebuah buku puisi yang tidak sengaja dia temukan di loker mejanya.


Laisa duduk dengan telinga tersumpal earphone dan membaca buku puisi.


Belum sepuluh menit, seseorang tiba-tiba saja datang dan tidur diatas paha Laisa. Laisa terpenjat tapi saat diliat itu Altar yang tanpa permisi langsung tidur dan memejamkan matanya begitu saja.


"Al....."


"10 menit" jawab Altar dan Laisa langsung diam. Tidak berbicara, tidak membaca buku pula. Hanya sebuah musik pop slow yang terdengar di telinganya. Laisa hanya memperhatikan setiap jengkal wajah Altar yang sedang tertidur. Sesekali rambutnya bergerak tertiup angin semilir disiang yang tidak terlalu panas. Ada perasaan yang tak bisa yang di rasakan Laisa.


Kurang dari sepuluh menit seperti yang dikatakan Altar, sekarang dia sudah terbangun dan dengan perlahan membuka matanya dan dengan cepat kedua mata itu beradu. Altar tersenyum sedangkan Laisa gelagapan karena Altar mengetahui dia sedang menatapnya.


"Lais?"


"Iya?" Tanya Laisa


"Jangan kemana-mana, dan jangan pernah ada laki-laki yang bisa tidur nyenyak karena ada di samping mu, cukup saya aja" ucap Altar masih dengan posisi yang sama. Laisa tertegun sebentar.


"Memangnya aku bisa dekat dengan laki-laki mana lagi selain kamu?" Tanya Laisa tanpa sadar. Altar tersenyum manis lalu bangun.

__ADS_1


"Saya tidur nyenyak barusan"


"Kurang dari 10 menit?"


"Saya insomnia"


"Maksudnya?"


"Iya tidak bisa tidur. Saya paling tidur sekitar jam 3 pagi."


"Terus pas waktu nelpon kamu..."


"Setiap saya telponan sama kamu tentu saja saya tidak tidur, saya cuma pengen kamu tidur" jawab Altar.


"Kamu beneran insomnia?" Tanya Laisa hanya untuk memastikan


"Masa saya bohong"


"Udah ke dokter?"


"Hah? Oh udah dong"


"Terus apa kata dokter?"


"Ya insomnia Laisa"


"Terus?"


"Ya di kasih obat aja."


"Terus gak sembuh?"


"Belum bukan nggk"


"Efeknya gimana?"


"Cari dokter yang bagus dong Al yang ngasih obat terus bisa langsung sembuh, aku rasa insomnia bukan hal spele, bener-bener gak baik buat kesehatan dan itu benar-benar....."


"Hassssssshhhtttt.... Saya baik-baik aja Laisa, jangan khawatir berlebihan gitu calon pacar." Goda Altar


"Hah?" Laisa membelakan matanya


"Apa? Iyakan kamu calon pacar saya"


"Al apaan si" Laisa menggerutu malu


"Haha kamu nyariin saya?"


"Nggk"


"Beneran?"


"Iya"


"Iya, kalo kamu nyariin saya?"


"Ih bukan"


"Bukan apa? Bukan kalo kamu gak nyariin saya? Berarti iya dong kamu nyariin saya"


"Rese yah, kamu darimana?"


"Nah kan" Altar terkekeh


"Altar ih serius, kamu dari mana?"


"Rumah sakit."

__ADS_1


"Ngapain?"


"Numpang makan" jawab Altar


"Altar serius"


"Jangan serius-serius amat nanti cepet Tua"


"Altar ih"


"Apa?"


"Kamu darimana?"


"Aku dari rumah sakit"


"Iya ngapain?"


"Jenguk yang sakit Laisa." Jawab Altar


"Siapa yang sakit"


"Sodara"


"Sama Kelvin?"


"Nggk. Kelvin emang gak sekolah aja"


"Oh."


"Oh doang?"


"Ya terus?"


"Ashhh" Altar mengacak rambutnya sembari tersenyum.


☘☘☘


Altar sampai dirumah. Kepalanya sudah benar-benar sakit. Dengan cepat dia pergi ke kamar untuk mengambil beberapa obat sakit kepalanya dan meminumnya dengan cepat dan langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur.


Handphone berdering tanda Telpon masuk. Tanpa melihat siapa yang menelpon Altar langsung mengangkatnya sembari menahan sakit dikepala yang begitu sakit.


"Hallo" sapa wanita di sebrang sana. Altar langsung mengenali suara wanita itu dan karena itu dia tersenyum di tengah-tengah kesakitan nya.


"Kamu kangen sama saya?"


"Ih apaan si? Al kamu udah sampe?"


"Udah" jawab Altar, suara nyaris terdengar bergetar Altar terus memegang kepalanya dengan wajah yang sudah memucat dan keringat yang bercucuran.


"Oh oke. Al Bunda nanyain. Katanya sini maen, makan disini."


"Bilangin kapan-kapan saya kesitu, sambil ngapel" jawab Altar dengan suara yang sekarang memang bergetar dan nafas yang tersengal-sengal


"Oh oke. Al kamu baik-baik aja?"


"Ya saya baik" jawab Altar


"Serius?"


"Iya Laisa" jawab Altar dengan nada suara yang parau dan seketika sambungan telpon tertutup.


Di sebrang sana Laisa dengan terburu-buru beranjak dari kamarnya dan menelpon Zidny menanyakan alamat Rumah Altar dan Zidny memutuskan untuk ikut bersama Laisa yang akan pergi menemui Altar di rumahnya.


Altar tergeletak pingsan dibawah tempat tidurnya.


☘☘☘

__ADS_1


__ADS_2