Irama SMA

Irama SMA
Episode 35


__ADS_3

Malam ini Altar dan Laisa sudah ada si sebuah kafe di pinggir danau yang hanya di buka setiap malam Sabtu dan Minggu saja. Konsepnya mengusung tempat kemah, semua pengunjung nya duduk di bawah permadani yang di sediakan pihak kafe dengan meja pendek. Malam ini Laisa mengenakan dress di bawah lutut berwarna putih. Rambutnya yang pendek di biarkan tergerai dengan jepit bermotif bunga yang di penuhi permata yang di letakan di bagian samping kepalanya.


Dia sangat cantik dengan lipstik warna pink natural, dan sedikit eyeshadow berwarna pink juga. Altar benar-benar tidak bisa melepaskan pandangannya sejak mereka duduk di sana.


Kenapa kamu harus di rusak orang lain. Kenapa harus kamu. Batin Altar.


"Dingin gak?" tanya Altar.


"Belum." jawab Laisa.


"Kalau dingin bilang. Kita bisa minta buat nyalain api unggun ko." kata Altar.


"Iya."


"Silahkan." kata pelayan yang mengantarkan makanan yang mereka pesan.


"Terimakasih." Kata Laisa.


"Makan dulu." kata Altar.


"Sebenernya aku udah makan sih. Cuma aku mau nyobain aja steaknya." Kata Laisa.


"Iya. katanya sih enak." kata Altar.


"Ko katanya?"


"Ya iya. Aku belum pernah kesini." kata Altar.


"Lah? aku kira kamu udah kesini makanya tahu tempat ini." Kata Laisa dan memasukkan potongan pertama steik nya.


"Yang bener aja kesini sendiri atau sama si Mario atau sama si Kelvin. Mending diem aja di rumah. Disini tuh tempat orang-orang pacaran. Tuh liat ada nggak yang sendiri atau yang sejenis, semuanya pasangan sama lawan jenis." kata Altar.


"Iya sih." jawab Laisa dengan senyumannya.


"Emang. Beneran enak gak.?" tanya Altar yang mulai memotong steak nya.


"Aku belum nyoba jenis-jenis steak sih, jadi gak bisa bandingin. Cuma ya ini enak." kata Laisa.


"Gak buruk" kata Altar yang sudah memakannya.


"Iya emang." kata Laisa.


"Oh iya Lais."


"Iya kenapa?"

__ADS_1


"Saya mau ngomong sesuatu sama kamu." kata Altar. Laisa yang mendengarnya benar-benar gugup, takut Altar mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa dia terima walaupun ingin.


"Ooh, ngomong aja." kata Laisa lagi.


"Emmh bukan bilang sesuatu sih. Karena bukan satu hal. Saya cuma mau cerita aja sama kamu." kata Altar lagi.


"Iya. Jadi?" tanya Laisa yang sudah tidak sabar.


"Kamu pernah denger hubungan saya sama Neta?" tanya Altar.


"Kak Neta?"


"Iya ketua band cewek" kata Altar lagi.


"Pernah."


"Soal?"


"Kak Neta mantan kamu, Kak Neta ngejar-ngejar kamu, Kak Neta ngejar-ngejar kamu juga karena ada sebabnya." Jawab Laisa.


"Kamu denger juga penyebab nya apa?" tanya Altar lagi.


"Enggak." jawab Laisa pada pura-pura tidak tahu.


"Aku di tuduh merkosa dia." kata Altar tiba-tiba membuat tubuh Laisa menegang mendengarnya. Keringatnya mulai keluar perlahan. Pembicaraan yang sangat sensitif untuk Laisa yang menjadi korban pemerkosaan di usia muda.


"Iya aku gak apa-apa." jawab Laisa dan minum. Dia berusaha menenangkan dirinya. Rasa paniknya kalah oleh penasarannya sendiri tentang apa yang terjadi antara Altar dan Neta. Walaupun secara garis besar Laisa sudah tahu tapi dia benar-benar ingin mendengar semuanya dari Altar langsung yang menjadi tokoh utama di hal itu sendiri.


"Mau pulang sekarang?" tanya Altar khawatir.


"Enggak. Terus apa? aku mau denger lanjutan cerita kamu." kata Laisa memberanikan diri.


Altar diam beberapa saat, dia bingung tapi Laisa memintanya dan jika dia menolaknya kemungkinan Laisa akan kesal dan Altar akan kehilangan kesempatan untuk menceritakan semuanya.


"Malam itu, saat saya masih kelas 1. saya pergi ke club bersama Mario dan Kelvin. Saat itu bener-bener gila sama hal hal kek gitu. Seperti Club pada umumnya saya ketemu banyak orang di sana, karena itu bukan pertama kalinya, saya udah kenal banyak orang di sana. Termasuk Neta yang ternyata kakak kelas saya. Saya gak tahu itu, kalau Kelvin yang gak ngasih tahu." Altar berhenti sebentar dan melihat Laisa yang menatapnya meminta lanjutan ceritanya.


"Suasana di Club pada umumnya seperti biasa bikin saya lupa segalanya. Neta ternyata kesana bersama kakaknya dan teman-teman kakaknya yang satu sampai dua orang aku tahu temannya itu. Kita have fun bareng sampai akhirnya aku liat Neta udah mabuk parah. dua teman kakaknya lebih parah, sampai kakaknya pergi untuk mengantarkan dua temannya itu keluar dan menitipkan Neta pada dua teman laki-laki nya yang lain." kata Altar lagi.


"Awalnya saya gak peduli, tapi saya liat dua temen laki-laki nya itu bawa dia ke arah kamar, yang notabene nya tentu saja itu adalah kamar untuk hal itu." kata Altar berusaha mengatakannya dengan samar. Walaupun begitu Laisa benar-benar tidak baik-baik saja. Jantungnya berdegup kencang bayangan-bayangan hari itu menghampiri kepalanya satu persatu. Tapi Laisa tetap berusaha menahannya.


"Saya masih tidak peduli, tapi makin lama saya makin ngerasa bersalah kalau sampai terjadi apa-apa pada Neta karena saya juga lihat sepertinya Neta di berikan sesuatu di minumannya. Saya bisa lihat itu di reaksi tubuh Neta" kata Altar yang lagi-lagi mengatakan tentang obat perangsang dengan samar. Jantung Laisa makin tak karuan rasanya sebentar lagi dia nafasnya akan benar-benar sesak.


"Saya gak peduli kalau itu kemauan Neta, tapi dia benar-benar di jebak dan saya gak bisa diem aja. Saya menyusul mereka dan menemukan Neta dengan keadaan yang gak seharusnya. Saya masuk dan menghajar dua laki-laki itu. Dua laki-laki itu keluar dengan babak belur dan Saya segera memperbaiki Neta dengan memberikannya selimut. Saya berusaha menyadarkan nya tapi dia tidak sadar, dia terus membuka selimutnya dan memohon pada saya untuk melakukan sesuatu pada tubuhnya dengan mata tertutup." Altar diam sebentar mengamati Laisa yang minum untuk menenangkan dirinya.


"Saya berhasil menenangkan Neta dengan menamparnya sampai pingsan. Dan setelah itu kakak Neta datang dengan dua orang laki-laki yang sudah saya hajar dan menuduh saya. Saya menyangkal semuanya sampai akhirnya kakaknya tidak terima dan begitupun, padahal saya gak nyentuh Neta sama sekali. Sejak hari itu, Neta terus berusaha ingin saya, dan Kakaknya yang berusaha membuat saya tanggung jawab atas kejadian itu. susah buktiin kalau itu bukan saya, karena tidak ada cctv di sana. dan begitulah sampai sekarang. Urusan saya dan kakak Neta dia anggap tidak akan pernah selesai, sebelum saya bertanggungjawab minimal dengan menjadi pacar Neta, menjaga Neta." Kata Altar ceritanya berakhir di sana dengan Laisa yang menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa?" tanya Altar.


"Aku gak apa-apa."


"Iya, jadi giru ceritanya. Saya gak tahu harus buktiin nya kaya gimana. Sebenernya ada beberapa saksi, cuma karena mungkin dia lebih percaya sahabatnya jadi hasilnya gini. Jadi mulai sekarang, kalau ada apa-apa soal rumor saya sama Neta, itu gak bener. Kamu udah tahu semuanya, dari saya, yang jadi pemerannya." kata Altar dan Laisa tersenyum mengangguk berusaha menetralkan perasaan nya.


"Dan karena hal itu juga, saya mulai tawuran dan sebagainya. Karena kakaknya Neta adalah orang yang cukup berpengaruh pada hal-hal negatif, dia udah beberapa kali DO dan dengan dia berpindah sekolah, itu bikin musuh aku kian banyak karena dia yang terus menyalakan api untuk menghajar saya dengan alasan tertentu nya." Kata Altar lagi.


"Sebenernya aku udah tahu dari Zidny sekilas soal ini. Tapi aku bener-bener pengen tau dari pemeran aslinya, dan ternyata Zidny benar. Se nakal apapun Altar dia masih bisa jaga kehormatan cewek. Aku seneng itu semua bener." kata Laisa dengan nafasnya yang putus-putus. Tangannya mulai bergetar, di tambah udara dingin yang menembus kulitnya semakin membuatnya kian panik.


"Kamu gak apa-apa.?" Tanya Altar dan mendekatkan dirinya pada Laisa yang tersenyum lemah.


"Al, boleh aku ke mobil?" tanya Laisa.


"Iya, Ayo" kata Altar dan membantu Laisa berdiri memberikan bill yang sudah di isi uang pada pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan orang lain dan membopong Laisa masuk ke mobil.


Sesampainya di mobil, nafas Laisa mulai tidak stabil badannya sedikit bergetar dan tubuhnya melemas.


"Lais?" Altar panik dia merasa bersalah menceritakan semuanya.


"Laisa? kamu gak apa-apa?" tanya Altar dan Laisa hanya menggeleng kemudian sekarang menangis. Hanya itu yang bisa dia lakuin sekarang.


"Maafin saya." kata Altar dan memeluknya mengusap perlahan punggungnya. Laisa terus menangis dan Altar hanya memeluknya dengan jantungnya yang berdegup kencang dia panik melihat Laisa. Dia sudah mengira ini semua karena ingatan Laisa tentang kejadian itu. Walaupun Altar tidak tahu cerita lengkapnya tapi Altar tetap paham.


Nafas Laisa berangsur-angsur stabil, dia tidak lagi menangis.


"Udah baikkan?" tanya Laisa Altar yang masih memeluknya.


"Sebentar lagi." kata Laisa masih memeluknya erat.


"Iya" jawab Altar mengeratkan pelukannya.


"Terimakasih sudah cerita." kata Laisa.


"Iya. Maaf malah bikin kamu jadi gini." kata Altar.


"Gak apa-apa" jawab Laisa melepaskan pelukannya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Altar menyelipkan anak rambut Laisa ke belakang telinganya.


"Iya" jawab Laisa tersenyum.


"Kamu tidur aja. Nanti aku bangunin kalau kita udah sampai" kata Altar dan memasangkan seat belt untuk Laisa.


"Iya." jawab Laisa tersenyum.

__ADS_1


🐝🐝🐝


__ADS_2