Irama SMA

Irama SMA
Episode 13


__ADS_3

"Bun Lais pergi dulu" teriakku


"Mau kemana? Baru juga sampe udah pergi lagi." Tanya ibu Laisa yang datang terburu-buru


"Ada urusan bentar. Sama Zidny ko" kataku bersalaman dan pergi


Laisa berlari kejalan utama sedikit menunggu Zidny dan tak lama Zidny datang karena kebetulan Zidny belum sampai di rumah.


"Ayo" kata Zidny


Laisa segera naik ke motor Zidny untuk segera menuju rumah Altar. 15 menit dan akhirnya sampai dirumah bercat putih yang sangat besar.


Zidny segera berjalan terlebih dahulu setelah menyapa satpam rumah Altar. Zidny segera mengetuk pintu rumah dan keluarlah pembantu rumah Altar.


"Eh neng Zidny yah" kata Pembantu yang bernama bi Nia


"Bi Nia Altar udah dirumah?"


"Oh udah, den Altar ada di kamarnya" kata Bi Nia


"Boleh anter saya ke kemarnya?" Tanya Laisa


"Boleh. Memangnya ada apa ini?" Tanya Bi Nia kebingungan


"Yaudah Bi ayo" kata Zidny


Laisa dan Zidny masuk ke kamar Altar dan benar saja Altar sudah tergeletak begitu saja.


"Ya ampun, Altar" kata Laisa menepuk-nepuk pipi Altar tapi tidak ada reaksi apapun. Badan Altar malah panas wajahnya pucat.


"Ya Allah den Altar kenapa ini." Kata Bi Nia kebingungan


"Zid bawa Altar ke rumah sakit aja yah" kata Laisa dan Zidny mengangguk


Zidny segera berlari keluar menemui satpam dan memutuskan untuk membawa Altar ke rumah sakit.


☘☘☘


Adzan magrib sudah berkumandang. Tapi Altar masih belum bangun juga. Laisa dengan cemas duduk di samping Altar yang sudah diinfus.


"Lais, kek nya gue harus pulang. Gue ini masih pake baju olahraga belum mandi belum apa. Nyokap juga nyuruh gue pulang." Kata Zidny


"Yaudah Zid gakpp, pulang aja"


"Iya sorry banget. Tapi bentar lagi bakalan ada Mario sama Kelvin ko yang kesini. Gue bakal pergi setelah mereka sampai. Kalo Lo emang mau nginep disini jagain Altar gue bakal bilang ke Bunda Lo dan jelasin semuanya soal ini kalau emang Lo takut bilang atau gue bakalan bilang Lo nginep di rumah gue karena ada apa-apa sama gue." Kata Zidny


"Gak usah Zid gue bakal bilang sendiri, bunda gue gak bakal marah ko" kataku


"Oke. Gue harap Lo juga disini temenin Altar karena gue yakin gak bakalan ada anggota keluarga yang Dateng kesini." Kata Zidny


"Maksudnya?"


"Gue pernah bilang kan soal bokapnnya yang gak peduli sama dia? Disini Lo bakal buktiin sendiri. Gue tau sesibuk apa bokapnya. Dan kesibukan itu secara kasar gue sebut bokapnya gak peduli sama dia." Jelas Zidny


"Nyokapnya sibuk juga?" Tanya Laisa


"Lo gak tau nyokapnya udah meninggal?" Tanya Zidny dan Laisa menggelengkan kepalanya cepat

__ADS_1


"Ya gitu nyokapnya udah meninggal " kata Zidny


Belum sempat Laisa bertanya banyak lagi dua orang laki-laki datang.


"Hai Laisa Zidny" sapa Mario dan Kelvin


Laisa dan Zidny melambaikan tangannya.


"Ini gimana ceritanya Altar bisa gini. Kata dokter gimana" tanya Kelvin kepada Laisa


"Gkpp si cuma kecapean kurang tidur. Kurang istirahat intinya makanya badannya drop" jawab Laisa


"Dia cuma tidur paling 3-4 jam perhari ya jelas kurang istirahat" kata Mario


"Istirahat cuma segitu. Tawuran aja terus" cibir Zidny "oh iya gue balik sekarang kayanya, paling besok gue kesini lagi. Lais hati-hati disini." Kata Zidny dan Laisa mengangguk "Oke deh kalau gitu gue pamit yah. Nyokap udah bawel nih, gimana gak bawel gue masih pake baju olahraga sekolah gini belum mandi belum apa. Pokonya kabar-kabar aja sama gue yah" kata Zidny


"Yaudah iya. Hati-hati yah Zid" kata Laisa


"Hati-hati Lo" kata Mario dan Zidny mengacungkan jempolnya


"Anterin gak?" Tanya Kelvin


"Udah gak usah. Pokonya kalian gue titip si Laisa." Kata Zidny


"Iya. Yakin Lo gakpp balik sendiri?" Tanya Mario


"Yakin. Udah santai aja. Yaudah gue pergi yah. Bye" kata Zidny dan keluar menyisakan Altar yang masih belum sadar juga Laisa Kelvin dan Mario yang ada di ruangan itu. Tentu saja adanya Mario dan Kelvin bagi Laisa sangat merisihkan. Tapi bagaimanapun Laisa harus stabil harus bisa mengendalikan semuanya.


"Lais makan belum?" Tanya Kelvin


"Itu mah tadi Lais. Beli makan gih Vin, gue satu. Bungkus bawa sini aja" kata Mario


"Oke. Laisa mau apa?" Tanya Kelvin


"Apa aja deh, pasti gue makan ko" jawab Laisa dan Kelvin pun pergi.


"Gimana ceritanya Altar bisa pingsan?" Tanya Mario


"Gue gak tau pasti kenapa awalnya tapi emang dia lagi nelpon terus tiba-tiba aja mati dan kek nya dari sejak nelpon juga dia kaya gak sehat gitu. Makanya gue langsung telpon Zidny dan kesana sama Zidny dan bener aja pingsan." Jelas Laisa


"Oh gitu...... Insting kamu bagus banget" suara itu terdengar sangat lemah.


"Al, udah sadar? Ada yang sakit? Apa yang kerasa? Gue panggilin dokter deh" kata Laisa dengan tangan yang menggenggam tangan Altar


"Yang gue rasa cuma deg deg gan" jawab Altar sambil melihat ke arah tangan Laisa yang menggenggam tangannya. Membuat Laisa melepaskan tangannya lalu memalingkan wajahnya malu dengan Mario dan kesal dengan Altar. Altar hanya terkekeh melihat reaksi Laisa.


"Sadar Lo?" Tanya Mario


"Si Kelvin gak kesini?" Tanya Altar


"Lagi beli makan keluar" jawab Mario "yaudah gue cari si Kelvin dulu. Laper banget ini gue" lanjutnya dan keluar meninggalkan Laisa dan Altar


"Hey" Altar berusaha menatap mata Laisa yang dibuat berbelanja


"Apa?" Tanya Laisa


"Masa ngobrol matanya belanja gitu" kata Altar dan Laisa menghembuskan nafasnya

__ADS_1


"Apa?" Tanya Laisa


"Nggk gakpp"


"Hih"


"Ko kamu tau saya pingsan?"


"Kan tadi kamu denger apa yang aku jelasin ke Mario."


"Dan aku simpulkan instingmu bagus"


"Makasih. Lagian kenapa si harus pingsan? Kenapa harus insomnia? Kalau tidur tidur aja coba gak usah susah gitu. Makannya harus teratur jangan semaunya aja" nada suara Laisa sedikit lebih tinggi


"Kamu khawatir?" Tanya Altar dengan tangan yang menggenggam tangan Laisa sekarang.


"Setelah semua yang terjadi hari ini apa aku harus jawab juga?" Tanya Laisa sambil melepaskan tangan Altar dan dengan cepat menggenggam nya kembali. Bukan di genggam tapi Laisa suka menggenggam. Altar tersenyum senang.


"Maaf membuatmu khawatir" kata Altar dengan tangan yang satunya lagi menutup tangan Laisa yang menggenggam tangannya.


"It's oke yang penting kamu baik-baik aja" jawab Laisa lalu tersenyum


"Kamu mau makan?" Tanya Laisa


"Bubur?"


"Kayanya gitu."


"Boleh" lanjut Altar dan Laisa segera beranjak namun Altar tidak melepaskan genggamannya.


"Lepasin lah kan mau bilang ke suster kamu mau makan"


"Nanti aja deh. Duduk dulu aja lagi." Kata Altar dan Laisa langsung duduk. "Saya suka tanganmu" kata Altar dan meletakan tangan Laisa di bawah pipinya yang tertidur miring.


Laisa tersenyum malu sekaligus merasa lucu dan bahagia.


"Kamu udah makan?" Tanya Altar


"Tadi udah siang" jawab Laisa


"Tadi nyuruh beliin makanan kan ke Kelvin?" Tanya Altar dan Laisa mengangguk


Kelvin dan Mario masuk begitu saja menenteng makanan dikresek. Membuat Laisa dengan cepat menarik tangannya yang di gunakan bantal pipi Altar. Altar hanya tersenyum setengah tertawa melihat reaksi lucu Laisa.


"Santai aja kali sayang" bisik Altar


"Udah sadar Lo?" Tanya Kelvin dan Altar mengangguk pelan "syukur deh kalo gitu" lanjut Kelvin


"Nih makanan Lo" Mario memberikannya kepada Laisa


"Thanks" jawab Laisa "emh gue keluar dulu bentar sambil manggil suster buat ngasih makan Altar" kata Laisa dengan masih gelagapan takut Mario atau Kelvin tau posisinya tadi.


"Oke" jawab Kelvin dan Laisa keluar


Demi apa gue berani kek gini? Demi apa gue bertingkah jadi wanita normal lagi? Demi apa Altar manis demi apa ini demi apa. Batin Laisa. dengan terus berjalan untuk menemui Suter


🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2