Irama SMA

Irama SMA
Episode 19


__ADS_3

Pagi ini Laisa berangkat bersama Zidny. Hari ini memang libur dan berlaku untuk semua siswa-siswinya. Tapi bagi Laisa hari ini tidak libur karena dia harus tetap ke sekolah untuk latihan vokal seperti yang sudah dia janjikan kepada Malvin bahwa hari ini dia akan datang untuk latihan, walaupun libur.


"Zid makasih yah udah nganter" kata Laisa setelah turun dari motor Zidny yang sengaja mengantarkannya pagi ini, karena semalam Zidny memang menginap dirumah Laisa.


"Oke sama-sama. Gue langsung balik yah" jawab Zidny


"Oke, Lo hati-hati" kata Laisa


"Siap boss, semangat latihan Laisa" kata Zidny dan Laisa mengepalkan tangannya lalu mengangkat lengannya ke atas sebagai jawaban semangat yang di ucapkan Zidny.


🌼🌼🌼


Laisa masuk ke ruangan yang sudah ada beberapa orang disana yang tak lain adalah anggota grup nya.


"Pagi Laisa" sapa Bintang yang merupakan gitaris tampan yang juga sahabat Malvin.


"Pagi kak" jawab Laisa diikuti dengan senyumnya. Lalu beberapa orang juga menyapa Laisa dengan hangat.


Setengah jam lamanya dan semuanya sudah berkumpul untuk segera latihan, di mulai dari mengecek music, vokal, dan beberapa referensi lagi yang sengaja di coba untuk memastikan kecocokannya.


Neta dengan penampilan cantik seperti biasanya dengan seksama memperhatikan Laisa yang sedari tadi mencoba olah vokal dengan raut wajah gembira. Sesekali dikritik Malvin karena tidak pas dengan musik, setiap kali Malvin bertanya kepada Neta tentang vokal Laisa. Neta hanya menjawab "lanjutin aja dulu sampai selesai" dan kata-kata itu malah membuat Laisa tidak enak karena diiringi dengan raut wajah yang masam.


"Oke gue rasa cukup, kita istirahat dulu, nanti lanjut lagi. Sekalian nyoba grup saya" kata Malvin dan semuanya setuju.


Semua orang pergi keluar untuk mencari makan, tapi tidakΒ  dengan Laisa yang memlih istirahat diruangan saja sendiri, sambil menyanyi-nyanyi kecil.


Laisa meneguk air minum yang sengaja ia bawa dari rumah. Tiba-tiba seseorang datang dan duduk disampingnya.


"Eh kak" sapa Laisa. Itu Neta yang sekarang menatap Laisa lekat lalu mengerjap karena Laisa yang menyapanya.


"Lo ngagetin gue aja" kata Neta.


"Oh sorry" kata Laisa. Dan suasana hening, sampai akhirnya satu telpon masuk ke handphone Laisa.


πŸ“ž"Hallo"


Suara di sebrang sana lebih dulu menyapa.


"Iya Al" jawab Laisa yang mengetahui itu dari Altar.


πŸ“ž"Selamat pagi"


"Siang"


πŸ“ž"Pagi ko, saya kan baru bangun"


"Iya, terserah"


πŸ“ž"Lagi disekolah yah?"


"Iya, ko tau?"


πŸ“ž"Feeling saya tentang kamu tuh gak mungkin salah"


"Mandi sana"


πŸ“ž"Mau. Nanti kalau udah selesai kabarin saya. Saya Jemput"


"Gak usah"


πŸ“žOh abis dzuhur, oke deh, bye Sial. Eh Lais hehe"

__ADS_1


Ucapnya dan menutupnya sepihak. Laisa tersenyum tanpa sadar sudah sejak tadi Neta merasa sebal, bukan karena Laisa yang menelpon tapi karena Neta tau siapa yang menelponnya.


"Ko Lo ganjen banget si jadi cewek" celetuk Neta tiba-tiba.


"Maksud Kakak?"


"Lo harus tau, Altar itu milik gue" katanya to the point.


"Maksudnya?" Tanya Laisa.


"Lo gak usah so polos, Lo harus tau Altar milik gue" kata Neta dan berdiri.


"Kakak sama Altar pacaran gitu?" Tanya Laisa dan pertanyaan itu membuat darah Neta semakin naik maksimal.


"Heh Elo yah jadi cewek gak tau ma..." Neta hendak menjambak rambut Laisa tapi segera di tepis Malvin yang datang bersama bintang.


"Heh heh apaan si Lo Net" kata Malvin.


"Gak usah ikut campur" kata Neta yang langsung pergi.


"Lo gakpp?" Tanya bintang kepada Laisa.


"Iya, kaget kak, kak Neta kenapa yah?" Tanya Laisa kepada Bintang


"Santai aja biasa dia memang gitu" Jawab Malvin.


"Lo gak makan Sa?" Tanya Bintang.


"Mau ko" jawab Laisa.


"Yaudah sana Lo makan dulu, di depan ada yang jual siomay, gak usah fikirin si Neta" kata Bintang.


"Kenapa si Neta?" Tanya Malvin


"Biasa, Si Altar lagi deket sama Laisa kan, jadi ya kegerahan kali" jawab Bintang.


"Masih aja si Neta nyangkut pautin sama masalah yang tidur bareng itu?" Tanya Malvin.


"Iya, si Altar jelas gak mau, kan dia gak lakuin. Gue tau pasti" jawab Bintang.


"Dasar si Neta, tapi btw emang si Altar udah jadian sama Laisa?" Tanya Malvin dengan serius.


"Kenapa? Kalau belum Lo mau ke Laisa?" Tanya Bintang dengan setengah tawanya.


"Apaan si Lo nyet" cibir Malvin dan memukul pelan kepala Bintang yang sekarang tertawa.


"Ngaku aja Lo, gue kenal Lo bukan baru sehari, Lo suka kan sama Laisa?" Tanya Bintang dan Malvin memutar bola matanya kesal lalu Bintang hanya tertawa menganggap semua tebakannya benar.


🌼🌼🌼


Laisa berjalan bersama Bintang ke parkiran. Disana sudah ada Altar yang nangkring di atas motornya.


"Mau ikut band juga Lo?" Tanya Bintang.


"Jaga jarak aman Lo, cewek gue itu" kata Altar.


"Alay Lo" cibir Bintang.


"Hahaha, Lo masih maenin gitar kak?" Tanya Altar.


"Iya lah, gue gak bisa kalau tawuran, gak ahli" jawab Bintang. Walaupun tidak satu angkatan tapi Altar maupun Bintang mengenal baik satu sama lain.

__ADS_1


"Hahaha yaudah gue balik duluan yah" kata Altar


"Yo i, hati-hati" kata Bintang.


"Siap" jawab Altar sambil memberikan helm untuk Laisa.


"Kak duluan" kata Laisa.


"Oke Laisa, hati-hati yah apalagi sama si Altar" canda Bintang. Dan Laisa hanya menanggapinya dengan senyum dan Altar mengayunkan kakinya ke arah Bintang lalu segera pergi meninggalkan sekolah.


"Mau kemana dulu?" Tanya Altar.


"Pulang aja"


"Oke" jawab Altar.


Altar mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang dan melaju ke arah rumahnya, bukan ke arah rumah Laisa.


"Ko kesini?" Tanya Laisa.


"Hah? Apa?" Tanya Altar.


"Kenapa ke arah sini? Ini bukan ke arah rumah aku" kata Laisa.


"Nanti aja ngomongnya, saya gak denger ini takut tabrakan kan berabe, saya gak siap jadi duda" kata Altar keras.


"Ish" Laisa memukul punggung Altar dan Altar hanya tersenyum dengan pukulan itu.


Motor melaju dengan kecepatan normal hingga tinggi, tanpa ada obrolan apapun, hanya ada Altar yang tersenyum karena tangan Laisa yang dengan lucu memegang pinggangnya.


Laisa turun dari motor yang sekarang terparkir disebuah halaman rumah ber cet coklat muda yang tak lain adalah rumah Altar sendiri.


"Kerumah mu? Ngapain?" Tanya Laisa membuka helmnya lalu memberikannya kepada Altar.


"Main saja. Ayo masuk" ajak Altar yang berjalan terlebih dahulu diikuti dengan malas oleh Laisa.


"Sore bi" sapa Altar terlebih dahulu kepada pembantu rumah tangganya.


"Sore den, eh Neng Laisa." Sapanya lagi.


"Bi" sapa Laisa dengan senyuman nya.


"Bi makan udah siap?" Tanya Altar


"Udah tinggal bibi siapkan. Mau bibi siapkan sekarang?" Tanyanya.


"Iya Bi, ikan saya udah laper." Kata Altar.


"Ikan? Ikannya udah bibi kasih makan ko den" katanya lagi. Padahal maksud Altar adalah Laisa bukan Ikan beneran.


"Bukan ikan itu bi, ini ikan pribadi saya, wangi, cantik, gemesin, kaya dia" tunjuk altar kepada Laisa yang hanya memperhatikan percakapan altar dan pembantunya.


"Oh panggilan sayang to rupanya" kata pembantu Altar dengan senyum menggoda keduanya.


"Ah bukan bi itumah namanya ngeledek saya" kata Laisa.


"Marah?" Goda Altar dan Laisa hanya memutarkan bola matanya.


"Yaudah yaudah saya siapkan dulu, nanti makan" katanya dan pergi ke dapur meninggalkan Laisa dan Altar dengan perasaannya masing-masing.


☘☘☘

__ADS_1


__ADS_2