Irama SMA

Irama SMA
Episode 16


__ADS_3

Sore ini Laisa Zidny juga kedua sahabat Altar Kelvin dan Mario sudah berada dirumah Altar.


"Lo kapan boleh sekolah?" Tanya Kelvin


"Besok juga gue sekolah" jawab Altar


"Istirahat dulu nyet masa besok mau langsung sekolah" cibir Zidny


"Tau Lo, sakit lagi tau rasa" sambung Mario


Laisa hanya fokus mengeluarkan buku-buku yang harus disalin Altar, karna jelas saja Altar lumayan banyak tertinggal pelajaran.


"Kalo Lais yang cegah gue mau deh besok gak dulu sekolah" kata Altar. Laisa mendengar itu tapi tetap fokus pada buku-bukunya yang mulai ia tandai mana saja yang harus Altar catat.


"Euh kampret" Zidny memukul pelan kepala Altar


"Modus *****" cibir Kelvin yang beranjak kedapur untuk mengambil minum.


"Sayangnya dikacangin" ejek Mario yang ikut beranjak membuntuti Kelvin


Kelvin ataupun Mario, mereka sudah tidak asing lagi berada di rumah Altar, mereka bertingkah seenak jidatnya karena sudah terlalu sering berada dirumah itu.


"Lais saya mau sekolah besok"  kata Altar


"Syukur kalau gitu" jawab Laisa sambil tersenyum


"Syukurin" ejek Zidny dengan tawanya.


"Ko kamu gak larang" kata Altar.


"Udah ah, ini buku yang harus kamu pelajari, kamu jangan dulu sekolah besok, istirahat sehari lagi aja besok lusa baru masuk" kata Laisa.


"Oke" jawab Altar dengan senyumnya. Mario Kelvin yang Kemabli dari dapur mendengar itu memukul Altar beberapa kali karna jawaban yang dia lontarkan kepada Laisa. Begitupun dengan Zidny.


"Al aku mau ke air" kata Laisa.


"Kamar mandinya kesana, tapi dikamar saya juga ada" jawab Altar


"Kesana aja" kata Laisa.


"Anter gak?" Tanya Altar dan Laisa hanya mengkerlingkan matanya sedangkan Zidny melempar kepala Altar dengan bantal kuris yang ada disampingnya.


☘☘☘


Hari-hari berjalan begitu cepat, hubungan Laisa dan Altar semakin baik, perlahan trauma Laisa pergi begitu saja, walaupun belum total dan Laisa harus  tatap mengkonsumsi obat jika suatu hal membangunkan traumanya. Dan Altar, Altar masih saja bertingkah seenak jidatnya baik disekolah atau dirumah.

__ADS_1


Laisa juga terpilih sebagai menjadi penyanyi di acara festival yang di adakan beberapa bulan lagi. Walaupun sempat ada kericuhan yang menghampiri Laisa karena beberapa pihak tidak setuju dikarenakan Laisa anggota baru. Tapi pada akhirnya Laisa tetap akan tampil nanti.


Pagi ini Altar dengan buru-buru keluar dari kamarnya untuk segera pergi ke sekolah dan akan menjemput Laisa terlebih dahulu.


"Altar, ini apa lagi?" Tanya Ayahnya sambil mengacungkan kertas putih yang terlipat rapi, yang sengaja Arfan simpan di meja kamar ayahnya.


"Papa kaya baru pertama kali aja nerima yang kek gitu. Apalagi kalau bukan surat panggilan dari sekolah."


"Altar kamu ngelakuin apa lagi si disekolah? Masih tawuran? Kamu anak SMA bukan anak SMP" kata ayahnya.


"Pah, saya udah bilang kan surat kek gitu bakal ada setiap bulan. Bukan cuma karena bikin ulah aja, tapi emang wali kelas saya yang ingin bertemu sama papah."


"Tapi kan kamu tau papa ini sibuk, kerjaan papa banyak dan..."


"Yaudah kalau gitu papa gak usah ngomel-ngomel diem aja toh itu bukan sepenuhnya salah saya kan? Lagian papa papanya saya bukan si? Kenapa gak peduli banget si sama saya?" Suara Altar tidak tinggi tapi mampu membuat hati ayahnya seperti dicabik-cabik.


"Kamu itu kalau bicara saring dulu, papa ngelakuin semua ini bu..."


"Buata saya? Saya butuh perhatian papa bukan cuma uang uang uang dan uang. Kalau cuma uang saya juga bisa dapetin uang. Udahlah saya gak mau keringetan pagi-pagi, mau jemput pacar kalau bau keringet malu." Kata Altar menyudahi perdebatannya pagi ini dan langsung pergi untuk menjemput Laisa.


🍃🍃🍃


Laisa turun dari motor Altar. Beberapa mata melihat ke arahnya. Tapi Altar tidak peduli sedangkan Laisa merasa risih dengan tatapan itu.


"Udahlah santai aja" Kata Altar seperti bisa membaca apa kerisihan Laisa.


"Nggk ah, ayo masuk" kata Altar menggenggam tangan Laisa.


Keduanya berjalan bersama menuju kelas. Beberapa kali Altar disapa oleh teman laki-laki nya yang berbeda kelas.


"Bro nanti latihan futsal dulu katanya" kata seorang laki-laki.


"Gimana nanti aja yah, soalnya gue harus nganterin dulu calon pacar" jawab Altar sambil pergi. Membuat Laisa yang ada disampingnya benar-benar risih tapi terasa bahagia.


Dan yang lainnya menyapa Altar dengan ramah dan Altar sesekali mengacungkan tangannya untuk membalas sapaan mereka atau hanya sekedar mengangkat kedua alisnya. Sampai akhirnya keduanya sampai di kelas.


"Pagi epribadih" sapa Altar. Ada sebagian yang menjawab ada sebagian yang acuh.


"Pagi Laisa" sapa Sinta yang sudah duduk disamping Zidny yang sibuk dengan handphonenya.


"Pagi Sinta" jawab Laisa dan duduk diikuti Altar.


"Zid Lo gak liat Mario sama Kelvin?" Tanya Altar. Zidny tidak menengok atau menjawab pertanyaan Altar, dia hanya fokus ke handphonenya. "Lo budeg apa gimana si?" Tanya Altar lagi.


"Kalau gak ada disini berarti gak ada. Obeg banget si" ketus Zidny (obeg\=bego)

__ADS_1


"Santai dong nenek lampir. Lo lagi PMS? Lagian cewek PMS dibikin alesan." Cibir Altar tapi Zidny tidak mempedulikannya dan masih fokus ke layar handphonenya.


"Zid tugas biologi udah?" Tanya Laisa.


"Dikit lagi" jawab Zidny.


"Gue udah. Mau nggk?" Tawar Laisa.


"Gue mau" jawab Sinta tiba-tiba.


"Euh dasar Sinta Jojo" cibir Altar.


"Gue gak aqiqah kaya Mia yah, jadi nama gue gak ganti" jawab Sinta dan Altar hanya tersenyum sekilas menanggapi ke lemotan Sinta.


"Yaudah nih" kata Laisa menyodorkan buku biologinya.


"Giliran nyalin aja Lo semangat" cibir Zidny tapi Sinta tidak peduli.


"Ko kamu gak nawarin ke aku si?" Tanya Altar kepada Laisa.


"Yaudah kalo mau nanti abis Sinta selesai kamu salin aja" jawab Laisa.


"Ah nggk mau" jawab Altar.


"Lah tadi bilang gitu sekarang gak mau"


"Hehe becanda ko tadi, aku mah udah pinter ko gak perlu kek gitu-gitu."


"So banget" cibir Zidny.


Belum sempat Altar menjawab, Mario datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Tar, sini" panggil Mario. Altar yang melihat itu langsung berlari menghampiri Mario.


"Kenapa? Apaan?" Tanya Altar yang mulai berjalan ke arah Mario yang hanya berdiri di ambang pintu.


Laisa Zidny dan yang lainnya berusaha memasang telinga untuk mendengar apa yang dikabarkan Mario tapi tetap tidak terdengar.


Altar kembali ke mejanya lalu mengambil handphonenya dan tanpa berkata apapun dia pergi bersama Mario. Laisa yang kebingungan tidak menanyakan apapun kepada Altar, Laisa hanya menatap kepergian Altar yang sebelumnya menatapnya juga sesaat sebelum dia meninggalkan kelas.


"Zid ada apa yah?" Tanya Laisa.


"Gue juga gak tau" jawab Zidny.


"Udahlah, mereka tuh udah biasa, datang tak diundang, pergi seenaknya. Santai aja nanti juga balik lagi" jawab Sinta.

__ADS_1


Zidny yang diam dalam hatinya membenarkan ucapan Sinta karena selama ini Altar Mario dan Kelvin selalu seperti itu. Seperti seorang yang penting, atau sedang menjalankan misi rahasia. Sedangkan Laisa diam saja, termenung memikirkan apa yang terjadi dan kahwatir kepada Altar.


🍀🍀🍀


__ADS_2