Irama SMA

Irama SMA
Episode 11


__ADS_3

Malam ini Laisa hanya menggulingkan badannya ke kanan ke kiri, entah kenapa sejak dua hari yang lalu hatinya seperti gelisah tidak jelas. Setiap detik satu pesan masuk di chatting WhatsApp nya. Itu pesan dari beberapa grup yang terdapat Laisa di dalamnya. Ada grup chatting kumpulan alumnus SMP Laisa, grup chatting kelas saat Laisa masih SMA di bandung, grup chatting organisasi musik saat ini, dan grup chatting kelas Laisa di SMA sekarang. Laisa memeriksa semua pesan yang ada di hpnya. Tapi tidak begitu penting dan Laisa kembali menyimpannya.


"Altar" gumam Laisa pelan dan sedetik kemudian Laisa memukul bibirnya sendiri beberapa kali lalu mengerjapkan matanya dengan cepat.


Laisa beranjak turun dari tempat tidurnya menuju semua rak buku kecil di kamarnya. Ada beberapa buku novel genre romance yang sudah jarang dia baca, ada beberapa buku referensi pelajaran, beberapa buku diary tebal yang sudah habis dan beberapa buku yang sempat Laisa baca lainnya. Laisa menempelkan jari telunjuknya kepada semua buku dan berhenti di sebuah buku diary yang tebal. Dibukanya perlahan, tersenyum kemudian kembali menyimpannya, matanya terus melihat-lihat dan ada yang mengusik pandangannya di ujung rak bukunya. Sebuah paper bag kecil dengan kotak di dalamnya. Itu pemberian Altar saat pertama kali ke rumah dan sampai saat ini Laisa tidak mengetahui isinya.


"Isinya apaan si ini" Laisa berbicara sendiri sambil memperhatikan benda tersebut tanpa ada niat untuk melihatnya walaupun sepertinya Laisa penasaran.


Laisa mengurungkan niatnya untuk melihat apa isi dari paper bag kecil itu dan kembali ke tempat tidurnya.hpnya bergetar tanda panggilan masuk. Itu Altar.


"Hallo" sapa Laisa


"Hai. Lais jalan yuk. Saya di depan rumah kamu"


"Lah? Kok gitu?"


"Apa?"


"Ko kamu dateng, aku kan belum tentu mau"


"Ya makanya ini saya nanya kamu mau nggk?"


"Lah terus kalau aku gak mau?"


"Ya saya pulang lagi. Jadi gimana? Saya bawa mobil ko."


"Kamu itu dimana?"


"Di depan pintu udah ngangkat tangan siap ketuk nih"


"Ash"


"Kenapa Laisa?"


"Nggk, yaudah masuk aja dulu" kata Laisa dan telepon terputus.


Laisa mengacak rambutnya pelan. "Ko ada cowok kek dia" gerutu Laisa dan hendak berjalan keluar kamarnya.


Laisa berjalan menuju ruang tamu dan Altar sudah duduk ngerumpi bareng Bunda.


"Hola" sapanya kepada Laisa dan Laisa tersenyum.


"Bunda baru aja mau kasih tau kamu ada yang ganteng kesini. Kamu udah keluar duluan" kata bunda. Aku duduk.


"Laisa udah tau kali Bunda ada saya disini. Orang dia yang nyuruh saya kesini" Jawab Altar membuat Laisa mengerutkan dahinya.


"Ih nggk juga, nggk ko Bun, dia tiba-tiba aja telpon terus bilang ngajak aku..." Laisa menghentikan kata-kata nya.


"Ngajak kamu?" Tanya Yuni ibu Laisa. Laisa diam, dan Altar hanya tersenyum manis menunggu kata-kata yang akan dilanjutkan Laisa.


"Nggk Bun" jawab Laisa


"Saya kesini di ajak jalan sama Laisa Bun" kata Altar


"Altar apaan si" ketus Laisa


"Haha ralat deh Bun, saya kesini mau ngajak Laisa jalan, tapi kalo Laisa nya mau dan Bunda ngizinin" lanjut Altar


"Laisa mau?" Tanya Yuni


"Gak tau"

__ADS_1


"Lah? Ko gak tau?"


"Emang bunda ngizinin?" Tanya Laisa


"Selagi kamu baik-baik aja. Bunda izinkan, jangan pulang malem-malem"


"Gakpp Bun?" Tanya Laisa


"Gakpp. Kamu harus tau Jakarta. Selama disini kamu belum pernah kemana-mana, selain ke minimarket depan dan sekolah." Kata Yuni


"Yes" gumam Altar tanpa ragu yang membuat Yuni tertawa


"Aku ganti baju dulu" kata Laisa dan pergi setelah Altar mengangguk.


Laisa berjalan setengah berlari ke kamarnya. Ada perasaan yang aneh yang terasa sesak karena senang di dadanya. Laisa membuka lemarinya dan memilih baju yang menurutnya cocok. Sudah lama Laisa tidak keluar dan bergaya layaknya gaya khas anak remaja saat jalan. Laisa memilih dress berwarna putih tulang sampai lutut dengan sepatu flatshoes dan tasnya. Rambut sebahunya rapi.


Laisa keluar dari kamarnya membuat Altar bengong kemudian keduanya pergi.


☘☘☘


"Mau kemana kita?" Tanya Laisa


"Terserah kamu pengen kemana. Aku bakal turutin."


"Tempat makan enak." Lanjut Laisa


"Siap ratu" jawab Altar


Laisa membuka kaca mobil Altar dan sedikit mengeluarkan kepalanya keluar.


"Jakarta diluar tetep dingin yak kalo malem" oceh Laisa "Monas bagus deh. Dulu aku pernah ke situ tau Al sama ayah sama Bunda, sebelum ada Luna. Saat itu aku sengaja aja main ke Jakarta." Lanjut Laisa tanpa menengok ke arah Altar


"Oh yah?" Tanya Altar yang tersenyum


"Lah? Kenapa emang?"


"Aku demam. Jadi langsung tidur."


"Hahaha terus?" Tanya Altar


"Terus aku nyesel pas bangun pagi."


"Terus?"


"Terus ya aku pulang karena ayah harus masuk kerja"


"Terus?"


"Terus aku pengen ke Jakarta lagi"


"Terus?" Tanya Altar untuk ke 4 kalinya dan mulai tersenyum karena lucu melihat Laisa yang terus saja menjawab pertanyaan Altar.


"Terus ayah gak libur-libur kerjanya."


"Terus?"


"Terus aku marah ke ayah."


"Terus?"


"Terus ayah janji bakal ajak aku ke Jakarta lagi"

__ADS_1


"Terus?" Altar mulai terkekeh karena Laisa yang terus-menerus menjawab


"Terus gak jadi karena bunda sakit dan sakitnya itu gara-gara hamil Luna"


"Terus?"


"Terus ya gak jadi karena kasian ke Bunda gak boleh cape-cape."


"Terus?"


"Terus aku lupa deh karena bahagia mau punya Adek baru."


"Terus?" Altar sudah tertawa tanpa suara dengan masih terus menyetir


"Terus baru kali ini lagi deh aku ke Jakarta"


"Terus?"


"Ya udah gitu"


"Terus?" Tanya Altar untuk ke sekian kalinya


"Ko perasaan dari tadi kamu nanya nya terus terus Mulu deh Al. Ko rese sih Al" gerutu Laisa dengan mimik wajah lucu


"Ko kamu baru sadar si" Altar tertawa seiring dengan berhentinya mobil


"Rese yah" omel Laisa


"Aduh Laisa Laisa, ko kamu lucu si" kata Altar membuat Laisa langsung diam dan pipinya memanas


"Kenapa?" Tanya Altar


"Hemh? Apa?"


"Ko diem? Eh muka kamu?" Kata Altar


"Kenapa? Merah?" Tanya Laisa membelakan matanya


"Pucet" kata Altar sambil meletakan kedua telapak tangannya di kedua pipi Laisa "dingin banget, kenapa juga harus keluarin wajah, masuk angin tau rasa" omel Altar.


Laisa seperti langsung beku dengan keadaan seperti itu. Bukan hanya tangan Altar yang  ada di pipinya yang menjadi masalah. Tapi jarak wajah mereka dan mata coklat Altar yang bulat, Yang tepat berada di depannya. Tidak ada rasa takut yang di rasakan Laisa saat berhadapan sedekat ini dengan Altar yang ada hanya jantungnya yang melompat-lompat.


Altar melepaskan tangannya menggesekan kedua telapak tangannya, meniupnya sebentar dan menempelkannya kembali. Dan memang itu terasa hangat.


"Matamu bagus" komentar Altar


"Kamu juga" jawab Laisa tanpa sadar


"Oh yah?" Goda Altar


"Hah? Apa?" Tanya Laisa sadar


"Hahaha nggk, udah anget kan?" Tanya Altar dan melepaskan tangannya


"Oh iya udah, thanks Al."


"Oke. Yaudah ayo turun kita udah sampe."


"Oke. Wih makan enak nih" kata Laisa


"Saya yang traktir, ayo" ajak Altar dan dengan senang Laisa keluar dari mobil

__ADS_1


☘☘☘


__ADS_2