
Pagi ini pagi-pagi sekali Altar sudah ada didepan rumah Laisa, duduk dengan secangkir teh hangat yang sengaja di buatkan ibu Laisa untuknya.
"Teh Laisa teh Laisa" Luna mengetuk-ngetuk pintu kamar Laisa.
"Apasi?" Tanya Laisa yang membuka pintu sambil membuat dasinya rapi.
"Kata Bunda ayo, kasian pangeran kak Laisa udah nungguin" kata Luna dengan senyum menggoda Laisa.
"Pangeran apaan? Kodok? Dasar ngaco"
"Ih itu kak Altar udah ada didepan udah Bunda kasih teh hangat"
"Lah? Pagi banget gini?"
"Ah teh Lais lama. Udah cepet beresin terus kita makan sama-sama." Kata Luna dan segera pergi meninggalkan Laisa yang cepat-cepat merapikan pakaiannya.
Setelah selesai Laisa langsung menuju meja makan dan sudah ada Luna dan Altar yang sedang bercanda.
"Hahaha ko jorok si kak Altar" kata Luna tertawa.
"Hahaha itu gak sengaja Luna serius" jawab Altar. "Eh selamat pagi tuan putri" sapa Altar setengah berbisik.
"Pagi" jawab Laisa dan tersenyum lalu duduk.
"Yasudah ayo kita makan" kata Yuni yang membawa sup hangat.
"Wih makasih Bun" kata Altar dengan antusias. Dan Laisa hanya tersenyum didalam hatinya melihat ekspresi altar yang terlihat seperti kelaparan, sambil menuangkan air ke gelasnya.
"Sama-sama, ayo makan, makan yang banyak yah ini gratis ko" kata Yuni.
"Siap Bun, jujur yah Bun sebenernya saya kesini emang niatnya mau minta sarapan" kata Altar sambil mulai mengambil nasi.
Ukhuuuu
Laisa segera menyimpan gelasnya dan batuk-batuk.
"Hati-hati dong Teh ah Teteh mh kaya anak kecil aja" kata Yuni sambil memukul-mukul punggung Laisa yang tersedak.
"Hati-hati Lais, katanya ada yang meninggal karena tersedak tau" kata Altar sambil mulai mengambil sup karena sebenarnya Altar sadar Laisa tersedak karena ucapannya mengatakan meminta sarapan mungkin keberanian kata-kata Altar didepan ibunya yang membuat Laisa tersedak.
"Apasi ngaco" kata Laisa
__ADS_1
"Luna juga pernah baca" kata Luna nyambung.
"Weeehhh tos kita Luna tos" Altar mengangkat tangannya yang langsung di pukul oleh Luna.
"Kalian yah" kata Laisa sedikit kesal.
"Udah-udah ayo makan, nanti kalian semua kesiangan ke sekolah. Hati-hati makanya Teh" kata Yuni kepada Laisa dan Laisa mengangguk.
☘☘☘
Laisa berjalan sejajar bersama Altar menuju kelas setelah sebelumnya tentu saja mereka berangkat bareng dari rumah Laisa.
"Laisa Laisa Laisa Laisa Laisa" kata Altar. Laisa hanya meliriknya sebentar lalu mengkerlingkan matanya.
"Laisa oooh Laisa Laisa Laisa Laisa" kata Altar lagi. Laisa menatapnya kembali sebentar kemudian tersenyum merasa lucu sendiri.
"Laisa Ayuningtyas, Laisa Ayuningtyas, Laisa Ayuningtyas" kata Altar sekarang dan membuat Laisa menyikut lengannya karena risih dengan beberapa orang yang mendengar apa yang dikatakan Altar. Altar hanya tersenyum saja dan malah semakin jail.
"Bro Lo tau nggk?" Tanya Altar kepada seorang siswa yang ada di koridor.
"Apaan?" Tanya Laki-laki itu.
"Altar kamu apa-apaan si?" Laisa jengkel sendiri.
"Ngenalin kamu, biar mereka gak bertanya-tanya siapa nama cewek cantik yang ada di samping saya sekarang" jawab Altar enteng.
"Al tapi gak gitu juga...."
"Hey Neta ini namanya Laisa, dia lebih cantik dari Lo" kata Altar kepada Neta yang langsung melemparkan tatapan sebal kepada Laisa.
"Al ih udah"
"Hey Net, lain kali gak usah ngaku-ngaku gue milik Lo yah, sampe harus marah-marah ke cewek yang gak tau apa-apa soal semuanya. walaupun nanti tuhan bilang gue harus berjodoh sama Lo gue tetep bakal gugat cerai Lo setelah menikah. Semoga hari Lo lebih berwarna yah Net" kata Altar dengan entengnya lalu pergi menggenggam tangan Laisa meninggalkan Neta dengan wajah merah karena menahan emosi, belum lagi banyak yang melihat kejadian itu.
"Altar kamu ngapain si ngomong gitu ke kak Neta gak sopan tau nggk, aku cewek, aku bisa rasain gimana rasanya jadi Kak Neta itu pasti bikin dia marah sekaligus malu banget kar...."
"Saya tau apa yang terjadi Minggu lalu pas kamu latihan band untuk acara festival mu, Bintang sudah cerita semuanya ke saya. Denger baik-baik yah Laisa Ayuningtyas, jangan pernah takut atau merasa apapun sama dia daaann..."
"Jadi sebenarnya kamu ada hubungan apa sebelumnya sampai Kak Neta kek gitu sama kamu?" Tanya Laisa, walaupun Laisa sudah tau intinya dari Zidny tapi Laisa tetap ingin mendengar penjelasan.
"Eeeeeemmmh apa yah gak ada yang pendek ceritanya, Panjang banget kalo diceritain, gak bakalan abis sampe dua hari dua malem" jawab Altar sambil becanda.
__ADS_1
"Yaudah terserah kamu" jawab Laisa dan masuk ke kelas mendahului Altar kemudian menyapa teman-teman kelasnya.
☘☘☘
"Lo berantem sama Altar?" Tanya Zidny siang ini saat istirahat ke dua dikantin.
"Nggk, kenapa nanya gitu?" Tanya Laisa.
"Keliatan aja, hari ini Altar diem Lo juga diem, Altar bersikap kaya yaudah biarin aja dulu, kek gitu sama Lo" kata Zidny.
"Ada masalah apa?" Tanya Sinta "harus baikan, gak baik marahan kek gitu ah" lanjutnya.
"Gue gak marah, mungkin dia aja yang ngerasa salah"
"Soal Neta?" Tanya Zidny.
"Jadi tadi pagi.." dan Laisa menceritakannya sampai akhir.
"Iya sih harusnya si Altar cerita" kata Sinta yang pertama kali merespon.
"Gue setuju sama Sinta deh kali ini." Jawab Zidny
"Tapi mungkin dia juga butuh waktu kali Lais, gue rasa si dia ngerasa kalau dia cerita semuanya Lo bakal salah faham atau bahkan Lo bisa marah sebelum Altar nyelesain semua penjelasannya, walaupun Lo udah tau dari Zidny, tapi Altar kan gak tau Lo udah tau." kata Sinta.
"Anjirrrr Lo sarapan apa tadi pagi?" Tanya Zidny.
"Kupat tahu dari kantin. Kenapa?" Tanya Sinta.
"Tumben si Lo pinter ya ampun Sinta Lo selamanya kek gini dong" kata Zidny.
"Apaan si gue emang pinter kali" jawab Sinta
"Haha udah-udah" kata Laisa.
"Gue setuju banget tuh sama yang di bilang Sinta" kata Zidny.
"Yaudah iya-iya, pokonya makasih yah Sinta" kata Laisa dengan senyumnya.
"Sama-sama Laisa, santai ae sama gue mah." Jawab Sinta dan Laisa juga Zidny ikut tertawa sambil membenarkan apa yang dikatakan Sinta yang hari itu menurut Zidny sedang pintar.
☘☘☘
__ADS_1