
"Lais saya mau pamit" kata Altar
"Masih hujan juga ih"
"Gakpp"
"Gkpp apanya si? Jangan ah nanti aja kalo udah reda. Ngapain ganti baju barusan kalo mau hujan-hujanan lagi. Motor kamu juga di pos satpam depan kan? Jauh, jangan"
"Kamu khawatir?" Tanya Altar membuat Laisa langsung diam gugup.
"Kita temenan kan? Sama temen harus gitu"jawab Laisa
"Gitu yah?" Kata Altar dengan nada menggoda
"Teh, ayo makan dulu. Panggilin Luna"
"Iya Bun" jawab Laisa "ayo sana ke meja makan, makan dulu."
"Siap" jawab Altar
"Ih" cibir Laisa tersenyum lalu pergi ke kamar Luna
Altar hanya mengecek hpnya dan terdapat beberapa pesan di WA nya. Ada dari Kelvin dan Mario yang ngajak nongkrong malam itu, ada voice note dari Zidny yang isinya menanyakan dimana tempat air dan headset nya sambil marah-marah dan penuh ancaman Altar menutup kuping dan memicingkan matanya.
"Si toa" cibir Altar
Dan terakhir ada pesan dari Neta yang menanyakan dimana Altar tanpa membalas pesan siapapun Altar langsung menyimpan hpnya diatas meja dan segera berjalan kemajea makan setelah melihat Laisa dan Luna keluar dari kamar.
"Wih nyuruh makan nih Bun?" Tanya Altar
"Nggk ih Bunda mah mau suruh nontonin makanan" canda Yuni Laisa dan Luna tersenyum
"Duduk" kata Laisa
"Ayo-ayo duduk Becanda ko Bunda" ulang Yuni
"Bunda ih suka gitu" kata Altar
"Hallo Abang gorila." Sapa Luna
"Hai Luna cantik" sapa Altar sambil tersenyum lebar
"Namanya kak Altar yah?" Dan Altar mengangguk
"Namanya Luna yah?" Tanya Altar balik dan Luna tersenyum mengangguk
"Udah-udah ayo makan dulu" ucap Yuni dan semuanya mulai makan.
"Bang Altar pacarnya teh Laisa?" Tanya Luna tiba-tiba membuat Laisa tersedak
"Insyaallah" kata Altar tenang sambil berbisik keras
"Haha" Luna hanya tertawa
__ADS_1
"Luna" Laisa memelototinya tapi Luna hanya menjulurkan lidahnya tidak peduli sedangkan Yuni hanya tersenyum saja.
"Setelah hampir dua tahun lamanya baru kali ini Lo aku liat Teh Lais berteman lagi sama cowok. Nih yah Bang, Teh Laisa anti cowok dia trauma berat sama yang namanya cowok karen dulu Teh La...."
Brang... Laisa menjatuhkan sendoknya dengan sengaja lalu pergi meninggalkan semua yang berada di meja makan.
"Luna jangan gitu" kata Yuni
"Yaaah maaf Bunda Luna kira Teh Lais gak bakalan semarah itu sama Luna. Bang Al maafin" kata Luna
"Iya gakpp ko" kata Altar dengan sedikit kebingungan
"Maafin Laisa yah Altar" ucap Yuni
"Gkpp ko Bun" jawab Altar
Makan sudah selesai, hujan sudah reda.sepertinya tidak ada ciri-ciri Laisa akan keluar dan Altar memutuskan untuk pamit saja.
"Bunda Luna Altar pamit deh, hujannya udah reda juga" kata Altar sambil bersalaman
"Bang Al hati-hati yah, kapan-kapan maen lagi kesini" kata Luna
"Siap" jawab Altar
"Yaudah ayo bunda anter sampe depan sekalian ada yang mau bunda omongin. Luna sana temuin Teh Lais minta maaf" kata Yuni
"Iya Bun" jawab Luna lalu pergi sedangkan Altar dan Yuni segera berjalan keluar lalu duduk di kursi yang berada di teras depan.
"Maafin Laisa yah tadi tiba-tiba pergi gitu aja"
"Syukur lah. Bunda liat-liat kamu kenal dekat sama Lais"
"Iya Bun, kebetulan kita emang semeja soalnya di kelas saya cuma duduk sendiri kebetulan" kata Altar
"Oh gitu. Emmh begini nak Altar sebenernya Bunda khawatir sekali kepada Laisa takut dia tidak bisa berinteraksi dengan baik di sekolahnya. Tapi setelah hari ini Bunda jadi lega melihat Laisa dekat dengan Altar"
"Emh santai aja Bun, jujur aja saya mah berandalan Bun, pertama ketemu Laisa juga pas saya nyelinep masuk ke taxi di hari pertama Laisa mau masuk sekolah. Dan itu gara-gara saya tawuran sepagi itu dan di kejar-kejar polisi. Saya gitu Bun" Altar nyengir
"Kenapa kamu tawuran?" Tanya Yuni
"Ya gak tau, yang pasti saya gak bikin gara-gara duluan ko Bun, kalo saya di patok ular masa saya biarin tu ular. Ya gitulah Bun jadi saya lawan. Bukan maksud so jagoan ko" jelas Altar lagi
"Haha. Oke-oke Bunda ngerti. Jujur pisan Altar mah" kata Yuni dan Altar hanya nyengir
"Iya Bun gitu."
"Kalo gitu berarti kamu jagoan dong yah? Playboy yah?" Tanya Yuni membuat Altar mengerutkan dahinya. Bukan di pertanyaan jagoannya tapi di Playboy
"Gak jagoan tapi bisa berantem Bun, yaelah Bun, nggk lah berandalan juga insyaallah gak Brengsek kalo sama cewek"
"Bunda lega dengernya semoga saja kamu memang begitu"
"Maksudnya Bun?"
__ADS_1
"Sebenarnya Laisa trauma sama laki-laki"
"Lah ko?"
"Dengerin dulu makanya. Ada kejadian fatal yang membuat Laisa benar-benar anti laki-laki sekalipun itu saudara-saudaranya. Jadi intinya Bunda titip Laisa sama kamu. Tolong jagain Laisa. Jangan sampai dia melihat kekerasan fisik. Dan dia tidak akan bisa bersentuhan dengan laki-laki" jelas Yuni yang membuat Altar kebingungan
"Kalo sampe itu terjadi reaksinya gimana Bun?"
"Dia akan ketakutan, menangis histeris, bertingkah seperti orang tercekik seperti itu lah kira-kira. Dan dengan Bunda melihat Laisa dekat dengan kamu itu merasa bunda senang. Mungkin kamu tidak akan menyadarinya karna jika hanya mengobrol dengan lawan jenis dia akan santai tapi tidak jika sudah bersentuhan atau dia yang dibuat risih oleh laki-laki. Dan apa yang di ucapkan Luna tadi bener. Semenjak itu dia lebih sering sendiri."
"Udah nyoba konseling Ke psikiater gitu Bun?"tanya Altar
"Udah. Tapi perubahannya tidak terlalu terlihat. Pokonya bunda titip Laisa lindungin dia dari hal yang sudah Bunda sebutkan tadi. Walaupun kamu tukang tawuran tapi kamu akan bisa menempatkan dimana kamu harus bertindak melakukan kelakuan burukmu. Cuma Kamu teman laki-laki Laisa yang bunda kenal" jelas Yuni dan Altar hanya mengangguk sambil kebingungan. Perasaannya campur aduk sekarang bahkan setelah sampai di rumah.
Apa kejadian waktu itu gara-gara dia yang trauma? Tapi saat itu apa yang membuat dia trauma. Batin Altar
🍃🍃🍃
Laisa masih berbaring di tempat tidurnya sampai akhirnya telponnya berbunyi tanda telpon masuk. Itu dari Altar
"Hallo Lais" sapa Altar
"Udah sampe rumah?" Tanya Laisa
"Udah. Kamu marah sama saya?"
"Nggk"
"Ko tadi pergi gitu aja"
"Kesel aja sama Luna"
"Haha its oke. Besok aku Jemput yah"
"Gak usah aku naik taxi ko"
"Emmh yaudah saya tunggu di kelas"
"Iya"
"Laisa?"
"Iya?"
"Cuma manggil"
"Kebiasaan"
"Haha aku tutup yah. Selamat malam"
"Kembali" jawab Laisa dan sambungan terputus.
Laisa tersenyum dan memikirkan tentang kata-kata Luna yang mengatakan tentang dirinya yang bisa dekat dengan Altar.
__ADS_1
"Kenapa aku biasa saja jika dengan Altar? Dia kan cowok juga" Laisa berbicara sendiri "ah sudahlah" lanjutnya dan bersembunyi dibalik selimut.
🍃🍃🍃