
Setelah selesai di warung mang Rohman, Altar segera melaju dengan motornya membawa Laisa yang mengisi jok belakang motornya.
Tidak ada obrolan apapun di atas motor. Altar tidak memulai obrolan apapun begitupun Laisa yang jelas tidak akan memulai lebih dulu. Altar hanya fokus pada jalanan lalu sesekali melihat wanita yang sedang ia bonceng lewat kaca sepion motornya dan tersenyum tanpa alasan.
Setelah sampai Altar segera memarkir motornya dan mengikuti Laisa yang mengajaknya untuk masuk.
"Bundaaaaaa" Kata Laisa dan masuk ke dalam.
"Bunda gak ada." kata Luna dari dalam.
"Kemana?" tanya Laisa.
"Eh ada bang Altar. Luna suka liat teh Lais bawa cowok ganteng ke rumah." kata Luna dan Altar hanya tersenyum.
"Bisa dong yah abang sering kesini" kata Altar.
"Lunaaaa Bunda kemana?"
"Arisan." jawab Luna.
"Jelas. Duduk bang, Luna ambilin minum." katanya lagi "Mau minum apa?"
"Jus markisa?"
"Gak ada"
"Air bening aja" jawab Altar tersenyum.
"Oke. Bentar yah." Kata Luna dan Altar mengangguk.
"Dasar centil" oceh Laisa.
"Kayanya kamu dulu juga gitu" kata Altar.
"Enggak yah. Aku gak gitu. Aku ganti baju dulu yah" kata Laisa dan Altar mengangguk.
Altar duduk sendiri di ruang tamu. Untuk pertama kalinya dia masuk ke rumah Laisa secara sengaja. Karena sebelum-sebelumnya dia hanya karena kebetulan masuk ke rumah itu dan tidak memperhatikan apapun di dalamnya. Tapi sekarang Altar bisa melihat foto-foto yang menempel di dinding. Ada foto keluarga lengkap dan dua foto anak kecil dengan tulisan nama dan umur. Altar melihat foto Laisa saat masih kecil di sana. Di sebuah frame kecil dengan gambar diri wanita lucu di sana.
"Minum dulu" kata Luna dengan segelas air.
"Waaaaah kayanya saya bentar lagi jadi ikan." kata Altar.
"Kenapa emangnya? Bang Al salah satu pemeran legenda Fanau Toba?" tanya Luna tiba-tiba. Altar yang juga tahu tentang kisah danau Toba dan anak ikan nya yang terkenal itu tertawa.
"Hahaha kamu beda banget sama Laisa."
"Banyak yang bilang sih. Bagusnya kita berbeda tuh karena jelas aku lebih cantik. Jeleknya aku gak bisa kontrol kata-kata, jadi Bunda sering marah karena aku terlalu nyablak" Keluh Luna pada Altar.
__ADS_1
"Hahaha saya rasa juga gitu"
"Eeemmmh, Eh, Bang Altar suka yah sama Teh Lais.?" tanya Luna tiba-tiba.
"Suka."
"Cinta?"
"Iya" jawab Altar. Tidak ada salahnya dia jujur.
"Waaaaaaaahhh Bang Altar jujur banget."
"Bohong kan dosa"
"Iya sih. Maksudnya gentle banget. Berani bilang perasaan"
"Belum pake banget. Saya belum bilang ke kakak kamu"
"Ya jangan dulu"
"Lah? kenapa?"
"Kalau sekarang sekarang Bang Al pasti di tolak." Kata Luna.
"Lah? emang iya? dia cerita?"
"Soal Laisa yang trauma sama cowok, gak bisa liat kekerasan, hal itu?"
"Oh udah yah. Nah jadi atas dasar itu aku bilang Bang Al bakal di tolak."
"Emmmh gitu. Tapi kan Teh Laisnya gak apa-apa kalau sama Saya"
"Iya sih. Tapi dia dulu pernah cerita ke aku. Dulu sih aku masih kecil, denger dia cerita ya cuma denger aja gak bisa rasain feelnya. Cuma karena sekarang aku udah gede, sedikit-sedikit aku mulai ngerti dan aku sendiri gak bisa bayangin gimana kalau aku ada di posisinya Teh Lais. Semenjak kejadian itu dia bener-bener kayak gak hidup lagi, terutama soal cowok dan topik seputar pasangan, dia pesimis banget bisa berhubungan sama cowok lagi" kata Luna panjang lebar.
Altar diam sebentar menyerap kata-kata Luna dan dia menyadari bahwa dia belum tahu penyebab dari semua traumanya Laisa itu.
"Kenapa Laisa bisa sampe mikir gitu?"
"Ya cewek baik-baik yang kayak gimana sih Bang yang punya pikiran bisa bersama sama cowok yang dia suka, dengan keadaan dirinya sendiri yang udah gak sempurna dalam hal yang paling penting yang harus di miliki cewek. Gimana seorang ratu bisa di sebut ratu setelah mahkota nya hilang. Mungkin bisa saja untuk orang yang percaya sama dia, tapi gimana sama perasaan ratu itu sendiri? Teh Laisa juga gitu." Kata Luna dan Altar tertegun walaupun masih sedikit ambigu tapi jantung nya berdegup kencang.
"Dan saya akan jadi orang yang percaya sama dia kalau dia masih tetap ratu tanpa mahkotanya" kata Altar pelan-pelan ingin tahu tanpa mengatakan bahwa dia sebenernya belum tahu apa-apa.
"Iya sih. Sebenernya Mahkota ratu itu di curi bukan di berikan" kata Luna dan fakta itu membuat Altar rasanya semakin sulit bernafas lega.
"Ratu yang malang" kata Altar lagi.
"Iya. Waktu itu gak terlalu ngerti apa-apa soal segala yang terjadi sama Teh Lais. Tapi sekarang aku makin sadar, apa yang terjadi sama dia benar-benar berat. Aku bersyukur Teh Lais udah jauh lebih baik sekarang. Kita juga udah pindah kesini, perlahan Teh Lais udah bisa lupain para ******** yang udah ngambil mahkotanya" kata-kata Luna sampai di sana dan Altar semakin sesak. "Pokonya aku dengan sangat memohon sama Bang Al buat selalu jagain Teh Lais, sekalipun mungkin suatu saat Bang Al mikir, kalau masih banyak wanita dengan predikat wanita utuh di luar sana, tapi tolong perlakuin Teh Lais sebagai teman Abang yang baik." kata Luna.
__ADS_1
"Iya Luna pasti" kata Altar.
"Pasti? ngomongin apa sih?" tanya Laisa yang baru saja datang dengan beberapa macam biskuit yang ada di tangannya.
"Rahasia" jawab Altar dan Laisa hanya memutar bola matanya.
"Teh Laisa tumben mandi jam segini"
"Gerah"
"Bukan karena pengen wangi deket Bang Al?" tanya Luna.
"Teteh bukan kamu"
"Aku adalah jelmaan jiwa teteh yang terpendam. You know?" tanya Luna. "Bang Al aku ke kamar dulu"
"Hahaha iya Lun"
"Ya ampuuuun Luna kenapa sih ka..."
"Apa? wleee" katanya dan pergi.
"Waaah bener bener yah. Awas aja kalau minta bantuin ngerjain tugas" Kata Laisa Altar hanya tersenyum dengan perasaan seadanya. Dia benar-benar masih syok tentang kebenaran semu yang baru saja terlontar di setiap kata yang ucapkan Luna.
Apa yang sebenarnya terjadi? bagaimana ceritanya? Altar terus mempertanyakan hal hal yang tidak bisa ia cari tahu sendiri tanpa petunjuk yang jelas. Namun satu hal yang pasti dia merasa ingin memeluk Laisa sekarang. Dan mengatakan hal-hal baik. Bahwa semuanya akan baik-baik saja dan berjanji bahwa dia akan selalu ada di sisinya.
"Kenapa?" tanya Laisa yang melihat Altar terus menatapnya.
"Hemh? enggak gak apa-apa. Kamu lama banget ganti baju"
"Aku mandi sakalian"
"Biar wangi yah deket saya?"
"Kamu bener-bener udah jadi kaum nya Luna yah. " kata Laisa. "Bentar, kayanya Luna sih yang terdoktrin sama kamu"
"Hahaha. Luna emang biasanya gak gitu?"
"Dia emang bar bar sih dari dulu. Cuma biasanya kalau sama orang baru dia gak gitu, tapi herannya sama kamu malah ya gitu kamu tau sendiri sama Kak Bintang juga."
"Sama Kak Bintang?"
"Iya pas malem dia nganterin aku juga si Luna so kenal banget. Dia bilang sih dia cuma gitu kalau temen aku nya ganteng"
"Hahaha Luna Luna" Kata Altar. Dia benar-benar berusaha terlihat biasa saja di balik hatinya yang tidak menentu setelah mendengar apa yang di katakan Luna tadi.
🐝🐝🐝
__ADS_1