Irama SMA

Irama SMA
Episode 38


__ADS_3

Jam pelajaran terakhir di isi dengan pelajaran Biologi dengan praktikum yang di lakukan di lab biologi. Laisa yang satu kelompok dengan Zidny dan Altar juga dua temannya yang lain, menjadi kelompok yang pertama menyelesaikannya.


"10 menit lagi yah." Seru guru yang mengajar.


"Udah selesai berarti pulang yah Pak." kata Altar.


"Sombong." kata Mario dan Altar hanya menengadahkan kepalanya dengan wajah sombong padahal sejak tadi dia hanya diam sambil memperhatikan Laisa yang dengan sungguh-sungguh mengerjakannya.


"10 menit lagi."


"Iya pak." jawab Altar dan diam melihat Zidny yang sedang mengerjakan laporannya di sisa sepuluh menit terakhir.


"Kamu udah telpon Bunda kamu?" tanya Altar pada Laisa yang kembali mengecek hasil praktikum nya bersama dua temannya yang lain.


"Aku suka sambel."


"Bunda juga. Jadi pasti ada."


"Waaah mantap. Calon menantu sama calon mertua udah punya kesamaan." kata Altar.


"Astagaaaa." kata Zidny yang sedang menulis.


"Ngiri aja Lo." kata Altar sambil menoyor kepala Zidny ke depan.


"Sialan Lo." Umpat Zidny pelan.


"Hahaha kalo berani yang kenceng dong." kata Altar lagi.


"Diem!" kata Zidny dengan mata melotot nya.


"Wuiiiihhh santai dong." kata Altar yang mundur dan tidak lagi mengganggu Zidny.


10 menit berlalu Altar dengan perasaan senangnya segera berdiri dan bergegas menggendong tas nya.


"Laisa, karena saya punya hutang gorengan ke Mang Rohman, jadi saya mau bayar dulu ke sana. Nanti kamu tunggu di gerbang aja kalau aku belum stay di sana." Kata Altar.


"Oke." jawab Laisa yang minggu ini adalah jadwal piket lab nya bersama Zidny dan tiga orang lainnya.


"Kunci mobil Kak Bintang udah di Lo kan?" tanya Zidny.


"Iya udah." kata Altar.


"Al buruan, mau ke mang Rohman dulu kan?" tanya Kelvin.


"Iya. Bentar." kata Altar dan sekali lagi pamit pada Zidny dan pergi.


"Orang gila." kata Zidny mencibir tingkah Altar yang memang bisa membuat gila yang melihatnya.


"Kamu udah telpon Kak Bintang nya?" tanya Zidny.


"Belum. Nanti aja, pas ini udah selesai." kata Laisa.


"Oke deh." kata Zidny dan dengan cepat keduanya menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah selesai keduanya segera keluar dan tidak menemukan Altar di gerbang. Laisa segera mengeluarkan handphone nya dan mengetik pesan untuk dikirimkan pada Altar.


AltarNicolas


Aku udah di gerbang yah. Ini nunggu sama Zidny.

__ADS_1


"Beneran cuma ke warung Mang Rohman gak sih tu bocah." Kata Zidny.


"Aku udah chat dia ko. Dia pasti kesini bentar lagi." Kata Laisa.


"Yaudah Lo telpon dulu Kak Bintang aja." kata Zidny. Laisa mengangguk lalu segera menelpon Bintang.


๐Ÿ“žHallo


Sapa laki-laki di seberang sana.


๐Ÿ“žKenapa Lais?


Tanyanya.


"Kak Bintang dimana?" Tanya Laisa.


๐Ÿ“žDi rumah. Kenapa?


"Oh udah pulang. Jadi gini, ayo makan di rumah aku. Bunda ngundang Kak Bintang, Altar sama Zidny buat makan di rumah." Kata Laisa mempersingkat penjelasannya.


๐Ÿ“žOh gitu? Sekarang juga?


"Aku masih di sekolah sih. Ya 30 menit lagi? atau kalau emang Kak Bintang gak bisa, ya gak apa-apa juga sih."


๐Ÿ“žGak bisa mau kemana. Bisa lah pasti. Aku otw bentar lagi. Kamu masih dimana?


"Oke. Aku masih di sekolah, ini nunggu Altar ke warung Mang Rohman dulu."


๐Ÿ“žOh gitu. Altar bilang kan dia bawa mobil aku?


"Iya Kak."


๐Ÿ“žOke. Yaudah sampai ketemu di rumah kamu yah.


"Oke kak."


๐Ÿ“žOke.


"Kemana sih. Chat aku juga gak di read."


"Dasar kampret. Yaudah kita susulin aja yuk." kata Zidny.


"Yaudah oke." Jawab Laisa. Keduanya berjalan menuju warung Mang Rohman yang ada di samping belakang sekolah.


Sampai di warung Mang Rohman Laisa dan Zidny tidak menemukan siapapun.


"Ko sepi" kata Zidny yang berhenti berjalan di jarak yang tidak begitu dekat dengan warung.


"Iya." jawab Laisa.


"Yaudah jalan aja dulu." kata Zidny lagi dan keduanya semakin mendekat ke arah warung tapi tak kunjung menemukan siapapun.


"Misi, Maaaaang." panggil Laisa dan tak lama Mang Rohman datang dari dalam.


"Oh Neng Laisa. Akhirnya eneng kesini, tadinya Mamang mau ke depan sekolah bentar lagi. "


"Memangnya kenapa Mang?" tanya Laisa.


"Jadi Mang Rohman di suruh nyampaiin omongan dari Altar." Kata Mang Rohman dan duduk di ikuti Laisa dan Zidny.

__ADS_1


"Apa?" tanya Laisa.


"Katanya kalian duluan saja pulangnya. Nanti dia nyusul. Ini kunci mobil biar di bawa temen Eneng Laisa aja. Begitu katanya." kata Mang Rohman sambil menyodorkan kunci mobilnya. Orang yang di maksud Altar untuk menyetir adalah Zidny.


"Lho? Memangnya Altar nya kemana?" Tanya Zidny.


"Oh dia ada urusan dulu."


"Urusan apa?" tanya Laisa yang sudah mulai tak tenang.


"Mamang juga gak tahu." Jawab Mang Rohman ragu-ragu.


"Altar ketemu musuh nya tadi?" tanya Zidny langsung karena dia tahu dari sekeliling halaman warung yang banyak jejak motor. Zidny juga tahu bahwa Anton dan teman-temannya pun sering nongkrong di warung mang Rohman.


"Hah? Oh, memangnya siapa musuh Altar?" tanya Mang Rohman yang tidak pandai berbohong sama sekali.


"Mang, jujur aja, gak apa-apa Ko. Altar kemana?" tanya Laisa yang juga sepemikiran dengan Zidny.


"Gak apa-apa Mang. Siapapun udah tahu kalau Altar biang onar. " kata Zidny lagi.


"Tapi Altar bilang Neng Laisa jangan sampai tahu ini. Dia takut Neng Laisa kenapa-napa katanya." kata Mang Rohman.


"Saya gak apa-apa. Justru saya akan kenapa-napa, kalau saya gak tahu ini." kata Laisa. Mang Rohani tampak ragu tapi akhirnya dia mengatakannya.


"Jadi tadi saat Altar, Kelvin dan Mario sampai di sini, di sini sudah ada anak-anak dari sekian lain. Mereka anak-anak yang bisa dikatakan tidak punya masalah dengan Altar dan beberapa berteman baik dengan Altar juga dengan Anton" Kalimat terakhir yang Mang Rohman ucapkan membuat keduanya menghela nafas dan sudah tahu kemana arah pembicaraan itu selanjutnya.


"Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai ada seseorang yang bertanya tentang apa pacar Altar benar, punya trauma? Saat itu juga Altar langsung emosi dan meminta penjelasan lebih lanjut tentang apa yang di katakan orang itu. Sampai akhirnya orang itu cerita, kalau dia tahu dari salah satu anak buah Anton tentang pacar Altar yang memiliki trauma parah. Altar menanyakannya lebih lanjut dan satu poin pasti yang membuat Altar langsung pergi adalah tentang malam festival." Jelas Mang Rohman.


Laisa meremas rok nya dan Zidny yang menghela nafas nya lalu menepuk-nepuk bahu Laisa pelan.


"Altar langsung pergi sama Kelvin dan Mario entah akan kemana. Dan dia menitipkan kata-kata juga kunci mobil itu ke Mamang dan mengatakan supaya Neng Laisa gak tahu ini, karena katanya Neng Laisa bisa dalam bahaya. Jadi Mamang Mohon, kalian pulang saja. Jangan terlalu khawatir Mamang sudah mengenal Altar sejak lama, dia tidak akan berlebihan dalam masalah ini. Dia juga akan baik-baik saja." kata Mang Rohman berusaha menenangkan Laisa yang sudah panik. Siapapun yang melihatnya, akan langsung tahu bahwa Laisa sedang panik, takut dan bingung sekarang.


"Yaudah Mang, makasih yah udah ngasih tau. Sekarang kita mau pulang dulu." kata Zidny.


"Iya. Hati-hati yah Neng." kata Mang Rohman.


"Iya Mang. Mari." Kata Zidny lagi, dan pergi membawa Laisa yang tubuhnya sudah mulai melemas.


"Kamu tunggu di sini, Aku ambil mobil." kata Zidny mendudukkan Laisa di kursi besi yang ada di bawah pohon di pinggir jalan yang masih pelataran sekolah.


"Bentar Zid, Kita harus nelpon dulu kak Bintang." kata Laisa berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan beberapa kali menarik nafasnya.


"Yaudah oke. Sini biar aku yang ngomong." kata Zidny yang ikut panik melihat Laisa yang terlihat lemah. Bagaimanapun, Zidny belum tahu tentang trauma Laisa yang sebenarnya.


"Hallo Kak. ini aku Zidny."


๐Ÿ“žOh Zidny. Kenapa? Saya udah di jalan ko ini.


"Kak, Altar kayanya tahu soal kejadian malam festival deh. Sekarang kayanya dia nemuin Anton." Kata Zidny. Di sebrang sana Bintang langsung panik mengingat keadaan Laisa.


๐Ÿ“žKamu di mana? Laisa gimana? Dia baik-baik aja.


"Aku sama Laisa masih di sekolah. Laisa, dia panik kak. Aku gak tahu pasti kondisinya kayak gimana ini, tapi Laisa bener-bener panik sekarang. Nafasnya gak stabil gitu." Kata Zidny yang memperhatikan Laisa yang mulai terus menarik nafas panjangnya.


๐Ÿ“žYaudah. Kamu tunggu di situ. jangan tinggalin Laisa kemanapun. Tunggu di situ, Saya bentar lagi sampe situ.


"Oke kak."


Sambungan telpon terputus Zindy mengeluarkan botol minumannya dan di berikan pada Laisa.

__ADS_1


"Saaaa minum dulu. Tenang dulu. Gak apa-apa, semuanya bakal baik-baik aja." kata Zidny dan Laisa mengangguk lalu segera meminum airnya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2