
"Kak, kalau ada apa-apa kabarin." kata Laisa setelah turun dari mobil Bintang.
"Iya pasti. Kamu jangan terlalu khawatir. Tidur, besok pulang sekolah kita temuin Altar lagi." kata Bintang.
"Iya. Kakak hati-hati." kata Laisa.
"Iya. Salam ke Bunda sama Luna." kata Bintang.
"Iya." Jawab Laisa.
Malam ini Laisa pulang dari rumah sakit, di antar Bintang sampai di depan rumah. Sampai di rumah mata Laisa benar-benar sembab karena terus menangis. Saat sampai di rumah, Laisa kembali menangis di pelukan ibunya, mengadukan tentang kondisi Altar sekarang.
"Kamu mandi, makan, terus tidur. Besok setelah pulang sekolah, kita sama-sama ke sana liat Altar." Kata Yuni dan Laisa mengangguk setuju.
Laisa pergi ke kamar dan segera melakukan apa yang di perintahkan ibunya sebelumnya. Dia segera mandi lalu keluar dari kamar untuk makan malam.
Setelah selesai dia kembali ke kamar untuk merebahkan tubuhnya dan lagi lagi air matanya tidak bisa di bendung, Laisa kembali menangis. Sampai dering telpon nya membuat dia berhenti sejenak lalu bangun untuk menjawab telpon masuk.
Kak Bintang Calling......
"Hallo Kak."
πUdah makan?
"Udah. Altar gimana?"
πMasih tidur. Jangan nangis terus.
"Iya. Kak Bintang udah makan?"
πBaru mau. Ayah Altar bawain makanan.
"Yaudah, Kak Bintang makan dulu.
πIya. Kamu tidur. Besok kan sekolah.
"Iya. Kak Bintang sekolah?"
πIya. Pulang sekolah kita ke rumah sakit lagi
"Iya."
πYaudah, gih tidur.
"Iya. Kak."
π Selamat Malam.
Sambungan telpon terputus. Laisa menyeka air matanya lalu memutuskan untuk segera tidur walaupun sangat susah karena hati nya yang gelisah memikirkan Altar.
__ADS_1
"Maafin Aku Al." Kata Laisa pelan.
πππ
Bintang masuk ke kelasnya dengan wajah lesu, siapapun bisa melihat jika dia kurang tidur.
"Lo tidur di rumah sakit?" tanya Malvin.
"Iya."
"Gimana keadaan Altar sekarang?" tanya Malvin yang sudah mengetahui kabar tentang itu.
"Masih belum sadar." jawab Altar yang bisa di dengar oleh Neta yang menghampirinya.
"Apa kata dokter?" Tanya Neta.
"Luka di kepalanya cukup parah. Dokter nunggu hasil CT kepalanya. Selebihnya, Altar harus sadar lebih dulu." Jawab Bintang.
"Gimana Abang Lo?"
"Dia udah sadar." Jawab Neta pelan. Dia merasa malu pada dirinya sendiri tentang hal yang terjadi sama Altar sekarang. Dia bener-bener sadar bahwa yang dia lakukan selama ini cuma bikin Altar terus menerus ada dalam bahaya.
"Sebenernya apa yang terjadi sih? Maksud Gue, masalah kakak Lo sama Altar tuh apa sih?" Tanya Malvin. Neta diam tidak bisa menjelaskan apapun. Saat ini dia benar-benar malu pada dirinya sendiri.
"Soal Lo yang di perkosa si Altar?" Tanya Malvin terang-terangan.
"Emang itu bener Net? Lo bener-bener di perkosa Altar?" Tanya Bintang. Untuk pertama kalinya dia menanyakan langsung pada Neta setelah sekian lama dia tidak ingin menanyakan hal hal seperti itu karena dia percaya sahabatnya, Altar.
"Ya Lo kan bisa ngerasain. Gue denger dari Kakak gue, kalau cewek abis di perawanin, kerasa sakit, bahkan jalan pun susah. Kalau Lo gak inget, Lo ngerasa ada yang aneh sama tubuh Lo setelah pagi nya?" Tanya Malvin lagi sarkas. Dia tidak membela Altar, dia hanya ikut jengah melihat dan mendengar tentang rumor itu sejak tahun lalu dan karena Bintang yang jadi sahabatnya yang juga sahabat Altar.
Neta kembali diam. Dia seperti sedang di hunus pedang beberapa kali mendengar pertanyaan Malvin.
"Atau sebelum Altar perkosa Lo, Lo emang udah gak perawan lagi?" Tanya Malvin.
"Udahlah, tuh udah ada tugas." Kata Altar menunjuk ke arah papan tulis dengan sekretaris kelas yang sedang menuliskan tugas yang harus di kerjakan di jam pelajaran pertama.
"Tapi Net, emmmh gue sebenernya gak mau ikut campur soal hal ini. Bukan karena gue gak bisa ikut nyelesaiin semuanya. Cuma Altar bilang semuanya bakal ada akhirnya, dan sekarang, menurut gue ini udah ada di akhir tentang kasus Lo itu, jadi gue mau bilang ke sesuatu ke Lo." Kata Bintang.
"Pertama, Gue tau Lo suka Altar bahkan sebelum tentang pemerkosaan itu ada. Kedua, gue tau kalau Lo juga tau kalau Altar gak ngelakuin apapun sama Lo malem itu. Gue sadar bahwa apa yang Lo lakuin ini, adalah perjuangan Lo buat dapetin Altar. Dan keikutsertaan Abang Lo sama hal ini, gue faham karena Lo adik ceweknya. Tapi Net, coba Lo pikir sekarang, dengan semua upaya Lo itu, liat akhirnya sekarang, apa yang terjadi sama Altar, sebagai orang yang Lo suka. Lo gak apa-apa orang terkasih Lo mati karena Abang Lo sendiri yang jelas sayang sama Lo. Gue gak minta banyak sih Net, cukup dengan Lo jelasin ke Abang Lo tentang apa yang terjadi malam itu." Kata-kata Bintang berakhir. Dia berdiri lalu berjalan untuk keluar dari kelas.
"Kantin?" Tanya Malvin.
"Iya. Gue mau sarapan dulu. Mumpung cuma tugas doang." Kata Altar.
"Nanti gue nyusul." Kata Malvin dan Altar keluar dari kelas. Meninggalkan Neta yang berdiri menunduk di samping meja Malvin dengan air mata yang mulai berjatuhan. Dadanya benar-benar sakit, dia sadar tentang sesuatu yang salah pada dirinya dan menyesal untuk itu.
"Sorry Net mungkin omongan gue kasar. Tapi Net, gue harap Lo bisa mikir dari apa yang Bintang omongin barusan." Kata Malvin menepuk bahu Neta dan pergi meninggalkan Neta yang mulai berjalan ke meja nya lalu duduk dan menangis pelan di sana.
πππ
__ADS_1
Jam pulang sekolah yang di nantikan Laisa sudah tiba. Dengan cepat dia segera menelpon Bintang dan segera keluar setelah pamit pada Zindy yang hari ini memiliki jadwal Les.
"Ayo." Kata Bintang membukakan pintu mobilnya untuk Laisa. Laisa tersenyum dan masuk.
"Kak Bintang mau sandwich?" Tawar Laisa.
"Emang ada?"
"Ada. Tadi Bunda bawain bekel buat makan siang aku. Tapi aku lupa makan." Kata Laisa dan mengeluarkan sandwich yang di bawanya.
"Kenapa gak kamu makan? Kamu gak makan siang?" Tanya Bintang.
"Aku beli batagor tadi." Kata Laisa dan menyodorkan sandwich untuk Bintang.
"Aaah simpen aja dulu. Nanti aku makan kalau udah sampe rumah sakit." Kata Bintang karena tangannya sibuk menyetir. Laisa yang menyadari itu mengiyakan dan menyimpan kembali sandwich nya namun berubah pikiran.
"Aaa." Kata Laisa menyodorkan sandwich nya ke depan mulut Bintang.
"Hemh?"
"Ayo." Kata Laisa.
"Gak apa-apa?" Tanya Bintang dan Laisa mengangguk. Lalu dengan senang hati Bintang membuka mulutnya untuk menerima suapan Laisa.
"Eh, Mario sama Kelvin tadi ada sekolah?" Tanya Bintang.
"Gak ada." Jawab Laisa "Katanya mereka di rumah sakit jagain Altar."
"Padahal aku udah bilang gak usah. Mereka juga harus sekolah."
"Kalau gak gitu bukan Kelvin atau Mario kak." Jawab Laisa dan kembali menyodorkan sandwich nya.
"Iya juga sih." Jawab Bintang dan kembali mengunyah.
"Sebenernya Bunda hari ini mau ke rumah sakit, cuma karena ada rapat orang tua murid dadakan di sekolah Luna jadi gak bisa." Kata Laisa. .
"Oh gitu." Jawab Bintang.
"Iya."
"Luna kelas berapa?"
"Kelas dua." Jawab Laisa.
"Aku kira kelas tiga." Kata Bintang.
"Emang udah kayak ibu-ibu." Kata Laisa lagi.
"Hahaha dewasa. Bukan ibu-ibu." Jawab Bintang dan Laisa hanya tersenyum.
__ADS_1
πππ