ISTERI BAYARAN TUAN PRESDIR

ISTERI BAYARAN TUAN PRESDIR
PERGI


__ADS_3

Akhirnya Viorella memutuskan untuk pergi dari rumah kakek Harold, seperti yang sudah dikatakan oleh pria tua itu Viorella harus bisa membuat Erick menyadari perasaannya dan Viorella pun harus mengerti bagaimana perasaannya kepada Erick. surat perjanjian pernikahan itu memang sudah ditandatangani oleh Erick ketika mereka menikah, Viorella nampak menatap kertas itu. sesaat kemudian wanita itu menghela nafasnya.


"Mungkin ini lebih baik, daripada bersama namun akan saling menyakiti satu sama lain." ucap Viorella yang kemudian menandatangani surat perjanjian nikah tersebut. predikat sebagai istri bayaran Presdir kini sudah ditinggalkan oleh Viorella, semuanya lebih baik seperti ini.


"Sekarang kakek ingin kamu menjadi wanita yang lebih kuat, Jangan lemah, jangan biarkan perasaanmu menghancurkan dirimu sendiri." ucap kakek Harold yang kemudian memeluk Viorella dengan erat.


"Aku akan mengemas barang-barang ku, kek." ucap Viorella.


"Tentu." jawab kakek.


Erick yang berada di kamarnya dia tidak tahu kalau Viorella sudah berkemas-kemas dan akan pergi dari rumah itu. pria itu masih tenggelam dalam semua kebingungan yang terus menghantui dirinya.


KEESOKAN HARI


pagi sudah menyinari kamar yang ditempati oleh Erick, sinar mentari itu menembus jendela kaca hingga membuat pria itu sedikit terganggu.


"Wanita itu kenapa sih harus membuka tirai kamar." ucap Erik yang masih belum sadar.


Semuanya benar-benar terasa seperti mimpi yang barusan dihadapi oleh pria itu, nampak Erick berdiri. dia baru mengingat Kalau Viorella tidak ada di kamar karena masih marah dengan kata-kata yang dia ucapkan kemarin. Erik menatap kamarnya, menghela nafasnya kemudian berjalan ke kamar mandi.


10 hingga 15 menit kemudian Erick sudah keluar dari kamar mandi, pria itu memilih pakaian kerja dan kemudian melihat dirinya di cermin.


"Oke, Hari ini adalah hari baru. aku akan segera berbicara dengannya lagi." ucap Erick yang kemudian mengenakan dasi dan jam tangannya.


Langkah kaki Erick berjalan keluar dari kamar, pria itu berjalan ke dapur seolah semuanya baik-baik saja.


"Tumben sekali Nyonya kalian belum keluar?" tanya Erick kepada salah satu pembantu.


"Iya tuan, Nyonya viorela belum bangun. kelihatannya dia kecapean." jawab si pembantu.


Erick mulai makan kemudian menunggu kedatangan Viorella, satu jam masih belum ada penampakan dari wanita itu.


"Siapkan makanan untuk Nyonya kalian, aku akan membangunkannya." ucap Erick.


"Baik Tuan." jawab pembantu.


Erick berjalan kembali ke lantai 2, pria itu mencari keberadaan Viorela yang ada di kamar tamu lantai 2.


TOK..


TOK.

__ADS_1


TOK..


Erik mengetuk pintu.


Tak ada sahutan dari dalam kamar, sesaat kemudian Erik mengetuk pintu kembali.


TOK..


TOK..


TOK..


berulang kali diketok pintu itu masih belum terbuka, Erick berpikir kalau Viorella sedang tertidur.


"Tumben sekali dia malas seperti ini." ucap Erick yang kemudian membuka pintu kamar tamu.


CEKLEK..


Erik masuk ke dalam kamar, pria itu tidak melihat keberadaan Viorela di dalam kamar. langkah kakinya berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar, tetap saja tidak ada orang.


"Kemana dia, Kok tidak ada." ucap Erick.


"Apa ini." ucap Erick.


Pria itu dapat melihat kalau kertas yang ada di atas ranjang itu adalah surat perpisahan mereka, perjanjian pernikahan itu memang sudah berakhir hari ini. Erick menatap lembar putih tersebut, dia melihat beberapa lembar kertas dan di sana sudah terpampang tanda tangan dari Viorella.


Erick tertegun, pria itu menatap kertas putih itu dengan tatapan mata yang begitu nyalang. dia tidak akan pernah mengira dia akan melihat surat perpisahan itu.


DEG.


DEG..


jantung Erick berdebar begitu kencang, surat yang seharusnya tidak diberikan kepada Viorella itu namun sekarang sudah ditandatangani. Erick membuka lembaran kertas itu satu persatu dengan sangat kasar, di sana juga sudah ada surat perceraian mereka. Betapa terkejutnya seketika pria itu berlari keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Viorella.


"Di mana Nyonya Kalian?!" teriak Erick.


"Nyonya ada di dalam kamar kan Tuan." jawab pelayan.


"Cari Nyonya kalian, suruh para pekerja yang lain mencari Nyonya kalian di rumah ini!!" teriak Erick dengan sangat keras.


Kakek Harold nampak keluar dari kamarnya, pria itu berjalan mendekati Erick.

__ADS_1


"Kenapa kamu teriak-teriak, Erick?" tanya kakek.


"Aku mencari istriku, kek." jawab Erick.


"Isteri yang mana?" tanya kakek Harold.


"Tentu saja Isteriku, memangnya aku punya istri berapa." jawab Erick


"Isteri? Bukankah perjanjian kalian sudah selesai, kenapa kamu mencari istrimu?" tanya kakek yang membuat Erick menoleh.


"Kakek tahu kemana dia?" tanya Erick.


"Iya, kemarin malam dia sudah pergi dari sini. kakek yang mengantarkannya ke stasiun." jawab kakek.


"Apa maksud kakek?!" bentak Erick.


"Apa maksud kakek? tentu saja kakek yang harus bertanya sama kamu, Kamu mencari wanita yang kamu bayar untuk menjadi istrimu kan?" tanya kakek.


ErickErik menganggukkan kepalanya.


"Kontrak kerjanya kan sudah habis, Tentu saja aku sudah mengusirnya. Memangnya kamu tidak tahu." jawab kakek Harold.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatanmu


- Isteri simpanan bos kejam


- Gairah cinta isteri muda


- One night stand with mister William


- Mantra cinta gadis pemikat


- Gairah terlarang


- Isteri bayaran tuan Presdir

__ADS_1


__ADS_2