
Jepang.
Roy meninggalkan ruang rapat, staf dan pemegang saham dibuat takjub olehnya. Pasalnya presentasi tim perencanaan telah memuaskan harapan para pemegang saham.
"Tidak kusangka Putra Pak Presdir mampu mem-backup masalah ini dengan sangat baik", kata salah seorang pemegang saham.
"Benar, rupanya ucapan beliau bukan omong kosong belaka", ucap yang lainnya.
Sementara itu Roy yang agak kelelahan duduk terdiam di ruangannya.
Sesekali dia memperhatikan ponselnya, dia berharap ada pesan dari Leah. Namun tak ada satupun pesan yang muncul.
"Ben, ajak semua anggota Tim Perencanaan untuk makan malam bersama sebagai wujud terima kasihku pada mereka", perintah Roy.
"Apa Anda akan ikut serta Pak Presdir?", tanya Ben.
Roy melambaikan tangannya, "Tidak. Kau dan Helena saja sudah cukup. Aku ingin pulang ke rumah. Ingat, ajak mereka makan yang enak. Kau tahu kan, bisa saja aku yang membuat mereka tidak tidur selama dua hari ini", ucap Roy.
"Tentu. Akan saya lakukan sesuai perintah Anda", ucap Ben mengerti.
"Siapkan mobil, aku akan pulang bersama Joseph", kata Roy.
"Siap Pak Presdir", jawab Ben undur diri.
Roy memperhatikan lagi ponselnya dan menelpon adiknya.
"Pekerjaanmu sudah selesai? Ayo kita pulang. Dan mengobrol", perintah Roy.
Tak butuh waktu lama bagi Joseph untuk sampai di depan lobby kantor. Mengetahui keberadaan adiknya, Roy menyuruhnya segera masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan Roy hanya diam, menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan memejamkan matanya. Joseph tahu kakaknya lelah jadi dia membiarkannya.
Sesampainya di rumah yang begitu mewah dan besar Roy merasa sudah lama sekali ia tak kembali ke rumah itu. Sejak kepergiannya, banyak hal yang berubah. Mulai dari taman, ruang utama, ruang tengah. Namun, saat Roy membuka kamarnya kembali, kamar yang sudah dia tinggalkan bertahun-tahun itu sama sekali tak berubah.
Meskipun Roy pergi dari rumah, dia masih sering menelepon ibu atau ayahnya, kecuali adiknya, Joseph.
Saat senggang dia meluncur ke Jepang sekedar untuk mengajak mereka makan bersama. Walaupun bertengkar dengan ayahnya, Roy tak bisa serta merta meninggalkan sosok keduanya.
Roy membuka setelan jasnya dan menyalakan air panas yang mengisi bathup kamar mandinya yang super mewah. Setelah itu dia merendam tubuhnya yang lelah dengan aroma teh hijau yang segar.
Dia menyandarkan tubuhnya, memikirkan apa yang sedang Leah lakukan sekarang dan kenapa gadis mungilnya itu tak mengirimkan pesan padanya.
Roy menghela nafas, "Tsk! Dasar bodoh, untuk apa aku menunggu pesannya. Aku kan tinggal meneleponnya", baru sadar ternyata Roy.
Tut Tut Tut
Panggilannya tak terhubung. Roy kesal dan terus menelepon. Sesaat kemudian dia sadar kalau panggilannya di luar jangkauan. (ha-ha-ha)
Roy menepuk jidatnya dan meletakkan kembali ponselnya.
__ADS_1
"Ah, aku kan bisa lakukan dengan panggilan internet. Tsk. Kenapa pikiranku kacau sekali. Hh. Sudahlah, nanti saja", Roy kebingungan sendiri.
Joseph yang selesai mandi menunggu kakaknya keluar dari kamar. Dia menunggu penjelasan Roy yang dia janjikan kepadanya.
"Apa yang dia lakukan, sudah dua jam dia di dalam kamar?" gumam Joseph.
"Silvester? Apa Kakak sudah keluar dari kamar?", tanya Joseph kepada kepala pelayan.
"Belum Tuan Muda, Tuan Roy belum keluar dari kamarnya. Beliau juga tidak meminta apapun dan langsung masuk ke kamarnya", jawab Silvester.
Tak sabar menunggu Joseph bermaksud menyusul kakaknya. Namun, baru saja ingin berdiri, Roy sudah berjalan ke arahnya.
"Kau sama sekali tidak berubah ya, Silvester", sapa Roy kepada kepala pelayan di rumahnya itu.
"Semua ini karena kebaikan hati keluarga Mannof yang masih bersedia menerima saya, Tuan", jawab Silvester merendah.
"Tolong berikan kami jus yang segar jangan lupa camilan kesukaan kami. Kau masih ingat kan, Silvester?" pinta Roy.
"Tentu Tuan Muda, akan segera saya hantarkan. Kalau begitu saya permisi", jawab Silvester undur diri.
Melihat adiknya, "jangan menatapku seperti itu. Kau bisa membuat wajahku yang tampan ini berlubang", canda Roy yang ditanggapi dingin oleh adiknya.
Roy duduk di sofa rapat di sebelah Joseph.
Sofa yang ada di teras itu adalah tempat mereka suka menghabiskan waktu bersama.
"Terima kasih, Silvester", ucap Roy.
"Kalau begitu kami permisi", kata Silvester.
Roy meminum jusnya. Joseph yang dari tadi masih diam mulai berbicara.
"Kenapa waktu itu Kakak pergi meninggalkan kami?", tanya Joseph.
"Hm? Bukan meninggalkan tapi hanya keluar dari rumah. Dan melakukan apa yang kuinginkan. Ku sendiri tahu pasti apa yang menjadi cita-cita ku", ungkap Roy.
"Lalu bagaimana dengan cita-citaku?", tanya Joseph.
"Kau lebih berbakat dan menonjol di bidang yang sama dengan Ayah. Jangan bilang kau tak sadar kalau kalian punya banyak kesamaan. Kelebihan, ketertarikan. Akan lebih mudah bagimu daripada aku. Aku benar, kan?", jelas Roy.
Joseph hanya terdiam.
"Aku tahu kemarahanmu padaku bukan karena aku melempar tanggung jawab itu padamu. Tapi..", Roy menghentikan penjelasannya.
"Aku minta maaf sudah meninggalkanmu. Maafkan aku karena pergi disaat kau sedang membutuhkanku", kata Roy perlahan.
Joseph ingat betul bahwa kakak yang sangat dia andalkan pergi di saat-saat terberatnya. Yaitu pada saat Joseph mengalami kecelakaan yang mengakibatkan salah satu tangan dan kakinya patah.
Proses penyembuhannya pun lama karena Joseph mengalami stress berat. Dan disaat seperti itu Roy yang selalu dia andalkan tak ada di sisinya.
__ADS_1
Hanya kata maaf Roy sudah mampu meluluhkan kemarahan Joseph.
"Aku sangat merindukanmu, Kak. Ku pikir kita tidak akan bertemu lagi. Rasanya aku ingin memukuli mu", kata Joseph menatap kakaknya.
Sontak Roy langsung menjauhkan dirinya dari Joseph.
"Tsk. Apa itu? Hanya dengar kalimatku saja Kakak sudah bertingkah seperti itu. Rasanya aku benar-benar akan melakukannya!", kata Joseph yang langsung melompat menindih badan kakaknya itu.
"Hei! Kau sedang ap..?!", Roy belum sempat melanjutkan kata-katanya Joseph sudah menyerangnya.
Keduanya bergulat dan terjatuh dari atas sofa.
"Hei, jangan lupa aku ini kakakmu", kata Roy.
"Biar! Aku mau melampiaskan sekarang, Hyahh!", kata Joseph sambil mengunci kedua tangan dan kaki kakaknya itu.
Setelah keduanya lelah, mereka terkapar di lantai dengan berantakan.
"Kau gila!"kata Roy.
"Kalau aku gila, berarti Kakak juga sama gilanya denganku", balas Joseph puas.
"Rupanya kau tumbuh dengan baik", kata Roy sambil mengacak-acak rambut adiknya.
"Hahahaha," mereka tertawa.
Keduanya bangun dari lantai dan duduk di sofa menyantap makanan mereka.
Melihat hal tersebut Silvester diam-diam merekam dan mengirimkan video itu kepada ibu mereka.
TRING
Pesan itu sampai kepada ibunda mereka. Keiko heran kenapa kepala pelayan mengiriminya video, namun setelah membuka pesan tersebut, alangkah bahagianya. Kecemasannya hilang dalam sekejap, ketakutan akan hubungan buruk kedua putranya pun sirna.
"Sayang, lihatlah. Mereka adalah kedua putra kesayangan kita. Kau harus segera bangun dan bergabung dengan mereka", kata Keiko bercucuran air mata kebahagiaan sambil memutar video tersebut di depan suaminya yang masih belum membuka matanya.
"Kumohon. Bukalah matamu, Sayang", pinta Keiko.
Aroma bunga lavender menyelimuti ruangan yang sangat sunyi itu. Hanya suara mesin pendeteksi detak jantung yang berbunyi semakin cepat dan video kedua putra mereka yang sedang berteriak satu sama lain.
***
sampai jumpa di episode selanjutnya.
mohon like & coment-nya ya.
terima kasih. ^^
__ADS_1