Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 29 - Sosok Direktur


__ADS_3

"Kau pintar memilih barang, persis seperti Papamu", puji Ayumi kepada anak gadis semata wayangnya itu.


"Ya, kah? Hehehe, bagus dong, Ma", sahut Leah menjulurkan lidahnya.


Suara bel pintu berbunyi.


"Sebentar, Mama buka pintu dulu. Kau bereskan ini semua lalu taruh di tempat cucian", pesan Ayumi.


"Baik, Ma", jawab Leah.


Ayumi bergegas pergi membukakan pintu. Saat ia membuka pintunya tampak Mbok Darmi Si Tukang Pijit.


"Mbok, cepat sekali datangnya? Diantar siapa? Baru saya mau suruh supir untuk menjemput", ucap istri Abimana.


"Kebetulan sedang senggang, Nyonya. Jadi bisa kemari lebih awal. Siapa yang mau dipijit?" tanya Mbok Darmi.


"Aditya. Katanya badannya sedang tidak enak. Mungkin kelelahan waktu ke Jepang kemarin. Mari Mbok masuk dulu?", ajak Ayumi.


"Sebentar. Saya panggilkan dulu", tambahnya.


Mbok Darmi duduk di ruang tamu, tak lama kemudian beliau melihat Gaby dan Leah berjalan melintasi ruang tamu.


"Eh, Non Leah. Katanya sebentar lagi mau menikah?", tanya wanita yang dulu jadi tempat langganan Leah minta obat kalau sedang sakit saat datang bulan.


"Ya, Mbok. Mbok dan keluarga datang ya. Syukurannya hanya teman dan tetangga dekat saja", kata Leah.


"Mbok mau pijit Kak Adit, kan? Nanti dikasih ramuan juga ya, Mbok. Soalnya akhir-akhir ini lelah, pekerjaannya banyak. Biar fit~", pesan Leah.


"Kita pergi dulu ya, Mbok", kata Gaby.


Mbok Darmi terus melihat ke arah Leah. Tatapannya tak biasa. Mbok Darmi merasa seperti ada aura yang berbeda dari diri Leah.


"Mbok!" panggil Ayumi.


"Eh, iya Nyonya", Jawabnya terkejut.


"Kenapa Mbok? Kok kaget gitu?" tanya Ayumi merasa lucu.

__ADS_1


"Ayo masuk, Mbok. Adit sudah di kamar yang biasa buat pijit", ajak Ayumi.


"Ya, Nyonya", jawab Mbok Darmi segera mengikuti Ayumi masuk ke sebuah ruangan bagian belakang rumah.


Tampak Adit sudah menunggunya dengan celana boxer duduk di dipan beralas kasur lantai.


"Kenapa, Den? Ini pertama kalinya Aden sampai minta dipijit sama Mbok. Biasanya otot kawat balung wesi" goda Mbok Darmi.


"Ya mungkin memang sudah sampai batasnya Mbok. Ayo cepat Mbok, habis ini saya mau susul Papa bantu kerjaan di resort" kata Adit buru-buru.


"Weleh-weleh, belum apa-apa udah minta cepat-cepat. Ya, Den. Beres pokoknya" jawab Mbok Darmi.


Sementara itu..


Roy yang langsung ke kantor setelah perjalanannya dari Jepang segera melakukan jadwal kerjanya.


Karena sebentar lagi akan menikah, Roy meminta agar Sekretaris Ben mengatur ulang beberapa jadwal yang kira-kira bisa dimajukan. Sehingga dalam Minggu ini dia sangat sibuk. Mungkin waktu untuk bertemu Leah pun hampir terlupakan.


"Apa tidak apa-apa Anda sesibuk ini? Sebentar lagi Anda akan menikah, seharusnya Anda lebih santai sedikit", kata Ben memperingatkan.


"Justru karena itu aku ingin semuanya cepat selesai agar aku bisa bulan madu dengan tenang", ujar Roy.


"Hahaha. Baik, baik. Kau atur saja, Ben. Kuserahkan padamu untuk Minggu depan. Terima kasih", kata Roy yang menepuk pundak Sekretarisnya itu lalu kembali sibuk dengan dokumennya.


"Sore ini ada jadwal bertemu dengan klien asal Korea kan? Tolong kau persiapkan segalanya. Ah, apa Helena baik-baik saja? Aku belum sempat menyapanya lagi semenjak kutugaskan untuk mendampingi Joseph", tanya Roy.


"Helena baik-baik saja, Pak. Anda tak perlu khawatir. Dia orang yang bisa cepat beradaptasi", jawab Ben.


"Benar. Aku sampai lupa. Baiklah, tolong kau kirimkan kopi dan coklat kesukaannya. Bilang sebagai ucapan terima kasihku".


"Baik, Pak. Akan segera saya laksanakan. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan kembali pada jam makan siang nanti", kata Ben.


"Ya, terima kasih, Ben".


Ben keluar dari ruangan Direktur Utama dan segera melakukan apa-apa yang diperlukan atasannya itu. Sudah hampir lima tahun Ben bekerja dengan Roy.


Dulu mereka adalah teman kampus namun selisih dua semester. Roy memang sangat muda saat merintis perusahaan medianya. Semua pekerja yang dia punya kalau bukan teman satu angkatan ya adik kelas.

__ADS_1


Meskipun begitu perusahaan tersebut mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya. Dan seiring berjalannya waktu perusahaannya pun maju pesat seperti sekarang ini.


DayOne, adalah nama perusahaannya. Hampir sama dengan nama perusahaan ayahnya. Sudah enam tahun dia merintis DayOne hingga seperti sekarang ini.


Sumber kekayaan Roy bukan hanya dari perusahaan medianya saja. Tapi juga periklanan, tentu dengan nama yang sama. Dan juga properti.


Roy memang masih muda, dua puluh empat tahun dia sudah memiliki banyak bisnis yang stabil. Namun semua itu akan sulit terwujud kalau bukan atas bantuan orang-orang kepercayaannya yang jujur dan kompeten.


Bukan mudah bagi Roy untuk mendapatkan orang-orang pilihan. Semua perlu kepercayaan. Dan tentunya Roy sangat bisa dipercaya. Dengan kepribadian yang memang patut diacungi jempol dia mampu menarik banyak orang-orang berbakat untuk bisa bekerja bersama dirinya.


Selain sebagai seorang atasan, Roy juga sangat loyal pada bawahannya. Mengingat mereka pernah susah bersama dan senang pun juga harus bersama.


Terkadang Ben merasa khawatir pada Direkturnya, terlalu banyak pekerjaan yang ia tangani.


Karena itu Ben ingin melayani majikannya dengan sepenuh hati.


Roy meletakkan pulpennya. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Mengatur nafasnya dan memejamkan kedua matanya.


Mungkin dia sedikit lelah. Atau mungkin malah banyak.


Dia melihat ke arah ponselnya. Meraihnya dan membuat panggilan untuk kekasihnya.


"Tut Tut..


"Halo. Ya, Kak Roy. Sudah makan siang?" terdengar suara Leah yang ceria membuat Roy merasa baikan.


"Belum, Sayang. Aku sepertinya ingin makan tahu gimbal dengan banyak udang yang digoreng crispy", pinta Roy dengan menahan rasa malunya karena manja bukanlah sifatnya namun entah kenapa dia ingin sekali makan makanan itu tetapi yang dibuat sendiri oleh calon istrinya.


Leah mengerti apa maksud kekasihnya, "Ki am makan siang tinggal satu jam? Kak Roy yakin mau menunggu?" kata Leah.


"Um? Tidak masalah", jawabnya.


"Benar ya? Kalau begitu nanti aku kesana kalau sudah selesai kubuat", ucap Leah yang agak khawatir karena Roy jarang telat makan karena penyakit maagnya.


"Nanti aku kirimkan supir. See you, Baby. I love you", ucap Roy.


Leah tersenyum, dia senang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Roy yang pelit bilang kata cinta, "Ya, I love you, too".

__ADS_1


Roy mematikan ponselnya. Dia tersenyum. Roy tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya hari ini. Entah darimana dia bisa berkata romantis seperti yang baru saja dia lakukan.


Roy memang lebih cenderung mengungkapkan perasaannya lewat perbuatan, dan jarang sekali bicara soal cinta.


__ADS_2