
Musim panas telah berganti musim gugur, daun-daun mulai mengubah warnanya. Mereka berguguran satu demi satu dan terbang terbawa angin musim gugur yang dingin.
Senja itu Roy yang menatap jauh keluar dari jendela kantornya, pikirannya melayang jauh ke tempat di mana Leah berada. Sempat dia berpikir bahwa hubungan jarak jauh tidaklah cocok untuk Leah karena selama ini kekasihnya itu tidak terlalu ekspresif dalam mengungkapkan perasaannya.
TRING!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Roy membuyarkan lamunannya.
"Leah?", batinnya senang.
Tampak sebuah pesan dengan foto yang sudah cukup untuk mengobati kerinduan Roy pada gadis mungilnya itu.
Senyum merekah di bibir Roy, dia merasa sangat gemas.
"Haa. Ya Tuhan. Ini membuatku gila", kata Roy yang terus-menerus menatap pesan singkat itu.
Tak sabar, segera Roy membuat panggilan untuk kekasihnya.
"Hai! Moshi Moshi Roy-san. Ogenki desuka?" , jawab Leah dengan nada ceria.
"Tidak. Berbicaralah dengan bahasa yang sering kita gunakan", pinta Roy.
"Baiklah. Apa semua baik-baik saja?" tanya Leah.
",Ya. Semuanya terkendali. Aku sudah bilang kan kalau Ayah sudah sadarkan diri? Saat ini kondisinya semakin membaik", kata Roy.
"Syukurlah, itu berita yang sangat bagus". Leah diam sejenak.
"Um. Kapan Kak Roy kembali?", tanya Leah.
"(menghela nafas) ..." Roy belum mampu menjawab pertanyaan Leah.
Kenapa tidak menjawab, batin Leah.
"Kurasa aku tahu jawabannya", kata Leah kecewa.
"Aku akan segera kembali. Jadi.. tunggulah aku sebentar lagi", kata Roy.
"Apa Kak Roy tahu? Mungkin memang sebenarnya di sanalah tempatmu, keluargamu", kata Leah.
Roy agak terkejut mendengarnya.
"Apa maksudmu? Keluargaku ada di sini adalah benar adanya. Tapi aku masih punya tanggungjawab di sana. Perusahaanku, karyawanku dan juga.. kau", kata Roy.
Leah hanya diam. Dia tidak tahu akan memberi jawaban apa pada Roy.
"Leah Sayang, dengar. Maafkan aku karena belum bisa kembali. Tapi percayalah bahwa aku akan segera kembali. Aku mencintaimu dan sekarang aku sangat merindukanmu.
Jangan begini. Jangan mengatakan kalimat yang ambigu padaku", kata Roy lembut.
"Maafkan aku. Aku hanya.. Ternyata ini agak sulit bagiku."
"Sebelumnya hampir setiap hari aku melihatmu. Bahkan tanpa aku merajuk pun Kak Roy yang selalu datang padaku," kata Leah pelan-pelan.
"Maafkan aku. Aku hanya merindukanmu," kata Leah dengan nada menyesal.
Roy menghela nafas panjang, menenangkan hatinya yang tiba-tiba kalut karena gadis kecil itu.
"Aku mengerti. Dan jangan minta maaf lagi. Aku senang karena kau bilang rindu padaku. Tapi hal itu membuatku semakin merindukanmu," kata Roy.
__ADS_1
"Ya. Um, apa Kak Roy sudah melihat fotoku hari ini? ada yang berbeda?", tanya Leah mengalihkan pembicaraan.
"Hm? Tidak ada. Hanya kau yang semakin cantik saat aku tidak ada", goda Roy.
"Ha? Benarkah?"
"Hm, padahal aku sempat kurang tidur karena terus belajar," kata Leah.
"Kapan pengumuman kelulusanmu?", tanya Roy.
"Tidak usah tanya. Aku tidak mau berharap pada orang yang sangat sibuk," goda Leah
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? ", tanya Roy kaget.
"Bisa. Baru saja Aku bisa marah setiap Kak Roy mengeluarkan kalimat-kalimat terkait ketidakpastian apakah Kak Roy bisa pulang atau tidak," protes Leah.
Roy menekan kening dengan tangan kirinya. Sial aku kena lagi, batinnya.
"Baiklah. Aku mengakuinya", kata Roy.
Leah menikmati perasaan gelisah Roy yang sampai padanya.
"Hihihi. Maaf aku hanya bercanda. Aku tahu dunia kita sangat berbeda. Aku yang masih belum dewasa ini mungkin akan menambah sedikit pekerjaanmu. Tapi ku harap Kak Roy tidak lelah terus memahamiku yang masih kekanakan ini."
"Baik-baiklah di sana."
"Aku tutup teleponnya dulu ya. Takut masuk angin terlalu lama berendam. Teleponlah lagi saat Kak Roy sedang senggang," kata Leah mengakhiri pembicaraannya.
" Aku masih punya banyak waktu. Segeralah berpakaian. Akan ku tunggu," kata Roy.
"Um, begitu. Baiklah, tunggu sebentar", kata Leah yang beranjak dari bathup berniat meraih handuk.
"Ada apa? Leah! Halo...", spontan Roy yang mendengar teriakkan Leah. Tapi
Tut , panggilan terputus.
"Apa yang terjadi?", tanya Roy yang terus berusaha menghubungi Leah namun tak tersambung.
Sementara itu...
"Huwaaaa... ponselku", Leah menangisi ponselnya yang masuk ke bathup.
"Bagaimana ini?", buru-buru dia mengambil ponselnya dan segera keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai berpakaian Leah berlari keluar dari kamarnya.
Drap! Drap! Drap!
Leah berlari mencari Aditya.
"Kak?! Kakak?!" panggil Leah. "Ha? Kok kosong?" kata Leah yang tak menemukan Kakaknya di kamar.
Kemudian dia membuka kamar mandi, dan
"AARGH!!!!!!!" teriakan Aditya mengguncang bumi dan galaksi. Haha.
Skip.
"Apa yang kamu lakukan?! Saking kagetnya sampai-sampai e-ekku yang sudah hampir keluar seperti mau masuk lagi, tahu?!" kata Aditya yang marah berdiri di depan Leah sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
Leah yang duduk di kasur kakaknya itu hanya diam sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang masih memegang ponselnya.
Dengan ragu, Leah menyodorkan ponselnya yang masih meneteskan air.
Agak bingung Aditya menerimanya. Sadar ponsel itu basah. Dia hanya menghela nafas panjang.
"Jadi karena ini?!"" tanya Aditya.
Leah hanya mengangguk.
"Hu-uh!" Aditya menggaruk-garuk kepalanya yang membuat rambutnya berantakan.
Langsung saja Aditya membuka casing ponsel itu dengan alat seadanya dan meletakkannya di atas meja.
"Diamkan saja dulu sebentar di dalam beras. Setelah kering nanti kita coba bisa nyala atau tidak!", katanya dengan nada kasar.
"Nih!" kata Aditya sambil memberikan ponsel milik Leah yang sudah menjadi beberapa bagian itu.
Leah masih diam. Dia keluar dari kamar itu dengan kepala yang menunduk.
"Hu-uh! Ada-ada saja," gumam Aditya yang heran karena baru saja mengalami hal yang tidak menyenangkan.
Leah langsung melakukan apa yang kakaknya perintahkan tadi. Diambilnya beberapa gelas beras dan menaruhnya di baskom bersama dengan ponselnya tadi.
Abimana yang sedang minum air putih di sebelahnya heran apa yang dilakukan oleh putrinya lalu menghampirinya.
"Sedang apa?"tanya Abimana yang tahu-tahu sudah ada di belakang Leah.
Sontak saja Leah terkejut.
"Waaaa!!" teriak Leah yang kaget tanpa sadar menumpahkan beras yang baru dia tuangkan.
"Papa! Ihhh," teriak Leah.
"Kenapa? Ponselmu mau ikut dimasak?" tanya Abimana.
"Huu," Leah yang tidak menjawab pertanyaan ayahnya itu hanya menatap sambil menahan tangisnya.
"Owh. Papa salah ya? Ya udah yuk, beli ponsel yang baru. Uang Papa banyak kok," ajak Abimana.
Leah menggelengkan kepalanya, "Tidak usah, Pa. Kalau bisa diperbaiki itu sudah cukup," jawab Leah yang masih mengubur ponselnya dengan beras.
Tiba-tiba Leah melihat ke arah Abimana, raut mukanya berubah.
"Pa, boleh pinjam ponsel? Ponsel Papa ada nomor Kak Roy, kan?" tanya Leah penuh harap.
"Tentu saja. Kan dia calon menantu Papa," kata Abimana bangga.
"Besok ajaklah Kak Adit untuk memperbaiki ponselnya. Besok dia senggang. Sekalian jalan-jalan," bisiknya sambil mengedipkan mata pada putri kecilnya.
"Tapi sepertinya Kak Adit masih jengkel, Pa. Gara-gara Leah buka pintu kamar mandi waktu Kak Adit sedang buang air," kata Leah dengan wajah memelas.
"Tsk. Kamu ada-ada saja. Baiklah. Besok Papa temani," kata Abimana sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Fyuh. Terima kasih Papa. I love you," kata Leah senang sambil memeluk ayahnya.
***
terima kasih ^^
__ADS_1
sampai jumpa di episode selanjutnya.