Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 20 - Sisi Lain


__ADS_3

Jepang.


Sinar matahari terbit begitu cerah, begitu menyilaukan. Pantulan bayangan air kolam tampak berkelip-kelip seperti bintang di siang bolong.


Tampak seorang gadis muda tengah berjemur di tepi kolam renang. Dia mengenakan bikini berwarna navy yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Merebahkan tubuhnya di kursi sambil menikmati minuman lemon dingin.


"Drrrt drrrt"


Ponselnya bergetar, dia mematikan MP3-nya lalu mengangkat panggilan teleponnya.


"Ya, Papa," sapa Sherry.


"Sayang, hari ini pergilah ke salon kecantikan, karena besok malam kau akan ikut Papa datang ke pesta keluarga Mannof bersama Mamamu juga. Jadi berdandanlah yang cantik," kata Watanabe yang tiba-tiba memberi perintah.


"Untuk apa? Memangnya siapa yang pantas melihat kecantikanku di sana?" jawab Sherry.


"Kudengar mereka punya dua putra, dan salah satunya adalah Roy Mannof. Bukankah kau tidak asing dengan nama itu?" Watanabe menyeringai.


Sherry yang kaget terperanjat dari posisi nyamannya, "Jadi maksud Papa, perusahaan yang Papa coba jatuhkan kemarin adalah perusahaan milik orang tua Roy?"


"Papa sudah gila! Aku mati-matian mengejar Roy tapi Papa malah berbuat seenaknya begini. Papa pikir setelah mereka tahu perbuatan Papa, aku masih punya muka di depan keluarga mereka?!" Sherry marah tak percaya bahwa Roy adalah putra dari Riezel Mannof karena setelah Roy pergi meninggalkan rumah, Roy tak pernah mengungkap dari keluarga mana dia berasal. Jadi tak ada seorang pun yang tahu.


"Untuk apa kau khawatir? Ken si pion bodoh itu sudah kusingkirkan. Dia lebih memilih uang dan membuang keluarganya. Jadi kau tak usah pikirkan itu. Mereka tidak akan pernah tahu. Jadilah gadis yang mempesona besok malam. Oke?!," Watanabe menutup teleponnya.


"Aakh!!," Sherry kesal, dia tak mengira akan ada kenyataan yang seperti ini.


"Padahal aku sudah susah payah memantaskan diriku agar bisa berdiri di samping Roy dengan percaya diri, tapi orang tua sembrono ini malah membuat semua usahaku sia-sia," kata Sherry mengungkapkan kekesalannya.


"Aku harus menunjukkan bahwa aku berbeda dengan orang itu. Aku harus mendapatkan pengakuan bahwa aku memang pantas untuk masuk ke dalam keluarga Mannof," kata Sherry bertekad.


Sherry bangun dari duduknya dan melempar handuk putih yang sedari tadi menutup bagian bawah tubuhnya dengan penuh emosi. Hatori yang baru saja pulang dari jogging paginya itu langsung menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Roy.


"Kau?!" Kini wajah Sherry seperti bom atom yang siap meledak. "Kau tahu bukan kalau Roy yang kumaksud ternyata adalah Roy dari keluarga Mannof?!" tanya Sherry penuh emosi mencengkram bsju Hatori.


'Ya, aku tahu. Tepatnya saat dia menjabat sebagai Presdir sementara menggantikan ayahnya," jawab Hatori dengan tenang.


"Jadi kau..," Sherry tak melanjutkan kalimatnya dan melepas cengkraman tangannya.

__ADS_1


Dia seperti ingin menangis, seakan-akan dia baru saja kehilangan sesuatu yang terpenting dari hidupnya. Kakinya lemas, dan kini tubuhnya tersimpuh di lantai.


Hatori perlahan bergerak mengambil handuk yang ada di lantai dan menutupkannya ke tubuh Sherry.


"Aku tahu aku adalah gadis yang berambisi. Aku selalu percaya pada kemampuanku. Dan aku selalu bersaing dengan bangga pada apa yang ingin aku dapatkan. Tapi aku masih punya harga diri. Aku juga mau diterima oleh keluarga orang yang kucintai dengan tangan tulus," ucap Sherry putus asa.


"Aku ingin merasakan keluarga bahagia yang sesungguhnya. Aku tidak ingin hidup seperti Rosse, aku tidak bisa," ungkap Sherry pada Hatori.


Rose adalah kakak Sherry yang menikah karena hubungan bisnis. Berbeda dari Sherry, Rose adalah gadis cantik yang patuh. Memang kini dia hidup bahagia setelah bercerai tapi sebelumnya dia pernah melakukan percobaan bunuh diri karena sikap suaminya yang kelewat kasar bahkan ketika melakukan hubungan intim karena rasa cemburunya yang berlebihan.


Hatori paham betul apa yang terjadi pada Rose, karena Rose juga adalah temannya.


"Bangunlah, dan mandi. Aku akan membuatkan sup ayam untukmu," ajak pria berkacamata itu.


Sherry mengiyakan permintaan Hatori, "Memang hanya kau yang bisa kuandalkan," ucap Sherry melingkarkan tangannya di leher Hatori lalu memeluknya. Hatori pun menggendong gadis itu masuk ke dalam.


Indonesia ( Semarang)


"Jadi pagi ini kau akan langsung terbang ke Jepang bertemu calon mertuamu?" tanya Gaby terkejut.


"Ya, karena itu sebelum pergi aku ingin memberitahukan ini dulu kepadamu," jawab Leah.


"Ya, kita lakukan sepulang ku dari Jepang saja. Lagian kan bukan pas libur panjang, pasti tidak akan terlalu ramai," ucap Leah.


"Benar ya, kita harus ke salon setelah kepulanganmu dari Jepang. Aku mau terlihat berbeda saat masuk kuliah nanti. Yah meninggalkan kesan anak SMA dari diriku ini," kata Gaby ngetuprus, begitulah istilah Jawanya.


"Ya, tenang saja Gaby. Nanti kubawakan barang bagus. Kau tahu kan kalau Jepang lumayan terkenal dengan fashionistyle-nya," janji Leah.


"Oke deh, kamu emang yang terbaik," kata Gaby memeluk Leah.


"Begitu juga kau," ucap Leah membalas pelikan dari sahabatnya itu.


"Yuk, balik. Sudah jam 6. Jogging hari ini lumayan asyik," kata Gaby senang.


"Ya, udaranya lebih bagus," kata Leah setuju dengan sahabatnya itu.


Mereka berdua meninggalkan taman dan segera bergegas pulang karena dua jam lagi adalah keberangkatan Leah ke Jepang bersama Roy dan Aditya.


**

__ADS_1


"Sudah tidak ada yang tertinggal kan, Sayang?" tanya Ayumi.


"Sudah semua kok, Ma. Kak Roy kasih Leah daftar barang apa saja yang harus dibawa, katanya di sana sedang musim dingin. Jadi lumayan besar barang bawaannya," jelas Leah .


"Ini kan pertama kalinya kau pergi ke tempat beriklim dingin, jaga kesehatanmu baik-baik. Lalu jangan sungkan bilang pada Roy jika membutuhkan apapun. Mengerti?" pesan Ayumi pada gadis kecilnya.


Leah turun dari kamarnya menuju mobil, tampak Roy dan Aditya sudah menunggunya di halaman. Mereka berpamitan kepada Abimana dan Ayumi.


"Pa, Ma, Leah berangkat dulu," pamit Leah mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Ya, hati-hati. Selamat bersenang-senang. Semoga tujuan utama kalian ke sana berjalan lancar," kata Abimana.


"Ya, Om. Terima kasih. Kami berangkat dulu," kata Roy berpamitan.


"Dah, Pa, Ma. Muach!," Aditya mencium dan memeluk kedua orang tuanya.


"Jaga dirimu dan adikmu baik-baik," pesan Abimana pada putra pertamanya.


"Beres, deh Pa," jawab Aditya.


Mereka semua masuk ke mobil menuju bandara. Sesaat mobil berbelok dari gerbang tiba-tiba kepala Aditya keluar dari mobil,


"SELAMAT BERBULAN MADU LAGI, PA!" teriak Aditya menggoda ayahnya.


Tentu saja seisi mobil menahan tawa mendengarnya. Sedangkan Abimana senang-senang saja ditinggal berdua bersama istri tercintanya, Ayumi.


"Pas banget kan, Sayang. Hehehe," senyum genit menghiasi wajah Abimana.


"Hm? Ya, pas banget sudah tiga bulan tidak kemana-mana," kata Ayumi melempar kedipan mata pada suami yang sudah dinikahinya selama hampir 25 tahun itu.


Mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah sambil bergandengan lebih mesra dibandingkan sebelumnya. Rasanya seperti ketika awal mereka saling jatuh cinta, banyak bunga-bunga bertebaran dimana sejauh mata memandang.



***


terima kasih kepada para pembaca yang sudah mampir.


jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

__ADS_1


dan sampai jumpa di episode selanjutnya. ^_^/


__ADS_2