Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 19 - Terungkap


__ADS_3

"Rrrrrrt"


Ponsel Leah bergetar, Leah yang sedang membuat aksesoris untuk gaun perinya nanti malam segera meraih panggilan yang berasal dari sahabatnya itu.


"Iya , Gaby? Ada apa?" tanya Leah.


""Hai, Bebih. Nanti malam sudah tahu mau pakai apa?" tanya Gaby.


"Sudah. Hanya tinggal finishing aksesorisnya aja," Leah diam sejenak.


"Gaby, kapan kau mau menyatakan perasaanmu pada Johnny Johnny Yes Papa?" tanya Leah.


"Hah? Kenapa arah pembicaraan kita berubah ke arah sini?" tanya Gaby balik.


Belum selesai bicara Leah sudah memotong duluan,


"Jangan ditunda-tunda. Menunda pekerjaan itu sama saja dengan menabung penderitaan. Tidak ada salahnya dicoba. Kulihat kalian sudah membuka hati", ucap Leah.


"Jangan bilang kalian tidak menyadari perasaan kalian masing-masing?"


Perkataan Leah ini membuat Gaby merasakan seperti ada gemuruh di dalam dadanya.


"Apa yang kau lihat aku dan John seperti itu? Bagaimana kau bisa tau kalau aku menyukainya?" tanya Gaby.


"Pertanyaanmu tidak lucu. Kau lupa aku ini sahabatmu? Tetapkan hatimu, seandainya, hanya seandainya dia menolakmu, kau bisa segera menghentikan perasaan yang baru mulai tumbuh itu sebelum menjadi lebih besar", kata Leah menasehati sahabat karibnya.


"Aku takut", kata Gaby.


"Kalau kau takut berarti kau bukan Gaby", seru Leah. "Cobalah dulu, aku akan membantumu".


"Apa kau yakin akan berhasil?" tanya Gaby ragu.


"Tidak", jawab Leah singkat.


Tentu saja Gaby kebakaran jenggot mendengar jawaban Leah.


"Kau mengatakan itu setelah menasehatiku panjang lebar. Huuu~ ", rengek Gaby yang tiba-tiba jadi galau.


"Ya, itu benar kan. Aku tidak bisa menjaminnya. Tapi aku yakin kalian ada perasaan", kata Leah.


"Tsk. Tahu ah. Masa bodoh", Gaby merajuk.


"Hihihi. Oke, oke. Oh ya, ada apa meneleponku jam segini?" tanya Leah.


"Oh. Aku sampai lupa kan, gara-gara kamu", gerutu Gaby. "Nanti malam kita berangkat sendiri-sendiri ya, aku sedang tidak ingin bawa mobil", ucap Gaby melemah.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kostum yang kau pakai susah masuk ke mobil? Hee", ejek Leah.


"Tidak. Aku hanya malas saja. Tapi kita tetap bertemu di sana ya. Aku mau melewatkan malam prom bersama sahabatku yang cantik", goda Gaby. "Kau dan aku harus jadi peri yang sesungguhnya nanti malam. Kita harus membuat malam prom kita menjadi kenangan tak terlupakan, Oke?!" seru Gaby.


"Kau bersemangat sekali. Padahal tadi sempat galau. Oke, sampai jumpa nanti malam", kata Leah mengakhiri pembicaraannya.


Malam itu sekolah tampak berbeda, terutama lapangan olahraga yang sudah disulap seperti negeri dongeng. Tentu saja karena temanya adalah fairy tail semua pun disesuaikan dengan kebutuhan. Dari dekorasi sampai makanannya.


Jika kalian pernah menonton film Tinkerbell , nah seperti itulah dekorasinya. Kebetulan ada pohon besar yang mirip dengan pohon abu ajaib yang ada dalam kisahnya.


Leah terkesan misterius dan dingin dengan gaun biru dan rambut putihnya, sedangkan Gaby yang datang dengan pakaian bernuansa jingga terlihat seksi.


Keduanya tampak menawan, sehingga banyak mata yang memandang ke arah mereka.


"Wow, kau seperti peri sungguhan, Leah", seru Angela teman sekelasnya. "Kalian luar biasa", puji gadis dengan kostum hitam misterius.


"Bukankah kau juga sangat berbeda hari ini, aku suka sekali gaunmu. Dan kau terlihat sangat cantik", puji Gaby.


"Kau terlihat lebih dominan diantara kami, lihat! Kau luar biasa," kata Leah sambil mengambil foto mereka dengan ponselnya.


Malam itu sangat berwarna, benar-benar seperti bagian dari dunia yang lain. Semua orang mengobrol secara bersamaan, bagaimana bisa? Tentu bisa karena jumlah mereka hanya 62 siswa. Dan jumlah tersebut di bagi menjadi 3 kelas. Memang cukup sedikit, namun mengingat keberhasilan yang ditorehkan para siswanya itu adalah hal yang setimpal bagi sekolah mahal.


Malam prom mereka tidak hanya dihabiskan dengan mengundang band atau penyanyi terkenal. Namun juga permainan yang sangat seru, yah ramai seperti lomba kemerdekaan.


"Hei, aku sulit sekali ingin bertemu dengan kalian", sapa John yang menghampiri Leah dan Gaby."Wow, ini dia peri yang rupawan", celetuk Gaby tanpa sabar. "Oops!" dengan cepat ia menutup mulutnya.


"Hai! Aku hampir saja tidak mengenalimu John. Kau terlihat berbeda dari yang lain. Sepertinya kau adalah peri dari kota metropolitan", goda Leah yang agak heran dengan apa yang dikenakan temannya.


"Ini salah kalian. Kenapa tidak memberikanku referensi seperti apa pakaian peri laki-laki", kata John.


"Yah apapun itu, yang penting kau tidak lupa sayapmu, hahaha", seru Gaby.


"Benar, dan kau terlihat cocok", kata Leah sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Ehem, Ok. Aku anggap itu pujian. Jadi apa peri yang rupawan ini boleh berdansa dengan peri jingga yang cantik?" pinta John kepada Gaby.


"Tentu saja dengan senang hati," jawab Leah sambil mendorong tubuh Gaby mendekati John. "Selamat bersenang-senang!" seru Leah dengan senyum bahagia.


"Hei, Leah. Aku kan belum jawab", kata Gaby.


"Lalu apa jawabanmu?", tanya John.


Wajah Gaby merona, "Ya, aku bersedia", jawabnya malu-malu.


Entah dari mana mereka belajar berdansa, tapi mereka sangat serasi. Alunan nada demi nada yang menjadi melody menjadi satu-satunya yang mereka sadari saat itu.

__ADS_1


Keduanya terhanyut satu sama lain, seakan-akan mereka terpisah di tempat yang berbeda.


"Kau sangat cantik", puji John kepada Gaby.


"Benarkah? Terima kasih kalau begitu", jawab Gaby canggung.


"Kuharap kita bisa berdansa seperti ini lagi", ucap John yang terus memandangi wajah Gaby.


Gaby pun memberanikan diri untuk menatap wajah John, meski malu namun ia berusaha. Dia tak ingin melewatkan malam ini begitu saja. Dia takut, malam ini akan menjadi malam terakhir baginya bisa melihat John apabila dia menyatakan perasaannya.


"Emm.." seru keduanya.


"Kau duluan saja," kata Gaby.


"Em, baiklah," John mengambil bagiannya. Dia berhenti berdansa dan meraih kedua tangan Gaby, "Aku tidak tahu apakah malam ini aku akan berhasil. Kebersamaan kita selama ini bagiku bukan hal yang biasa. Kau adalah teman yang kemudian berubah menjadi gadis yang spesial bagiku,"


"Aku berharap kau mengijinkan aku untuk memiliki hatimu karena aku sudah menyerahkan hatiku padamu," ungkap John yang merasa cemas namun juga penuh harap pada gadis yang disukainya itu.


Gaby tertegun, benar apa kata Leah, batinnya. Tanpa ragu lagi Gaby pun langsung mengiyakan, "Ya, aku mengijinkanmu," jawabnya tersenyum manis pada pria dihadapannya.


Leah yang mengamati mereka dari jauh sudah tahu bahwa mereka sudah berhasil mengungkapkan perasaan masing-masing.


"Pemandangan yang tidak boleh dilewatkan," katanya sambil mengambil foto kedua insan yang sedang kasmaran itu.


Saat tengah melihat hasil jepretannya, tiba-tiba muncul seseorang dibelakang yang tak lain adalah Roy.


"Kak Roy juga hadir disini? Kenapa tidak bilang?" tanya Leah.


"Hanya rapat dengan komite sekolah. Dengan guru-gurumu juga. Tahun ini adalah tahun yang paling gemilang bagi mereka. Tentu saja kami harus berterima kasih satu sama lain karena dana yang keluar masuk sepadan dengan hasilnya," jawab Roy.


Roy menatap Leah dari atas sampai bawah. "Gaun ini agak terbuka bagian atasnya. Kalau tidak mau kubuang setelah kita menikah, tambahkan penutup diatasnya," kata Roy yang ingin sekali memakaikan jasnya namun tak bisa karena ada sayap peri di punggung Leah.


"Ah, kolot sekali. Ya baiklah. Bahkan bagian atasku juga tidak terlalu seksi," gerutunya.


"Seksi atau tidak, itu tergantung siapa yang memandang. Dan dari semua mata pria yang ada di sini meskipun bilang tidak, mereka akan tetap curi-curi pandang," tegur Roy.


Leah hanya bisa pasrah ketika sudah begini. Dia tidak bisa tawar menawar dengan Roy perihal busana yang ia kenakan.


***


terima kasih kepada para pembaca yang sudah mampir ke karya saya ini.


jangan lupa like dan komentarnya.


sampai jumpa di episode selanjutnya. ^_^

__ADS_1


__ADS_2