Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 3 - Teman Yang Cocok


__ADS_3

Leah dan Gaby masih bersantai melihat warna langit berubah menjadi jingga.


"Gaby, kamu sadar atau nggak seperti ada yang sedang memperhatikan kita?" kata Leah.


"Hah? Mana? Mana?" Gaby celingukan. " Mana?" tanya ia lagi penasaran.


"Ya, Tuhan. Aku tadi bicara hati-hati supaya tidak ketahuan, tapi kami malah dengan jelas mencarinya. Ya sudah sekalian saja. Tuh!" Leah mengarahkan wajah Gaby pada seorang pemuda yang dari tadi terus mengikuti mereka.


"Oh , Wow. Aku kira dia sebaya dengan kita. Padahal aku mau pria seperti Kak Roy. Yang dewasa dan banyak uang..." Belum selesai berangan-angan Leah tanpa ampun mencubit pinggangnya. "Aw!!" Gaby berteriak kesakitan.


"Hei, sakit!" protes Gaby.


Namun tiba-tiba Gaby takut karena melihat ekspresi Leah yang menakutkan.


"Hei, memangnya bicaraku salah?" tanya Gaby pelan-pelan.


"Hmm.. Tidak ada yang salah. Tapi kalau kamu mengukur suatu hubungan hanya sebatas itu apa kamu yakin akan bahagia? Aku tidak pernah berpikir memiliki seseorang seperti Kak Roy. Selama ini kami bahagia hanya dengan hal-hal kecil. Kak Roy itu sangat sibuk, suatu waktu dia datang ke rumah hanya untuk memberiku hadiah dan bunga, padahal hari itu hari perjalanannya ke Hongkong" kata Leah.


"Aku banyak menyita waktu kerjanya, karena saat Kak Roy senggang aku masih di jam sekolah." tambahnya.


"Lagipula kedewasaan seseorang tidak diukur dari seberapa dewasa usia mereka" jelas Leah.


"Aku tidak mengira hubunganmu tak sebebas kalau kita pacaran dengan teman sekolah. Itu seperti hubungan serius" kata Gaby.


" Apa kalian berencana untuk menikah" tanya Gaby.


Leah terdiam, dia tidak menampik ataupun mengiyakannya. Leah sadar apa yang Roy harapkan dari hubungan mereka berdua. Dan Leah juga tahu orang tua mereka sudah sama-sama setuju. Yang jadi pertanyaannya adalah, apakah Leah akan menikah di usianya yang masih belia. Walau tak keberatan terkadang muncul harapan Leah agar bisa berkuliah dan tinggal bersama teman-temannya.


"Kenapa diam?" tanya Gaby.


"Gaby, kamu tahu kan kalau aku dan Kak Roy selisih 6 tahun?" tanya Leah.


Gaby mengangguk.


"Di usia kita saat lulus sekolah adalah waktu yang kita nantikan karena kita mendapat kebebasan saat belajar di universitas. Tapi jika aku menikah sebelum aku masuk universitas mungkin itu tak bisa kudapatkan. Walaupun Kak Roy sibuk, tapi aku juga punya tanggung jawab sebagai seorang istri. Kau tahu kan maksudku?" Leah menceritakan apa yang ada dibenaknya.


"Aku tahu Kak Roy baik, tapi tidak mungkin seorang suami membiarkan istrinya tinggal bersama orang lain" Gaby menghela nafas.


"Kecuali kalian menikah setelah kamu lulus sarjana. Apa kamu yakin kamu akan menikah setelah lulus sekolah?" tanya Gaby penasaran.


"Tidak tahu. Mungkin saja iya kalau dilihat dari sudut pandang Kak Roy" pendapat Leah.

__ADS_1


Sedang asyik berkeluh kesah tiba-tiba terdengar suara seorang pria.


"Hai, apa aku boleh bergabung?" tanya pria itu. "Bukannya tidak sopan, tapi apa aku boleh berkenalan dengan kalian" pria itu menjelaskan maksudnya.


"Ah, hai." sapa Gaby dengan ceria. "Hei, dia pria yang tadi" ucap Gaby lirih di telinga Leah.


"Aku John. Aku memperhatikan kalian dari tadi, sepertinya kalian suka sekali makanan di festival kali ini." kata John.


Puftt! Leah menahan tawanya. Jangan-jangan dia juga mendengar sendawa Gaby yang menggelegar tadi.


"Ya, semua makanan di sini sangat enak." kata Leah.


Gaby memperhatikan pria itu. Dia mengira seperti pernah melihatnya. Terlihat Gaby berusaha keras untuk mengingatnya.


"Kamu siswa kelas 3-4 kan, atlet basket sekolah kita!" teriak Gaby.


"Ha? Masa?" Leah pun ikut teriak.


"Ha? Kita satu sekolah?" ekspresi John tidak kalah kagetnya dengan dua gadis cantik di depannya.


"Wow, maaf tapi aku benar-benar tidak mengenal kalian. Aku tidak berniat apa-apa. Serius aku hanya ingin berkenalan dengan kalian" kata John.


"Ok. Kita tidak masalah. Malah bagus kan kalau kita satu sekolah. Kita bisa menjadi semakin dekat.. ah maksudku bisa lebih akrab." hampir saja Gaby keceplosan kalau dia berniat cari pacar.


Leah menyadari kalau sahabatnya agak tertarik dengan John. Yah John memang punya karakter fisik idaman Gaby. Badan proporsional dan tampan. Sepertinya dia juga baik.


"Maaf, apa aku boleh pulang duluan? Aku masih ada janji." pinta Leah.


"Benarkah? Sayang sekali. Padahal setelah ini aku ingin mengajak kalian makan kedai kebab di sebelah sana. Aku bersumpah itu adalah kedai dengan kebab terenak yang pernah aku makan" kata John meyakinkan mereka berdua.


"Ah, kebab katanya. Kita juga suka kebab kan Leah. Ayo kita makan dulu baru pulang" rengek Gaby.


"Baiklah. Tapi aku akan membawanya pulang. Kak Roy sudah menungguku di rumah. Aku akan menelpon sebentar" kata Leah.


"Ok. Ok. Kami akan menunggu" kata Gaby.


Leah mengeluarkan ponselnya dan menelpon Roy.


"Ya sayang, aku sudah sampai. Kamu pulang kapan?" tanya Roy.


"Sebentar lagi, aku ingin membeli sesuatu. Kurang dari satu jam aku akan sampai." kata Leah.

__ADS_1


"Well. Aku akan ke sana menjemputmu. Jangan terburu-buru, aku akan menunggu di tempat parkir" kata Roy.


"Baiklah. Sampai jumpa."


Leah mematikan ponselnya dan bergabung bersama Gaby dan John.


Tak lama berjalan mereka sudah sampai di kedai kebab yang diceritakan John. Dari kedai itu tercium aroma harum yang sangat nikmat membuat ketiganya menelan ludah.


"Woah, ini harum sekali. Sebenarnya kebab apa yang mereka buat" kata Gaby yang air liurnya hampi menetes.


"Iya. Aromanya lebih harum dan nikmat. Ini lebih harum daripada kedai langganan kita kan, Gaby. Aku mau bawa pulang dua ukuran besar" Leah ikut tergiur juga.


"Hei, sabar. Kita bahkan belum masuk kesana. Sebaiknya cepat mumpung sedang senggang pembeli" ucap John menyadarkan mereka.


Gaby dan Leah dengan cepat masuk ke kedai tersebut. "Kebab Selera Kita" itu dia nama kedainya. Mereka bertiga mulai memesan, namun John berpesan agar pesanan Leah dibuatkan terlebih dahulu, Gaby pun setuju.


"Dari mana kamu tahu kebab di sini katanya begitu enak?" tanya Leah.


"Sebenarnya kedai ini ada di dekat rumahku. Tapi karena kedainya masuk gang kecil jadi tidak banyak orang yang tahu. Jadi, begitu tahu di sini akan digelar festival makanan, aku langsung mendaftarkan mereka. Itu lihat!" kata John sambil menunjuk kertas yang bertuliskan di mana kedai itu beroperasi sehari-hari.


"Woah, aku sempat khawatir tidak bisa memakannya lagi karena mungkin kedainya jauh dari sini. Haha, ternyata Tuhan baik sekali kepadaku." kata Gaby penuh syukur.


Tak lama pesanan dua kebab milik Leah sudah terkemas, begitu pula milik Gaby , layanan mereka sangat cepat dan penampilannya pun sungguh cantik.


"Woah.." Leah dan Gaby punya reaksi yang sama sebagai penggemar makanan yang berasal dari Timur Tengah itu. Mereka bahkan bertepuk tangan saking senangnya. Oh Tuhan.


Melihat itu John sangat heran sekaligus senang, tidak sia-sia dia merekomendasikan makanan yang menjadi kesukaannya itu.


"Baiklah, aku akan bayar milik kalian. Nikmatilah, anggap ini sebagai tanda pertemanan kita. Tapi lain kali kalian harus beli lagi. Langganan juga boleh. Ya, kan Pak?!" John melihat ke arah penjual kebab, dan beliau pun mengangguk dengan tersenyum.


"iya, Nona. Saya harap kalian akan mencoba variasi kebab kami lain waktu" kata penjual kebab.


"Terima kasih John. Tapi aku pulang dulu ya, aku juga ingin segera memakannya selagi hangat. Titip Gaby ya" pinta Leah.


Wajah Gaby merona, "Hei, aku bukan anak kecil."


"Tenang saja , temanmu aman bersamaku" jawab John dengan senyuman yang manis.


***


Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


Mohon like, komentar dan subscribe nya.


Terima kasih. ^^


__ADS_2