Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 5 - Bersamamu (2)


__ADS_3

Leah tidak menyangka jika Roy yang begitu terlihat hebat bisa menunjukkan ekspresi yang lemah seperti itu.


"Apa ada hal lain yang membuatmu cemas? Kalau hanya masalah pekerjaan aku kira kamu akan tidak sampai seperti ini?" tanya Leah.


"Kamu selalu tahu apa isi hatiku. Ayah sedang terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri. Beliau terkena serangan jantung. Bagaimana tidak, beliau dikhianati oleh adik iparnya sendiri yang sudah dia percayai. Padahal mereka sudah bekerjasama bertahun-tahun" jelas Roy.


Ternyata sudah 3 hari ayah Roy, Riezel Mannof tak sadarkan diri. Padahal beliau sebelumnya punya fisik yang kuat karena rajin berolahraga dan menerapkan gaya hidup sehat. Namun sepertinya pukulan psikis yang menyebabkan keadaannya fisiknya menjadi lemah.


Malam itu Roy menginap di resort atas ijin orang tua Leah yang pergi keluar kota untuk sementara. Malam itu sangatlah panjang, mereka menikmati malam terakhir sebelum mereka berpisah. Roy bilang banyak hal yang ingin dia lakukan bersama Leah sebelum berangkat besok pagi. Jadi mereka putuskan untuk memasak sendiri makan malamnya. Bahkan mereka juga membuat makanan pencuci mulut dan coklat kopi hangat.


Roy dan Leah berada di ruang tengah, setelah selesai makan malam.


Roy sibuk memilah-milah film apa yang akan mereka tonton.


"Mandilah dulu, aku akan menyiapkan film dan camilannya" kata Roy yang masih sibuk.


"Bagaimana kalau kita sama-sama mandi dulu, lalu kita siapkan bersama setelahnya? Kak Roy juga perlu mandi kan? Aku akan pinjamkan baju Papa" pinta Leah.


"Papa punya banyak sekali baju yang belum dipakai sama sekali" kata Leah sambil mengedipkan matanya.


Benar, keduanya mandi bersama di kamar mandi yang terpisah tentunya.


Selesai mandi Leah baru sadar kalau ia lupa menyiapkan baju untuk Roy. Maka cepat-cepat ia mengambil baju satu stel dari lemari ayahnya.


Kemudian ia berlari menuju kamar tamu.


"TOK TOK TOK"


Leah mengetuk pintu, namun tak ada jawaban ia pun masuk. Rupanya Roy masih di dalam kamar mandi.


Leah berjalan mendekati kamar mandi, "Kak, baju sudah kuletakkan di atas kasur. Kak??" Leah memanggil lagi karena tak ada jawaban.


Tiba-tiba Roy membuka pintu kamar mandi dengan handuk kimono.


"Kamu memanggilku?" tanya Roy.


"Ya. Ini pakaiannya" memberikan pada Roy. "Aku tunggu di bawah" kata Leah.

__ADS_1


"Hm" jawab Roy melihat Leah pergi dan menghela nafas. Tangannya memegang erat pakaian yang diberikan Leah lalu terduduk di kasur.


Seperti ada yang salah dengan dirinya. Tiba-tiba saja ia kesulitan menahan keinginannya untuk memeluk Leah saat melihatnya tadi.


"Hah, ada apa denganku? Biasanya aku mengendalikannya dengan mudah" gumam Roy yang membaringkan tubuhnya lalu menutup mata sebentar.


Tak lama kemudian Roy keluar dari kamar. Dia melihat Leah sudah menyiapkan camilan untuk menemani mereka nonton.


"Ayo cepat, keburu malam. Kita tonton dua film ini" kata Leah menyodorkan dua kaset, horor dan komedi romantis.


Roy meraih dua kaset itu, "Bagaimana kalau kita nonton ini saja dulu?" kata Roy menunjukkan kaset film horor pada Leah. "Kalau menontonnya terlalu malam nanti kamu takut" tambahnya sambil memasukannya ke DVD player.


Sudah satu jam film sudah film itu diputar. Dan Leah terus saja sembunyi dibalik ketiak Roy.


"Hahaha. Apa ketiakku lebih menarik dari filmnya? Kenapa kamu sembunyi terus? Kapan kamu akan menonton filmnya dengan benar?" tanya Roy geli.


"Aku takut. Kak Roy juga tahu dari tadi adegannya seram terus. Hanya menit-menit awalnya saja yang mampu aku tonton. AHH!" Jawab Leah yang diikuti jeritan. Tangannya memegang erat lengan kekar kekasihnya itu.


"Kak, kenapa tanganmu begitu keras?" tanya Leah yang rasa takutnya sudah teralihkan.


"Damn it!" batin Roy.


Roy mengambil tangan Leah yang berada di dadanya lalu menggenggamnya.


Roy menghela nafas, "Haah. Apa kamu sadar kalau kamu menggodaku?" tanya Roy dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Leah.


"Oops!" celetuk Leah. "I'm sorry. Aku tidak bermaksud" jawab Leah lirih sambil membuat tanda peace dengan jarinya. "Hehehe" lanjut Leah tertawa.


Roy tak bisa berkata apa-apa. Kemudian dia mengalah dan malah memegang pipi lembut Leah lalu menempelkan dahinya ke dahi Leah.


"Jangan lakukan lagi. Kalau tidak, aku tidak akan menahannya lagi" kata Roy.


Dua jam berlalu. Leah tidak tahu apa isi film horor yang mereka tonton karena ia terus sembunyi dan menutup mata sepanjang filmnya diputar.


"Mau lanjut film kedua?" tanya Roy.


"Ya. Aku butuh sesuatu untuk melemaskan otot jantungku. Aku hanya menonton sebagian film yang itu. Ceritanya lumayan" jawab Leah.

__ADS_1


"Ya. Dilihat dari sinopsisnya sih begitu. Walaupun agak kuno karena ini film lama. Tapi kurasa ini tak terlalu buruk untuk kita tonton berdua" kata Roy seakan-akan ada artian lain dalam kata-katanya itu.


Ya, benar. Film komedi romantis ini pas sekali mereka tonton setelah film horor yang tadi. Mereka menikmatinya dan terkadang Leah pun terbawa perasaan pada tokoh utama yang sangat romantis.


"Jadi seperti itu pria idealmu?" tanya Roy.


"Tidak tahu. Aku hanya tersentuh saja. Tapi dia mirip sekali denganmu" jawab Leah sambil tersenyum menatap sayang ke arah Roy.


Melihat itu tentu Roy semakin gemas dan tidak tahan lagi ingin memeluk gadis mungilnya itu.


Roy merubah posisi duduknya dan memeluk Leah, "Aku sangat bersyukur gadis kecil sepertimu menjadi bagian dalam hidupku. Bukan hanya saat ini, tapi untuk seterusnya aku akan membuatnya terus seperti ini" kata Roy.


"Aku akan sangat merindukanmu, Sayang" ucap Roy sepenuh hati.


"Apa kamu akan mencoba untuk menemuiku saat hatimu benar-benar sangat merindukanku?" tanya Leah.


"Tentu saja. Karena itu yang selalu kulakukan" jawab Roy. "Walaupun aku tidak akan memberi kepastian padamu saat ini, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu mencobanya" lanjut Roy.


"Aku menantikannya. Namun jika aku kebetulan atau dengan sengaja datang ke sana, Kak Roy harus menemuiku apapun caranya. Walaupun cuma sebentar" pinta Leah.


"Baiklah Nona. Saya akan berusaha sekuat tenaga, peganglah kata-kata saya saat ini sebagai janji" kata Roy sambil mencium punggung tangan Leah seperti janji seorang ksatria kepada gadisnya.


Malam semakin larut, suara hewan-hewan kecil mulai terdengar.


"Apa kamu selalu sendiri saat orang tuamu tidak ada? Ini terlalu sepi" tanya Roy agak khawatir.


"Um? Biasanya aku minta Gaby untuk menginap. Tapi kadang juga sendirian. Tapi kan ada security di depan. Kalau butuh apa-apa tinggal telepon resort di sebelah. Dulu aku takut, tapi aku kan juga sudah belajar Tae Kwon Do untuk pertahanan diri" jawab Leah. "Bahkan aku juga sudah lulus ujian menembak. Piuw! Piuw!" sambungnya.


"Baiklah. Aku percaya padamu kamu akan baik-baik saja" kaya Roy agak lega.


***


sampai jumpa di episode selanjutnya.


mohon like, coment & subscribe-nya.


terima kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2