
Setelah pengumuman kelulusan semua siswa berkumpul di aula guna mendengarkan sambutan dari pemilik yayasan serta dihadiri oleh para donatur yang berkenan hadir.
Leah, Gaby dan John pun segera memasuki ruangan berukuran besar tersebut. Tampak Roy juga duduk di antara para donatur lain.
Setelah mendengarkan beberapa sambutan, acara itu ditutup oleh pidato ketua humas sekolah. Yang memberitahukan adanya acara promnight. Tentu saja hal itu disambut antusias oleh para siswa-siswi. Dan diakhir acara kepala yayasan, kepala sekolah dan salah satu dari donatur untuk memberikan penghargaan kepada tiga peraih nilai tertinggi, yakni Andre, Leah dan John.
Ketiga siswa tersebut maju ke atas podium untuk menerima penghargaan atas kerja keras mereka.
"Selamat ya, kalian benar-benar menjadi kebanggaan sekolah kita. Saya harap kalian lebih berprestasi di luar sana. Dan jadilah pribadi yang lebih baik dan menjadi orang yang sukses", kata Pak Michael selaku pemilik yayasan.
Penyerahan tropi diiringi tepuk tangan meriah yang memenuhi ruang aula itu. Rasa haru dan bahagia benar-benar tercurahkan pada saat itu. Mengingat tingkat kelulusan mencapai angka seratus persen dan dengan nilai di atas rata-rata. Tak heran sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit unggulan.
"Oh, ya. Sebagai tambahan. Acara promnight nanti akan dihadiri oleh guru-guru kalian juga", kata Pak Antony selaku humas sekolah. "Jadi untuk yang terakhir kali, tinggalkannlah kesan yang baik untuk para guru-guru kalian. Semoga kita bertemu kembali dan akhir kata, sampai jumpa!",
Tepuk tangan meriah mengiringi turunnya Pak Antony dari mimbar.
Kemudian salah satu siswa memimpin seluruh siswa yang ada di aula,
"Stand up!"
"Every drop of our sweat!
Every drop of our tears!
Every tired of our striving!
You are the ones behind it!
You are the ones who make us not give up on our weakness!
Our esteemed teacher!
Our greatest teacher!
Our beloved teacher!
Thank you for your hard work guiding us!
Thank you for not giving up on our shortcomings!
Thank you for everything, My Honourable Teacher!" seru semua siswa serentak
Semua siswa membungkukkan badan memberikan penghormatan terakhir kepada guru mereka. Tampak air mata mengalir dari beberapa siswa. Tentu saja air mata itu adalah air mata bahagia mereka.
Acara selesai.
Semua meninggalkan aula dan semua siswa -siswi diperbolehkan untuk pulang.
"Ayo kita rayakan kelulusan kita di kedai kebab favorit kita!" kata Gaby antusias.
"Hm? Sayang sekali mereka tutup. Kedai mereka dalam masa renovasi", ucap John.
__ADS_1
"Ha? Kenapa?", tanya Leah.
"Sepertinya mereka mau memperluas kedai, mungkin menjadi semacam kafe. Kalian tidak tahu betapa penuh sesaknya tempat itu saat akhir pekan. Kadang pemilik kedai itu pun kewalahan", jelas John.
"Wah, mereka sukses. Bisa jadi karena promosi lewat sosial media pengunjunnya kan", tukas Gaby.
"Benar. Tapi soal rasa juga penting. Aku akui kebab mereka sangat luar biasa enak", tambah Leah.
Leah, Gaby dan John berjalan keluar sekolah. Mereka saling berbincang sepanjang perjalanan. Sesekali mereka berhenti di beberapa tempat untuk mengambil foto sebagai kenang-kenangan.
Dari jauh tampak Roy sudah menunggu Leah di samping gerbang sekolah. Hal ini mubazir kalau tidak dimanfaatkan.
"Ah, pas banget ada, Kak Roy", kata Gaby.
"Kenapa?" tanya Leah.
"Kalian tunggu di sini sebentar", kata Gaby pada John dan Leah.
Gaby pun menghampiri Roy.
"Hai, Kak Roy. Bisa minta tolong ambilkan foto kami di gerbang sekolah?", pinta Gaby dengan wajah memohon.
Roy yang berdiri menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil pun segera beranjak dari sana. Mengikuti Gaby menuju gerbang yang jaraknya 10 meter dari tempatnya berdiri.
Mereka bertiga mengambil posisi, dengan Gaby yang berada di tengah.
Cekrek!
"Sekarang apa boleh aku yang meminta tolong", kata Roy.
"Tentu saja, Kak. Sebutkan!", jawab Gaby yang antusias setelah puas melihat hasil jepretan foto Roy.
"Tidak. Aku mau John yang melakukan", kata Roy pada Gaby.
"Tolong ambil foto kami ya", kata Roy sambil memberikan ponsel miliknya pada John.
"Tidak masalah. Serahkan padaku", jawab John yang segera mengambil ponsel milik Roy itu.
Tampak Roy berdiri di samping Leah yang membawa dua buket bunga. Tangan Roy yang masuk ke saku celana dan tangan lainnya memeluk pinggang ramping Leah.
Selesai berfoto mereka pun berpisah di sana. Gaby yang pulang bersama John masih ingin mampir membeli jajanan di pinggir jalan. Sedangkan Leah dan Roy pulang menaiki mobil yang sejak tadi terparkir di tepi jalan samping sekolah.
John dan Gaby menyusuri jalanan sekolah, hinggap dari penjual siomay, ke penjual batagor kemudian penjual jus buah dan masih banyak lainnya. Mereka berdua yang pubya hobi kuliner memang kuat makan banyak. Berbeda dengan Leah yang punya porsi makan yang cukup. Karena itu John dan Gaby sangat cocok untuk urusan jajan.
"Wow, Pempeknya enak banget", kata Gaby yang baru saja memasukkan sepotong pempek kapal selam ke dalam mulutnya. Raut wajahnya sangat takjub dan puas saat menikmati makanan khas Palembang itu.
Sama seperti Gaby, John juga merasa pempek yang mereka makan sangatlah lezat. Sampai-sampai John hanya fokus pada semangkuk Pempeknya tanpa bicara apapun selain anggukan dan gelengan saking enaknya makanan itu.
"Eakh!"
Keduanya bersendawa lega tanpa melihat kanan kiri mereka, untung saja pembeli tidak terlalu ramai.
__ADS_1
"Hahahahaha", tawa keduanya.
Menyadari hal itu keduanya tertawa, antara geli dan malu.
"Ayo pulang. Kalau tambah lagi aku tidak yakin nanti kamu bisa berjalan atau tidak", ajak John.
Gaby mengangguk, karena dia yang kekenyangan sepertinya mengantuk.
John pun tertawa geli melihat Gaby yang bersandar pada bangku dengan wajah merah dan berkeringat seusai menyantap pempek yang super pedas.
"Tunggu di sini. Aku ambil motor dulu", pesan John.
"Jangan tidur!", tambahnya.
"Iya, bawel. Cepetan makanya", gerutu Gaby.
John pun segera kembali ke sekolah yang berjarak 200 meter dari sana. Dia mempercepat langkahnya, takut Gaby ketiduran sebelum dia sampai.
Benar saja, ketika John datang dengan motornya, dia melihat Gaby sudah tertidur di bangku penjual pempek.
"Anak ini", gumam John.
Segera dia memarkirkan motornya dan menghampiri Gaby. "Gaby bangun, ayo pulang", kaya John yang sedikit mengguncang tubuh Gaby agar bangun.
"Eh! Apa-apaan ini!", reflek Gaby menepis tangan John karena kaget. "Oh, ternyata kau. Aduh maaf aku ketiduran", kata Gaby sambil menguap, menyadarkan dirinya lalu mengikuti John.
"Bahaya tadi. Tidur disembarang tempat", kata John mengingatkan sambil memberikan helm pada Gaby.
"Iya, iya. Sudah, yuk pulang", kata Gaby.
John segera menyalakan mesin motor sportnya yang berwarna merah itu. Seakan sudah biasa Gaby yang duduk di belakangnya itu merangkul perut John.
"Hei, pelukanmu itu bisa buat orang jadi salah paham", kata John.
"Apa? Aku hanya ingin aman. Kau kan suka ngebut", sanggah Gaby.
"Benarkah? Hanya itu?", kata John sedikit menggodanya.
"Iya bawel", kata Gaby yang menahan malu.
Keduanya meninggalkan tempat itu. Belum ada 5 menit berkendara Gaby sudah kembali tertidur di punggung John.
"Anak ini", gumam John dengan wajahnya yang agak memerah.
***
terima kasih sudah berkunjung.
silakan like dan tinggalkan komentar untuk perbaikan karya saya.
sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1