
"Jangan lakukan ini," kata Roy yang menghentikan Leah.
Roy menatapnya, bukan dengan tatapan tak suka, namun tatapan 'kumohon jangan lakukan dan berhenti'.
Dengan cepat Leah menarik tangannya, "Um, maaf. Aku tidak tahu Kak Roy tidak suka."
"Bukan. Bukan tidak suka," Roy terdiam sejenak. "Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Ayo kita masuk. Ini sudah selesai," kata Roy yang sudah berhasil melepaskan secuil kain yang tersangkut tadi, walaupun sedikit robek namun tak terlalu kentara.
Roy, Aditya dan Leah masuk ke dalam rumah mewah itu. Aditya yang terkesan dengan desain interiornya terlihat sangat takjub.
"Selamat datang, Tuan Muda Roy," sapa Silvester yang diikuti oleh pelayan lainnya.
"Ya Silvester. Ah. Sudahkah kau siapkan kamar untuk kedua tamuku ini?" tanya Roy.
"Tentu, Tuan Muda. Semuanya sudah siap," kata Silvester.
"Bagus. Segera antar mereka beristirahat dan jangan lupa antarkan jus segar juga" perintah Roy.
"Baik, Tuan Muda,"
"Kalian ikutlah dengan Silvester. Satu jam lagi aku akan menemui kalian," kata Roy pada dua kakak beradik Aryasatya.
Leah dan kakaknya mengikuti Silvester Si Kepala Pelayan. Setelah mendapatkan kamarnya mereka merapikan barang bawaannya dan beristirahat sejenak.
Aditya yang langsung mandi dan berencana untuk tidur sebentar setelahnya. Tentu saja dia merasa lelah setelah membereskan pembukuan anggaran pendapatan dan pengeluaran resort bulan lalu dalam waktu sehari semalam. Sedangkan Leah tengah asyik dengan ponselnya duduk di pinggir jendela ditemani segelas jus mangga segar.
"TOK TOK"
Suara pintu diketuk. Leah bergegas menghampiri dan membuka pintu itu perlahan. Rupanya Roy yang datang.
"Ah. Aku pikir orang lain. Ada apa Kak Roy?" tanya Leah.
"Dua jam lagi kita akan makan malam bersama dengan keluargaku yang lain. Kau bersiaplah," ucap Roy.
"Ya, segera. Aku masih merasa agak aneh. Mungkin karena perbedaan waktu, padahal kita berangkat tadi pagi, tapi sampai di sini sudah hampir gelap," ucap Leah.
"Itu karena perbedaan waktunya dua jam kan. Jadi harimu terasa lebih cepat berlalu," kata Roy sambil membelai wajah Leah yang agak lelah.
"Satu jam lagi aku akan kemari, segeralah bersiap. Kita akan bersantai melihat-lihat taman sebentar," ajak Roy.
__ADS_1
"Apa kita akan pergi ke jalanan ungu tadi? Ah, tapi itu terlalu jauh," kata Leah kecewa.
"Hm? Tidak. Kita hanya berjalan-jalan di sekitar sini saja. Kau tahu setelah lorong ini belok ke kiri adalah teras. Aku akan menunggu di sana," kata Roy.
"Ok, aku mengerti," jawab Leah.
Leah menutup pintu kamarnya, segera pergi ke kamar mandi lalu menyiapkan jiwa dan raganya bertemu dengan calon mertuanya.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara tawa dari luar pintu ketika Leah hendak membukanya. Suara tawa yang nyaring dari beberapa orang. Dia mengurungkan niatnya dan bersandar pada pintu itu. Terus mendengarkan dan memperhatikan karakteristik sifat dari masing-masing tawa yang terdengar.
"Tak kusangka aku bisa sampai segugup ini. Ini lebih sulit dibandingkan ikut lomba SAINS," kata Leah lirih.
"Ya, Tuhan. Lancarkanlah segala urusanku di sini, dan bantu aku menunjukan siapa diriku tanpa ada kepura-puraan," doa Leah sambil memegang dadanya.
Leah mengatur nafasnya, memantapkan hati dan membuka pintu kamarnya perlahan. Dia mencoba mencari sumber tawa yang dari tadi belum berhenti itu. Sejenak dia menyadari ada beberapa tawa yang ia kenal.
Leah mendapati dirinya sudah berada di ruangan besar yang nyaman. Beberapa orang di sana langsung menoleh ke arah Leah, rupanya semuanya sudah berkumpul.
"O-ow, tenangkan dirimu Leah. Huh," batin Leah mendukung dirinya sendiri lalu mencoba tersenyum sebagai sapaan pertamanya.
"Selamat malam," sapa Leah dengan sapaan khas Jawa-nya, sedikit menundukkan kepalanya dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
Senyum Leah mengembang ketika Keiko menghampirinya dan menarik tangan kanannya dan mengajak ia bergabung dengan yang lain.
"Melihatmu sekarang, sepertinya apa yang dikatakan oleh Roy dan Kakakmu adalah benar. Kau benar-benar cantik," puji Riezel, ayah Roy.
"Saya tidak tahu apa yang mereka katakan, tapi saya berharap tidak ada hal yang dibuat-buat oleh keduanya," kata Leah tersipu sambil melihat Roy dan Aditya.
"Tapi saya sangat tersanjung dan berterima kasih karena kesan baik dari Om dan Tante," jawab Leah sopan.
"No, no. Jangan panggil Kami, Om dan Tante. Panggil Kami, Ayah dan Ibu. That's sounds better," pinta Keiko tulus.
Terlihat kebahagiaan dari kedua orang tua Roy yang tak bisa ditutupi. Leah yang tadinya sangat gugup, sedikit demi sedikit sudah bisa sedikit beradaptasi.
"Benarkah? Saya sangat berterima kasih. Terima kasih telah memperlakukan kami dengan baik," kata Leah senang.
"Berhentilah berbicara terlalu formal. Seperti biasa saja," pinta Roy.
Leah menatap Roy dan mengangguk.
__ADS_1
"Ayo, kita ke meja makan sekarang! Ibu sudah menyiapkan hidangan spesial untuk kita semua," ajak Keiko.
Semua orang beranjak dari tempat itu, dan menuju ruang makan, kecuali Joseph. Sepertinya dia terkejut karena calon kakak iparnya berusia lebih muda darinya.
Dia tak menyangka bahwa Leah adalah sosok yang secantik dan seimut itu.
"17 tahun? Bukankah dia baru lulus SMA? Bahkan usianya di bawah rata-rata. Dia seperti bayi yang cantik," gumam Joseph yang menggeleng-gelengkan kepalanya masih tak percaya.
Di ruang makan.
"Ayo, Aditya, Leah. Makan yang banyak, ini makanan kesukaan kami, hampir setiap hari sekali disiapkan, tapi anehnya kami tak pernah bosan," kata Keiko sambil menuangkan semangkuk kimchi dan memberikannya pada Leah.
"Kimchi?" tanya Leah. "Bukankah ini makanan tradisional Korea?" tanya Leah menatap semua orang di sana dan berakhir pada Roy.
"Hahahaha, ya. Kau benar Leah. Kami sangat suka ini, segar dan pedas. Kata Roy, kau juga suka," kata Riezel riang gembira.
Tentu saja hal ini membuat Aditya dan Roy senang. Karena sejauh ini situasinya bisa membuat Leah semakin nyaman dan mampu membiasakan diri.
"Selesai makan malam, Ayah dan Ibu akan pergi mengecek apakah persiapan pesta sudah siap," kata Riezel.
"Aditya dan Leah, anggap saja rumah ini seperti rumah kalian. Jangan sungkan," tambah ayah Roy setelah menyelesaikan makan malamnya. Kemudian meninggalkan ruangan diikuti sang istri.
"Ya, terima kasih banyak Om," jawab Aditya.
"Kau mau tambah lagi kimchi-nya? Rasanya enak kan, tapi buatan Ibu dan Tante tentu punya ciri khasnya sendiri," kata Roy sambil menuangkan kembali kimchi ke mangkuk Leah.
Leah hanya mengangguk, sambil menyodorkan mangkuknya. Dia terlihat senang namun agak canggung, dia melihat ke arah Roy, Aditya lalu ke arah Joseph.
"Makanlah yang banyak. Kau tidak akan gendut kalau hanya makan itu walaupun satu baskom besar," ledek Aditya yang tahu isi hati Leah yang malu karena menambah porsi makanannya.
Tentu ini membuat pipi Leah menjadi merona merah muda karena malu. Dia hanya tersenyum dengan mulut penuh kimchi yang membuat pipinya seperti kue bakpao.
Siapa yang tidak gemas melihat kelucuan itu, terutama Roy dan Joseph yang tak sadar pipi mereka pun ikut merona.
***
terima kasih kepada para pembaca yang sudah mampir kemari.
sampai jumpa di episode selanjutnya. 🖤🖤
__ADS_1