Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 11 - Kembali Utuh.


__ADS_3

Hubungan Roy dan Joseph membaik seperti dahulu. Apa yang terjadi pada enam tahun yang lalu itu adalah salah satu cerita yang patut dikenang.


Joseph yang kini tumbuh menjadi sosok pria yang sesuai dengan harapan Roy, akan mampu menjadi tumpuan perusahaan kelak.


Sekilas memang dia terlihat masih seperti anak remaja. Namun di usia yang baru 19 tahun, diam-diam dia sudah mampu merancang banyak pembangunan arsitektur atas permintaan ayahnya. Ide-ide yang segar dari anak yang masih berusia belasan itu memberi warna baru pada bangunan berskala besar maupun kecil yang ditangani AOne.


Perusahaan AOne, merupakan jasa pembangunan proyek yang berskala kecil sampai besar. Yang saat ini sedang menangani proyek Fourth Heaven, yaitu sebuah tempat wisata kelas atas. Proyek yang menggabungkan empat pulau tak berpenghuni yang diubah menjadi tempat wisata impian. Di mana tempat ini dibuat agar para wisatawan merasakan surga dunia dalam konteks tempat bukan yang lain.


Joseph juga yang merancang dan memberi ide-ide imajinasinya yang luar biasa. Pulau serba ada, pulau serba bisa. Begitu katanya.


Tentunya proyek ini memakan banyak sekali biaya. Dengan adanya kasus korupsi yang dilakukan oleh adik ipar ayahnya, banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk memprovokasi para pemegang saham agar berpihak pada mereka.


Namun dengan kekuatan kedua putra Mannof serta Tim Perencanaan yang baru juga sponsor-sponsor baru yang digawangi Roy tentu membuat proyek yang sebelumnya berhenti itu berubah menjadi mulus. Ya kurang lebih sampai saat ini.


Tak terasa sudah dua minggu Roy berada di Jepang membantu bisnis ayahnya. Dan selama itu pula dia meng-handle pekerjaannya dari jauh.


"Hei, Jp. Baca dan pelajari ini", kata Roy memberikan sebuah dokumen pada Joseph.


Joseph menerima dokumen itu,spontan dia menaikkan satu alisnya saat membacanya.


"Kakak, ini kan..",


"Ya, mulai besok bukan aku, tapi kau yang menjadi bintang utamanya. Aku hanya akan menjadi perisai dan penasehatmu saja", kata Roy.


"Tapi selama ini aku hanya bekerja dibelakang Ayah. Memang, Ayah selalu puas dengan pekerjaanku. Walaupun masih ada satu atau dua titik yang harus disempurnakan , tapi aku masih kurang percaya pada kemampuanku", kata Joseph.


"Anggap saja ini sebagai permulaan kau membuka jalan untuk mendapatkan kepercayaan para pemegang saham. Kau kan tidak bekerja sendirian. Helena selalu siap untukmu dua puluh empat jam", kata Roy.


"Dua puluh empat jam? Kakak gila ya? Dia kan bukan robot", protes adiknya.


"Kenapa? Pekerjaan Helena lebih bagus, sempurna dibandingkan Ben. Karena itu aku menempatkan dia di sisimu. Dia memang masih muda tapi jangan remehkan kemampuannya", jelas Roy.


"Aku tahu. Dia itu seperti wonder girl. Dia juga cantik. umm, Apa Kakak berkencan dengannya?", tanya Joseph penasaran.


Roy menoleh adiknya dengan wajah tak terima, "Kalau aku mengencaninya, kami akan kencan sambil membawa dokumen ke mana-mana. Helena itu workaholic. Dia juniorku saat di universitas. Aku tahu kinerjanya bagus karena itu aku merekrutnya. Orang seperti dia sulit didapat", jelas Roy.

__ADS_1


"Jadi bukan dia? Lalu, apa Kakak sedang berkencan dengan seseorang?", lanjut adiknya menginterogasi.


"Hm. Ada", jawab Roy singkat.


"Seperti apa dia?", tanya Joseph. "Cantik? seksi? pintar? pemalu? atau bagaimana?"


"Tsk. Diamlah. Pelajari saja dokumen yang kuberikan", jawab Roy acuh.


Joseph yang kecewa dengan jawaban kakaknya kembali membaca dokumen dengan wajah masam.


Namun Joseph kembali bertanya, "Tapi dia wanita kan, Kak?".


(-_-"')Roy tidak percaya pertanyaan seperti itu terlintas di kepala adiknya. Dia hanya diam menatap tajam adik bawelnya itu.


"Hia!", Joseph ketakutan. "Haha. Sepertinya dokumen ini akan kubawa ke ruang kerjaku saja. Haha", kata Joseph yang berlari pergi karena ngeri melihat Roy.


Roy hampir marah karena sedang rindu. Selama dua minggu tanpa kehadiran Leah seperti ada yang hilang darinya.


Belum lama Joseph kabur karena takut, tiba-tiba dia kembali ke perpustakaan di mana Roy berada.


"Kak, ayo ke rumah sakit sekarang!", ajak Joseph buru-buru.


Roy dan Joseph bergegas menuju rumah sakit, mereka membawa mobil sendiri tanpa supir.


"Ada apa?", tanya Roy.


"Ibu bilang, Ayah sudah sadar walaupun masih lemah. Syukurlah. Apa kita perlu membeli bunga dulu?", tanya adiknya.


"Tidak perlu, karena setelah ini sebaiknya kita pindahkan saja Ayah ke rumah", kata Roy sambil menambah kecepatannya melaju ke rumah sakit.


"Benar. Aku juga kasihan kalau harus melihat Ibu kelelahan seperti itu", gumam Joseph.


Rumah sakit.


Dokter masih memeriksa kondisi Riezel, memastikan bahwa tak ada efek buruk akibat koma yang berlangsung lebih dari dua minggu itu.

__ADS_1


Riezel memperhatikan dokter yang sedang memeriksanya. Matanya berkedip pelan. Tenaganya pun masih lemah. Sesekali dia menatap wajah istrinya yang tampak lelah itu. Diapun ingin memberi senyuman pada Keiko namun hanya mata yang mampu ia kedipkan.


Pintu ruangan terbuka tampak dua sosok pria memasuki ruangan. Melihat ayah mereka sudah sadar, langsung saja menempatkan diri mereka di sisi kanan kiri dan menggenggam tangan ayahnya.


Ternyata hal itu memicu kesadaran Riezel, dia membuka mulutnya seperti ingin bicara. Mengalir air dari kedua matanya, senyumnya mengembang, dan tangannya membalas genggaman kedua putranya itu.


"An-nak-ku", ucap Riezel terbata-bata.


Tangis kebahagiaan pecah di ruangan itu. Dokter pun terkejut dibuatnya. Keiko langsung memeluk suaminya. Ucap syukur mereka panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kondisi Riezel yang semakin membaik.


"Dokter, aku ingin ayahku menjalani perawatan di rumah. Tolong tunjuk dua perawat yang terbaik agar mereka bisa menjaga beliau", perintah Roy.


"Itu ide yang bagus Tuan. Karena beliau sudah sadar akan lebih baik jika dilakukan perawatan di rumah. Karena rupanya kesehatan Tuan Riezel sangat dipengaruhi oleh suasana hatinya", jawab dokter tersebut.


"Semua alat-alat ini bisa dilepas, tinggal infus dan oksigen saja. Dengan beberapa terapi semoga beliau sudah dapat berjalan dan berbicara dengan mudah", tambah dokter itu.


Hari itu Riezel Mannof akan kembali pulang ke rumahnya yang megah. Dengan didampingi oleh istri dan anaknya dia merasa seperti mendapat kekuatan yang sangat luar biasa.


Sepanjang perjalanan ayah Roy dan Joseph itu merasa senang melihat keluarganya berkumpul kembali, dia menggenggam tangan istrinya, Keiko. Menyandarkan kepalanya di bahu yang mungil itu sambil sesekali tersenyum kecil atas hadiah yang diberikan oleh Tuhan hari ini padanya.


Sesampainya di kediaman keluarga Mannof, kepala pelayan dan para suster sudah menunggu kedatangan mereka.


Dengan sigap dan hati-hati Joseph memapah ayahnya yang diikuti Roy di belakangnya membawa kursi roda.


"Ayah sudah lama sekali tidur di rumah sakit. Sekarang saatnya Ayah tidur di rumah", kata putra bungsunya itu.


Kini sudah tak ada ruang kosong lagi di istana Mannof, pemilik yang sebelumnya pergi kini sudah kembali", batin Riezel.


***


sampai jumpa di episode selanjutnya.


mohon like coment-nya ya.


terima kasih. ^^

__ADS_1


__ADS_2