Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 30 - Makan Siang


__ADS_3

"Calon suamimu kenapa?" tanya Gaby.


"Sepertinya dia lagi latihan menjadi suamiku", jawab Leah sembarangan.


"He? Ada ya yang seperti itu?" tanya Gaby yang merasa dibohongin oleh sahabatnya itu.


"Haha. Ya nanti kau tahu sendiri kalau sudah mau menikah sepertiku. Ayo temani aku mengambil beberapa bahan", ajak Leah.


"Bahan apa?"


"Bahan untuk membuat to tahu gimbal", jawab Leah.


"Jadi calon suamimu mengidam tahu gimbal", kata Gaby yang akhirnya paham.


"Yuk, kita lihat ke dapur. Kau bisa bantu?" tanya Leah.


"Pertama dan terakhir kali sudah cukup bagiku yang hampir membakar dapur kesayangan Mamaku. Kau tidak mau hal itu terjadi di sini kan?" jawab Gaby dengan wajah penyesalan yang telah lalu.


"Ok. Kalau begitu temani aku saja. Itupun kalau kau masih ingin di sini", kata Leah.


"Ak Kiu mau mau saja. Tapi aku ada janji makan siang dengan John. Kami mau kuliner di daerah Kota Lama. Aku kan belum pernah ke sana", kata Gaby bahagia sekali.


"Oh. Ya sudah. Selamat bersenang-senang", kata Leah.


"Oh ya, nanti kalau paketnya sudah sampai aku akan antar barangmu", tambahnya.


"Ah, kamu. Ya, ya. Sahabatku ini memang paling baik", puji Gaby yang memeluk sayang Leah.


"Sudah ya. Aku pulang dulu. Bye!" Gaby pamit.


"Ya. Hati-hati".


Gaby pun pergi setelah berpamitan dengan Ayumi, ibunda Leah.


Leah segera mencari bahan untuk membuat tahu gimbal. Segera ia datang ke dapur mencari bahan-bahannya.


"Darimana aku bisa dapat lontong? Kalau ke pasar terlalu makan waktu".


Leah berpikir mungkin dapur resort menyediakan lontong. Segera dia mengambil ponselnya lalu menelepon koki.


"Halo, Tante. Tante, ada lontong di pantry?", tanya Leah kepada asisten koki resort.


"Ada, Sayang. Kau bisa kemari, maaf di sini tidak ada pelayan yang bisa mengantarkannya ke sana. Kau tahu kan sekarang mau masuk jam makan siang. Kami sangat sibuk. Apalagi Mamamu juga sedang mengurus pernikahanmu. Jadi Tante yang handle semua di sini", jelas Rina.


"Ya, Tante. Tidak masalah kok. Nanti Leah segera kesana. Sudah dulu ya, Tante. Terima kasih", kata Leah.


"Oke, Sayang".


Beberapa saat kemudian Leah berjalan menuju resort melalui koridor rumahnya yang panjang. Koridor itu menghubungkan halaman belakang rumah dengan dapur resort. Meski koridor itu berada di tengah-tengah taman namun tempat tersebut tertutup sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali anggota keluarga dan beberapa pekerja.


TOK TOK


Leah mengetuk pintu.


"Tante!", sapa Leah.


"Eh, ini dia. Calon pengantin sudah di sini. Kemarilah. Lontongnya sudah Tante siapkan. Mau sekalian sambalnya?", tanya Rina.


"Hehe. Boleh Tante. Tapi Leah yang uleg sendiri ya", kata Leah.


"Oke, oke. Kayanya Tante tahu makanan ini spesial untuk siapa", goda Rina diiringi senyum-senyum turut bahagia dari para koki di dapur.


Leah tersenyum menanggapi candaan asisten ibunya itu. Tak ingin membuang-buang waktu, Leah segera membuat bumbu kacang khas tahu gimbalnya.

__ADS_1


Set, set! Tak perlu waktu lama bagi Leah untuk membuat satu porsi sambal jumbo. Setelah mencicipinya Leah langsung memindahkannya ke mangkuk.


"Sudah Tante. Terima kasih ya. Oh Ya, Leah juga ambil beberapa kol dan tauge", tambahnya.


"It's Oke. Sudah sana ini jam makan siangnya sudah mepet", sahut Rina.


Leah tersenyum mengiyakan perkataan Rina lalu segera meninggalkan tempat itu.


Butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke dapur rumahnya. Begitu bahan sudah siap, Leah langsung mengeksekusi udang yang sudah dia rendam dengan bumbu tepung crispy dengan tepung yang kering lalu menggorengnya.


"NYOSH!!"


Suara udang tepung yang masuk ke wajan berisi minyak panas.


Selama menunggu udangnya matang Leah memotong lontong dan merendam sayuran dengan air panas agar layu. Lalu menatanya Serapi mungkin ke dalam wadah. Membungkus kerupuk. Dan tak lupa sambal yang ditempatkan secara terpisah.


Begitu udang matang Leah langsung mengangkatnya dan memasukkannya ke wadah yang telah di lapisi tissu penyerap minyak.


"Pasti suka, deh. Udangnya pas!" seru Leah yang percaya diri dengan resep crispy anti melempem ala ibunya.


"Oke, siap!".


Leah membersihkan dirinya lalu mengganti bajunya.


"Hei, mau ke mana?", tanya Adit yang masih tengkurap dipijit oleh Mbok Darmi.


"Mau ke kantor Kak Roy, antar makan siang", jawab Leah sambil memasukkan sepatu ke kakinya.


"Baunya enak. Bagianku mana?" tanya Aditya dengan nada yang keras.


"Ada di dapur", jawab Leah mendekat ke arah kakaknya.


"Sampaikan ke Mama ya. Leah buru-buru, supir Kak Roy sudah menunggu di depan", pinta Leah.


"Ya. Leah berangkat dulu".


Leah pun bergegas keluar dan menghampiri mobil yang sudah menunggunya kurang lebih lima belas menit yang lalu.


"Selamat siang, Pak!" sapa Leah.


"Nona Leah. Mari silakan masuk. Saya diutus Tuan untuk menjemput Nona", kata supir itu ramah dan segera membukakan pintu mobilnya.


"Terima kasih".


Pak supir segera menjalankan mobilnya, dengan kecepatan yang sedang beliau yang sudah cukup tua sangat ahli dalam mengendarai mobil.


Leah melihat ke arah jam tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah satu siang. Kantor Roy lumayan jauh dari kediaman Aryasatya, kira-kira makan waktu dua puluh menit. Tapi dengan motor kurang dari lima belas menit.


Dua puluh menit berlalu. Mobil berhenti di depan pintu lobby kantor. Leah segera turun.


"Permisi. Saya Eleah. Saya ingin bertemu dengan Direktur Alex, apa beliau ada di ruangannya?", sapa Leah kepada resepsionis.


"Ah, mohon tunggu sebentar. Apa sudah buat janji?", tanya resepsionis itu yang agak heran karena bosnya dicari oleh seorang gadis muda.


"Sudah. Beliau menyuruh saya datang kemari saat jam makan siang", jawab Leah.


Resepsionis itu menelepon entah siapa. Namun dari ekspresinya Leah tahu bahwa kedatangannya di-yakan.


"Silakan naik melalui lift khusus Direktur, Beliau sudah menunggu Anda di ruangannya", kata resepsionis itu ramah.


"Baik, saya mengerti. Terima kasih", kata Leah yang langsung pergi menaiki lift khusus yang katanya untuk Direktur itu.


Begitu lift sampai di atas Leah keluar dari lift tersebut. Namun Leah bingung harus berjalan ke arah mana.

__ADS_1


Melihat ada seorang gadis asing yang bingung, tentu saja security menghampirinya. apalagi dia baru saja keluar dari lift khusus Direktur.


"Maaf. Ada yang bisa dibantu, Nona", tanya security tersebut.


"Bisa tolong antarkan saya ke ruang Direktur. Saya sudah hampir terlambat untuk jam makan siang", pinta Leah sambil memperlihatkan bekalnya.


"Mari ikuti saya", kata pria itu sambil menunjukkan jalannya.


Merasa penasaran security itu pun bertanya, "Maaf. Apa saya boleh tahu ada hubungan apa Anda dengan Direktur kami?".


Leah tersenyum getir, "Pertanyaan Anda tanpa basa-basi ya. Saya kemari untuk makan siang bersama calon suami saya. Kebetulan Beliau adalah seorang direktur di tempat Anda bekerja".


Tentu saja jawaban Leah membuat security itu menyesal telah bertanya.


"Ah. Begitu rupanya. Kita sudah sampai, silakan masuk. Semoga hari Anda menyenangkan dan mohon maafkan saya apabila perkataan saya tadi menyinggung Anda", kata pria itu membungkuk dengan wajah yang masih kaget.


"Ya. Terima kasih. Selamat bekerja", jawab Leah yang melewatinya dan mengetuk pintu ruangan di depannya.


TOK TOK!


""Masuk!" jawab Roy dari dalam sana, mu gkin dia tidak tahu yang mengetuk pintu adalah kekasihnya.


KLEK!


Leah memperlihatkan kepalanya bermaksud melihat terlebih dahulu apa yang sedang dilakukan oleh Roy.


Roy yang masih belum sadar masih sibuk membaca sebuah dokumen entah apa itu.


Leah berjalan mendekat, pelan-pelan dan hati-hati.


Roy yang menyadari ada seseorang yang mengetuk pintunya namun tak segera menghampirinya membuat Roy tak suka. Karena dia menganggap karyawan itu mau main-main terhadapnya.


"Kalau tidak ada keperluan silakan kelu... Sayang!"


"Kenapa diam saja?" kata Roy yang langsung meletakkan dokumen di tangannya dan menghampiri Leah.


"Aku sudah sangat lapar", keluhnya.


"Pantas saja, tadi pasti mau marah-marah, ya?"


Ayo duduk sini. Cepat!" kata Leah yang tangannya langsung menggandeng tangan Roy dan menyuruhnya untuk duduk.


Leah mencuci tangannya lalu segera membuka kotak bekalnya.


"Hmmm. Wangi sekali. Aroma udang", kata Roy yang tangannya langsung mau mencomot udang goreng garing pesanannya.


"Plak!"


"Kenapa tanganku dipukul?" tanya Roy.


"Cuci tangan dulu. Oh ya. Pesankan minum. Aku tidak bawa minum", kata Leah.


"Oh, ya. Aku lupa", kata Roy yang dengan cepat menelpon sekretarisnya untuk membuatkan minuman lali bergegas mencuci kedua tangannya.


"Selamat makan", seru Roy.


"Wah! Udangnya sempurna. Kau memang istri idamanku", kata Roy langsung memeluk Leah.


Siang itu mereka makan siang bersama dengan menu yang sederhana namun terasa sangat spesial.


Menaruh perhatian satu sama lain, peduli satu sama lain, hal yang diharuskan berlanjut sampai usia mereka bertambah, sampai rambut mereka memutih.


Cinta diharuskan peduli. Namun, peduli bukan pasti cinta.

__ADS_1


__ADS_2