
Selesai menikmati matahari terbit mereka bersiap untuk sarapan.
Tampak Leah sedang sibuk di dapur membuat menu sederhana. Dibandingkan Leah, Roy memang lebih pandai dalam urusan memasak. Karena sudah lama Roy tinggal sendiri mengurus perusahaannya di kota ini.
Selesai memasak dan menyiapkan sarapan mereka di teras, Leah memberi isyarat pada Roy. Namun, Roy yang masih sibuk dengan ponselnya menyuruh Leah untuk menunggunya lima menit lagi.
Roy menghampiri Leah, menyeret kursi di depannya dan akan memulai sarapannya.
"Maaf, aku hanya bisa menyiapkan ini" kata Leah.
"Tidak. Ini lebih dari cukup, Sayang. Semua yang kusukai ada di sini. Terima kasih." kata Roy sambil menatap wajah Leah yang mengisyaratkan termasuk Leah di dalamnya.
"Baiklah. Mari makan." ajak Leah.
Seusai sarapan, Roy kembali sibuk dengan ponselnya. Tentu itu urusan pekerjaan.
Leah yang melihatnya menyadari bahwa kekasihnya itu sebentar lagi akan pergi, ia menyiapkan setelan kemeja Roy yang telah dikirim dari binatu.
"Apa semuanya sudah beres? Dia bahkan tidak mengepak barang bawaan sama sekali. Apa semua Direktur seperti itu? Aku tahu dia kaya raya, itu hal yang mudah jika harus membeli banyak pakaian baru."
"Huh! Beli baju seperti beli roti. Itu kan pemborosan, berapa lemari yang akan dia habiskan untuk menyimpan pakaiannya?" tanpa sadar Leah menggerutu sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Roy. "Oh bajuku? Aku akan berangkat satu jam lagi. Kalau sampai nanti Om dan Tante belum datang, tolong sampaikan salamku untuk mereka ya." melirik ke arah Leah. "Hm, dan sebaiknya kamu mandi sekarang. Aku juga akan bersiap." kata Roy.
Leah mengangguk dan kembali ke kamarnya.
Hampir pukul delapan pagi Roy sudah bersiap untuk berangkat. Karena Leah masih di kamarnya, ia menyusulnya.
TOK TOK
"Leah, masih belum selesai?" Kata Roy.
Leah membukakan pintu, dia terlihat murung. "Aku mengantarmu sampai mana?" kata Leah.
"Hanya sampai aku masuk ke mobil." Roy tersenyum dan menggandeng tangan Leah keluar dari kamarnya. "Jangan memasang wajah seperti itu di hari keberangkatanku. Kita tidak berpisah untuk selamanya, kan?" kata Roy.
Leah masih diam dan memeluk lengan Roy sepanjang perjalanan. Dilihatnya Ben yang sudah siap di samping mobil bersama seorang supir.
"Helena tidak ikut?" tanya Leah.
"Tidak. Dia sudah lebih dulu sampai. Tugasnya lebih penting daripada Ben." Roy melepaskan pelukan Leah dan meraih kedua tangannya lalu menggenggamnya .
"Fokuslah pada ujianmu, jangan pikirkan hal lainnya. Dan gunakan sisa waktumu untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Paham?"
"Hmm. Ya, saya paham, Pak! Saya akan mendapatkan nilai yang terbaik. Dan semoga perjalanan Anda menyenangkan, dan sampai tujuan dengan selamat." kata Leah sambil melemparkan senyuman profesional ala pramugari.
Roy yang gemas melihatnya mencubit pipi lembut Leah.
"Aw! Sakit tahu! Ih!" pekik Leah sambil memukul lengan kekasihnya itu berkali-kali sampai cubitan itu lepas.
__ADS_1
"Apa Kak Roy mau meninggalkan bekas memar di wajahku?" kata Leah protes sambil mengusap-usap pipinya yang merah. "Aduuhh. Ini kekerasan namanya" protes Leah.
Roy malah tertawa senang, "Sekarang aku sudah bisa pergi tanpa harus melihat wajahmu yang murung tadi kan. Hahaha."
Tiba-tiba Roy terdiam, dipandanginya wajah gadis kecil yang ada di hadapannya itu. Wajah yang selalu menjadi candu untuknya.
"Leah, aku ingin menciummu? Boleh?" tanya Roy meminta ijin.
Mendadak wajah Leah kaget dan malu, dia tidak tahu mau jawab apa. Hanya debaran jantungnya yang terdengar sampai ke gendang telinganya. Kemudian Leah memberi isyarat dengan menunjuk pipi kanannya dengan jari.
Tentu saja rasa lega dan bahagia yang dirasakan Roy saat itu. Diraihnya wajah yang malu itu dan...
"Cup!" Roy mencium Leah dengan lembut lalu mengusap pelan pipi yang masih merah karena cubitan sayangnya tadi. "Baiklah. Aku pergi."
Roy memundurkan langkahnya dan berbalik, berjalan memasuki mobil yang telah dibuka oleh supir. Ben yang memberi salam pun segera masuk. Dan mereka pun pergi.
Leah mempercepat langkahnya dan melihat mobil itu berlalu dan hilang dari pandangannya.
Di dalam mobil.
"Kamu sudah melakukan apa yang keperintahkan kemarin?" tanya Roy pada Ben.
"Ya, Pak Direktur." jawab Ben sambil memberikan sebuah berkas pada Roy.
Roy menerima berkas itu lalu membacanya. Sekilas dia paham yang terjadi, dan diapun tersenyum sinis.
"Apa pemasok bahan material sudah beres?" tanya Roy.
"Sudah Pak. Saya sudah menghubungi beberapa pihak pemasok yang Anda ingin rekrut"
"Dan mereka juga bersedia menjadi sponsor proyek ini. Dan sekarang kami sedang mengurus iklan komersialnya." jelas Ben.
"Baiklah."
"Hubungi semua pemegang saham , dan undang rapat Sebelum jam makan siang.
"Sebelum rapat "Fourth Heaven", aku akan mengajak mereka berkenalan." ucap Roy menyeringai.
"Ada kalanya aku harus menunjukkan taringku" kata Roy dengan tatapan tajam.
"Baik, Pak Direktur. " jawab Ben tegas.
Di Kediaman Abiman Aryasatya.
"Bahakan aku sudah mulai merindukannya." gumam Leah.
"Rindu siapa?"
Pertanyaan yang mengagetkan Leah itu rupanya keluar dari mulut Aditya. Kakak Leah.
__ADS_1
"Kakak?!" spontan Leah langsung memeluk kakaknya.
"Jadi Papa Mama bukan keluar kota? Tapi jemput Kak Adit?" tanya Leah sambil bergelantungan di badan kakaknya.
"Ah-ha." Abimana mengiyakan.
"Aku kangen sekali begitu melihatmu." kata Leah.
"Lalu selama aku tidak ada?" tanya Aditya.
"Tidak sama sekali" jawab Leah polos.
"Ada ya adik sekejam dirimu? Padahal oleh-olehmu itu yang paling banyak. Sekarang aku merasa agak menyesal pulang ke rumah" kata Adit asal-asalan.
Plak!
Abimana memukul kepala Adit, "Hei, memang kedua orang tuamu tak sebegitu berharganya?" ucap protes.
"Tsk. Sakitlah, Pa. Mana ada Adit bilang seperti itu."
Adit memeluk ayah dan ibunya, "Yang namanya orang tua itu ya harusnya dipeluk seperti ini" ^^
Keramaian keluarga Aryasatya sudah kembali lagi dengan hadirnya Aditya. Putra pertama keluarga Aryasatya.
Sosok yang humoris dan selalu ceria tapi juga tegas dan kompeten.
Seorang kakak yang sangat hebat bagi Leah. Tahun ini dia sudah menyelesaikan program studi S-2 nya di bidang ekonomi bisnis.
Banyak tawaran yang datang ingin merekrutnya. Namun, saking sayangnya dia kepada keluarga, dia hanya ingin melanjutkan bisnis yang sudah diperjuangkan oleh ayahnya sedari nol itu.
Aditya tahu betul lika-liku yang dihadapi ayah dan ibunya saat merintis 'Kampung Impian Aryasatya'.
Saat-saat terpuruk dulu membuatnya bertekad agar kedua orang tuanya bisa beristirahat begitu dia mengambil alih tanggung jawab resort.
Jepang.
Roy sudah sampai di Jepang dengan pesawat pribadinya. Tujuan utamanya adalah tentu saja bertemu kedua orang tuanya.
"Ben. Ke rumah sakit sekarang." perintah Roy.
"Baik, Pak Direktur"
***
sampai jumpa di episode selanjutnya.
mohon like, coment & subscribe-nya.
terima kasih. ^^
__ADS_1