Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 24 - Pengumuman


__ADS_3

Roy melihat kembali ke arah jam tangannya. Matanya mencari-cari keberadaan Aditya dan Leah, namun tak ia temukan.


"Maaf, aku pergi ke suatu tempat. Nikmati jamuannya!" kata Roy pergi meninggalkan Sherry.


"Tentu," jawab Sherry sambil meneguk segelas anggur non alkohol sembari menatap punggung Roy yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Saat Sherry bangun dari duduknya berniat merapikan penampilannya namun Hatori sudah berada di belakangnya.


"Semua berjalan seperti yang kau mau?" tanya pria itu.


"Hh, kau mengagetkanku!" kata Sherry sambil memegang dadanya karena terkejut.


"Lumayan. Tidak terlalu buruk, tapi aku punya firasat kurang baik," kaya Sherry.


"Benarkah?" Hatori mendekat ke arah Sherry dan berbisik, "Kalau begitu siapkan dirimu. Aku akan terus disini dan melihat mu dari tempat yang tak kau lihat," ucap Hatori yang pergi menjauh darinya.


"Hey, tak usah repot-repot," Sherry menolak.


Di tempat lain. Roy menghampiri ibunya dan menyampaikan kegelisahannya.


"Apa Ibu tahu dimana Leah dan Kakaknya? Apa mereka sudah datang?" tanya Roy.


Keiko tersenyum, rupanya dari tadi putranya itu mencari sosok yang tak ia temukan.


"Mereka sudah tiba, kau tenang saja. Calon istri dan ipar mu baik-baik saja," jawab Keiko sambil menggandeng putranya menghampiri Riezel karena acara inti akan dimulai.


Sekretaris Shin naik ke mimbar dan mengarahkan semua perhatian tamu undangan ke arahnya dan mengumumkan bahwa acara akan dimulai.


Susunan acara berjalan satu persatu dengan lancar. Terutama sambutan dari Riezel Mannof selaku Presiden Direktur AOne.


Presentasi dari Helena tentang mega proyek Fourth Heaven berjalan mulus bersama Joseph.


Semua tamu undangan yang terdiri dari pemegang saham dan sponsor juga sangat puas dengan hasilnya. Dan dalam kurun waktu kurang dari dua minggu, Fourth Heaven langsung menyedot banyak perhatian khalayak umum dari banyak kalangan. Sehingga statistik pendapatan melonjak begitu signifikan.


Tentu saja semua hasil jerih payah ini adalah hasil kerja keras mereka semua, dan Presdir Mannof pun secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada pihak yang terkait.


Dan di tengah-tengah acara Riezel memperkenalkan calon istri putra sulungnya. Roy yang tentu saja tidak tahu menahu tentang hal ini dibuat terkejut oleh ayahnya.


Dari arah berlawanan nampak Keiko menggandeng seorang gadis yang sangat cantik yang tak lain adalah Leah.


Malam itu Leah tampil mengenakan gaun berwarna champagne, atasan berupa brokat lengan panjang dengan model leher V yang dipadupadankan dengan bawahan sampai betis berbahan Tulle berlapis.


Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai rapi ke samping sangat elegan dengan jepitan rambut berwarna emas di sisi kanannya menambah kesan ayu pada dirinya, ditambah kalung pemberian Roy yang membuat Leah terlihat sempurna.


Kedatangan Keiko, Leah dan Aditya disambut hangat oleh para tamu undangan. Namun tak sedikit juga yang bertanya apa latar belakang keluarga mereka.


Riezel menyambut gadis kecil itu dengan penuh kasih lalu menyatukan tangan Roy dan Leah di hadapan semua orang.


"Dan pada kesempatan ini, aku ingin memperkenalkan calon istri putra sulungku Roy Alexander Mannof yang bernama Eleah Ayu Aryasatya," ungkapnya gembira.


"Mereka akan menikah akhir bulan Juli ini," ucap Riezel.

__ADS_1


Semua tamu bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada mereka.


Leah menahan keterkejutannya, betapa tidak? Leah bahkan tak tahu bahwa dia akan menikah akhir bulan ini.


Sekilas Leah menatap Roy meminta penjelasan. Seakan mengerti maksud Leah, Roy menepuk-nepuk punggung Leah dan mengangguk.


Roy dan Leah mencari tempat untuk berbicara , mereka keluar dari aula melalui pintu barat dan mulai berbicara.


"Apa Papa dan Mama sudah tahu tanggal pernikahan kita?" tanya Leah to the point.


"Ya. Mereka sudah tahu. Aku memang membicarakan hal ini secara pribadi dengan mereka. Dan Om juga setuju, beliau berkata lebih cepat lebih baik," jawab Roy.


Leah yang masih shock hanya diam. Dia hanya berpikir, bukankah curang jika hanya dia saja yang belum tahu.


"Aku dan keluargamu menentukan tanggal pernikahan kita sehari setelah aku melamarmu di depan Om dan Tante. Maafkan aku membuatmu terkejut. Aku pikir beliau pasti sudah memberitahukan hal ini padamu sebelum kita berangkat ke Jepang," kata Roy.


Leah menggeleng, "Tidak. Mereka belum bilang hal ini padaku," ucap Leah.


"Baiklah. Tidak apa-apa, setelah pulang aku akan marah pada mereka," kata Leah.


"Hei, kenapa begitu?" tanya Roy.


"Kenapa apanya? Apalagi? Memangnya yang mau menikah itu Kak Roy dengan mereka, atau denganku?," kata Leah agak cemberut.


Roy menekan pelipisnya, "Oke. Kami semua bersalah padamu. Sekarang mari kita kembali ke dalam, setuju?" bujuk Roy.


"Berikan tanganmu dulu!" ucap Leah.


"Sayang! Apa kau jadi anak harimau sekarang?" tanya Roy masih kesakitan.


"Biar! Aku marah. Kak Roy tidak tahu apa yang aku rasakan, aku memang masih belum dewasa ya, tapi aku juga perlu tahu apa-apa yang menyangkut hidupku," Leah terus mengomel tiada henti.


Roy yang melihat itu menjadi gemas kepada calon istrinya dan langsung memeluknya dan menghujani pipi Leah dengan ciuman.


"Aahhh! Ih! Ih! Apa yang Kak Roy lakukan?! Lepas!" protes Leah yang memukul-mukul lengan Roy dan mencoba lepas darinya.


Roy yang puas sudah melampiaskan rasa gemasnya tertawa geli, "Ingat, kalau kau seperti ini lagi aku akan melakukan ini padamu," ancam Roy sambil tertawa.


"Ini tidak adil! Lihat! Penampilanku jadi berantakan. Apa kata orang nanti?" kata Leah.


"Kan tinggal dirapikan saja. Hahaha. Sini sini, Sayangku. Mas bantu rapikan," rayu Roy.


Leah yang cemberut tentu jadi tidak lagi, malah jadi malu tersipu, " Rapikan yang benar ya, Mas. Nanti dikira orang kita habis melakukan sesuatu."


"Hm? Memang benar kan, tadi kita habis bercumbu sebentar, hahaha. Aww!" Roy merasa geli karena Leah kembali mencubit pinggangnya.


"Tsk!" proses Leah.


"Ya ampun, calon istriku rupanya galak sekali hahaha," goda Roy sambil memeluk Leah seperti anak kecil.


Mereka kembali masuk ke ruangan setelah merapikan penampilan Leah dan berbaur dengan tamu yang ada.

__ADS_1


Di lain tempat. Sherry yang kaget setengah mati atas pengumuman itu tak dapat menyembunyikan rasa amarah dan kecewa, terlebih saat ia melihat sosok Leah yang tentu saja orang pasti tahu bahwa gadis itu berusia jauh di bawah Roy.


Sherry yang bergegas meninggalkan aula itu disusul dengan cepat oleh Hatori.


Sesampainya di luar Hatori tak mampu menemukan keberadaan di mana putri bosnya. Namun pandangannya terhenti di taman samping aula yang cahaya lampunya tak terlalu terang.


Hatori melihatnya, lalu menghampiri Sherry yang duduk di bangku taman dengan tangan yang meremas bunga lili di sana hingga tak berbentuk.


Sherry ingin menangis tapi dia juga marah. Dia merasa dadanya panas sampai naik ke ubun-ubun.


"Minumlah," kata Hatori memberikan segelas air putih padanya namun tangan Sherry terlalu gemetar untuk memegangnya sendiri.


Hatori meletakkan gelas itu. Dan berlutut dihadapan Sherry.


"Apa kau begitu menyukainya sampai perlu semarah ini? Kau bahkan sudah melihat sendiri tak ada cinta sedikitpun di matanya untukmu. Tak akan ada yang bisa kau dapati dari dirinya," ucap Hatori dengan tenang.


"Mungkin hari aku akan berbicara lebih banyak daripada biasanya. Jadi dengarkanlah. Aku akan berhenti bekerja sebagai sekretaris Presdir Minggu depan. Dan surat pengunduran diriku juga sudah Beliau terima," kata Hatori.


Sherry terkejut mendengar ucapan pria yang selama ini menjadi sandarannya.


"Kenapa? Kau bahkan juga ingin pergi dariku. Hah! Mungkin aku memang ditakdirkan hidup seperti ini," ucap Sherry yang mulai menangis.


"Tidak. Justru aku ingin terus bersamamu maka dari itu aku harus berhenti menjadi bawahan Presdir," ucap Hatori.


Tangis Sherry berhenti, dia memandang wajah Hatori tak mengerti.


"Aku dulu memang tidak berharap, namun ( Hatori meraih tangan Sherry dan meletakkannya di dadanya) sekarang aku harap kau bisa melihatku," ucap Hatori.


Sherry masih tak percaya dengan apa yang Hatori katakan padanya. Dia tahu selama ini dia mengejar Roy agar bisa memutuskan jalan hidupnya sendiri. Dan mengabaikan perasaan pria yang selalu ada untuknya, bertahun-tahun.


"Aku akan kembali ke dalam untuk meminta ijin mengantarkanmu pulang, tunggulah di sini," kata Hatori yang meninggalkan Sherry sendiri di taman.


Tak lama kemudian Hatori keluar dan membawa Sherry pulang.


Selama perjalanan Sherry hanya terdiam. Hatori pun menghormati apapun keputusan yang akan diberikan oleh Sherry atas hubungan mereka ke depannya.


Kediaman Watanabe.


Sherry masih belum keluar dari mobil. Dan mereka berdua masih terkunci dalam keheningan.


"Aku akan selalu ada untukmu, datanglah kapanpun," ucap Hatori yang kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Sherry. Sherry yang tadinya enggan turun mulai menenangkan hatinya keluar dari mobil. Dengan langkah goyah dia meninggalkan Hatori.


Baru dua langkah ia berjalan namun Sherry berhenti, "Terima kasih," hanya itu yang Sherry ucapakan sebelum dia melangkahkan kakinya kembali.


***


Terima kasih kepada para pembaca yang sudah mampir ke karya perdanku ini.


jangan lupa like dan komentar ya.


sampai jumpa di episode selanjutnya. ^_^/

__ADS_1


__ADS_2