Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 34 - Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Leah tak mampu bergeming, seolah tubuhnya tak bisa digerakkan, baru pertama kali ini dia merasakan sentuhan seorang pria. Jantungnya seperti mau meledak, seperti ada rasa takut ketika Roy terus mengecup telinganya.


Roy berhenti ia merasakan ada keanehan pada istrinya. Ia tak bergeming dan tubuhnya yang tadinya tegang menjadi lemas.


Yup! Leah pingsan.


Roy panik dalam sekejap. Rasa bersalah dan menyesal memenuhi kepalanya sekarang.


"Sayang! Sayang! Bangun!" panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi istrinya, mengguncang tubuhnya bahkan mengecek apa jantungnya masih berdetak.


Tak lama setelah itu Roy membenahi pakaian Leah yang berantakan lalu memindahkannya yang pingsan ke kasur. Ia sibuk menggeledah meja rias mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk menyadarkan Sang Istri.


"Syukurlah!" ucap Roy setelah menemukan minyak kayu putih di laci kecil. Dia ingat kalau saat datang bulan Leah sering nyeri haid. Selain minum air jahe Leah juga sering mengoleskan itu ke perutnya.


Roy mulai membuka lebar jendela kamar lebar-lebar agar angin masuk. Lalu mengoleskan minyak itu di bawah hidung dan dada Leah serta mengipasinya agar cepat tersadar.


Usahanya tak sia-sia, Leah mulai merintih dan Roy pun lega melihatnya.


"Ya Tuhan, terima kasih" ucapnya.


"Sayang? Apa kau baik-baik saja? Aku benar-benar minta maaf jika aku tiba-tiba seperti itu", ucap Roy sangat menyesal.


Leah memperjelas pengelihatannya, ada Roy dengan wajah sungguh-sungguh menyesal menggenggam tangan Leah dan menciumnya berkali-kali.


"Tidak. Justru aku yang minta maaf. Aku merasa belum siap dan ... takut" jawab Leah lirih.


Roy memeluk gadis mungil itu, "Aku takut kau terkena serangan jantung".


"Ah? Haha", tawa Leah datar. "Tidak sampai seperti itu kok. Tadi hanya serangan panik", jawab Leah menjelaskan situasinya.


Tak lama kemudian Leah turun dari kamarnya untuk menghampiri ibunya.


"Apa kau tertidur? Lama sekali. Mama sudah potong bunganya, ayo cepat!", perintah Ayumi.


"Ya, Ma. Maaf. Malam nanti hanya makan malam biasa, kan? Ada acara khusus?", tanya Leah.


"Ya ada. Berdoa bersama, makan bersama, berdansa dan ramah tamah saja antar dua keluarga. Tidak terlalu formal. Tapi ya harus tetap menjaga sopan santun", jelas Ayumi.


"Oh , begitu".


Keduanya sibuk merangkai bunga, ada delapan meja yang harus dihiasi vas dengan bunga-bunga yang cantik.


Pukul lima sore para wanita sibuk dengan salon yang mendadak pindah ke rumah. Benar ini memang acara makan malam resmi antar dua keluarga untuk menjalin silaturahmi, namun kelas keluarga Mannof dan Aryasatya tentu jelas berbeda.

__ADS_1


Namun bukan berarti itu menghalangi pemberian restu kepada kedua mempelai.


Malam itu semua sudah wanita memakai busana berwarna abu-abu yang lembut, pas sekali dengan dekorasi ruangan bahkan bunganya dan mempelai wanita yang sangat manis dengan gaun brokat hijau tuanya.


Sedangkan para pria mengenakan setelan jas berwarna hitam dan khusus untuk mempelai pria senada dengan pasangannya.


Leah yang sedang memakai sepatu heels-nya tampak kesulitan karena gaun yang semi kebaya itu pas badan di bagian atasnya, rupanya diluar dugaan berat badannya kembali naik satu kilogram.


Roy yang berniat datang untuk menjemputnya melihat betapa repotnya Sang Istri kecilnya itu.


Tanpa menunggu lama Roy langsung membantu Leah mengenakan sepatunya, sedangkan Leah yang tak menyadari kedatangan suaminya pun agak terkejut.


"Agh!" pekik Leah spontan menggerakkan tubuhnya ke kiri yang membuatnya hampir terjatuh dari kursi.


Namun refleks Roy langsung menahannya, "Hampir saja". Hanya itu yang Roy ucapkan lalu kembali membantu Leah mengenakan sepatunya.


"Nah, sudah. Apa kau siap pengantinku? Hari ini kau tampak lebih cantik".


"Lebih cantik?"


"Ya".


"Karena kau selalu cantik di mataku dan hari ini kau lebih dari itu. Cup!" Roy mengecup punggung tangan istrinya.


Keduanya saling menatap dan memberi senyuman satu sama lain. Mereka merasakan kebahagiaan yang tak pernah mereka bayangkan, rupanya seindah ini jika sudah menikah.


Acara makan malam pun berlangsung sangat menyenangkan, semua orang berbahagia dan akrab satu sama lain.


Hal ini membawa kebahagiaan yang teramat besar bagi Abimana dan Ayumi. Walau terlalu cepat mereka memberikan putrinya kepada seseorang yang mencintai dan dicintainya namun mereka yakin dialah yang tepat untuknya.


"Aku belum pernah bermimpi bahkan membayangkan memiliki seorang cucu di usia semuda ini. Hahaha", gelak tawa Abimana yang diiringi tetes air mata bahagianya.


Ia memeluk Ayumi, baginya yang seorang daughter complex mungkin agak kurang rela, apalagi dulu ia sempat sedih saat Ayumi mengalami keguguran anak kedua mereka yang berjenis kelamin perempuan. Oleh karena itu dia benar-benar sangat sayang pada putri bungsunya.


Roy dan Leah selesai menjalani hari pernikahannya dengan baik. Kini Roy masih bercengkrama dengan para pria-pria sampai larut malam. Sedangkan Leah yang merasa tidak enak badan langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


"Hei, ini sudah hampir tengah malam. Kau tidak menemani istrimu tidur? Khekhekhek", kata salah satu paman Roy.


"Iya. Biasanya pengantin pria kebanyakan sudah tidak sabaran dimalam pertama. Tapi sepertinya keponakan kita yang satu ini berbeda. Hahaha", timpal pamannya yang lain.


Semua pria berpengalaman menggoda Roy, kecuali yang masih bujang tentu tidak ikut-ikutan untuk urusan yang seperti ini. Apalagi dilingkup keluarga mereka harus tetap menjaga sopan santun dalam beberapa hal


"Sudah, sana kembali ke kamarmu. Tidak ada gunanya kau di sini. Cepat! Cepat!", usir pamannya sampai menyeret Roy dan menyuruhnya masuk ke rumah.

__ADS_1


"Hah! Di saat begini apa wibawaku hilang seketika? Suka sekali menggodaku", gumam Roy yang patuh kembali ke kamar.


Sebenarnya ia juga sedikit lelah karena hari-hari kerja m yang padat sebelum hari itu. Ia masuk ke kamar Leah, agak terkejut karena kamar itu sudah di dekorasi menjadi kamar pengantin.


"Kapan mereka menggantinya?", tanyanya. "Warna putih? Pemilihan yang bagus", gumamnya.


Malam itu kamar Leah berubah dalam sekejap, semua gorden dan sprei berwarna putih. Khusus untuk tirai dipannya di ganti kain tipis berwarna putih. Tampak Leah yang sudah tertidur di sana membuat Roy juga ingin segera berada di sampingnya.


Leah yang mendengar suara shower terbangun, menyadari Roy yang ada di sana ia terjaga sebentar walaupun sebenarnya ia sangat berat untuk membuka matanya.


"Kau bangun?" tanya Roy yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Leah hanya tersenyum dan mengedipkan matanya.


"Ada apa, Sayang? Kau tidak sakit kan", tanya Roy menyentuhkan tangannya ke dahi Leah.


"Panas?", ucapnya menyerngitkan dahi.


Leah menggelengkan kepalanya, "Kak Roy kan habis mandi, tentu akan bilang panas karena suhu tubuhnya jauh berbeda".


"Puk! Puk!". Leah menepuk bantal di sampingnya, "Ayo tidur".


Tentu dengan senang hati Roy segera masuk ke dalam selimut dan membelai lembut wajah istrinya. Namun ia agak kecewa karena Leah benar-benar terlihat sangat mengantuk.


"Kau yakin ingin tidur sekarang?" tanya Roy.


"Ya", jawab Leah tanpa membuka matanya.


"Hah! Baiklah kalau begitu aku minta cium saja".


Leah mendengarnya namun belum sempat menjawab Roy yang sudah mendekatkan wajahnya terlebih dulu mencium istrinya.


Roy yang tak kuasa menahan gairah dalam dirinya segera bangun dan melepas blouse lengan panjangnya. Lalu dengan perlahan ia mengungkapkan rasa cinta dan kasihnya, ada rasa manis gula dan pedas seperti jahe.


"Jahe lagi", batin Roy.


Namun ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang mengganjal.


Roy menatap wajah Leah, seolah-olah ada pertanyaan yang Leah tahu apa itu.


"Maaf, Kak Roy. Tamu tak diundangnya datang tadi sehabis mandi".


"Oh. Shit!"

__ADS_1


Tak heran Roy merasakan rasa manis dan jahe dari bibir istrinya. Rupanya bulan datang pas disaat yang tidak tepat.


__ADS_2