
"Besok, jam berapa penerbangannya?" tanya Leah.
"Mm. Setelah puas bersamamu" jawab Roy dengan senyuman tengilnya.
"Tsk. Aku serius Tuan Mannof. Aku ingin kita bisa melihat matahari terbit dan sarapan bersama besok" kata Leah mengungkapkan keinginannya.
Roy terlihat senang mendengarnya, "As your wish my little Bae" jawab Roy.
Roy beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar tamu. Berapa saat kemudian, Roy keluar dengan selimut dan bantal ditangannya.
"Kemarilah" pinta Roy. "Waktunya tidur, aku ingin melihatmu sampai aku bisa memejamkan mataku"
"Apa tidak terlalu dingin tidur di sini? Ruangannya terlalu luas" kata Leah yang memang tak terlalu suka dingin.
"Kalau dingin, aku akan memelukmu. Kemari cepat" kata Roy tak sabar.
"Apa?" pekik Leah.
Tentu saja Leah terkejut, hampir tiga tahun berpacaran dan ini akan menjadi kali pertamanya Leah tidur bersama kekasihnya yang rupawan itu.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa." kata Roy yang sudah terbaring di lantai beralaskan karpet dengan sleeping bed di atasnya.
"Cepatlah kalau masih ingin melihat sunrise besok." kata Roy.
"Baiklah. Aku akan ganti piyama sebent.."
"Tidak! Jangan piyama. Itu saja. Kain wol cocok untuk udara dingin." ucap Roy memotong kalimat Leah.
"Sebenarnya aku tidak suka. Tapi baiklah." Leah yang patuh segera merebahkan tubuhnya di samping Roy.
Cukup lama mereka berbaring tapi belum ada salah satu dari mereka yang tertidur.
"Segeralah tidur. Kau punya hutang jalan-jalan dan sarapan padaku" kata Roy menggoda Leah.
"Aku sudah mengantuk, tapi aku masih sulit memejamkan mata karena kamu ada di depanku" jawab Leah.
Roy mengambil ponselnya, "Hmm, Ok. Coba putar sebuah lagu, lagu yang menggambarkan perasaanku padamu. Bagaimana?" kata Roy terkekeh.
Kemudian Roy memutar lagu dan mulai bersenandung lirih.
Lagu kesukaan mereka Wherever You Are - One Ok Rock.
I'm telling you
I softly whisper
Tonight, tonight
You are my Angel
Aishiteru Yo (Aku mencintaimu)
Futari wa hitotsu ni (Berdua jadi satu)
__ADS_1
Tonight, tonight
I just to say
Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, Kimi wo Omo u kimochi
I promise you 'forever' right now
........
Mereka berdua tenggelam dalam alunan lagu. Hanya menatap satu sama lain, seakan tahu isi hati masing-masing.
"I love you." kata Leah lirih saat mulai memejamkan matanya.
"I love you, too." balas Roy sambil membelai rambut halus gadis mungil itu.
'KRINGG'
Ponsel Roy berdering, ada nama Ben di sana.
"Selamat malam Pak Direktur, maaf saya mengganggu waktu istirahat Anda." kata Ben.
"Ya, katakan ada masalah apa?" tanya Roy.
"Bukankah kita sudah menutup rapat kasus ini. Bagaimana bisa pihak luar mengetahuinya. Apa mereka relasi yang kita kenal?" tanya Roy.
"Benar, Pak Direktur. Perusahaan ini milik Ajiryu Watanabe. Ayah daripada Sheryl ." jawab Ben.
Roy agak terkejut mendengar berita itu, karena perusahaan WS bukanlah perusahaan besar yang akan berani mengambil alih mega proyek AOne.
"Apa mungkin selama ini mereka punya mata-mata di perusahaan Ayah? Jangan sampai lengah. Katakan pada tim perencanaan untuk menyiapkan rapat besok pagi setelah makan siang." perintah Roy.
Melihat ke arah Leah, " Aku akan berangkat setelah sarapan".
"Baik, Pak Direktur. Saya akan mengurus penerbangan dan jadwal Anda." jawab Ben.
"Bagaimana dengan Joseph?" tanya Roy.
"Beliau sudah sampai kemarin malam, dan sekarang sedang menemani Nyonya di rumah sakit. Beliau sudah mengadakan rapat siang tadi dibantu oleh Helena." jawab Ben.
"Oh ya, Ben. Selidiki tentang Sheryl. Dan siapa orang-orang yang bekerja untuknya. Termasuk di perusahaan kita" perintah Roy.
" Baik , Pak Direktur. Saya mengerti" jawab Ben.
"Sheryl? Rupanya selama ini aku sedikit lengah. Siapa sangka wanita itu punya rencana dibalik kerjasama kami" gumam Roy.
Sheryl adalah teman Roy saat di universitas S. Dia wanita yang pintar dan mandiri. Selain memiliki fisik yang terkesan seksi yang membuatnya menjadi idola kaum hawa. Dia juga punya karakter yang kuat dan otak yang cerdas.
Sebenarnya Sheryl menyukai Roy sejak masih di universitas. Mereka sempat dekat namun hanya sebatas teman.
__ADS_1
Tapi bukan Sheryl kalau dia menyerah begitu saja. Karena dia punya rencana besar agar Roy bisa menjadi miliknya.
Fajar menyingsing, suara alam mulai mendamaikan pagi ini. Leah membuka matanya dan mendapati dirinya tertidur di pelukan Roy.
Dilepaskannya tangan kokoh itu dan mulai beranjak membuka tabir putih yang menutup dinding kaca di ruangan itu.
Tampak suasana pagi yang segar dengan sisa-sisa tetesan air hujan semalam.
Leah mengikat rambutnya dan mulai membereskan meja sisa semalam.
Kemudian membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk membangunkan Roy.
Leah terkejut saat tak mendapati Roy tak ada bahkan sleeping bed dan bantal sudah tak ada lagi.
Leah berpikir mungkin dia sudah bangun.
Tiba-tiba dari belakangnya datang Roy yang membawakan segelas air putih untuknya.
"Minumlah. Biasakan minum air putih setelah bangun tidur." kata Roy.
"Terima kasih. Kita berangkat sekarang." kata Leah setelah menghabiskan minumannya.
"Tentu. Lebih baik jangan pakai alas kaki supaya bisa menyatu dengan alam." perintah Roy.
"Oh. Benarkah. Apa Kak Roy sering melakukan ini? Aku dengar ini bisa melancarkan peredaran darah yang berpusat di telapak kaki kita." kata Leah.
"Ya kurang lebih seperti itu." jawab Roy.
Mereka bergegas keluar, menyusuri jalanan asri di area penginapan.
Penginapan itu tampak seperti desa kecil yang jauh dari ibukota. Dengan gaya dekorasi kuno, menampilkan suasana tempo dulu yang amat sangat kental.
Biasanya penginapan ini menjadi tujuan turis manca negara dan turis lokal yang notabene nya bekerja di kota ramai.
Mereka memilih tempat ini karena ingin menyegarkan kembali jiwa mereka yang lelah dengan terapi alam.
Resort milik ayah Leah ini bahkan memiliki beberapa pelanggan tetap, mereka akan datang dua sampai tiga kali dalam setahun. Jadi tak heran kalau keluarga Abimana dikenal oleh banyak pebisnis dari kalangan bawah maupun atas.
Roy dan Leah bejalan menuju bukit yang sering mereka datangi, di bukit itu mereka bisa menyaksikan matahari terbit sekaligus terbenam. Memang ini adalah salah satu spot yang menjadi unggulan.
"Masih terlalu pagi untuk melihat matahari. Lihat! Bahkan gudang penyimpanan barang-barang pun terkesan berbeda." kata Leah.
Udara pagi yang segar keluar masuk dari hidung mereka. Rasanya begitu segar seperti sedang mengisi ulang tenaga.
Mereka terus berjalan sesekali berhenti untuk saling menatap dan bercengkrama.
***
sampai jumpa di episode selanjutnya.
mohon like, coment & subscribe-nya.
terima kasih ^^
__ADS_1