Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 12 - Kau Tahu Siapa Yang Kuinginkan


__ADS_3

...****Peringatan****!...


...**episode ini mengandung muatan dewasa...


...mohon para pembaca bijak dalam menyikapinya**....


Kecemasan, ketakutan, kesedihan, semua sudah menghilang sedikit demi sedikit. Sekarang adalah waktunya berbuat yang terbaik.


Roy dan Joseph mengerahkan seluruh kemampuannya dalam keberhasilan Fourth Heaven. Beruntung seluruh staf dan tim perencanaan sangatlah bisa diandalkan.


Sepuluh hari berlalu setelah kesadaran Riezel kembali. Kini ia mampu beraktifitas normal seperti seseorang yang tidak pernah sakit.


Dokter keluarga yang sangat ahli dan mumpuni tentu saja berperan aktif dalam kesembuhannya.


Riezel pun mulai menerima laporan kerja mengenai proyek yang saat ini sedang berjalan. Dia menyadari bahwa Roy dan Joseph adalah paduan yang sempurna.


Sementara itu di tempat lain.


"PRANK!"


"Si*l! Bisa-bisanya rencana ku gagal! Padahal aku sudah meng-kambinghitam-kan Ken yang b*doh itu. AAKH!!", amukan seorang pria paruh baya yang membuat ruang kantornya kocar-kacir.


"Gawat kalau begini posisiku juga bisa terancam", gumamnya gelisah.


"Kalau dia membuka mulutnya, tentu aku juga pasti akan dibawa-bawa".


"Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Aku harus bertindak terlebih dahulu", katanya.


Pria itu menekan salah satu tombol dari telepon yang ada di mejanya, "Hatori, cepat ke ruanganku!", perintahnya.


Beberapa saat kemudian, muncul pria dengan wajah tampan tapi beraura dingin, yaitu Hatori sang sekretaris Presdir.


"Presdir memanggil saya",


"Aku punya tugas untukmu. Hubungi pengacara Rudolf. Suruh dia membereskan seseorang yang bernama Ken", perintah Watanabe dengan senyuman yang penuh kelicikan.


"Apapun itu, ubah semua barang bukti agar mengarah kepadanya, sampai-sampai tak ada pengacara hebat yang mampu menyelamatkannya", tambahnya.


"Saya mengerti. Saya akan berpesan agar beliau melakukannya dengan cepat dan rapi", jawab Hatori.


Melihat ke arah lantai, "Dan akan saya panggilkan seseorang untuk membereskan ruangan ini. Sebaiknya Presdir menjaga kondisi kesehatan mengingat darah tinggi Anda yang sering kambuh akhir-akhir ini", kata Hatori mengingatkan.


"Hahaha. Memang selama ini hanya kau yang mampu kuandalkan", kata Watanabe sambil menepuk bahu Hatori.


Tiba-tiba pintu terbuka, dan munculah seorang gadis cantik berambut gelap. Dia heran melihat ruangan itu begitu berantakan.


"Papa? Apa Papa yang melakukan ini?", tanya Sherry.

__ADS_1


"Oh, selamat datang Putriku yang cantik", sapa Watanabe ramah sambil merengkuh dan memeluknya.


"Kapan kau sampai? Kau tidak bilang kalau kau akan kemari?", tanyanya.


"Aku kemari karena kudengar orang yang kucari ada di sini. Jadi sekalian saja aku menemui Papa", jawab Sherry dingin.


"Kau masih saja acuh pada Papa mu ini" kata Watanabe.


Sherry hanya biasa saja menanggapi omongan ayahnya, "Sudahlah , Pa. Ayo kita pulang dan makan malam bersama. Aku rindu masakan Mama",


Sherry membalikkan badannya bermaksud keluar dari ruangan itu sambil menggandeng ayahnya. Namun dilihatnya Hatori yang memakai setelan jas abu-abu itu terlihat gagah dan menawan itu menarik perhatiannya.


"A, kau sangat cocok sekali dengan setelan ini", bisik Sherry yang menyentuh bagian perut Hatori yang dilewatinya.


Tentu pria berusia tiga puluh tahun itu hanya diam. Karena dia sudah biasa dengan perlakuan Sherry yang seperti ini.


Mereka bertiga meninggalkan ruangan. Sherry yang berjalan sambil memeluk tangan ayahnya terlihat seperti seorang putri bangsawan yang terkenal dengan kepribadian elegannya. Sedangkan Hatori yang berjalan di belakang mereka mirip ajudan setia yang dingin namun mampu mempertaruhkan segalanya demi majikannya.


Sesampainya di bawah, tampak sebuah mobil hitam mewah menanti mereka.


Hatori membukakan pintunya dan memberi hormat ketika keduanya memasuki mobil dan pergi. Dan mobil itu pun berlalu.


Beberapa detik kemudian.


TRING!


Hatori membaca pesan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Dia adalah pria yang sulit di tebak. Walaupun begitu dia banyak mencuri perhatian banyak pekerja wanita di perusahaan WS.


Tentu saja pesonanya itu tak lain karena pria asli Jepang itu memliki postur tubuh yang ideal, kinerja yang bagus dan wajah tampan yang misterius. Dia sangat menarik saat memakai setelan jas. Dan sangat berbeda ketika dia bebas dari tugas ke-sekretaris-annya.


Malam di Jepang sangat terang. Di kota besar seperti Tokyo tentu saja malam hari bagaikan siang hari. Masih banyak orang yang berjalan ke arah tujuan mereka masing-masing.


Hatori yang sudah menunggu di tepi sungai kota yang tidak ramai pengunjung itu sedang bersantai menikmati musik dari earphone-nya.


Tiba-tiba datang mobil yang sore tadi ia lihat.


"Kau selalu datang lebih awal seperti biasanya ya", kata wanita dua puluh satu tahun itu setelah membuka kaca mobil yang tak lain adalah Sherry.


Sherry menghampiri Hatori yang berdiri di depannya.


"Apa yang kau bawa itu?", tanya Sherry melirik kantong yang Hatori bawa.


"Nanti kau tahu", jawabnya dingin.


Sherry masuk ke mobil diikuti oleh Hatori. Sekarang sekretaris ayahnya itu duduk di kursi kemudi.


Hatori dan Sherry memang sering bertemu tanpa sepengetahuan Watanabe. Hal ini sudah berlangsung sejak Sherry masih duduk di bangku SMA. Awalnya Sherry hanya butuh supir untuk menemaninya berjalan-jalan. Dan entah sejak kapan hubungan mereka menjadi rumit. Namun bagi keduanya status antara atasan dan bawahan itu mereka ketahui dengan jelas.

__ADS_1


"Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu, tapi kau sama sekali tidak berubah", kata Sherry yang menarik jaket dan mendekatkan wajah sekretaris ayahnya itu ke arahnya, dekat sekali seperti akan menci*umnya.


"Sudah hampir satu tahun kita tidak bertemu dan es di dalam tubuhmu masih saja belum mencair tapi kau... semakin tampan", tambahnya dengan senyuman cantik yang menghiasi wajahnya.


Cup! Hatori yang mengecup bibir wanita itu penuh kerinduan.


Sherry pun tak menolak perlakuan sekretaris dari ayahnya itu. Tak ada alasan untuk menolaknya karena dia menikmati tiap sentuhan maupun perhatian yang diberikan padanya.


Hatori menghentikan ci*mannya, dia tahu apa yang dia lakukan tak seperti biasanya. Hatori menarik sabuk pengaman di sebelah Sherry dan memasangkannya.


Tak lama Hatori mengemudikan mobil berwarna hitam mewah itu menuju ke rumahnya. Cukup sepuluh menit untuk sampai ke rumah Hatori.


Tampak rumah sederhana dengan gaya yang mencerminkan Hatori sekali. Simpel dan rapi. Hanya ada barang-barang yang dia butuhkan.


"Walaupun ini warna yang sama tapi aku tahu cat ini masih baru", kata Sherry yang tangannya menyentuh dinding rumah itu.


Hatori menaruh kantung yang dia bawa ke kamarnya. Dan kembali keluar, lalu pergi ke dapur menyeduh teh kesukaan Sherry.


Tak lama kemudian, Hatori yang sudah melepas jaketnya itu membawa dua lemon tea hangat dan meletakkannya di atas meja.


"Minumlah. Aku tahu kau belum beristirahat", ucap Hatori yang membantu melepas mantel yang di pakai Sherry dan meletakkannya di bahu kursi lainnya.


Tangannya merapikan rambut Sherry dan menguncirnya dengan ikat rambut yang baru saja dia beli.


Terlihat tengkuk Sherry yang indah dengan rambut-rambut halus yang menghiasinya. Kemudian Hatori mulai memijat lembut bahu wanita yang mulai menyandarkan kepalanya di kursi teras.


"Ah, nyaman sekali. Pijatanmu lebih ahli daripada sebelumnya. Katakan! Berapa gadis yang mengisi kekosonganmu saat aku tidak di sini?", tanya Sherry dengan santainya.


"Tidak ada", jawab pria itu singkat.


"Hahaha", Sherry tertawa kecil. Tangannya menghentikan pijatan Hatori di bahunya.


Sherry bangun dari duduknya, menatap pria itu, dan mengalungkan kedua tangannya di leher Hatori, "Jangan begitu. Kau tahu betul siapa yang kuinginkan, kan?".


"Sebaiknya kau jangan terlalu berharap karena aku akan terus mengejarnya".


"Tapi aku juga tahu betul kalau kau tak pernah keberatan dengan ini", ucap Sherry yang menggoda Hatori.


"Aku tidak pernah lupa akan hal itu. Dan aku juga tidak peduli sebagai apa kau menganggapku. Anggap saja ini sedikit hiburan untukmu", kata Hatori.


Hatori pun dengan tak sungkan menarik pinggang ramping itu dan menci*m kembali wanita yang ada di hadapannya. Dengan lembut, dengan cinta.


***


terima kasih telah membaca.


mohon like & coment agar saya bisa memperbaiki karya saya ke depannya. ^^

__ADS_1


sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2