
Hari-hari di negeri Sakura itu terasa menyenangkan. Banyak hal-hal menarik dan baru untuk dicoba atau sekedar tahu saja. Karena tidak semuanya hal baru bisa diterapkan pada kehidupan kita yang berbeda aturan dan norma.
Banyak sekali yang diceritakan Roy mengenai budaya negeri asalnya. Sisi positifnya maupun sisi negatifnya.
Setiap berkunjung ke suatu tempat, Roy bertindak seolah-olah dia adalah seorang guide.
Roy yang sudah dibebas-tugaskan urusan perusahaan oleh ayahnya kini menikmati quality time bersama Leah dan juga Aditya tentunya.
Mereka keluar rumah sejak pagi. Banyak yang mereka siapkan, seperti bekal, bantal dan uang tentunya. Katanya mereka ingin keliling Tokyo.
"Pertama-tama aku ingin membeli oleh-oleh dulu, aku sudah ada daftarnya," kata Leah yang duduk di belakang. "Ini!" Leah bergelayutan di kursi supir dimana Roy duduk lalu menyerahkan secarik kertas padanya.
Roy yang sedang menyetir menerima secarik kertas yang disodorkan padanya itu, "Banyak sekali, Sayang? Aku pikir ini tidak akan cukup sehari kalau mau mendapatkan semuanya", kata Roy.
Mendengar perkataan Roy, Aditya langsung meminta daftar oleh-oleh Leah, "Serius? Bayi? Kau mau buka toko sepulang dari sini?" tanya kakaknya dengan wajah meremehkan.
Seketika itu juga Leah langsung menarik paksa kertas yang dipegang kakaknya, "Apa deh, Kak Adit? Ini kan barang manfaat semua", seru Leah.
"Tapi tidak sebanyak itulah, kita itu pulang naik pesawat bukan kap-pal", kata Aditya sambil menarik hidung Leah.
Spontan Leah langsung menampik tangan kakaknya itu. Raut wajah Leah langsung cemberut.
Melihat Leah yang mulai terbawa suasana,
Roy langsung mencairkan suasana, "Kalian akrab ya".
"Akrab sii akrab, tapi jangan tarik-tarik hidung juga kan?" sahut Leah.
Aditya tersenyum simpul, rupanya adiknya marah. "Hei, justru kau harus menikmati saat-saat seperti ini. Sebentar lagi kau kan menikah, mana ada suasana seperti ini. Hehehe", kata Aditya yang mencoba mencari alasan.
Leah hanya menjulurkan lidahnya masa bodoh tak mau tahu alasan kakaknya.
"Ah, ini dia tempatnya. Kita sarapan di sini saja," kata Roy yang mengarahkan mobilnya memasuki kawasan seperti taman bunga sakura.
"Jam segini masih sepi, biasanya mulai ramai setelah diatas jam sepuluh," tambahnya.
"Ternyata aslinya seperti ini. Biasanya aku dan Gaby hanya melihat pemandangan seperti ini di anime", kata Leah.
Aditya dan Roy mulai mengeluarkan barang bawaan mereka.
"Ayo jalan", tegur Aditya pada adiknya yang dari tadi foto selfie melulu.
"Tsk. Iya Kak, bawel", Leah masih saja mengambil beberapa gambar termasuk saat kakak dan kekasihnya itu menata tikar dan makanan di bawah pohon Sakura yang bermekaran.
"Kalau ada gadis-gadis yang melihat aku bersama dua orang tampan ini mereka pasti iri. Hahaha", ucap Leah.
"Haah, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?" gumam Leah menghirup segarnya udara di sana dengan mata terpejam dan kedua tangan yang dibentangkan.
Roy menghampiri Leah yang sedari tadi tak juga bergabung bersama mereka. Roy tersenyum melihat tingkah laku gadis mungil itu.
__ADS_1
"Apa di sini sedang ada shooting film Titanic?" bisik Roy yang sudah berada di belakang Leah dan memeluknya seperti salah satu adegan yang ada di film itu.
"Aakh!" Leah berteriak karena takut yang memeluknya adalah orang asing. Namun langsung menutup mulutnya setelah menengok ternyata itu adalah calon suaminya.
"Kak Roy..", ucap Leah setengah menangis karena kaget.
"Haha. Kenapa masih di sini? Aku dan Kakakmu sudah menunggu dari tadi", kata Roy. "Ayo cepat! Aku sudah lapar", ajak Roy memasang ekspresi manja mengulurkan tangannya untuk Leah.
Selembar tikar dengan beberapa nasi, rumput laut, kimchi, tumis daging dan roti bakar sudah siap disantap. Tak lupa sebotol besar jus mangga segar kesukaannya mereka serta air putih.
Mereka bertiga segera sarapan sebelum terlalu siang karena tempat itu akan semakin ramai. Di Jepang memang ada kebiasaan keluar makan bersama keluarga di bawah pohon Sakura. Selain sudah tradisi setiap tahunnya hal tersebut benar-benar sayang kalau tidak dilakukan.
"Jangan minum terlalu banyak, nanti pipis terus", Roy mengingatkan Leah karena sudah tiga gelas jus mangga dia tenggak.
Benar saja, belum juga lima menit Roy diam perut Leah sudah mulai tak nyaman.
"Aku akan pura-pura tidak tahu. Aku mau tidur sebentar, terserah kalian mau apa", kata Aditya mulai berbaring di atas tikar dengan tempat kotak makan yang sudah kosong.
Roy mengelus kepala Leah, "Ayo aku antar mencari toilet".
Roy dan Leah meninggalkan Aditya.
"Apa kalian sedang marahan?" tanya Roy.
"Tidak. Memangnya kami terlihat begitu?" tanya Leah heran.
Leah berbalik memandang kakaknya dari kejauhan, dia mulai berpikir.
" Ayo masuklah, sudah sampai. Aku tunggu di sini",
"Eh, sudah sampai? Ya",
Leah segera masuk ke toilet umum itu. Tampak tanda untuk pria dan wanita. Sangat bersih untuk ukuran toilet umum.
Saat keluar dari toilet umum itu Leah tak bisa menemukan Roy.
"Katanya menunggu, tapi mana?", kata Leah dengan mata uang terus mencari keberadaan Roy.
"BRUKK"
"Aww!" Leah terjatuh setelah tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Ah! Maaf! Kau baik-baik saja?" kata pemuda itu membantu Leah bangun.
"Ah, ya. Tidak masalah" Leah meraih tangan pemuda itu dan berusaha untuk bangun.
"Terima kasih", kata Leah.
"Apa kau orang asing?" tanya pemuda itu.
__ADS_1
"Hm? Ya? Ada apa?" tanya Leah.
Pemuda itu menatap Leah dengan seksama, lalu tersenyum. "Tentu saja tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu. Lain kali hati-hati," ucapnya lalu pergi.
"Ah? Ya silakan" jawab Leah.
"Hei, Kenapa seolah-olah aku yang salah?" gumam Leah. "Wajahnya seperti tidak asing", Leah seperti pernah melihat sosok pemuda tadi.
"Ha? Masa iya? Dori? Dori Sakurada? Artis dong.. Ha? Si Ganteng Dori?", Leah tersadar bahwa yang baru saja dia tabrak adalah seorang penyanyi sekaligus artis juga model Dori Sakurada yang cukup dia gemari.
"Yah sayang, tidak minta foto ataupun tanda tangan", ungkapnya.
"Sayang? Sudah selesai?", Roy muncul dari arah yang berlawanan.
"Ha? Ah, ya. Sudah".
"Ayo! Setelah ini kita beli semua yang ada di daftar oleh-olehmu", Roy menggandeng tangan Leah langsung menuju tempat parkir.
Di sana Aditya sudah menunggu.
Mereka langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. Leah yang masih terbayang peristiwa tadi masih merasa sayang karena terlambat menyadari kalau dia baru saja bertemu salah satu idolanya.
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di pusat oleh-oleh. Roy dan Aditya segera beraksi. Mereka adalah ahlinya tawar-menawar.
Sedangkan Leah hanya tinggal menyebutkan apa yang mau dibeli.
"Kalian yakin mau beli semua yang ada di daftar?" tanya Leah.
"Ya, nanti kita kirimkan barang-barang ini melalui jasa pengiriman saja. Tidak perlu repot-repot saat naik pesawat", jawab Roy memecahkan segala kekhawatiran.
"Oke",
"Bawa saja barang yang berharga nilainya. Atau yang mudah pecah. Yang lainnya bisa kita paketkan", timpal Aditya.
Leah senang karena kedua pria yang bersamanya benar-benar sangat bisa diandalkan.
Begitu banyak barang yang mereka beli sampai mungkin bagasi mobil akan penuh, belum lagi yang masuk ke jok mobil nanti.
Hampir tiga jam berlalu untuk mendapatkan semuanya. Dan semua daftar barang sudah mereka dapatkan.
"Kalian sangat pandai berbelanja. Kupikir aku pergi dengan orang-orang yang tepat", kata Leah senang sambil menggandeng dua lengan kokoh milik kakak juga calon suaminya.
"Ayo kita pulang".
Mereka bertiga menuju tempat parkir, meletakkan semua barang belanjaannya dan segera pulang.
"Apa aku saja yang menyetir?" Aditya menawarkan karena ia tahu Roy pasti lelah.
"Tidak usah. Masih oke kalau segini. Yuk pulang", Roy mulai menyalakan mesin mobil, keluar dari tempat parkir dan segera pulang ke kediaman keluarga Mannof.
__ADS_1