
Roy masih terlelap dalam tidurnya, sedangkan Leah sudah selesai membersihkan diri dan sekarang tengah sibuk di dapur membuat kudapan.
"Enaknya bikin apa ya?," gumam Leah.
Butuh beberapa saat bagi Leah untuk memutuskan ingin membuat apa. Akhirnya dia putuskan membuat martabak telur. Kebetulan telur bebek pemberian Pak Trimo, salah satu pekerja masih belum tersentuh.
Leah pun menyiapkan bahan-bahan lainnya dan mulai mengolahnya. Wangi harum dan gurih memenuhi dapur yang lalu mulai menjalar kemana-mana.
Roy yang tengah tertidur mulai terusik dengan aroma enak yang membuatnya menjadi lapar. Dia bangun dari sofa dan mencari sumber aroma tersebut.
Mengetahui bahwa ternyata Leah yang sedang sibuk di dapur, Roy langsung menghampirinya.
"Kau membuatku sangat lapar," kata Roy dari belakang yang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Leah.
"Eih!," seru Leah yang kaget. Tangannya masih membuat kulit martabak yang lain, sedangkan di wajan sudah ada martabak yang hampir matang.
"Kak Roy, minta tolong Leah angkat ini?", kata Leah mengisyaratkan ke arah wajan.
Dengan cekatan Roy mengangkat martabak telur bebek itu setelah meniriskannya terlebih dahulu. Begitu Roy selesai mengangkat, Leah langsung memasukkan adonan yang lain.
Leah yang menyadari bahwa kekasihnya itu sudah hampir meneteskan air liur, dengan cepat ia memotong makanan itu menjadi beberapa bagian. Mengambil sendok lalu menaruh sedikit acar di atas potongan martabak itu dan menyuapkannya ke mulut Roy.
Roy mengunyah makanan yang dada di mulutnya. Dia mengangguk mengisyaratkan bahwa itu enak.
"Umh, really good. Give me some," kata Roy yang sudah siap membuka mulutnya.
Leah dengan senang hati menyuapinya, tapi kini dia menggunakan tangan kosong dengan irisan martabak besar dengan cabai rawit dan timun segar. Berulang beberapa kali seperti itu.
"Tsk! Apa Kak Roy ingin menghabiskannya sekarang?" tanya Leah. "Duduklah dulu sana, aku akan selesaikan ini sebentar," kata Leah sambil mendorong Roy ke arah kursi meja makan. Selesai membereskan semua, mereka berdua makan bersama di meja makan.
"Kak Roy mau pakai nasi?" tanya Leah.
Roy menggeleng.
"Ok. Tapi jangan terlalu banyak melalap cabai dalam keadaan perut kosong," kata Leah sambil mengambilkan beberapa potong martabak telur.
Roy tersenyum mengiyakan kata-kata Leah.
"Aku sepertinya bisa melihat masa depan kita nantinya" kata Roy terlihat gembira.
__ADS_1
Leah tersenyum, memegangi tengkuknya dan memiringkan kepalanya. Dia hanya berpikir sosok pria di depannya terkadang bersikap seperti anak kecil.
"Bukankah keluarga memang seperti ini?," kata Leah.
"Ya, tentu saja," jawab Roy lirih.
Mereka tampak luwes saat makan bersama, melayani satu sama lain seperti memang sudah kebiasaan.
Malam tiba, keluarga Aryasatya yang sudah kembali dari resort pun sudah duduk lesehan di depan televisi saling membanting kartu. Entah permainan apa yang mereka mainkan.
Leah dan ibunya sibuk memasak di dapur. Menyiapkan hidangan spesial katanya.
"Ma, Mama masak menu khusus hari ini. Susah-susah semua," keluh Leah.
"Ini kan perayaan kelulusanmu, Sayang. Karena Mama dan Papa sangat bangga sekali padamu, jadi ini bukanlah apa-apa," kata Ibunya.
"Lagipula Roy juga di sini, sekalian saja kan?" tambahnya.
Meja makan sudah penuh terisi dengan hidangan lezat andalan resort Aryasatya. Malam ini seperti terasa begitu spesial. Bahkan Abimana meminta orang-orang untuk berpakaian yang rapi. Untuk apa?
Mungkin mereka akan tahu sebentar lagi.
Roy menatap Abimana, seolah-olah mengisyaratkan sesuatu. Menyadari hal itu Abimana menjawabnya dengan anggukan kecil bahwa dia setuju atau mempersilakan.
"Om-Tante, kedatangan saya kali ini bukan murni hanya untuk menghadiri acara kelulusan Leah atau sekadar menerima jamuan makan malam saja. Tetapi ada tujuan lainnya," kata Roy yang kemudian berhenti sejenak lalu menatap wajah Leah yang duduk diantara kedua orang tuanya.
"Saya kesini bermaksud untuk menyampaikan niat baik saya melamar Leah sebagai calon pendamping saya. Jika Om dan Tante mengijinkan, saya berniat membawa Leah ke Jepang untuk bertemu kedua orang tua saya."
"Saya tahu Leah masih muda dan saya tahu betul jika Leah ingin melanjutkan studinya, saya pun tidak keberatan. Namun dengan tidak mengesampingkan tugasnya sebagai seorang istri nantinya." ucap Roy.
Suasana sempat hening sejenak.
Deg.
Leah yang berdebar-debar jantungnya sedari tadi merasa cemas apa yang akan dikatakan kedua orang tuanya. Kenapa diam saja, kira-kira seperti itu kebingungan yang berputar-putar di kepalanya beberapa detik yang lalu.
Senyum mengembang dari bibir kedua orang tua Leah. Dan Adit tentu saja menahan tawa karena geli melihat Leah yang cemas jika ayah dan ibunya mengatakan hal yang di luar dugaannya.
"Baik. Om sebagai ayah Leah tentu saja paham hubungan kalian berdua. Dan tidak ada alasan bagi Om untuk menolak lamaranmu," jawab Abimana yang memecah keheningan serta kecemasan yang dirasakan Leah.
__ADS_1
"Hahahaha, Yeah!" sorak Adit. "Sepertinya ada yang takut dengan jawaban yang lain, khekhekhek," Adit terkekeh.
Malam itu Roy dan Leah seakan berhasil membuat satu langkah besar menuju pelaminan. Tentu saja kedua orang tua Leah pasti mengijinkan, namun begitu etika dan adat istiadat harus tetap dijaga.
"Kapan kau akan membawa Leah ke sana?" tanya Abimana.
"Sehari setelah acara Promnight saya berencana mengajak Leah ke Jepang. Karena esoknya ada acara perusahaan atas selesai dan suksesnya proyek perusahaan Ayah saya. Jadi saya berniat memperkenalkan Leah secara langsung kepada keluarga saya," jelas Roy.
"Ok. Tidak masalah. Kalian bisa pergi," kata Abimana mengijinkan.
"Tapi kalau Om tidak keberatan, saya minta ada pihak Om yang menemani Leah. Saya hanya ingin memberi kesan baik pada kedua belah pihak," pinta Roy.
Abimana berpikir sejenak, dia menatap istrinya yang cantik jelita malam itu seakan minta saran darinya.
"Aditya yang akan menemani Leah," jawab istri Abimana.
"Tidak masalah. Semua pekerjaan di resort, pembukuan sudah kubereskan sampai siang tadi," kata Aditya percaya diri.
"Jadi setidaknya aku bisa jalan-jalan ke Jepang dengan hati yang tenang," tambahnya.
"Ya. Siapa tahu kau bisa bertemu dengan seorang gadis yang menarik di sana, hahaha," seru Abimana.
"Hm, Sayang. Kau tahu sendiri putramu ini tidak mudah tertarik pada seorang gadis. Entah sampai kapan dia mau menjomblo seperti ini," kata wanita kesayangan Aditya dan Leah itu.
"Memang cuma Mama yang paham apa mau Adit," katanya sambil memeluk ibunya.
"Kalau Adit bilang mau, tentu Adit akan serius mencari pendamping hidup. Tetapi untuk sekarang tidak dulu. Masih ada hal yang ingin Adit lakukan untuk keluarga kita," jawab Aditya bijaksana.
Pembicaraan masih berlangsung hingga tengah malam. Satu persatu meninggalkan ruang tamu yang hangat itu, Abimana, Ayumi dan Leah.
Tinggal dua orang pemuda yang masih asyik mengobrol dan kini berpindah ke kamar Aditya. Mengobrol layaknya pria dewasa. Sesama bisnisman atau sesama pria yang belum menikah.
***
terima kasih kepada para pembaca.
jangan lupa like dan tuliskan komentar kamu untuk perbaikan karya saya ke depannya.
sampai jumpa di episode selanjutnya. ^_^/
__ADS_1