Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 25 - Saat Perasaan Manusia Menjadi Lemah


__ADS_3

Di malam yang dingin itu, Hatori hanya mampu melihat punggung Sherry yang berjalan penuh keputus-asaan. Sungguh di dalam hatinya Hatori ingin sekali merengkuh sosok yang mulai berjalan menjauhinya itu.


"Aku tahu, kau sama sekali tak bisa meragukanku," gumam Hatori.


Dia membalikkan tubuhnya, membuka pintu mobil berniat kembali ke kediaman Presdir Mannof. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan yang membuatnya agak panik dan langsung menengok ke belakang.


"Hh," Hatori bernafas lega setelah melihat sosok Sherry yang menatapnya dari kejauhan tanpa terjadi sesuatu yang buruk.


Hatori mengangkat ponselnya sambil menatap Sherry, "Bicaralah."


Sherry masih terdiam, hanya terdengar nafas tersendat-sendat karena menahan sesuatu, benar. Karena sedari tadi Gadis yang terlihat kuat itu masih berusaha untuk tidak menangis.


Hatori segera berlari ke arah Sherry, dan memeluknya. Di sana tangis Sherry pecah. Suara tangisan pilu, bukan pilu karena kehilangan Roy. Tapi pilu karena dia sudah tersadar bahwa selama ini dia menomorsekian-kan orang yang selalu ada untuknya.


Sepertinya Hatori pun menyadari hal itu, dia pun bersyukur karena Tuhan tidak lagi memberi waktu yang lebih lama bagi Sherry untuk bisa mengakui keberadaannya.


Terkadang ambisi mampu memanipulasi perasaan dan membuat seseorang tidak bisa membedakan rasa suka yang sebenarnya dengan rasa ingin memiliki karena tujuan yang dia kira mampu membuat mereka bahagia.


Kediaman Keluarga Mannof.


Jamuan masih berlanjut, namun karena acara intinya sudah selesai satu persatu tamu undangan bergiliran pergi meninggalkan tempat yang sangat menyenangkan itu. Tentu saja para pebisnis dan konglomerat pasti akan sangat sibuk di hari berikutnya. Kecuali karyawan biasa yang masih setia menemani Tuan Rumah.


Pelayan pun mulai merapikan meja, mengambil gelas-gelas kosong dan kembali menghampiri tamu yang masih tersisa untuk menawarkan minuman.


"Aku sangat lega kau bisa menekan kegelisahanmu. Seharusnya kau langsung menghubungiku," ucap Aditya lirih pada adiknya yang tengah duduk dan menikmati kue tart yang coklatnya meleleh di mulut.


Leah tak berani menjawab, dia hanya memasang ekspresi rasa bersalah di depan kakaknya.


Beberapa saat yang lalu.


"Bayi, kau dengar aku kan?" seru Aditya yang terus mengetuk pintu kamar adiknya.


Karena tak ada jawaban tanpa menunggu lama Aditya langsung membuka pintu kamar Leah. Dan alangkah terkejutnya ketika melihat Leah yang tertidur di depan meja riasnya.


"Leah, hei! Bangun!" panggil Aditya dan terus menyadarkan adiknya yang masih belum mau membuka matanya.


Tak berapa lama kemudian, Leah tersadar dan mulai bicara ngawur.


"Kak, apa aku pantas untuk Kak Roy?,


Aditya menghela nafas panjang, dan memeluk adiknya.


"Jangan mengatakan sesuatu yang konyol seperti ini. Dengarkan aku adikku yang manis," kata Aditya sambil menegakkan punggung adiknya itu melihat ke arah cermin yang ada di depannya.


"Rasa gugup itu wajar, jadi bersabarlah," kata Aditya mencoba menenangkan hati adik kecilnya.


"Hey! Aku akan membantumu merapikan rambut," kata Aditya bersemangat.


Leah menoleh ke arah kakaknya seakan tak percaya, "Kan Adit yakin bisa?" kata Leah meragukan kemampuannya.

__ADS_1


"Yah, waktu kuliah sempat magang di salon, buat nambah uang jajan. Cuci piring juga pernah. Asyik lah pokoknya," jelas Aditya.


"Oh, asyik ya punya banyak pengalaman," ucap Leah takjub


"Ya lumayan. Jangan takut untuk mencoba kalau kau nyata-nyata mampu."


"Sebenarnya gugup adalah hal yang wajar. Teman-teman Kakak juga banyak yang mengalaminya. Tapi kau harus tetap bertahan dan melawan pikiran seperti itu. Apalagi saat hari menjelang pernikahan nanti, rasanya akan lebih berat dari sekarang. Kau jangan goyah. Mengerti?" ucap Aditya menepuk pundak adiknya lalu mengulurkan tangannya membantunya berdiri.


**


"Aku tadi melamun, sampai tertidur karena berpikir yang tidak-tidak," ucap gadis mungil itu.


"Tsk. Kemana sih adikku yang rasa percaya dirinya tak terkalahkan, yang selalu berpikir positif?"


"Memang pernikahan bukan hal yang main-main. Itu adalah awal, bukan akhir. Namun, juga jangan pernah meragukan cintamu sendiri," ucap Aditya.


"Lalu kenapa bukan Kak Adit saja yang menikah duluan?" tanya Leah bagai skak mat di papan catur.


"Um itu... Selain aku mau membantu bisnis keluarga kita... Kau kan tahu aku masih malas mencari pacar," ucap Aditya kikuk sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya.


"Apa Kak Adit belum move on? Atau ada cinta bertepuk sebelah tangan?" tanya Leah penasaran.


Mendengar hal itu kepala Aditya menjadi pusing mendadak, "Bukan. Memang belum saatnya bagiku, itu saja. 23 tahun masih sangat muda kan, aku tidak khawatir dengan itu" sanggah Aditya.


"Baiklah. Tapi aku berharap, Kau mendapatkan pasangan hidup yang menyayangi dirimu lebih dari kau menyayangiku," doa kecil Leah untuk kakaknya.


"Iya bayi," kata Aditya sambil mencubit pipi tembem adik kesayangannya itu.


"Ya, Kak. Maaf."


Malam semakin larut, jamuan pesta pun berakhir. Rasa lelah dan mengantuk menghampiri Leah. Maklum, dia belum terbiasa. Berbeda dengan kehidupan para pebisnis yang sudah biasa begadang setiap harinya.


Leah berjalan sendirian meninggalkan Aula Timur. Ia berjalan perlahan. Roy yang melihatnya segera menghampirinya.


"Sayang!" panggil Roy. Namun Leah tidak mendengarnya.


"Sayang! Leah!" panggil Roy kembali.


Leah yang mendengar suara Roy, berhenti berjalan lalu membalikkan tubuhnya dan menunggu.


Melihat ekspresi wajah Leah, "Rupanya kau sudah mengantuk. Kenapa berjalan sendirian?"


Leah langsung memeluk tangan Roy begitu pria itu berada di sampingnya, "Kak Adit pergi dengan Joseph. Sepertinya mereka cocok satu sama lain," jawab Leah.


"Oh? Begitukah? Joseph bilang Kakakmu mengalahkan nya berkali-kali saat main game kemarin malam,"


"Ya. Mereka terlalu brutal saat main game," gerutu Leah.


"Hahaha. Kenapa kau berpikir seperti itu?"

__ADS_1


"Ya, bukankah memang seperti itu. Semua orang bisa gila hanya karena sebuah game?" jawab Leah.


"Tapi kenyataannya hanya aku yang bisa gila karenamu," Kata Roy mencoba merayu kekasihnya.


"Jangan. Apapun yang terjadi jangan sampai orang yang akan menjadi calon suamiku ini jadi gila," kata Leah sambil menatap sinis ke arah Roy.


"Kak Roy, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Leah.


"Apapun. I'll give you my everything, my Little Bae," jawab Roy cepat.


"Mm, tapi sampai kapan kau akan memanggil ku dengan sebutan 'Kak Roy'," tanya Roy.


"Lalu aku harus panggil apa?" jawab Leah polos.


"Sayang, bisa. Honey, bisa. Atau panggil saja namaku, Roy," kata Roy yang berubah menjadi romantis di bawah langit malam yang dipenuhi oleh bintang.


Leah yang malu saat itu menatap wajah kekasihnya sambil tersenyum sipu. Leah meletakkan kedua tangannya pada kedua lengan Roy. Sedangkan Roy meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping Leah. Kaki mereka melangkah senada, tanpa diiringi alunan musik mereka berdansa di bawah sinar rembulan.


"Aku ingin, tapi aku masih malu karena belum terbiasa. Tapi aku pasti akan mencobanya," jawab Leah tersenyum sambil mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Roy yang begitu dekat.


Roy senang mendengar hal itu, dia menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Leah dengan jelas.


"Baiklah. Aku akan menunggunya," jawab Roy agak menggertakan giginya karena wajah mereka sekarang hampir menempel.


Mereka terbawa suasana. Nafas mereka berat hingga mereka bisa merasakannya satu sama lain. Dan langkah dansa mereka pun terhenti.


"Leah," bisik Roy.


"Ya?"


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,"


"Aku juga... mencintaimu," jawab Leah sangat lirih karena malu.


Kala itu seperti ada sesuatu yang tak mampu mereka tahan lagi. Genggaman tangan Leah dan pelukan tangan Roy semakin erat. Dan nafas mereka semakin dekat seperti kutub magnet yang yang berlawanan saling tarik-menarik.


"GROBYAK!"


Mereka berdua tersentak, lalu menoleh dari mana sumber suara itu berasal.


Rupanya ada pelayan yang tidak sengaja melihat mereka sehingga membuatnya yang membawa troli pengangkut piring kotor itu menabrak pembatas jalan taman.


Dengan kagetnya pelayan itu langsung menunduk dan segera pergi dari sana cepat-cepat.


Leah yang malu segera menyembunyikan wajahnya di pelukan Roy, "Sepertinya aku mau minum," kata Leah.


Roy merasa bahwa dia baru saja kehilangan satu kesempatan. Kalau bukan karena pelayan itu mungkin mereka sudah.. Yah apa mau dikata, begitu pikir Roy.


"Benar, sebaiknya kita masuk. Udaranya juga semakin dingin," kata Roy.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan tempat itu dan berlalu.


__ADS_2