Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 18 - Tersetrum?


__ADS_3

Malam itu Leah tidak bisa tidur, dia terus terjaga. Matanya tak mau terpejam meski ia berkali-kali mencoba.


"Up-Huh," Leah menghela nafas panjang. "Bangun sajalah."


Dia memutuskan untuk bangun. Menyingkap selimutnya dan turun dari ranjangnya. Dilihatnya jam dinding yang masih menunjukkan pukul satu pagi.


"Aku senang, tapi sekaligus juga gelisah, " gumam Leah.


Seperti ada firasat yang meliputinya. Firasat baik atau firasat buruk?


Leah keluar dari kamarnya begitu tahu gelas air di kamarnya sudah kosong. Dengan baju tidur warna merah muda yang ringan karena terbuat dari bahan satin itu melambai-lambai setiap kakinya melangkah menuruni tangga, sesaat dia merasa seperti ada yang sedang menatapnya, mengawasinya.


Leah memegang tengkuknya, "Kok jadi merinding begini? Selama ini tidak pernah seperti ini," ucap Leah lirih yang matanya melirik kesana-kemari.


Leah menggelengkan kepalanya, "Ah, tidak, tidak. Tidak ada yang seperti itu (hantu) di rumah ini," batinya menetapkan hati melawan rasa takut yang tiba-tiba menghampirinya.


Langkahnya tetap teguh menuju ke dapur, tangannya mencari saklar lampu yang berada di dekat jalan masuk ke dapur.


Klak! Lampu menyala, namun Leah bergidik karena ada aura hangat dari belakang punggungnya. Dengan cepat dia memutar tubuhnya.


"AARGH!" teriak Leah dan kakinya pun lemas seketika karena kaget dan PRANG! diiringi gelas yang jatuh dari tangannya. Namun sosok itu langsung membekap mulut dan menangkapnya. Dan saat itu juga teriakannya terhenti begitu melihat siapa yang ada di depannya.


"Ahh, Kak Roy?!," ucapnya lemas.


"Kenapa belum tidur jam segini? Tenang sebentar," kaya Roy yang langsung mengangkat tubuh Leah ke kursi meja makan.


"Gelasnya ..,"


Belum selesai meneruskan kalimatnya, Roy mengambil gelas lalu menyodorkan segelas air hangat kepada Leah, "Minumlah, biar aku yang membereskannya. Pecahnya tidak terlalu banyak," kata Roy yang lalu mengambil sapu dan ekrak kecil di sudut dapur. Mengeruk lalu membuang pecahan kaca itu ke tempat sampah.


Srash! Suara air kran, Roy mencuci tangannya.


"Sudah lebih baik?," tanya Roy membelai lembut rambut Leah.


Leah mengangguk.


"Jadi kau terbangun karena haus?," tanya Roy yang menarik kursi di dekat Leah.


Leah menggelengkan kepalanya, "Memang haus saja. Karena susah tidur, mungkin setelah minum air hangat bisa tidur. Kak Roy tidak bisa tidur di kamar Kak Adit?"


"Tidak. Aku kan sudah punya kamar sendiri di sini untuk apa tidur bersama kakakmu," jawab Roy.


Roy memandang wajah Leah, "Apa kau takut? Maksudku takut nanti bertemu dengan keluargaku. Ya?" tanya Roy.


"Bukan." jawab Leah santai.

__ADS_1


"Lalu?," tanya Roy.


"Aku cuma agak gelisah karena sebentar lagi kita akan.. menikah," jawab Leah.


"Apa kau keberatan menikah denganku dalam waktu dekat ini?" tanya Roy.


"Sebenarnya aku memang sudah mempersiapkan semua perihal pernikahan kita," ucap Roy.


"Apa? Memang kapan kita akan menikah? Kak Roy sudah memilih tanggalnya?!," Leah terkejut.


"Aah.. Begitulah," jawab Roy.


"Bahkan Kak Roy sudah memutuskannya sendirian tanpa perlu pendapatku," kata Leah agak kecewa.


"Ya apapun itu. Tidak ada yang bisa menandingi selera Kak Roy," ucap Leah bangun dari duduknya berniat meninggalkan ruangan itu.


Roy spontan ikut bangun, dia meraih tangan Leah. "Apa kau tidak suka?", tanya Roy.


"Daripada tidak suka, aku lebih penasaran kenapa pria yang ada di depanku ini begitu teguh ingin menjadikan aku sebagai istrinya," tanya Leah.


"Saat itu aku masih 16 tahun, tapi Kak Roy sudah begitu yakin," terusnya.


Roy diam, dia berjalan mendekati Leah. Meraih tubuhnya dan menuntunnya duduk di sofa. Leah mengikuti apa mau Roy, dan kekasihnya itu sekarang bersimpuh di depannya.


"Tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatiku akan dirimu. Lalu, tak ada alasan untuk aku melepasmu. Aku benar-benar ingin memiliki anak-anak yang baik denganmu," ucap Roy. "Apa kesungguhanku tak terlihat olehmu?,"


"Aku hanya merasa bahwa kau adalah milikku. Takdirku," jawab Roy.


"Apa? Hanya itu? Mengapa?," Leah yang agak bingung terlihat sangat lucu. "Kak Roy membuatku agak takut," kata Leah yang memundurkan duduknya namun Roy menariknya pinggulnya kembali ke posisi semula.


"Aakh! Apa yang Kak Roy lakukan?," tanya Leah dengan cepat.


Namun Roy membuka kaki Leah dan lebih mendekatkan dirinya.


"E-eh, jangan membuatku takut!," seru Leah yang tangannya menjauhkan wajah Roy darinya.


"Apa kau berniat ingin mematahkan leherku?" kata Roy yang mendongak keatas berpegangan pada pinggang Leah karena seperti akan jatuh terjungkal ke belakang.


"Ah! Tidak! Maaf!," Leah menarik tangannya kembali namun jari-jari halusnya menutup kedua mata Roy.


"Jangan berpikir bahwa aku ini seorang paedofilia. Bahkan aku berusaha untuk tidak mencium bibirmu walaupun seberapa inginnya aku," Roy menurunkan tangan Leah dan meletakkannya di bahunya.


"Buanglah keraguanmu, apapun itu. Dan lihatlah bagaimana kesungguhanku", ucap Roy serius.


Leah tersenyum malu. Dia tersentuh akan apa yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya itu.

__ADS_1


Greeb! Leah merengkuh Roy dalam dekapannya. Dan Roy pun membalas pelukan Leah. Sesaat pelukan itu seperti membawa mereka ke taman bunga diwaktu senja, tercium aroma harum yang membuat mereka semakin mempererat pelukan satu sama lain.



Namun tiba-tiba Leah merasa aneh, seperti ada aliran listrik yang menjalar ke tubuhnya saat Roy menyentuh punggungnya. Spontan Leah langsung melepaskan pelukannya. Ternyata Roy juga merasakan hal yang sama.


Roy baru tersadar bahwa kekasih yang ada di depannya sekarang memakai baju tidur tipis yang seolah-olah jari-jarinya bisa menyentuh langsung kulit Leah saat dia memeluknya.


Jantung keduanya berdetak kencang, seperti ingin segera pergi karena malu namun juga ada rasa ingin menikmatinya.


Mereka berdua tidak bergerak sama sekali, saling menatap tanpa kata. Namun perasaan membuncah dalam dada yang sampai membuat mereka bergetar.


Roy berusaha keras menahan keinginannya, lalu melepaskan tangannya perlahan dari pinggang Leah.


Roy menutup wajah dengan kedua tangannya. Tiba-tiba berdiri, "Aku akan kembali ke kamarku,dan kau masuklah juga segera. Di sini dingin," ucap Roy dengan canggung.


"Ayo!" ajak Roy mengulurkan tangannya.


"Ya", ucap Leah meraih tangan Roy agak canggung karena kejadian tadi.


Saat itu suasana tak terlalu terang, beruntung mereka tak melihat ekspresi canggung dari keduanya. Mungkin malam itu adalah malam yang bisa jadi agak berat bagi Roy. (kasihan)


Di dalam kamarnya Leah teringat kejadian tadi, "Ah, tadi jantungku seperti meronta-ronta umh..," Leah menutup wajahnya dengan selimut tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Sedangkan Roy di dalam kamarnya mati-matian. "AARGH!," menutup wajah dengan kedua tangannya. Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali push up sampai dia merasa kelelahan agar gairah dalam jiwanya bisa sedikit teralihkan.


Keesokan paginya.


Mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Wajah Roy yang kurang tidur, sedangkan Leah yang pipinya merona jika bertatap mata dengan Roy.


"Sayang, apa kau sudah memilih gaun apa yang mau kau pakai malam prom nanti?" tanya Ayumi.


"Sudah, Mama. Temanya fairy tail. Nanti Leah mau pakai kuping peri yang Papa kasih waktu pergi ke rumah nenek di Singapure. Pas banget kan?" jawab Leah.


"Padahal Papa niat beli itu buat iseng nakut-nakutin kamu," kata Abimana.


"Mana ada Leah takut sama yang begitu, Pa. Salah nge-prank orang Papa. Hahaha," tambah Aditya.


"Iya, malah pas banget ada manfaatnya," ucap Leah senang.


Mereka makan dengan lahap dan menikmati suasana pagi itu, tentu saja kecuali Roy yang kurang tidur. :p


***


terima kasih kepada para pembaca yang sudah hadir.

__ADS_1


jangan lupa like dan komentarnya untuk perbaikan karya saya ke depannya.


sampai jumpa di episode selanjutnya. ^_^/


__ADS_2