Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 21 - Flamboyan


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di bandara. Setelah melalui beberapa pengecekan mereka langsung terbang ke Jepang.


"Leah, bangun," bisik Aditya membangunkan adiknya. "Hei, banguun!" kali ini Aditya mencubit-cubit pipi tembem Leah.


"Ehm? Kakak sedang apa?" ucap Leah dengan ekspresi tidak terlalu suka.


"Bangun! Kita sudah sampai, sebentar lagi kita akan mendarat," kata Aditya.


"Oh, ya," jawab Leah setengah mengantuk merapikan barang bawaannya.


Pesawat telah mendarat di bandara Internasional Narita. Rupanya di sana supir Roy juga sudah siap menjemput mereka. Setelah memastikan barang bawaan mereka tidak ada yang tertinggal, mereka bergegas meninggalkan bandara menuju kediaman keluarga Mannof.


Mata Leah mengarah keluar jendela, melihat suasana negeri sakura. Banyak pejalan kaki memenuhi jalanan. Tempat yang lebih teratur daripada suasana sehari-hari yang biasa ia lihat.


"Apa ini musim semi?" tanya Leah yang baru saja melihat bunga bermekaran di salah satu belokan jalan yang mereka lewati.


"Benar. Kau jeli sekali. Nanti kita akan melewati jalanan yang bagus, siapkan matamu karena sekitar 15 menit lagi kita akan melihatnya," jawab Roy terdengar menjanjikan.


Tentu saja hal itu membuat Leah menjadi penasaran, tak sabar apa yang dimaksud kekasihku itu. Aditya yang cuek bebek hanya mendengarkan saja dan bermain game online di ponsel genggamnya.


Mata Leah terus mencari-cari, wajah yang penasaran dan tak sabar terlihat sangat jelas. Roy sesekali tersenyum menyadari tingkah kekasihnya yang seperti anak kecil itu.


Mereka terus melaju melewati jalan tol yang lumayan panjang. Di kanan kirinya banyak sekali bunga yang merekah, terlihat sangat cantik.


10 menit kemudian mereka keluar dari jalan tol. Mulai masuk melewati jalanan yang agak sepi, Leah merasa agak aneh dengan situasi tersebut. Dia bingung lalu melihat ke arah Roy.


"Kita melewati jalan yang benar, tenanglah," ucap Roy menahan tawanya.


Aditya pun juga ikut tersadar, dia melihat keluar jendela. Namun ekspresinya berbeda.


"Kenapa bayi?," tanya Aditya kepada adiknya seolah tahu dia merasa agak takut.


"Tsk. Orang kaya, terutama pengusaha besar, suka dengan gaya rumah yang seperti ini, apalagi mereka yang sering masuk berita bisnis di media cetak maupun elektronik," jelas Aditya.


"Kenapa?" tanya Leah.


"Bisa saja ada paparazi yang mencoba mengulik kehidupan pribadi mereka. Karena kau tidak pernah tahu hal apa saja yang mereka punya untuk disembunyikan," jawab Roy.


"Atau aib apa yang coba mereka tutup rapat-rapat," tambah Adity.


"Apa semuanya seperti itu?" tanya Leah.


"Tentu tidak, aku berniat tidak menjadi seperti itu. Maksudku aib atau rahasia apapun itu. Namun privasi sangat penting bagi keluarga kita nantinya," jawab Roy.


"Oh,"


Mobil terhenti di depan sebuah gerbang yang besar dan tinggi. Tampak dua orang penjaga tinggi besar membukakan pintu gerbang tersebut.


"Selamat sore, Tuan Muda," sapa penjaga itu lalu memberi hormat dengan membungkukkan badannya hampir 90 derajat.


Saat mobil mereka mulai masuk ke dalam, Leah merasa takjub dengan pemandangan di depannya.

__ADS_1


"Hwaaa.. indahnya," seru Leah yang takjub.


Bagaimana tidak? Kedatangan mereka disambut oleh sebuah lorong berwarna ungu yang indah.



"Bunganya baru saja mekar, sebentar lagi jalanan ini akan tertutup dipenuhi oleh kelopak bunga yang jatuh," kata Roy.


"Wow, ini bisa jadi bahan referensi untuk penginapan kita. Tapi bunga apa ya? Terlalu lama kalau harus menanam pohon yang sampai sebesar ini," kata Aditya sambil mengambil gambar pemandangan ini menggunakan kamera digitalnya.


"Ada kan, Kak. Yang berwarna oranye, itu yang kadang-kadang kalau musim apa banyak bermunculan ulat bulu dari pohonnya," ucap Leah spontan.


"Mana bisa pohon yang seperti itu? Ngarang! Yang ada pengunjungnya bisa kabur duluan disambut sama segerombolan ulat bulu yang menjijikkan," kata Aditya.


"Tapi kan Leah tadi bilang kadang-kadang, ada juga pohon yang tidak," protes Leah.


"Bagaimana kadang-kadangnya waktu tidak ada tamu, dan ya nya pas ada tamu. Kan?! Bagaimana coba", seru Aditya tak mau kalah


"Ih, Kak Adit jangan kaya orang susah deh. Pak Trimo juga tahu nanti bakal dikasih insectisida, beres kan?!" kata Leah.


Entah mengapa pembicaraan kakak adik itu menjadi agak panas hanya karena masalah bunga.


"Boleh aku ikut bicara?" kata Roy tiba-tiba.


Leah dan Aditya tentu saja langsung menoleh ke arah Roy dan menatapnya tajam namun penuh dengan keheranan.


"Hei, Bro! Siapa yang melarangmu bicara?" kata Aditya dengan mimik muka bingung.


"Ya. Kan tinggal bicara saja," potong Leah.


Mereka bertiga diam, malah saling melempar pandangan berbicara menggunakan bahasa alis yang naik turun dengan konyol.


Roy yang merasa akward melanjutkan kalimatnya setelah ia diserang oleh dua tatapan 'cepat bicara!' dari Aditya dan Leah.


"Aku hanya ingin bilang, bahwa jenis bunga yang kalian bicarakan itu sama dengan bunga ini, Flamboyan. Hanya berbeda warna saja. Sebenarnya bunga ini ada beberapa jenis warna, yaitu ungu , merah muda dan oranye. Mungkin masih ada jenis lainnya. Karena berbeda tempat tentu saja pertumbuhan mereka tidak sama karena pengaruh iklim yang berbeda pula," jelas Roy.


"Oh, apa kita harus membawa bibitnya dari sini saja. Untuk oleh-oleh," kata Leah bersemangat.


"Buat apa bawa jauh-jauh dari sini kalau di tempat kita ada?" tanya Aditya.


"Kan lumayan ada embel-embel Jepangnya. Hehehe," kata Leah tersenyum kikuk.


"Ha? Apa mungkin naik pesawat sambil membawa bibit bunga? Merepotkan," kata Aditya.


"Mungkin saja," jawab Roy yang menahan geli karena tingkah Leah dan kakaknya.


Tak berapa lama mereka tenang setelah pergolakan tentang bunga tadi, mereka ternyata sudah sampai di sebuah rumah yang seperti istana megah.


Leah dan Aditya yang langsung melirik satu sama lain bergeser mendekat. Mereka berbisik-bisik.


"Kak, rumahnya besar sekali," bisik Leah.

__ADS_1


"Selamat mertuamu kaya raya, khekhekhekk" kata Aditya terkekeh sambil menjabat tangan adiknya itu.


"Aku takut," seru Leah.


Aditya menyentil dahi adiknya, "Bodoh."


"Aw, apa yang Kakak lakukan? Sakit tahu!" pekik Leah pelan karena kesakitan.


"Ehem. Kita bisa keluar sekarang," kata Roy yang agak canggung.


Roy keluar diikuti Aditya, namun Leah masih belum juga keluar dari mobil.


"Bayi! Cepat keluar! Kau sedang apa?" tanya Aditya tak sabar, dia mengiRa Leah masih takut bertemu calon mertuanya.


"Ada apa?" tanya Roy.


"Entah," Kata Aditya mengangkat bahunya.


"Coba kulihat dulu," Roy kembali masuk ke mobil.


"Ada apa?" tanya Roy pada Leah.


Roy melihat Leah yang berusaha melepaskan sabuk pengamannya namun tidak bisa karena kain bajunya ikut tersangkut.


"Biar kubantu," kata Roy.


Roy kembali masuk ke mobil. Duduk bersimpuh di hadapannya dan meraih baju Leah, mencoba melepaskan sedikit kain yang tersangkut itu.


"Rupanya ini lebih sulit daripada kelihatannya," kata Roy yang masih mencoba melepaskan baju Leah dari sabuk pengaman itu.


"Em, Kak Roy boleh gunting bagian yang itu. Sepertinya percuma dari tadi juga tidak bergerak sama sekali," ucap Leah.


"Kau yakin mau digunting saja?" tanya Roy kepada Leah yang duduk dihadapannya.


Leah mengangguk.


"Jangan menjawabnya dengan anggukan saja. Aku kan sudah melamarmu kemarin," goda Roy.


Leah tertawa, "Ya. Gunting saja secara vertikal, setidaknya bagian itu bisa kujahit ulang."


"Ya, kucoba," kata Roy masih serius merobek setelah mendapatkan pisau lipat dari bagian mobilnya. .


Leah memperhatikan Roy. Leah merasa kekasihnya itu terlihat menggemaskan saat sedang serius. Tanpa sadar kedua tangannya meraih rambut dan menyisirkan jari-jarinya ke sela-sela rambut Roy yang membuat bulu kuduk pria 23 tahun itu 'merinding'.


***


terima kasih sudah mampir membaca karya saya.


jangan lupa like dan komentar kamu ya.


sampai jumpa di episode selanjutnya. ^_^/

__ADS_1


__ADS_2