
Sementara itu.
"Sepertinya selama aku tidak ada kau hidup lebih baik?" kata Roy.
Pertanyaan itu bisa saja membuat Leah salah paham. Namun, daripada begitu lebih baik ditanyakan saja.
"Maksud Kak Roy lebih baik dari sisi yang mana?", tanya Leah heran sambil menatap wajah Roy yang sedang fokus menyetir.
Mata Roy melihat sebentar ke arah Leah, "Hm, kau terlihat lebih se-hat", jawabnya.
'Mengatai aku sehat dengan ekspresi malu begitu, apa maksudnya?, batin Leah.'
Leah berpikir sejenak, dia memperhatikan tubuhnya, mulai dari kaki, paha, perut, tangan dan dada.
Ops!
Leah baru sadar dengan baju seragamnya yang menjadi terlalu pas.
"A~ah. Aku tahu maksud Kak Roy. Kak Roy mau bilang aku gendut kan? Pakai bilang aku sehat segala. Ihh~ memangnya dulu aku cacingan?", gerutu Leah yang kemudian menyilangkan kedua tangan dan kakinya dengan pipi menggembung seperti ikan buntal.
Roy menahan tawanya, namun senyum tipis manis itu tetap muncul dari bibirnya.
"Kak Roy tidak tahu kalau wanita dewasa menyebut tubuh yang seperti ini adalah seksi?", protes Leah dengan pandangan tajam ke arah Roy meminta pengakuan.
Namun, Roy yang kaget akan hal itu membuatnya tidak fokus dan membuatnya melihat ke arah Leah dan memastikan kata-kata gadis itu.
"Kak Roy, awas!!", pekik Leah.
Roy yang tersadar bahwa mobilnya hampir menabrak pembatas jalan itu pun langsung membanting stir ke kiri.
"Ya Tuhan", jerit Leah sambil berpegang erat pada pegangan yang ada di atasnya.
Jalanan yang sepi membuat insiden itu terlihat seperti adegan syuting film Fast Furious, di mana pengemudi harus menggunakan free style untuk memberhentikan mobilnya dengan cara memutarnya terlebih dahulu.
CKIIT!!
Mobil itu berhenti lalu mulai menepi perlahan.
Roy menghela nafas panjang dan segera melihat keadaan Leah. Tubuhnya bergetar terlihat wajahnya masih syok.
"Sudah tidak apa-apa. Maafkan aku", kata Roy meraih Leah lalu menempelkan tangannya ke pipi gadis itu.
Leah melepaskan pegangannya, tubuhnya melemas menatap ke luar mobil. "Baiklah, ini salahku, kan?", kata Leah yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Roy.
__ADS_1
Roy malah tersenyum dan menyandarkan kepalanya di atas stir bundar itu sambil menatap Leah.
"Sekarang kau memang terlihat sangat seksi dibandingkan dengan sebelumnya", kata Roy.
Sontak saja Leah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. Walaupun sebelumnya dia berkata sendiri seperti itu, namun berbeda saat Roy yang mengatakannya.
"Jadi aku benar tidak gendut kan? Berat badanku hanya naik 3,5 kg", kata Leah malu.
"Haha. Tidak. Itu bagus", jawab Roy singkat. "Berat segitu sudah sesuai dengan tinggi badanmu".
Leah yang wajahnya malu karena terus dipandangi kekasihnya itu membuatnya lupa dengan kejadian yang baru saja.
terjadi.
"Sejak Kak Roy pergi, aku mencari-cari kesibukan. Tidak asyik kan kalau cuma aku yang gabut saat pacar jauh di mancanegara. Jadi aku mulai berolahraga setiap akhir pekan. Tapi hanya fokus pada pembentukan badan saja", curhat Leah.
"Kenapa?", tanya Roy.
"Ya, karena aku tidak terlalu berbakat dalam hal olahraga. Sebenarnya beberapa kali berlatih basket dengan John juga Gaby. Tapi cuma hal-hal konyol yang terjadi".
"Hahaha. Mana ada orang yang kena bolanya sendiri setelah melemparkannya ke ring" kata Leah dengan senyuman getir.
"Lain kali Kak Roy juga harus ikut. Walaupun aku dan Gaby agak payah tapi cukup menyenangkan kok", ajak Leah dengan wajah polosnya.
"Oh, ya. Tentu".
Sepanjang perjalanan itu mereka mengobrol banyak. Banyak hal yang mereka ceritakan satu sama lain. Hingga tak terasa mobil mereka sudah memasuki area resort milik orang tua Leah.
"Wow, banyak hal yang berubah, bukan hanya kau saja", kata Roy.
"Oh, iya. Kan sudah pergantian musim. Suasananya harus ditata sedemikian rupa agar para pengunjung merasa lebih nyaman", jawab Leah membenarkan.
Antara resort dan rumah milik Abimana Aryasatya itu memang terhubung dengan koridor yang cukup panjang. Seakan-akan koridor itu menjadi pembatas taman bagian luar pemandangan taman bunga yang indah beserta wahana permainan anak-anak dan bagian dalam lebih mengarah ke back to nature dengan pemandangan danau yang indah.
Namun, arsitektur resort dan rumah mereka memang dipisahkan dengan apik. Sehingga baik itu pengunjung maupun keluarga Leah sendiri merasa sama-sama nyaman.
Mobil Roy berhenti di depan gerbang, berniat keluar untuk membuka pintu gerbangnya, namun Leah sudah lebih dulu turun untuk membukanya.
Roy melihat sosok wanitanya itu sudah berbeda dari sebelumnya.
"Padahal baru dua bulan aku tidak melihatnya. Tubuhnya menjadi sebagus itu dan rambutnya juga semakin indah", gumam Roy.
Setelah Roy memarkirkan mobilnya, Leah yang menunggunya keluar segera mengajak Roy masuk.
__ADS_1
"Mama, aku pulang!", sapa Leah.
Namun tak ada jawaban.
"Mbak, Mbak Asih", Leah mencoba memanggil pekerja yang bertugas membersihkan rumahnya.
Namun sama tak ada jawaban. Leah mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon ibunya.
"Halo, Ma. Mama di mana? Kenapa tidak ada orang? Pintu juga tidak terkunci lho", tanya Leah.
"Maaf, Sayang. Kita semua ada di resort karena ada teman Papamu yang berkunjung. Keluarga mereka akan menginap selama satu Minggu di sini. Karena sudah lama tidak berkunjung jadi kami akan mengobrol sebentar", jelas ibunya.
"Oh. Baiklah. Aku bersama Kak Roy. Ku pikir kita bisa makan malam bersama", kata Leah.
"Tentu. Nanti kita masak sama-sama ya", jawab ibunya.
"Iya"
"Sementara, kau buatkan dulu Roy camilan apalah terserah. Semua bahan sudah ada", perintah ibunya.
"Ya, Ma. Kalau begitu Leah tutup teleponnya ya, Ma. Bye", Tut.
Selesai menelepon Leah mencari keberadaan Roy yang hilang entah ke mana. Rupanya dia sudah tertidur pulas di depan televisi dengan remote di tangannya.
"Ha? Bahkan dia sudah tidur sebelum melihat acara tv nya. Ini kan bukan siaran yang disukainya", kata Leah yang mengambil remote itu dari tangan Roy dan mengganti channel kesukaannya.
Sebelum dia berbalik ke kamarnya, Leah menyempatkan diri memperhatikan pria yang sedang tidur di hadapannya sambil bergumam,
"Bagaimana bisa aku tidak mengimbangi tubuh yang berotot ini. Aku juga ingin menjadi wanita yang pantas untukmu". Tampak senyum lembut Leah mengandung arti yang dalam untuk sosok di depannya itu.
Leah meninggalkan Roy yang tengah tidur. Dia berjalan menuju ke kamarnya sambil berlenggang tangan.
Leah tak pernah menyadari bahwa sosoknya yang dulu dan sekarang sama saja bagi Roy. Karena ketika melihat Leah di ruang teater itu untuk pertama kalinya, saat itu juga Roy sudah menyerahkan hatinya untuk gadis mungil itu sepenuhnya.
***
terima kasih kepada para pembaca yang sudah berkunjung.
jangan lupa like dan komentar untuk perbaikan karya saya ke depannya.
sampai jumpa di episode selanjutnya ^_^/
__ADS_1