Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 27 - Pulang


__ADS_3

Sudah tiga hari dua malam Leah dan Kakaknya berada di Jepang. Setelah puas berbelanja mereka harus bersiap untuk pulang ke tanah air keesokan harinya.


"Sayang, Kau sudah selesai mengepak semua oleh-olehmu?" tanya Roy yang tiba-tiba sudah ada di sudut pintu kamar Leah yang tak tertutup rapat.


Leah yang duduk di lantai masih sibuk menata barang belanjaannya ke kotak dengan rapi dan aman, "Hampir".


"Mau kubantu?" Kata Roy menawarkan bantuan.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan Muda. Ini sudah hampir selesai. Kemari, masuk saja!" pinta Leah.


Roy tak mampu menolak permintaan gadis mungil idamannya itu. Kakinya melangkah memasuki kamar Leah. Lalu ikut duduk di bawah mengamati apa yang dilakukan calon istrinya.


"Kau siap pulang besok?" tanya Roy.


"Siap dong", seru Leah.


"Kan mau pulang ke rumah. Tadi Mama telepon, kalau lusa ada makan malam bersama dengan keluarga besar. Kak Roy bisa datang kan? Anggap saja perkenalan. Hm? Bisa ya?" pinta gadis itu sangat manis seperti seorang anak kecil yang meminta permen.


"Akan ku kosongkan jadwalku pada hari itu", jawab Roy yang membuat Leah tersenyum lega.


"Terima kasih", ucapnya.


"Kembali kasih".


"Kak Roy, tolong pegangkan bagian ini. Aku akan melakbannya".


Leah dan Roy berusaha menutup box yang lumayan besar itu. Menutupnya dengan rapat.


Selesai mengepak Leah berniat mengirimnya sendiri ke jasa pengiriman barang. Namun Roy melarangnya dan menyuruh pelayan saja yang mengurusnya.


"Lebih baik sekarang istirahat. Sudah hampir gelap. Jangan kemana-mana lagi", saran Roy.


"Perhatian sekali sih kekasihku ini", puji Leah.


"Harusnya memang begitu. Dua puluh hari lagi kita menikah. Aku ingin kau baik-baik saja, baik itu jasmani maupun rohani", jelas Roy.


"um, sebelum pulang, bolehkah aku main satu lagu dengan piano di ruang sebelah?" pinta Leah berhati-hati.


"Darimana kau tahu ada piano di ruang sebelah?" tanya Roy.


"Aku tidak sengaja melihatnya saat kembali ke kamar. Karena pintunya tak tertutup rapat ya aku bisa lihat dari luar", Leah menjelaskan.

__ADS_1


"Bolehkah?"


Roy memandang wajah Leah namun belum juga satu kata ya atau tidak keluar dari mulutnya.


"Ya kalau tidak boleh juga tidak apa-apa. Santai saja", kata Leah sambil memukul ringan lengan Roy.


Roy beranjak sambil menggandeng tangan Leah. Lalu mengajaknya ke ruang bermain piano.


"Itu piano nenek ku. Beliau juga menyukai piano. Sama sepertimu", kata Roy.


"Aku selalu suka saat nenek memainkan piano Piano ini tetap dirawat meski pemiliknya sudah tidak ada lagi di sini", kata Roy sambil menyentuh bagian-bagian piano tua itu.


"Beliau sudah wafat?" tanya Leah.


"Ya, kira-kira empat tahun yang lalu. Nenek sakit keras. Kadang aku merindukan setiap nada yang keluar dari tuts-tuts piano ini. Jari-jarinya yang keriput masih lihai saat menciptakan melody-melody yang indah".


Roy menatap Leah. Menghampirinya dan menuntun Leah duduk di depan piano tua itu.


"Mainkanlah sebuah lagu. Ini!" Roy menunjukkan halaman nada yang menjadi favoritnya sejak kecil.


"Alice?" tanya Leah.


Roy mengangkat alisnya dan tersenyum. "Ya".


Leah merenggangkan jari-jarinya, mengatur nafas. Lalu jari-jarinya mulai menekan tuts-tuts piano tua itu.


"Kedengarannya ini piano kualitas terbaik. Setelan nadanya masih sempurna walau lama tak digunakan", ucap Leah kagum.


"Nenek juga bilang begitu. Sebenarnya piano ini hadiah pernikahan dari Kakekku. Mereka saling mencintai untuk waktu yang sangat lama. Namun tiba-tiba Nenek sakit dan Beliau pun wafat".


"Lalu Kakek?"


"Beliau tinggal di rumah anaknya yang pertama. Di Indonesia", jawab Roy.


""Oke, ayo sekarang kita saksikan sendiri kehebatan piano ini", seru Leah yang mulai melemaskan otot jari dan lehernya.


Leah mulai memainkan melody Alice. Saat bermain piano barulah Roy tersadar kalau Leah terlihat seperti seorang yang berbeda. Setiap nada, setiap sentuhan terlihat begitu memukau.


Suara nyaring piano memenuhi ruangan tersebut. Seakan tempat itu berada di bagian dunia yang lain. Kepiawaian Leah dalam memainkan piano sungguh tak dapat diragukan lagi.


Roy mulai mendekat kepada Leah, lalu duduk di sebelah dan memeluk gadis itu. Roy hanya teringat akan kenangan neneknya. Dia menutup matanya lalu bersandar pada Leah dan menutup matanya.

__ADS_1


Keesokan paginya.


"Hati-hati ya, Sayang. Salam untuk kedua orang tuamu, ya", ucap Keiko.


"Ya, Ibu. Semoga Ayah dan Ibu selalu diberikan kesehatan," kata Leah.


Aditya dan Leah juga Roy berpamitan. Ketiganya pulang ke Indonesia pagi ini pukul sembilan pagi.


"Roy pulang dulu, sehat-sehat ya. Sampai jumpa di pernikahan kami. Walaupun aku berharap kalian bisa datang sebelum itu", kata Roy.


"Tentu saja", jawab Keiko seraya memeluk putra kesayangannya itu.


"Kami pamit dulu, Tante. Titip salam untuk Om Riezel", Aditya memberi salam lalu membawa koper miliknya dan Leah.


"Kak Adit, tunggu!" seru Joseph.


"Bawa ini", kata Joseph menyerahkan kaos couple game favorit mereka.


"Hei, kapan kau pesan ini? Haha, kau memang tak terduga. Terima kasih", kata Aditya yang senang lalu memeluk Joseph.


"Kami menunggumu di Indonesia", kata Aditya sambil menepuk bahu adik Roy.


"Terima kasih. Kami pasti datang", jawabnya.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan diantar ke bandara oleh supir. Riezel tidak ikut melepas kepergian mereka karena ada urusan kantor pagi itu.


Cukup dua puluh menit perjalanan dari rumah ke bandara. Ketiganya tampak duduk santai di dalam mobil mewah itu.


"Setelah sampai di rumah kalian harus segera menyiapkan perihal persiapan pernikahan. Mama sudah bilang baju pengantin kalian tinggal dipaskan saja. Semua sudah diatur sedemikian rupa. Tinggal undangannya, kalian mau undang teman atau cukup keluarga dan teman dekat saja", kata Aditya.


Roy agak terkejut mendengarnya. Leah yang menyadari hal itu merasa puas, mungkin karena selama ini Leah terus yang selalu dikejutkan.


"Hehehe. Bagaimana rasanya? Akhirnya Kak Roy merasakan juga apa yang kurasakan", ejek Leah.


Roy hanya diam, dia merasa kalau berarti selama ini dia sudah keterlaluan pada Leah. Pantas saja Leah sering protes. Sikap Roy yang suka mengatur dan memerintah bawahannya sepertinya dia berlakukan juga pada Leah.


Ini salah, pikir Roy. Dia berpikir mungkin tidak semua urusan rumah tangganya bisa dia atur secara sepihak seperti dia mengatur perusahaannya.


Benar. Pernikahan itu menyatukan perbedaan antara dua orang. Jadi semua harus dimusyawarahkan berdua dalam mengambil keputusan.


Tentu saja kecuali beberapa hal yang memang kepala keluarga saja yang berhak. Seperti mengatur cara istri berpakaian, bergaul dan lainnya.

__ADS_1


Roy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menarik napas. Memandang Leah lalu memejamkan mata setelah menyandarkan kepalanya di bahu calon istrinya itu.


__ADS_2