Istri Kecil Sang Direktur

Istri Kecil Sang Direktur
BAB 14 - Kelulusan


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Leah menikmati masa-masa terakhirnya sebagai siswi SMA. Mulai menghitung hari di mana pengumuman kelulusan akan datang sebentar lagi.


Leah berjalan di lorong kelas di mana dia sering menghabiskan waktu bersama Gaby sahabatnya serta teman-teman lainnya.


Tangannya menyentuh dinding di sepanjang lorong itu, terasa ada perasaan sedih di hatinya. Masa-masa sekolah adalah masa-masa yang penuh dengan kenangan dengan segala kisahnya.


Leah berhenti di sudut jendela koridor sekolah. Dia memandang lapangan, taman lalu gerbang. Dia berpikir mungkin ini harus dia nikmati untuk yang terakhir kalinya.


Sedang tengah menikmati hari-hari terakhirnya tiba-tiba ada sesuatu yang dingin menempel di pipinya.


Cesh!!


"Argh!".


Siapa yang tak kaget tiba-tiba ada susu kotak dingin yang dingin menempel di pipimu.


"Gaby!",


"Hehehe, jangan-jangan kau gelisah karena sebentar lagi kita akan lulus ya?", goda Gaby yang menyodorkan susu dingin padanya.


"Hm", jawab Leah singkat sambil menyedot susu kotak sekaligus.


"Wow, itu haus atau haus?", kata Gaby melihat Leah yang langsung menyedot habis susunya.


"Bagaimana ujian masuk perguruan tinggi yang kau incar? Sudah keluar hasilnya?", tanya Leah.


"Belum. Besok pagi kalau tidak salah", jawab Gaby yang memandang sedih sahabatnya.


"Ada apa? Ada masalah?", tanya Leah.


Gaby menggeleng, dia melihat keluar jendela dan berkata, "Kenapa kau tidak melanjutkan studymu? Apa kau benar-benar akan menikah setelah lulus nanti?" tanya Gaby yang terlihat sedih. "Kau yakin mau menikah muda?"


"Kalau sesuai rencana sih, ya. Kak Roy tidak ingin kalau aku bekerja. Pilihan terakhir ya cuma bantu Kak Adit mengurus resort kami", jawab Leah datar.


"Tapi kau kan cerdas!" protes Gaby. "Nilaimu selalu bagus, berprestasi, populer," kata Gaby yang tiba-tiba diam dan memeluk sahabat yang ada di sampingnya itu.


"Ouh. Jadi kau tidak rela kalau aku menikah muda? Apa kau takut nanti tidak ada yang menemanimu jalan-jalan?", goda Leah yang membalas pelukan Gaby.


"Aku hanya merasa sayang," kata Gaby.


Leah tersenyum, dia merasa bersyukur memiliki sahabat yang peduli padanya. Persahabatan yang saling peduli, saling mendukung.

__ADS_1


"Sebenarnya aku juga mau, yah hitung-hitung jadi sarjana administrasi atau sarjana seni. Aku juga berniat mendiskusikan hal itu pada Kak Roy," kata Leah berharap.


Kedua sahabat itu menatap satu sama lain, tampak kekhawatiran dari salah satunya. Namun kekhawatiran itu menghilang saat satu yang lainnya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja apapun nanti hasilnya.


Saat itu bulan Mei, tepat dua bulan Roy pergi ke Jepang. Leah sendiri mulai terbiasa tanpa kehadiran Roy yang cukup berkomunikasi lewat telepon. Dan bulan ini juga datanglah pengumuman kelulusan yang dinantikan.


"Hei, Gaby! Leah!" tampak John berlari menghampiri keduanya.


Tampak Leah dan Gaby membawa seikat karangan bunga sebagai tanda selamat atas kelulusan mereka.


"John!" Leah melambaikan tangannya.


"Hei, mana hadiahmu?" tanya Gaby.


"Hadiah apa? Nilai yang terbaik sudah cukup menjadi hadiah kelulusanku," jawab John. "Wah kalian membawa bunga yang cantik"


"Benar. Kau dan Leah berada di peringkat tiga teratas. Kalian hebat. Aku bangga punya teman seperti kalian. Hahaha," kata Gaby yang merangkul keduanya.


"Ayo kita berfoto! Jangan sampai kita kehilangan momen berharga ini," ajak Leah.


"Kak Adit, tolong ambil foto kita ya," tampak Leah menggandeng Adit keluar dari kerumunan keluarganya dan keluarga Gaby.


"Wah siapa ini? Kak Adit belum pernah lihat?" tanya Aditya.


"Bukankah kita mendaftar di universitas yang sama. Pasti kita tetap bisa seperti ini," jawab John.


Leah dan Aditya memandang satu sama lain. Lalu secara bersamaan memandang Gaby dan John.


"Kalau takut terpisah ya dijaga jangan sampai terpisah," celetuk Aditya.


Leah hanya tersenyum. Sedangkan Gaby tidak tahu apa maksud dari perkataan Adit. Memang hubungan Gaby dan John sangat dekat. Namun belum ada tanda-tanda suka dari keduanya.


Tengah asyik mengobrol bersama teman-teman lainnya. Tiba-tiba suasana menjadi heboh. Ada sesuatu yang menarik perhatian para siswi-siswi.


"Ada apa?" tanya Leah.


"Tidak tahu. Anak perempuan berlarian ke tempat parkir," jawab Gaby yang memperlihatkan siswi lain dari jauh.


"Yang bisa membuat gadis-gadis berlarian seperti itu kan hanya wajah tampan yang seperti magnet. Aku sudah biasa dengan hal seperti itu," kata John yang selalu jadi pusat perhatian saat bertanding basket di dalam maupun di luar sekolah karena wajah imutnya.


Tak lama kemudian sosok yang menjadi pusat perhatian itu berjalan ke arah mereka. Namun wajahnya terhalang oleh tangan-tangan yang mengacungkan ponsel para siswi yang meminta foto bersama.

__ADS_1


Leah melihat kerumunan itu. Dia merasa tidak asing dengan sosok yang menjadi pusat perhatian itu.


Deg!


Hatinya bergetar saat sosok pria itu terlihat jelas berjalan ke arahnya.


Perasaan senang dan haru memenuhi dadanya. Terasa berat dan panas seperti ingin meluap. Matanya yang berbinar-binar seperti awan mendung yang sudah tak mampu menahan air hujan turun.


Segera dia berlari ke arah sosok pria yang membawa seikat bunga lili putih di tangannya. Pria itu pun menyambut Leah yang datang kepadanya, membuka kedua tangannya dan memeluk gadis mungil itu penuh kerinduan.


"Aku berusaha menepati janjiku", bisik Roy ke telinga Leah yang terus memeluknya.


"Selamat untuk nilai sempurnamu", kata Roy tersenyum dan memberikan bunga yang ada di tangannya kepada Leah.


Leah menyambutnya dengan senang hati, "Terima kasih".


Pemandangan ini tentu saja membuat teman-teman seangkatan Leah melongo. Siapa yang tidak terkejut jika salah satu donatur sekolah mereka yang paling digandrungi siswa perempuan ternyata memiliki hubungan dengan salah satu dari teman seangkatan mereka.


Rupanya rencana kedatangan Roy sudah diketahui oleh keluarga Leah. Roy berniat memberi kejutan kecil pada anak kesayangan keluarga Aryasatya itu.


"Mereka pasangan yang serasi, walaupun aku tahu jarak usia mereka cukup jauh", bisik John pada Gaby.


"Tsk. Hush! Cuma enam tahun, dilihat dari sisi manapun mereka cocok sekali", kata Gaby. "Aku juga ingin mendapatkan seikat bunga dari.... ah andai aku juga punya kekasih seperti Leah" kata Gaby berkhayal.


Mendengar hal itu John yang berdiri di sebelah Gaby tiba-tiba menghilang.


"Hei. Kemana dia? Tsk. Dasar Cowok!" gerutu Gaby.


Gaby yang masih menggerutu itu terkejut ketika John menyelipkan bunga sepatu berwarna merah di telinganya.


"Hei, John. Apa yang kau lakukan?" kata Gaby yang ingin mengambil bunga itu dari telinganya namun ditahan oleh John.


"Jangan! Biarkan seperti itu. Anggap saja itu hadiah atas kelulusanmu dariku," kata John sambil tersenyum penuh makna.


Tentu saja Gaby yang awalnya bingung dan ingin marah menjadi tersipu malu dibuatnya.


***


terima kasih sudah menyempatkan membaca.


jangan lupa tuliskan komentar kamu untuk perbaikan karya saya.

__ADS_1


terima kasih ^_^


__ADS_2