
Sesaat rasa lega yang luar biasa menggantikan rasa gugup yang penuh dalam dada Roy. Ternyata kesulitan selama ia menekuni dunia bisnis tidak ada apa-apanya Jika harus dibandingkan dengan perasaan campur aduk saat menjelang ijab kabul. Rasanya seperti baru saja melawan kekuatan yang sangat besar di dalam dirinya sendiri.
Setelah ijab kabul selesai diucapkan maka saatnya mempelai wanita dijemput untuk bertemu dengan mempelai pria. Ayumi menjemput Leah dari dalam kamar rias bersama Sang Kakak. Leah yang sudah siap mengangguk dan meraih tangan ibu dan tantenya.
Perlahan mempelai cantik itu berjalan dengan anggun, kain jarik yang membalut dari pinggul hingga kakinya itu membuatnya tak bebas bergerak.
Dari ruang tengah terlihat mempelai wanita berjalan bersama pendampingnya menuruni tangga. Semua tamu mendongak ke atas, menyambut kedatangannya.
"Hati-hati, Sayang", ucap Ayumi yang memapah putrinya menuruni tangga.
Leah hanya menoleh ke arah ibunya dan tersenyum.
"Lihat Gadis Kecil, kau sudah jadi seorang istri sekarang, hehe", goda tantenya.
Roy memandang sosok Leah yang anggun dan mempesona,
"Dia luar biasa", batinnya.
Suara pembawa acara memecahkan seruan kagum pada mempelai wanita. Tibalah saatnya sang istri duduk di samping suaminya dan menandatangani bukti surat nikah.
Roy merasa gugup di depan Leah. Entah kenapa rasanya seperti jatuh cinta lagi pada gadis idamannya.
Selesai menandatangani surat nikah, Roy menyematkan cincin berlian di jari manis Leah. Tangannya yang indah dibalut dengan sarung tangan cantik yang cocok dengan kebaya putih berlengan tujuh perlapan itu.
Semua orang bertepuk tangan setelah Leah mencium punggung tangan suaminya yang diikuti kecupan manis di dahinya.
Saat itu Roy dan Leah merasa sangat bahagia. Seperti ada suatu energi positif yang menyelimuti seluruh dunia pagi itu.
Seperti pernikahan lainnya acara selanjutnya adalah sesi berfoto dengan keluarga dan tamu undangan. Meski tak lebih dari dua ratus orang pesta itu sangat meriah. Sangat khidmat dan sakral.
Berbeda dengan pengantin yang di pajang di padi-padian, justru Roy dan Leah bergabung dengan tamu. Mereka mengobrol bersama sembari mencicipi makanan yang ternyata super lezat yang dimasak spesial oleh para koki.
Pagi hingga pukul dua siang pesta itu berakhir. Satu per satu tamu undangan undur diri, tinggal beberapa kerabat yang masih tinggal karena mereka semua menginap di resort di paviliun khusus.
Roy dan Leah melepas pakaian bersejarah mereka. Tak butuh lama bagi Roy untuk melepas jas putihnya. Dan Leah masih dibantu perias melepas semuanya.
Setelah selesai, Leah segera menuju kamarnya. Ia membasuh wajahnya yang sudah bersih tanpa riasan. lalu naik ke atas kasur karena ia berniat untuk tidur sebentar sebelum acara makan malam berlanjut.
Baru dua menit memejamkan mata rupanya ia kedatangan tamu
TOK TOK!
Agak malas ia pergi turun dari kasurnya. Namun ia harus lawan keinginan itu. Siapa tahu ada hal penting.
"Ya, sebentar!", seru Leah.
KLEK!
Suara pintu terbuka. Rupanya Roy yang datang, ia berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah yang tak terduga.
Dengan telinga merah ia berkata, "Aku bisa ikut istirahat di sini kan?".
__ADS_1
Leah yang masih loading masih terbengong karena tentu ini adalah hal baru yang akan terjadi. Leah pun memundurkan tubuhnya ke samping dan mempersilakan suaminya masuk.
"Tentu. Kak Roy kan juga sudah resmi menjadi penghuni kamar ini", sambut Leah.
Keduanya sekarang berada di kamar yang sama, walau sering bersama tapi kalau itu adalah kamar maka konteksnya berbeda.
"Kak Roy jangan sungkan, kasurnya luas kok. Bantalnya juga cukup untuk dua orang. Closetnya juga masih ada tempat kosong", kata Leah menjelaskan keadaan kamarnya.
Memang selama tiga tahun berpacaran Leah memang menjaga privasi kamarnya dari kekasihnya. Kecuali kalau ia dalam keadaan sakit, beberapa kali memang Roy pernah datang.
"Aku mau cuci muka, aku benar-benar lelah karena tidak bisa tidur semalaman karena gugup bagaimana hari ini akan berjalan", kata Roy yang terlihat lelah namun masih ada senyum di wajahnya.
Leah tidak tahu harus menanggapi apa atas curahan hati suaminya itu. Jadi dia hanya diam dan memandang wajahnya saja.
"Jangan memandang dengan tatapan seperti itu", ucap Roy dengan mendekatkan wajahnya ke arah Leah namun Leah spontan memundurkan wajahnya.
"Cuci muka dulu. Aku akan segera kembali", ucapnya meninggalkan Roy sendiri di kamar.
Roy melihat istrinya berlalu pergi, ia yang terduduk di kasur bersprei motif bunga-bunga kecil melihat ke arah cermin di depannya dan berkata, "Hh, ini seperti bukan diriku".
Roy pun bergegas ke kamar mandi menyegarkan tubuh dan pikirannya dengan mandi. Dengan alat mandi wanita milik Leah tentu ia tak ambil pusing dengan itu. Bahkan handuk warna pink milik Leah tak sungkan ia balutkan di tubuh bagian bawahnya.
Dengan santai Roy bersandar di pinggir jendela sambil mengecek pekerjaannya lewat ponsel miliknya.
Saat itu juga Leah yang datang tanpa mengetuk pintu langsung masuk dengan secangkir minuman jahe hangat.
"Kak, ku bawakan ja-he ha-ngat..", Leah agak terkejut dengan penampilan suaminya. Melihat otot dada dan perutnya yang kencang membuat Leah hampir menjatuhkan cangkir yang dibawanya karena tersentak kaget.
"Hish!", gerutu Leah memalingkan wajahnya yang merah karena malu dan marah.
Roy yang tak tahu apa-apa hanya bingung, karena sebenarnya ia tak terlalu fokus pada reaksi Leah barusan.
"Ah? Apa ini membuatmu terganggu?", tanyanya sambil mengarahkan ke tubuhnya.
Leah cemberut tapi dengan cepat ia tersadar bahwa mereka sekarang adalah suami istri.
"Ah, maksudku ya itu. Pakailah baju sehabis mandi. Jangan mondar-mandir sambil telanjang begitu", jawabnya malu-malu.
"Sayang. Bahkan saat malam pertama nanti kita berdua bukankah akan melihat masing-masing dari diri kita tanpa sehelai benang pun?", ucap Roy mendekat ke arah istrinya.
Leah yang tingginya tak lebih dari bahu Roy itu pun harus mendongak ke atas saat pria setengah telanjang itu bicara tepat didepannya. Namun ia langsung menunduk ke bawah saat Roy mencoba menggodanya.
"Hahaha", tawa Roy sambil menekan kening dengan kedua jarinya.
Tangan Roy meraih lengan Leah, ditundukkan kepalanya dan berkata, "Aku tahu ini hal baru untukmu, begitu juga aku. Tapi kita tak perlu latihan karena kita bisa dan kita hanya perlu memulainya pelan-pelan", ucap Roy lalu tersenyum.
"Jadi mana minuman hangatku?"
Leah memberikan jahe hangat yang ia buatkan, dengan rasa puas Roy meminumnya karena itu benar-benar enak dan membuatnya rileks.
Roy melihat wajah Leah seperti ingin berkata sesuatu, "Ada apa?".
__ADS_1
"Apa harus kita melakukan malam pertama nanti malam?" tanya Leah polos.
"Uhuk-uhuk", siapa yang tidak tersedak jika sedang minum diberi pertanyaan seperti itu.
"Maaf, maaf", seru Leah sambil menepuk-nepuk punggung Roy.
"Sudah, Sayang. Cukup. Aku pakai baju dulu", ucap Roy meraih sebuah tas berisi pakaiannya.
'kenapa ekspresinya seperti itu, apa aku salah bertanya?', batin Leah.
TOK TOK
"Sayang, Leah! Bisakah keluar sebentar?" seru ibunya dari balik pintu.
"Ya, Ma", sahut Leah.
"Ada apa, Ma?" tanya Leah setelah membuka pintunya.
"Ya Tuhan dari tadi kenapa belum ganti pakaian?", tanya Ayumi karena Leah masih memakai kimono.
"Belum sempat, Ma".
"Cepat ganti. Lalu turun. Mama perlu bantuanmu".
"Bantu apa, Ma?", tanya Leah.
"Bantu Mama merangkai beberapa bunga, yuk!" ajak Ayumi.
"Oh. Ok. Tapi Leah ganti dulu", jawabnya.
"Ya, cepat ya!".
Leah bergegas mengambil pakaian dari closetnya, sebuah dress lengan tiga perempat dengan bentuk bawahan seperti payung berwarna hitam motif bunga.
Segera ia melepas kimononya dan meraih dress tersebut, namun tiba-tiba pintu closetnya terbuka. Spontan Leah yang baru memasukkan baju melewati kepalanya langsung berhenti menengok ke arah pintu. Dan ada Roy di sana.
"Kyaa!!"
Teriakan Leah tak membuat Roy bergeming dan masih melihat Leah yang bagian tubuhnya terlihat dari bawah perut sampai kaki. Bukannya pergi Roy malah berlari ke arah Leah ingin meraihnya.
Tapi Leah yang kaget cepat-cepat menurunkan dressnya, namun karena panik tentu itu tak berhasil. Alhasil dressnya pun tersangkut karena reslitingnya belum ditarik seluruhnya, Leah pun bermaksud untuk lari namun Roy sudah menangkapnya dari belakang. Karena Leah memberontak mereka berdua pun bergulat di lantai.
"Kyaa! Ampun, Kak Roy. Ampun!", teriak Leah ketakutan.
Padahal Roy hanya memeluknya dan tak melakukan hal lainnya.
Leah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Jantungnya berdegup kencang, bahkan ia a pun juga bisa merasakan degup jantung Roy dari balik punggungnya.
Tangan Roy masih melingkar di perut tipis Leah. Namun sekejap pelukannya mengendur dan meraba bagian lainnya yang membuat buluh kuduk Leah merinding sejadi-jadinya.
"Ayo kita lakukan sekarang", ucap Roy lirih ke telinga Leah.
__ADS_1