
Di Semarang.
KRIINGG.
Ponsel Leah berdering.
"Ya Hallo. Kenapa Gaby?"
"Say, di rumah ga? Aku ke sana ya?", pinta Gaby berharap.
"Jangan dulu, deh", cegah Leah.
"Kenapa? Aku hampir mati kebosanan di hari yang cerah ini.
Memangnya sedang kencan?", tanya Gaby.
"Tidak. Bukan begitu. Hari ini lagi malas", jawab Leah.
"Seorang Leah? Malas? Wait, wait. Kenapa nih tumben-tumbenan?", Gaby penasaran.
"Nothing. Ya sudah kututup dulu ya, bye",
Tut.
"What?!", Gaby masih bingung apa benar yang dia telepon tadi adalah sahabatnya, Leah.
"Kenapa dia? Ya sudahlah. Bisa-bisanya weekend gini di rumah saja. Gaby, Gaby. Malangnya nasibmu", kata Gaby sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Yo!", sapa kakaknya. " Hari libur cuma gitu-gitu aja? Huh, kasihan banget adikku yang cantik ini. Ketahuan nggak ada pacar, hahaha!",
"Ck. Apaan sih, Kak? Kaya situ punya pacar aja?! Ketua Jomblo dilarang menghina jomblo lainnya", kata Gaby meninggalkan kakaknya.
"Si*lan. Lupa kalau aku jomblo juga, wkwk", tawa kakaknya.
Di Rumah Leah.
"Ma, Kak Adit mana?", tanya Leah.
"Dia ruang kerja. Dia dan Papamu lagi rapat kecil", jawab ibunya.
"Rapat kecil?", tanya Leah bingung.
"Ya. Kamu tahu kan selama ini penginapan kita, hanya Papa dan Mama yang mengurus semuanya. Dan kita hanya memperkerjakan orang-orang hanya untuk merawat dan melayani saja", kata ibunya.
"Lalu?", tanya Leah masih bingung.
"Ya ke depannya akan terus seperti itu. Mama berharap anak-cucu Mama terus rukun saling mendukung demi penginapan kecil kita ini. Mama juga sangat berterima kasih kepada semua orang yang bekerja untuk kita. Papa memang membeli lahan mereka tapi Papamu juga yang mengijinkan mereka untuk bekerja dan merawat lahannya. Yah, walau kita tidak berharap anak-cucu mereka mau bekerja dengan kita lagi", jelas ibunya.
__ADS_1
"Maksud Mama, mau tidak mau pasti ada perubahan sistemnya? Memang benar, Ma. Ini bukan pekerjaan yang bisa diwariskan. Anak-anak mereka masih punya pilihan lain selain bekerja di sini", jawab Leah mengerti.
"Itu maksud Mama. Selama ini Papa dan Mama tenang karena yang merawat lahan kita adalah pemilik sebelumnya. Dan kamu tahu kan mereka orang-orang yang baik", kata ibunya dengan wajah agak cemas.
"Jadi, Mama takut?", tanya Leah.
"Hm?",
Akhirnya Leah tahu apa yang sedang dikhawatirkan oleh ibunya.
"Ma, kalau kita pada akhirnya akan merekrut pekerja selain penduduk asli di sini pastinya ada kriteria yang kita butuhkan sebagai syaratnya".
"Jangan terlalu memikirkan hal ini. Mama kan bos-nya, Mama yang akan memilih siapa yang patut bekerja di sini. Hhhm, Mama-Mama jangan berpikir macam-macam", tukas Leah.
"Mungkin Mama saja yang pikirannya masih kuno", jawab ibunya.
"Sudah. Mama istirahat dulu dan hilangkan semua kekhawatiran itu. Papa dan Kak Adit pasti bisa jadi pilar yang kuat, tapi dengan dukungan kita juga, Ma", kata Leah menenangkan Ibunya.
Leah duduk di samping Ibunya dan memeluk sayang wanita yang telah melahirkannya itu. Leah tidak tahu apa yang membuat perasaan Ibunya menjadi gelisah sehingga membuatnya memikirkan hal-hal yang tampak sederhana menjadi rumit.
Tampak Aditya datang ingin menghampiri mereka. Tentu dia bertanya-tanya ada apa dengan mereka.
Aditya pun memandang Leah dan menaikan satu alisnya berharap penjelasan.
Leah mengerti apa yang diinginkan oleh kakaknya.
Leah segera beranjak dari duduknya dan menghampiri kakaknya yang berdiri di balik tembok.
"Yuk, Kak", ajak Leah sambil menggandeng tangannya.
"Kak, aku ingin bertanya, apa ada masalah dengan penginapan kita?", tanya Leah.
"Tidak ada", jawab Aditya singkat.
"Pekerjanya?", tanya Leah lagi.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan?", tanya Aditya balik.
"Mama berpikir yang tidak-tidak. Mama khawatir dengan kelangsungan penginapan ini jika ada pekerja baru tapi bukan dari penduduk daerah ini, pemilik lahan sebelumnya. Mama takut mereka tidak bekerja merawat tempat ini dengan sepenuh hati", jelas Leah kepada kakaknya.
"Ck. Itu masalahnya? Sebenarnya tidak masalah mau pekerja kita dari mana saja, yang terpenting adalah saat perekrutan. Kita bisa tahu kinerja mereka walau tidak sepenuhnya, ya melalui wawancara", jawab Aditya.
"Ya kan. Tadi aku juga bilang seperti itu. Mama memikirkan hal yang tidak perlu. Coba deh Kak Adit yang interogasi Mama. Siapa tahu ni sesuatu yang membuat Mama jadi seperti ini", pinta Leah.
"Ya, kalau waktunya sudah pas", jawab Aditya.
Adity menatap Leah ada yang dia ingat, "Hei, ku dengar big-bos mu pergi ke Jepang?", tanya Aditya.
__ADS_1
"Oh~ Ya, berangkat tadi pagi", jawab Leah datar.
"Baguslah. Dengan begini kamu harusnya bisa lebih konsen pada ujianmu yang tinggal beberapa Minggu lagi", kata Aditya.
"Kalau nantinya kamu akan segera menikah setelah lulus, tapi setidaknya hiasilah ijazahmu dengan nilai yang terbaik", kata Aditya berharap.
"Kakak yakin sekali?", jawab Leah menghindar.
"Tahulah", jawab Aditya yakin. "Walaupun lamaran Roy belum resmi tapi Kakak tahu apa yang jadi keinginannya", kata Aditya sambil mengangkat tangan kiri Leah yang tersemat cincin berlian pemberian Roy.
"Roy sudah menunggumu sewaktu masih jadi piyak, kamu mau dia menunggu berapa lama lagi? Aku tidak bermaksud untuk segera mengusirmu. Tapi aku percaya pada Roy dan aku juga percaya, kamu bisa membantu usaha orang tua kita setelah menikah", ucap Aditya.
"Apa Kakak yakin aku tidak akan menyesal jika tidak mengambil studi lanjutan ke universitas?", tanya Leah.
"Tidak tahu. Tapi jika kamu mau mendedikasikan dirimu demi kebahagiaan Papa dan Mama itu ga sulit. Kalaupun kamu mau belajar lagi, Roy juga pasti akan mendukungmu", jawab Aditya.
"Semoga.. ", jawab Leah datar.
Leah menatap cincinnya, cincin yang diberikan oleh Roy saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas, tepatnya enam bulan yang lalu. Saat itu memang Roy sudah secara pribadi melamar Leah. Dan kedua orang tua Leah pun juga tahu akan hal itu. Tapi Leah sendiri belum pernah bertemu dengan keluarga Roy.
Setahu Leah, Roy memang sering menelpon. Tapi hampir tidak pernah bertemu, karena sebelumnya hubungan Roy dan Ayahnya tidak terlalu baik. Ayah Roy menginginkannya meneruskan bisnis keluarga. Tapi Roy punya cita-cita sendiri. Dia ingin membangun perusahaan periklanan dan media.
Beruntung Roy adalah si otak jenius dengan banyak relasi. Reputasi Roy memang terkenal kompeten dan profesional sejak dia menempuh studi di luar negeri. Usahanya yang dirintis dari nol itupun bisa maju pesat hingga sekarang.
"Kak Adit", panggil Leah.
"Kenapa?",
"Terima kasih karena sudah menjadi kakak yang baik untukku dan anak laki-laki kebanggaan Papa dan Mama", kata Leah sambil memeluk manja kakak kesayangannya itu.
"Hei, kau juga adalah adik yang sempurna untukku. Kau pasti tidak tahu betapa bahagianya aku ketika Mama bilang di perutnya ada bayi bidadari yang sedang tidur", Aditya menceritakan masa kecilnya.
"Dulu aku iri ketika paman dan bibi yang bekerja di resort kita membawa anak-anak mereka kemari saat bekerja. Mereka sering ikut orang tuanya kesini. Dan mereka otomatis jadi temanku kan. Semuanya kakak beradik, pikirku aku juga mau dipanggil kakak jika aku punya adik sendiri bukan adik orang lain", ucap Aditya.
"Jadi Kak Adit minta dibuatin adik?", tebak Leah.
"Ya. Secara tidak langsung begitu. Dulu Mama sempat keguguran waktu aku umur lima tahun. Tapi syukurlah tak lama setelah itu Mama hamil kamu", terang Aditya.
"Harusnya aku punya dua kakak dong", kata Leah tersenyum rindu yang tiba-tiba datang untuk kakaknya yang sudah bersemayam di tempat yang lebih indah.
"Ya. Kau benar. Kakakmu ada dua", gumam Aditya yang masih memeluk adiknya di taman yang menjadi tempat favorit mereka ketika kecil.
***
sampai jumpa di episode selanjutnya.
mohon like & coment-nya ya.
__ADS_1
terima kasih. ^^