
Selesai makan malam mereka ke ruang tengah, berkumpul di sana bermain PS 4. Sedangkan Leah hanya menonton mereka main. Dan Roy menyusul orang tuanya ke paviliun yang berada di bagian timur rumahnya.
Leah mulai bosan hanya menonton kedua pria yang ada di depannya, bermain game sambil berteriak-teriak keasyikan.
"Memang. Mau dewasa ataupun bocah, kalau sudah bermain game mereka sama saja," gumam Leah lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Leah berjalan menuju dapur mengambil segelas air putih lalu pergi ke kamarnya. Namun tiba-tiba dia berhenti setelah melihat sebuah ruangan yang cukup luas dengan piano klasik di tengahnya. Hal itu tentu saja menarik perhatian Leah.
Leah menengok ke sekitarnya, berharap ada pelayan atau siapapun agar ia bisa meminta ijin untuk memainkan piano tersebut. Namun sayang tak ada siapapun, dan Leah pun malas kembali ke ruang tengah.
"Hm? Kalau cuma menyentuhnya saja pasti boleh," gumam Leah.
Leah masuk ke ruangan itu dan menghampiri piano yang sudah terlihat tua namun masih sangat terawat. Jari-jarinya bergerak mengelilingi tiap inci bagian dari piano itu.
"Ugh! Aku benar-benar ingin sekali memainkan sebuah lagu bersamamu. Kau sangat indah. Kau adalah piano terindah yang pernah kutemui. Kuharap, sebelum aku pulang, aku bisa memainkan sebuah melody indah denganmu," ucap Leah sangat berharap.
Leah pun keluar dari ruangan itu. Dan segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
"Ya, Tuhan. Gaun dan setelan tuxedo Kak Adit belum aku siapkan," kata Leah panik.
Segera dia membuka tas khusus yang hanya berisikan pakaian untuk pesta besok. Leah agak lega karena tak ada bagian yang kusut setelah setengah jam ia memeriksanya. Sepatu mereka berdua pun aman.
"Terima kasih Tuhan," ucap Leah bersyukur.
"Baiklah, biarkan saja mereka menggantung seperti ini. Dan sekarang saatnya untuk tidur."
Leah pun naik ke atas ranjangnya, menarik selimutnya dan perlahan menutup matanya. Namun, satu jam ada seseorang mengetuk pintu kamarnya.
TOK TOK TOK !!
Leah kembali membuka matanya, dia melakukan hat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Dengan terhuyung dia berjalan mengambil selembar syal untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
"Ya. Sebentar!" seru Leah.
Leah membuka pintu kamarnya dan mendapati Roy yang berdiri di hadapannya sekarang.
"Kak Roy hobi sekali mengetuk pintu kamar orang lain di tengah malam begini. Seingatku ini sudah yang ketiga kalinya. Ada apa?" kata Leah dengan suara yang agak serak.
Roy meraih tangan kanan Leah dan memberikan sesuatu dari genggamannya, "Aku hanya ingin memberikan ini," kata Roy tersenyum. "Pakailah saat acara jamuan."
"Dan kembalilah tidur, selamat malam," ucap Roy lembut sambil membelai wajah kekasihnya yang seperti bidadari cantik saat bangun dari tidurnya.
"Umh, Oke. Terima kasih," Leah langsung menutup pintu kamarnya.
Leah terduduk di kasurnya, dia membuka genggaman tangannya. Melihat apa yang Roy berikan.
__ADS_1
"Ini apa?" tanya Leah tidak mengerti.
Benda itu rumit seperti benang kusut namun berbentuk logam, mungkin kalung. Setelah memperhatikannya, rupanya itu adalah sebuah kalung dengan liontin bersimbol infinity persis seperti cincin yang dia pakai di jari telunjuknya saat itu.
"Ini terlihat sangat cantik dan...mahal. Lihat, permatanya dimana-mana. Hm? Benda itu di mana ya? Harusnya ada di tas, ah ini dia," kata Leah yang merasa lega menemukan kotak kecil dari dalam tasnya.
Keesokan paginya, terdengar suara yang lumayan berisik. Mobil-mobil catering berdatangan. Bunga-bunga segar dalam vas diturunkan dari dalam truk. Semua yang dimasukkan ke dalam aula tak ada barang yang biasa. Semuanya kualitas terbaik.
Saat itu pukul tujuh malam, semua tamu undangan satu persatu mulai datang, tampak Riezel dan Sang Istri sudah berada di sana untuk menyambut mereka.
Roy merapikan jasnya, dia terlihat sangat tampan dengan setelan jas dan rompi warna kopi susu. Tubuh yang tegap dengan paras mempesona yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Tak kalah tampan dengan kakaknya, Jancent yang masih terlihat sangat muda diantara para pebisnis muda mengenakan setelan jas berwarna putih dengan dalaman hitamnya. Tentu bukan setelan jas biasa, namun jas anak muda yang bisa dipakai di acara informal maupun formal.
Sedangkan Aditya memakai model setelan jas berwarna hitam dengan motif kotak bewarna coklat muda.
Mereka bertiga sudah berkumpul menunggu Leah yang masih belum muncul dari kamarnya.
"Seharusnya kalian berada di sana. Aku akan menyusul kalian nanti begitu Leah selesai," ucap Aditya.
"Benar. Aku juga mengundang rekan bisnisku yang berada di Jepang. Pasti tidak sopan jika mereka sampai belum melihat Tuan Rumah yang mengundangnya," ucap Roy.
"Ya, lebih baik kita segera kesana, Kak. Biar Kak Adit dan Leah nanti menyusul," kata Joseph.
"Baiklah, sampai jumpa. Jangan lupa masuk lewat pintu bagian barat, ah tidak. Silvester!" seru Roy.
"Tolong antarkan tamu kita ke aula jika sudah siap. Aku mengandalkanmu," kata Roy menepuk bahu tua Silvester.
"Saya mengerti. Tuan Muda tidak perlu khawatir," jawab Silvester ramah.
Roy dan Joseph pergi menuju Aula Timur. Sedangkan Aditya masih menunggu adiknya yang belum juga keluar.
Tak sabar dan takut ada apa-apa, Aditya bergegas menghampiri Leah ke kamarnya.
TOK TOK TOK
"Bayi. Kau mau di situ sampai kapan? Segeralah keluar. Bersikaplah yang sopan dengan tidak terlambat," seru Aditya.
Sementara itu di Aula Timur.
Semua orang terhormat dan berkuasa datang ke perjamuan itu. Tak terkecuali Presdir Watanabe beserta putrinya, Sherry dan Hatori sekretarisnya.
Sheryy yang malam itu mengenakan long dress model mermaid terlihat berani dan sexy. Bagian atas tampak aksen bordir berwarna merah tanpa lengan dengan kerah yang menutup leher.
Sedangkan bagian bawah berbahan satin berwarna hitam polos pas body.
Hampir semua mata lelaki tertuju pada putri ke-dua Watanabe. Apalagi rambut gelapnya di biarkan tergerai dengan model curly sangat cocok dengan karakternya.
__ADS_1
"Selamat malam, Presdir Mannof. Sungguh anugerah yang sangat luar biasa dapat bertemu Anda pada malam hari ini," sapa Watanabe dengan tawa renyah menghiasi wajahnya.
Riezel pun tak kalah sumringah, "Anda juga terlihat luar biasa bersemangat ya, Presdir Watanabe. Sepertinya kita berdua dianugerahi Tuhan tubuh yang perkasa diusia yang sudah kepala lima ini ya, hahaha. Mari silakan, silakan."
"Apakah ini Putri Anda itu? Wah, Anda memiliki seorang Putri yang menawan," kata Keiko yang melihat Sherry yang berdiri di samping ayahnya.
"Aa, Anda terlalu memuji. Anda juga terlihat luar biasa cantik malam ini," kata Sherry.
Mereka banyak mengobrol, tentu saja Watanabe tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa mendekatkan putrinya dengan keluarga Mannof. Alih-alih mendapatkan kesan pertama yang baik. Dia yakin pasti bisa melangkah lagi lebih dekat dengan mudah.
Tak berapa lama Roy dan Joseph menghampiri kedua orang tuanya. Betapa senangnya hati Sherry bisa berjumpa dengan Pangeran Pujaan Hatinya.
"Oh, perkenalkan. Mereka adalah jagoan-jagoanku. Merekalah yang membantuku menangani proyek Fourth Heaven," kata Riezel bangga.
"Saya sudah banyak mendengar prestasi dari keduanya. Bahkan putra pertama Anda jauh-jauh datang dari Indonesia demi berbakti kepada orang tuanya," ucap Watanabe.
"Selamat malam, Presdir Alex," sapa Sherry kepada Roy dengan senyuman tulus penuh cinta.
(Jangan lupa nama Roy adalah Roy Alexander Mannof)
"Ya, Sherry. Senang melihatmu disini," jawab Roy.
"Oh, kalian saling mengenal?" tanya Keiko.
"Ya, dia salah satu Manajer di perusahaanku," jawab Roy.
"Kenapa dia memanggil Kakak, Alex?" tanya Joseph.
"Ya, itu nama yang kupakai di kantor. Yah, agar lebih mudah bersembunyi dari bayang-bayang keluarga Mannof," jelas Roy.
Riezel dan Joseph menyambut tamu yang lain. Dan Keiko pun bergabung bersama nyonya-nyonya besar. Sedangkan Sherry berdua bersama Roy mengobrol di meja bartender.
"Kapan kau akan kembali? Tidak mungkin kau mengerjakan semuanya dari jarak jauh terus begini," tanya Sherry.
"Kau tahu kan, kami sangat kesulitan saat ada kesalahan pada proyek dua minggu lalu," tambah Sherry.
"Hmm. Aku tahu. Aku berencana pulang dalam minggu ini. Karena ada kerjasama antara perusahaan kita dengan label artis ternama di Korea," jawab Roy.
Mendengar jawaban Roy tentu saja Sherry merasa senang, karena sosok yang tak ia dapati di kantor akan segera kembali.
Roy mulai gelisah karena Leah dan Aditya belum menyusulnya. Sherry yang melihat tingkah laku Roy merasa ada yang aneh pada pria itu yang terus-mrnerus melihat ke arah jam tangannya.
***
terima kasih kepada para pembaca yang sudah berkenan membaca karya saya.
jangan lupa like dan komentar kalian.
__ADS_1
sampai jumpa di episode selanjutnya ^_^