
Mobil melaju dengan cepat ke arah rumah sakit. Roy ingin segera melihat keadaan kedua orang tuanya. Memang selama ini keluarga mereka sangat sibuk, sangat sulit mengatur waktu untuk bertemu.
Di Rumah Sakit
Sesampainya di rumah sakit Roy mempercepat langkahnya. Seakan hatinya sudah tak sabar ingin segera bertemu kedua orang yang sangat dicintainya. Bergegas dia menuju ke lorong khusus ruang rawat inap keluarga mereka.
Sejenak dia berhenti tepat di depan pintu kamar di mana ayahnya dirawat.
Dia menghela nafas.
"CLICK"
Roy membuka pintu, dilihatnya seorang wanita cantik yang tertidur lelap karena kelelahan merawat suaminya yang masih terbaring di ranjang tak sadarkan diri. Roy mendekati sosok cantik itu, dan bersimpuh dikakinya seraya menciumi kedua tangannya.
Perlahan wanita itu membuka matanya, dan betapa terkejutnya dia, ketika melihat putra kesayangannya ada dihadapannya.
Senyuman merekah di bibirnya, disusul air mata yang jatuh tanpa mampu dikendalikan rasa haru dan bahagia meluap di dadanya.
"Anakku yang tampan. Ibu sangat merindukanmu. Ibu senang melihatmu ada di sini." kata ibunya sambil menyeka air matanya.
Wanita itu memeluk erat anaknya, seperti tak mau melepaskannya.
"Ibu, bagaimana keadaan Ayah?" tanya Roy.
"Ayahmu masih belum sadarkan diri. Ibu tidak habis pikir, bagaimana bisa bencana ini menimpa keluarga kita."
"Padahal selama ini Ayahmu sangat baik menopang kebutuhan seluruh keluarga Pamanmu."
"Sudahlah, Ibu. Jangan diungkit lagi. Yang terpenting sekarang ini adalah kesembuhan Ayah." kata Roy menenangkan ibundanya.
Roy melangkahkan kakinya menuju ranjang di mana ayahnya terbaring. Dia membungkukkan punggungnya, dan berbisik di telinga ayahnya.
"Ayah, tak perlu cemas. Semuanya akan baik-baik saja. Tugas Ayah setelah bangun nanti adalah membuat ibu tertawa sampai lupa caranya menangis." kata Roy bercanda pada ayahnya yang masih memejamkan matanya itu.
"Ibu, aku akan pergi ke kantor sekarang." kata Roy sambil memeluk ibunya. "Saatnya membereskan semua kekacauan ini. Ibu jangan lupa, makanlah yang teratur dan pergilah ke salon. Jangan sampai wajah ini kehilangan pesonanya saat Ayah bangun nanti" kata Roy.
"Terima kasih sudah menghibur ibu."
Roy bergegas keluar dari ruangan itu. Ben yang menunggunya di luar segera mengikuti atasannya.
"Pak Direktur, semua sudah siap. Rapat akan dimulai kurang dari satu jam." lapor Ben.
__ADS_1
"Ke kantor sekarang!" perintah Roy.
"Baik."
Roy langsung mempelajari berkas yang sudah disiapkan Ben di dalam mobil. Melihat atasannya yang belum istirahat setelah penerbangan Ben agak khawatir.
"Maaf Pak Direktur, ini tadi saya belikan kopi, karena dari tadi belum beristirahat saya kira ini bisa membantu Anda agar lebih santai." kata Ben sambil memberikan satu cup Americano.
"Terima kasih Ben. Sebaiknya kau juga minum. Karena hari ini akan sedikit berat." kata Roy sambil menyeruput kopinya.
"Ben, hubungi Helena! Aku butuh setelan kemeja yang baru." perintah Roy.
"Baik, Pak Direktur." jawab Ben yang langsung menghubungi Helena.
Perusahaan AOne adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan. Proyek yang ditangani selalu mendapat pengakuan yang istimewa. Dan banyak investor yang tertarik untuk bekerja sama karena keuntungan yang sudah pasti.
Seperti kata pepatah, roda kehidupan itu berputar. Kadang di bawah dan kadang di atas. Entah apa faktor penyebabnya, namun itulah siklus kehidupan.
Semua pemegang saham sudah hadir di ruang rapat. Semua orang bertanya-tanya, Joseph sudah di sini, tapi kenapa dia tidak duduk di kursi Presdir. Sebenarnya siapa yang akan duduk di kursi kosong itu.
Tak lama kemudian, masuklah seorang pria dengan aura yang lebih hebat daripada Presdir Riezel Mannof ke ruang rapat. Tak lain tak bukan dialah Roy Alexander Mannof.
Roy duduk di kursi kosong tersebut. Ruangan hening. Ada pandangan meremehkan, ada pula pandangan waspada.
"Mulai hari ini, beliau yang akan mengambil alih tugas Presdir termasuk dalam pembangunan dan pengembangan mega proyek Fourth Heaven" suara sekretaris Shin yang tegas memecahkan keheningan.
Semua orang terkejut mendengar ucapan sekretaris Shin.
"Kenapa orang ini? Bukankah ada Direktur Joseph?" kata salah seorang pemegang saham.
"Saya tahu, saya memiliki seorang adik yang cerdas dan kompeten diusianya yang masih muda. Tapi bukankah tidak masuk akal jika menyerahkan tanggung jawab sebesar ini pada bocah yang belum berpengalaman" ucap Roy menyeringai.
Semua tercengang, mereka lupa rupanya putra pertama Presdir yang hidup mandiri karena tak pernah terdengar kabarnya sama sekali telah kembali.
"Kalian tidak usah khawatir. Jika kalian takut kita kehilangan investor katakan saja pada mereka agar sebaiknya berpikir dua kali jika ingin mencabut investasi dari Fourth Heaven. Bila bersikeras, blacklist semua kerjasama antara kita dan mereka. Kita hanya akan bekerja sama dengan orang yang percaya pada kemampuan kita, AOne" jelas Roy.
"Aku sudah memberikan tugas yang baru pada Tim Perencanaan dan nanti siang kita akan lihat presentasi mereka. Jangan terkejut jika kita mengambil langkah ekstrim."
"Rapat selesai. Oh! Berikan aku ide yang bagus saat rapat setelah makan siang nanti" ucap Roy dengan tatapan penuh tekanan.
Roy berdiri dari tempat duduknya. Lalu pergi meninggalkan ruang rapat dikuti Ben. Sedangkan para pemegang saham masih terkejut dengan kemunculan Roy.
__ADS_1
Di sisi lain mereka lega dan di sisi lain mereka masih ragu pada kemampuan Roy.
"Sebaiknya Tuan-Tuan tenang. Karena Tuan Muda Roy sangat bisa diandalkan" ucap sekretaris Shin yang pergi setelah memberi hormat pada mereka.
Joseph sendiri masih kaget dengan kehadiran kakaknya, karena selama ini dia sudah lama tak bertemu dengannya. Dia pikir kakaknya memutuskan hubungan keluarga sehingga dirinya harus belajar mati-matian demi menjadi penerus keluarga. Dan sekarang tiba-tiba kakaknya bicara tentang hak.
Dia berdiri dari kursinya dan berlari mengejar Roy. Selama ini dia tidak tahu apa-apa, bahkan kedatangan Helena sebagai sekretarisnya pun sudah direncanakan oleh Roy.
Joseph mencarinya di ruang Presdir, benar saja. Roy tengah duduk di sana memeriksa setumpuk dokumen.
Dengan nafas yang terengah dan suara terbata-bata seakan ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam dadanya, dia bertanya pada kakaknya.
"Kenapa Kakak kembali? Kenapa Kakak membuatku memikul beban sebagai penerus? Kenapa Kakak seperti Kakak yang sudah mati bagiku?" Joseph terisak.
"KENAPA?!" teriaknya.
Tangis Joseph pecah. Roy tahu, Joseph terlalu muda untuk menerima tanggung jawab perusahaan. Bahkan usianya baru 19 tahun. Dua tahun lebih tua dari Leah.
Roy tahu Joseph sangat menyayanginya, begitu juga dia.
"Bagaimana bisa seorang pria menangis seperti ini?"
Roy bangun dari kursinya dan duduk bersandar pada meja. "Bahkan tinggimu hampir sama denganku."
Joseph hanya menangis seperti bocah. Kerinduan yang mendalam pada kakaknya itu sampai pada tempatnya.
"Rapikan pakaianmu. Model kemeja apa ini? Setidaknya pakailah pakaian yang pas, bukan kebesaran seperti ini. Dan makanlah yang banyak. Tsk. Apa yang kau makan sampai badanmu kurus seperti ini?" kata Roy sambil merapikan pakaian Joseph.
"Memangnya aku begini karena siapa?" teriak Joseph.
Roy menghela nafas, "Baiklah, baiklah. Nanti kita bicara di rumah. Sekarang persiapkan dirimu untuk rapat nanti."
Tak ada keraguan dalam kata keluarga, baik itu Roy maupun Leah. Keluarga berarti satu. Satu keutuhan.
***
sampai jumpa di episode selanjutnya.
mohon like, coment & subscribe-nya.
terima kasih. ^^
__ADS_1