
Satu Minggu sudah berlalu, serba serbi untuk acara janji suci yang dinanti sudah semakin dekat hampir selesai.
Dan di Minggu ini adalah saatnya bagi dua mempelai untuk menjalani masa pingitan. Dimana keduanya tidak boleh bertemu. Beruntung di zaman sekarang sudah ada ponsel, internet dan telepon.
Dan ini sudah hari yang ketiga. Itu berarti pernikahan tinggal tiga hari lagi. Bahkan fiting baju pengantin pun dilakukan secara terpisah.
Coba bayangkan di zaman dahulu yang masih minim alat komunikasi, paling paling mereka akan bertukar surat cinta, kan? Tapi justru disitulah hal yang lebih istimewa.
Karena bisa disimpan dan dijadikan kenangan. Berbeda dengan pesan singkat atau yang lainnya. Itu akan menghilang jika terhapus karena data yang penuh dan tak berbentuk fisik yang bisa dipegang.
Bayangkan ketika masa itu yang rindu menjadi sangat berat maka perasaan ego yang lain akan muncul. Disitulah biasanya terjadi konflik batin bagi kedua mempelai.
Bahkan mungkin salah satu dari mereka tiba-tiba berpikir "aku tidak mau menikah" atau "apa dia benar jodohku?".
Perasaan seperti itu mampu membuat kabut di dalam hati. Membuat ragu. Membuat bimbang.
Namun, jika jodohmu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa maka hatimu akan tetap kokoh dan hanya kepada-Nya-lah kau akan memohon petunjuk atas apa yang kau ragukan sekecil apapun itu.
Leah tersenyum memandang album foto kenangan masa prom-nya. Dia tak menyangka masa SMA-nya sudah berlalu. Rasanya begitu cepat.
"Lihat! Ini foto yang diambil saat John menyatakan perasaannya pada Gaby. Fotografer sangat jeli menangkap momen-momen yang berharga bagi kami", gumam Leah tersenyum mengenangnya.
"Dan ini foto kami semua bersama wali kelas kesayangan, Bu Grace. Semoga Beliau selalu diberikan kesehatan".
Leah yang larut dalam ingatan tentang masa prom-nya beberapa Minggu yang lalu merasa rindu.
TOK TOK! Suara ketukan pada pintu membuat Leah berpaling dari album yang sejak tadi dilihatnya.
"Leah, Papa masuk ya?" seru Abimana.
"Ya, Pa. Masuk saja?" sahut Leah.
Ayahnya masuk, tampak tangan kanannya memegang tart kecil dengan potongan dan taburan keju yang pastinya sangat enak.
"Woah", Leah yang melihatnya langsung menutup dan meletakkan album foto perpisahan di sampingnya.
"Pas banget Papa bawa kue, buat Leah kan?" kata Leah tersenyum senang.
Abimana menyengir mengiyakan perkataan putrinya.
"Ini Papa bawakan sendoknya. Habiskan! Akhir-akhir ini Papa sibuk mengurus resort kita jadi Papa tidak tahu kau itu makan dengan benar atau tidak", ucap Abimana yang membuat Leah berhenti mengunyah kue yang ada di mulutnya.
"Mama bilang kau makan sedikit dan sering melamun. Kau juga tak banyak bicara".
__ADS_1
"Huh", Abimana menghela nafas.
"Jangan seperti ini. Kami diam bukan berarti kami tak melihat dan tak tahu. Tingkahmu ini bahkan membuat Kakakmu khawatir, apalagi Papa dan Mama", ucap Abimana bijaksana.
Mata Leah melihat ke arah ayahnya. Ia meletakkan sendoknya dan mendekat ke arah ayahnya lalu memeluknya.
Mungkin Abimana tahu kegelisahan putri semata wayangnya. Namun ini sudah pilihan yang Leah buat jauh di masa lalu. Dan kedua orang tuanya tentu mendukung selama itu adalah hal yang baik.
Tangis Leah pecah di pelukan ayahnya. Mungkin gadis kecilnya sedang mengalami syndrom pra-menikah.
Abimana menenangkannya, mengelus rambut panjang nan indah yang selalu dipujinya sedari putrinya masih kecil. Putri kecilnya yang manja namun mandiri, berani dan cerdas.
"Tak mengapa bila kau menikah lebih cepat dari temanmu yang lainnya. Dari Kakakmu sendiri. Bila kau bahagia mau besok atau besoknya lagi kami juga akan sama bahagianya", ucap ayah beranak dua itu menenangkan hati gundah sang putri.
"Makanlah yang benar. Karena tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Semuanya pasti dan akan baik-baik saja".
"Memang ada perbedaan, tapi hanya perbedaan status dan kewajibanmu yang baru sebagi istri, menantu dan anak yang telah menikah".
Abimana mencium kepala anak gadisnya, memeluknya. Memberikan dukungan dan memantapkan hatinya yang sedikit goyah.
"Habiskan! Papa harus kembali ke resort", ucap Abimana.
Leah menyeka air matanya dan mengangguk dengan senyum lega.
"Papa dan Kak Adit sampai kewalahan. Mau tidak mau harus ada manajer baru. Untung ada seseorang kompeten yang melamar. Pas sekali, kan?"
"Ya, Pa. Terima kasih banyak. Papa memang yang terhebat. I love you", ucap Leah memeluk Sang Ayah.
"Leah janji akan berhenti seperti ini. Leah sudah melakukan hal konyol yang tidak perlu".
Abimana melangkah keluar, dan Leah menatap keluar jendela kamarnya. Memandang halaman rumahnya yang menjadi sangat indah.
"Benar".
"Tidak ada yang harus aku khawatirkan. Aku tahu perasaan Kak Roy seperti apa, dan aku juga tahu dan paham kebahagiaan Papa dan Mama untukku yang akan menikah. Itu pasti karena Papa dan Mama percaya pada Kak Roy".
"Eleah Ayu Aryasatya, kau sangat jahat karena membuat orang tuamu khawatir".
"Bersikaplah selayaknya Putri dari Abimana Aryasatya. Kau berani dan kuat".
Leah mulai menyadarkan dirinya. Dia menyadari sudah berkali-kali ia ragu akan ikatannya bersama Sang Kekasih.
"Aku hanya menikah muda. Aku hanya menikah lebih cepat dibanding yang lain. Tidak ada yang salah dengan itu".
__ADS_1
"SADARKAN DIRIMU!"
"NIKMAT TUHANMU YANG MANA LAGI YANG KAU DUSTAKAN!!!"
"Hh. Ya Tuhan. Maafkanlah atas segala keraguanku. Sesungguhnya hanya Engkau yang tahu apa-apa yang ada di depan dan apa-apa yang ada di belakangku. Karena itu jadikanlah hamba golongan orang-orang yang akan selalu mendapatkan petunjuk dari-Mu, Amin".
"Roy Alexander Mannof".
"Sopan?"
"Ya".
"Baik?"
"Ya".
"Kaya?"
"Ya".
"Tampan?"
"Hiks, sangat", ucap Leah menutupkan kedua telapak tangannya ke wajah.
"Dan se-iman".
"Untuk gadis biasa yang baru lulus SMA saja aku benar-benar beruntung".
Leah tersenyum, rasa bahagianya menghapus semua kegelisahan dan kegundahan yang mengganggunya selama ini.
Kemudian dia mengambil secarik kertas dan menuliskan surat cinta untuk calon suaminya sendiri.
"Untuk Suamiku
Mencintaimu adalah hal terbaik yang pernah aku lakukan. Apapun yang kamu lakukan selalu membuatku nyaman, aman dan bahagia. Aku adalah gadis beruntung yang kau pilih untuk menemani hari-harimu. Aku adalah gadis yang paling bahagia karena bisa berdiri di sampingmu, sebagai pengantinmu.
Aku sangat mencintaimu"
Leah tersenyum, dia mengoleskan parfum pada kertas itu. Mengambil sebuah amplop besar lalu menggambarkan bunga mawar yang indah lalu mewarnainya dengan banyak warna yang cantik.
"Aku berharap kita bisa menjadi keluarga yang hangat dan bahagia bersama anak-anak kita", ucap Leah penuh harap sambil memasukkan kertas surat itu ke dalam amplop lalu menyelipkannya di sela novel yang mempertemukannya dengan Sang Kekasih.
🖤🖤
__ADS_1