
Subuh datang. Namun sosok dibalik selimut itu masih lengket dengan selimut dan kasurnya. Sesekali tubuhnya bergerak membenarkan selimut yang tersibak dan memperlihatkan kaki halus panjang dengan jari-jarinya yang indah.
Suara adzan terdengar, seperti biasa hal yang dilakukan oleh umat muslim gadis itu segera menyingkap selimutnya dan bangun. Berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu.
Setelah memakai mukenanya, ia keluar kamar. Ia berjalan melewati beberapa ruangan. Setelah sampai di ruangan tanpa pintu, ia pun masuk dan melihat ayah dan kakak laki-lakinya sudah bersiap.
Ia mengambil barisan di belakang. Tak perlu menunggu ibunya karena sedang berhalangan. Dan mereka pun mulai beribadah sebagai mana mestinya.
Seusai itu Leah, ayah dan kakaknya kembali ke kamarnya masing-masing. Karena hari ini adalah hari yang besar bagi mereka, terutama Leah.
Leah masuk ke kamarnya, melepas mukenanya dan menyampirkannya di tempat biasa. Lalu segera ia mengibaskan selimut serta merapikan tempat tidurnya.
Tak lama setelah itu air mandi ia nyalakan. Leah memutuskan mandi agak lama, sambil berendam ia memenangkan pikirannya. Rasa bahagia dan agak gugup bercampur aduk di dadanya.
TOK TOK!
"Sayang, periasnya sudah perjalanan kemari. Segera selesaikan mandinya!" seru Ayumi dari pintu kamar Leah.
"Ya, Ma!" sahut Leah.
Leah segera bangun dari bath up, mengambil handuk dan mengeringkan tubuh dan rambutnya.
Beberapa tetes ia mengoleskan wewangian ke tubuhnya. Pelembab wajah yang ia oleskan ke wajah mulusnya serta tak lupa pelembab bibir yang sering ia pakai.
Jari-jari tangannya membelah helai-helai rambutnya yang masih setengah basah.
Leah menatap dirinya dicermin. Dilihatnya kedua pipi yang agak gembul daripada sebelumnya, bahu yang tak begitu menampilkan tulang selangkanya serta dadanya yang lebih menjumbul.
"Ya Tuhan. Beratku terus naik gara-gara sudah tidak sekolah. Padahal baru sebulan", ucapnya.
Leah bangun dari meja riasnya lalu memakai pakaian dalam lalu dibalut dengan kimono warna peach.
Sebelum itu penting bagi seorang mempelai sarapan pagi sebelum acara dimulai. Ayumi datang lagi ke kamar Leah dengan membawa nampan yang berisi sepiring makanan dan segelas air putih.
"Minumnya air putih saja, Ma?" tanya Leah.
"Ya. Kau kan nanti memakai kebaya saat akad, jadi lebih baik air putih supaya tidak bolak-balik ke kamar mandi", jawab Ayumi yang sudah berpengalaman.
"Wah, repot ya, Ma", sahut Leah.
"Tidak juga. Ayo Mama suapi", kata Ayumi sambil mengambil sesendok makanan lalu menyuapkannya pada putrinya yang akan segera menikah itu.
"Apa dulu nenek juga seperti ini?" tanya Leah.
"Tidak. Beliau meletakkan makanannya di kamar saja karena Beliau sangat sibuk. Tapi karena Mama agak gugup, Mama tidak bisa makan dengan benar. Dulu di jaman Mama, mempelai harus berdiri seharian sekarang pun masih", kata ibunya yang terus menyuapinya nasi.
"Tapi kan ini tamu undangannya kan hanya keluarga dan tetangga dekat saja jadi tidak terlalu lama. Malamnya kan kita makan malam dengan keluarga besar dua keluarga, jadi kau bisa ganti dengan gaun" jelas Ayumi.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, Leah segera menyelesaikan sarapannya.
"Ayo segera habiskan. Lalu pergi ke kamar tamu yang di atas karena sebentar lagi periasnya datang", ucap ibunya.
Leah mengangguk sambil terus makan, entah mengapa pagi itu ia sangat lapar.
Setelah sarapan selesai Ayumi meninggalkan Leah karena masih banyak pekerjaan, termasuk merias dirinya sendiri.
Leah mengambil ponselnya lalu bergegas ke menuju ke kamar tamu guna merias dirinya karena seseorang telah menunggunya di sana.
KLEK! Leah membuka pintu kamar tamu tampak seorang wanita tiga puluh tahunan sedang duduk menunggu sambil menyiapkan alat riasnya.
"Hei, Cantik! Sudah siap untuk hari ini", sapanya ramah.
Leah tersenyum mengangguk lalu masuk ke ruangan tersebut dan duduk di sebuah kursi.
"Tolong bantuannya ya, Kak", ucap Leah.
Wanita itu tersenyum gembira seolah-olah hari itu juga hari bahagianya.
"Tentu, dong! Kak Ica akan lakukan yang terbaik, (melihat kulit wajah Leah dan memegangnya). "Wah, kulit kamu bagus banget, Cantik!" katanya.
"Kakak bisa saja. Mungkin karena masih umur belasan. Haha", kata Leah.
"Wah, iya. Kau adalah mempelai wanita termuda yang pernah Kak Ica pegang. Tujuh belas tahun, ya?", tanya perias itu.
"Ya. Tapi dua bulan lagi sudah delapan belas tahun kok", jawab Leah yang rambutnya sedang disibakkan oleh perias itu.
"Ya. Yang flawless ya, Kak. Sesuai umur aku. Biar tidak terlalu glamour" pinta Leah.
"Siap".
Tak berapa lama kemudian datanglah seorang wanita satu lagi yang merupakan asisten dari perias itu. Dengan sigap ia langsung mengambil alat untuk menata rambut Leah.
Rambut Leah yang masih belum kering segera dikeringkan dengan hair dryer, lalu sedikit di blow agar mudah dirapikan karena rambutnya lumayan panjang.
Setelah itu bedak mulai dioles di bagian wajah sana-sini. Kelopak mata yang diberi sentuhan warna emas dan oranye agar tampak segar.
Drrt Drrt.
Ponsel Leah bergetar. Sebuah pesan dari Kak Roy.
"Aku agak sedikit gugup. Doakan aku agar ijab kabulnya berjalan lancar. I love you", begitu katanya.
Tak lama kemudian jari-jarinya bergerak mengetik beberapa kalimat untuk menenangkan kegelisahan calon suaminya itu. Menurut yang ia tahu memang mempelai pria akan gugup menjelang akad nikah. Namun kebanyakan dari mereka tetap berhasil melakukannya dengan baik.
Suasana di kamar tamu yang berubah menjadi kamar rias itu terasa hangat dengan obrolan-obrolan mereka bertiga. Kedua perias itu memberi wejangan kepada Leah agar tidak gugup saat sang mempelai pria bersiap melafalkan kalimat suci.
__ADS_1
Mereka menyarankan agar Leah tetap fokus dan terus berdoa dalam hati agar semua bisa berjalan dengan lancar.
"Wah, kau cantik sekali. Lihat deh Kak Ica!" seru asisten rias setelah selesai memakaikan baju kebaya pada Leah.
Jarik coklat yang indah sangat kontras dengan kebaya putih yang modern nan apik. Ditambah lagi dengan hiasan mahkota ala Sunda tambah mempercantik riasan di wajah Leah.
"Wah, benar. Ayo kita ambil foto selfie dulu!", teriak mereka kegirangan.
Kini Leah sudah siap. Dan tetap menunggu di kamar rias sampai ijab kabulnya selesai dijalankan. Setelah itu baru Leah keluar dari kamar bersama Sang Mama menuju tempat akad yang dilakukan di area ruang tengah.
Sementara itu Roy yang baru saja sampai ke kediaman Aryasatya segera turun dari mobil bersama rombongan besan lalu masuk ke dalam.
Tampak senyum sumringah ayah Leah yang sudah siap menyambut kedatangan mereka membuat rasa gugup Roy bercampur dengan rasa bahagia.
"Ini dia yang ditunggu-tunggu sudah datang. Monggo, monggo. Silakan masuk!" kaya Abimana menyalami semua tamu besannya bersama Sang Putra, Aditya.
Semua sudah duduk. Dan posisi Roy juga sudah ada di depan calon ayah mertuanya dan Pak Penghulu. Di samping kanan kirinya ada Aditya, ayahnya dan adiknya.
Namun jantung Roy berdegup kencang dan nafasnya tak beraturan. Bukan Pak Penghulu kalau tidak mengetahui akan hal itu.
"Tenang, Nak Roy. Atur nafas dulu. Pelan-pelan tarik nafas panjang lalu keluarkan", begitu katanya mengarahkan.
"Gugup itu wajar, karena sebentar lagi Nak Roy kan mau mengucap janji suci kepada Allah SWT yang tidak hanya disaksikan oleh kita semua namun juga disaksikan oleh para malaikat-malaikat", ucap beliau.
Sedikit guyonan mencairkan suasana itu. Terdengar gelak tawa dari beberapa orang. Leah yang berada di kamar rias pengantin pun mampu mendengarkannya dengan sangat jelas.
Lalu tibalah suasana khidmat saat ijab kabul akan benar-benar dilaksanakan. Abimana menjabat tangan calon mantunya di hadapan semua orang dan Roy pun dengan yakin menjabat tangan calon ayah mertuanya.
"Bismillahirrahmanirrahim.
Saudara Roy Alexander Mannof, Saya Nikahkan Engkau Dengan Putri Kandungku Eleah Ayu Aryasatya Binti Abimana Aryasatya Dengan Mas Kawin Sebuah Piano Orkestra dan Emas Seberat Tiga Puluh Satu Gram Serta Cincin Berlian Tiga Puluh Satu Krat Dibayar Tunai!"
"Saya Terima Nikahnya Eleah Ayu Aryasatya Binti Abimana Aryasatya Dengan Mas Kawin Tersebut Dibayar Tunai!"
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah".
Hari itu, Jumat tiga puluh satu Juli, Roy sudah sah mempersunting Leah sebagai seorang istri.
*
**
***
__ADS_1
Maaf ya teman-teman karena sudah lama tidak update. Dikarenakan sibuk bekerja dan tangan yang sering kebas jadi saya sering bolos. 🙏🙏
Dan terima kasih atas dukungan kalian selama ini.❤️ Semoga saya tetap bisa melanjutkan karya ini dengan baik.