
Begitu sampai di bandara Internasional Narita mereka bergegas mengurus apa yang memang harus diurus.
Leah merasa hari demi hari berlalu begitu cepat. Apalagi sewaktu di tempat yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.
Tiga hari dua malam, mungkin perkenalan ini belum setengahnya atau bahkan seperempatnya. Lain kali pasti dia dan suaminya akan kembali kemari setelah menikah.
Angan Leah terbang tinggi setinggi pesawat yang mereka tumpangi saat ini. Namun setinggi apapun pesawat yang terbang pastinya dia akan mendarat tepat pada waktu dan tempat seharusnya.
Leah menyandarkan kepalanya, bersantai menikmati perjalanan pulang ke rumah dimana orang tuanya berada.
Nafasnya yang teratur menandakan tak ada kegelisahan sama sekali. Telapak tangannya pun tak sedingin saat penerbangan pertamanya ke Jepang. Suasana yang sunyi dan terpaan angin dari AC membuatnya semakin mengantuk.
Roy masih sibuk bekerja lewat laptopnya, sedangkan Aditya tertidur pulas di sebelahnya.
Leah mengambil ponsel miliknya lalu menancapakan earphone miliknya dan memutar playlist lagu-lagu klasik favoritnya.
Sejenak dia membenarkan posisi duduknya sebelum dia menyandarkan punggungnya ke kursi pesawat lalu mulai menutup matanya.
Batu saja terpejam, Leah merasa ada seseorang yang mencolek pipinya kirinya. Merasa terganggu Leah pun membuka matanya. Dan dia dikagetkan oleh sosok gadis kecil yang sedang bersandar di kursinya memandanginya seolah-olah dia merasa takjub.
"Oh? Hai. Kenapa kau tak duduk di kursimu? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Leah menggunakan bahasa Indonesia.
Anak gadis itu menggeleng dan hanya tersenyum senang melihatnya. Dilihat-lihat dia berusia kurang dari tujuh tahun.
"Kau mau coklat? Aku punya beberapa kalau mau", kata Leah memeriksa tasnya lalu mengambil beberapa buah coklat.
"Untukmu, makanlah! Ini sangat enak, Aku sangat suka coklat ini", papar Leah.
Gadis itu tersenyum senang, "Woah, asyik. Coklatnya banyak", terdengar juga suaranya.
"Terima kasih", ucap gadis itu.
"Sama-sama. Si-".
Pertanyaan Leah terhenti karena ada seseorang yang memanggil gadis itu.
"Sora! Sora!", seru seorang ibu-ibu muda.
"Hah? Gawat. Aku harus pergi", pekik gadis itu berekspresi lucu.
"Cup!", gadis itu mengecup pipi Leah sebelum pergi. Dia tersenyum lalu menghampiri seorang wanita yang mungkin adalah ibunya itu.
"Anak yang berani", gumam Leah sambil melihat ke arah belakang kursinya.
__ADS_1
Leah kembali memasang earphone di telinganya, namun terhenti saat ada seorang pramugari cantik menawarkannya beberapa jenis minuman dan makanan.
"Selamat siang! Kakak mau minum apa? Ada kopi, jus mangga dan soda. Kami juga punya beberapa makanan, ada salad kentang, lasagna dan kue muffin yang enak", kata pramugari itu menawarkan dengan ramah.
"Terima kasih. Berikan jus mangga dan salad kentangnya", jawab Leah yang juga memesankan untuk kakaknya.
Leah melihat ke arah Roy yang masih sibuk bekerja dari pesawat, "Um, tolong berikan segelas jus mangga dan muffin kepada pria berkemeja biru tua di sana", kata Leah sambil menunjuk ke arah Roy.
"Baik", jawab pramugari tersebut sambil memberikan pesanan Leah.
"Selamat menikmati", sapanya ramah.
"Ya, terima kasih".
Leah mulai menyantap salad kentang kegemarannya.
Dari arah kursinya Roy melihat ke arah Leah sambil minum jus mangga mengisyaratkan bahwa dia berterima kasih.
Leah mengangguk dan tersenyum, lalu melanjutkan menyantap makanannya.
Beberapa waktu berlalu, pesawat mereka sudah sampai di bandara tanah air.
Rupanya di sana Sekretaris Ben sudah menanti mereka bersama seorang supir.
Aditya yang selama perjalanannya tertidur menguap berkali-kali dan meregangkan otot-ototnya.sepanjang perjalanan keluar menuju tempat penjemputan.
"Ahh! Badanku rasanya seperti habis ditindih. Pegal semua", kata Aditya yang masih meregangkan badannya.
"Nanti pijit mbok Darmi sesampainya di rumah. Bentar, aku pesan dulu ke Mama biar cepat", kata Leah yang sibuk mengetik pesan untuk ibunya.
Aditya masuk ke dalam mobil setelah memasukkan beberapa barang ke bagasi yang dibantu oleh Pak Supir.
Roy masih menunggu Leah di samping pintu mobil.
"Ayo masuk, Sayang", kata Roy.
"Ah, ya".
Kediaman keluarga Aryasatya.
Setelah menempuh perjalanan mobil hampir satu jam, tibalah mereka di kampung halaman Leah.
Ketika mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang, Leah merasakan ada yang berbeda.
__ADS_1
Bagaimana tidak, hanya dalam waktu tiga hari selama mereka di Jepang rupanya orang tua Leah mendekorasi ulang taman maupun rumah. Bahkan catnya pun yang berwarna putih abu-abu berganti menjadi krem dan kuning emas.
"Kak Roy tidak mampir dulu?" tanya Leah.
"Aku harus ke kantor dulu, lain kali aku berkunjung. Yok, Dit", Roy berpamitan.
"Ok. Terima kasih ya" sahut Aditya.
Leah melongo begitu dia masuk ke halaman. Memandang wajah kakaknya, seolah juga menanti reaksi kaget kakaknya. Namun Aditya biasa saja menanggapi perubahan yang terjadi di rumah mereka.
"Ini benar rumah kita. Ayo masuk", kata Aditya.
"Woah", Leah yang terus bergumam karena takjub.
Taman dengan hiasan bunga dan daun warna warni. Pancuran air yang baru. Cotage. Pagar tanaman yang di gunting khusus.
"Leah!", terdengar jeritan entah dari mana, namun Leah merasa familiar dengan suara itu.
Dari arah samping Gaby berlari menghampirinya dan langsung menubruknya sehingga membuat Leah hampir terjatuh. Untung saja Aditya yang berdiri di samping langsung memeganginya.
"Hei, jangan sembrono. Kalau adikku sampai kenapa-kenapa awas ya", tegur Aditya pada Gaby.
"Maaf, maaf. Galak sekali sih Kakak mu?" gerutu Gaby yang cemberut.
"Sedang apa di sini?" tanya Leah.
Tiba-tiba muncul Ayumi, "Mama yang minta Gaby kesini untuk membantu. Dia bantu Mama pilih barang-barang yang sesuai seleramu. Karena kalau menunggumu pulang takutnya waktunya tidak cukup", papar Ayumi.
"Tidak menyangka beberapa Minggu lagi sahabatku ini bakal menikah", goda Gaby.
"Ya, nanti kalau kau juga sudah siap menikah segera menyusul ya..." ganti Leah yang menggoda Gaby.
"Yee. Masih mau kerja dulu. Mapan dulu. Kalau dapat jodoh yang kaya raya kan tidak usah menunggu, sepertimu. Langsung cus", kata Gaby sambil tertawa.
Mereka masuk ke rumah dengan barang bawaan mereka yang tak banyak.
"Papa mana, Ma?" tanya Leah.
"Papa masih di resort. Penginapan kita sangat ramai. Semua kamar terisi penuh sampai bulan depan. Jadi Papamu sangatlah sibuk selama kalian di Jepang", kata Ayumi.
"Kalau begitu Aditya langsung ke sana setelah beres-beres dulu", kata Aditya yang langsung masuk ke kamarnya.
"Mana oleh-olehnya?" tanya Gaby to the point.
__ADS_1
"Masih di jalan. Karena terlalu banyak jadi kami kirim lewat paket kemari", jawab Leah.
"Oh ya, Ma. Aku beli beberapa gordin khas Jepang, motifnya sangat bagus, nanti kita pasang di setiap kamar di resort. Motifnya sesuai dengan warna cat ya", kata Leah bersemangat.