
"Iya Nyonya, ada apa? Saya sedang sibuk sekarang lebih baik Nyonya kembali ke kamar dan menonton televisi saia. " Saran bi Karsih.
###
Alisa menggeleng.
"Bi Karsih, itu sepreinya biar Alisa aja yang jemurin yah. " Pinta gadis itu, hitung-hitung sebagai pengobat rasa malu dan rasa terima kasihnya pada bi Karsih karena sudah mencucikan bekas noda darah Alisa tadi malam.
Bi Karsih menggeleng dengan cepat perempuan setengah baya itu keluar rumah menggunakan pintu samping dan berjalan dengan cepat ke halaman belakang.
Cuaca di luar sana cukup cerah.
Alisa juga terus mengikuti pembantu rumah tangga tersebut.
Hingga sampailah mereka di halaman belakang rumah tuan Cipto.
Halamannya bahkan sangat luas, ada banyak tanaman yang nampak di rawat dengan sangat baik.
"Bi Karsih aku bantuin yah. " Ujar Alisa saat melihat Bi Karsih mulai menjemur seprai.
__ADS_1
Namun dengan cepat Bi Karsih menepis tangan Alisa, tidak membiarkan gadis itu untuk membantunya.
"Tidak boleh nyonya, tuan Cipto bisa marah besar kalau tau nyonya melakukan pekerjaan berat seperti ini. " Jelas Bi Karsih.
Alisa sontak mengangkat sebelah alisnya.
"Pekerjaan berat apanya bi? orang cuman jemur seprai kayak gini doang, beberapa hari yang lalu bahkan saya ngangkat beras 20 kilo gram loh bi, seprai doang mah kecil. " Ujar Alisa dengan percaya diri.
Pekerjaannya sebagai penjual jilbab memang sesekali mengharuskannya mengangkat beban berat, mengingat bosnya hanyalah seorang perempuan yang suaminya sangat jarang pulang. Sehingga Alisa yang berhati baik itu sekali-kali akan menawarkan bantuannya.
Salah satu contohnya mengangkat beras 20 kilo gram itu.
"Sssttt." Bi Karsih meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Tapikan bi, tuan Cipto lagi nggak ada di rumah mana mungkin dia bisa dengar. " Balas Alisa, merasa heran sekaligus takjub dengan kepatuhan bi Karsih pada tuan Cipto.
"Tetap saja nyonya." Ujar bi Karsih lagi.
Bahkan saat laki-laki itupun tidak ada bi Karsih masih mematauhi dan mengingat segala ucapan tuan Cipto. Nampaknya Bi Karsih adalah satu-satunya orang yang mampu bertahan cukup lama di tempat ini.
__ADS_1
Bi Karsih kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Alisa seorang diri di halaman belakang rumah mewah tersebut.
Ia kemudian berjalan mendekati sebuah ayunan kayu yang nampak usang, ingatannya kembali pada dua hari yang lalu saat menemukan album di dalam lemari nyonya Berlian.
Alisa ingat betul ayunan itu adalah ayunan yang sama persis di dalam poto seorang anak laki-laki kecil yang sedang tersenyum ke arah kamera sambil duduk di atas ayunan usang itu.
"Kemana yah anak-anak tuan Cipto itu?. " Gumam Alisa, semakin lama berada di rumah mewah itu semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan baru di dalam pikirannya.
Kemana istri-istri tuan Cipto sebelumnya? Anak tuan Cipto yang masih hidup kenapa tidak datang di acara pernikahannya? Apakah tuan Cipto memiliki anak lain? Dan masih ada banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Hingga saat tanpa sadar Alisa berjalan mengelilingi halaman belakang itu, pandangannya kembali teralihkan pada sebuah pintu yang sepertinya terhubung dengan sebuah ruangan atau halaman lain di balik pintu.
"Pintu apa itu?. " Gumam Alisa.
Karena penasaran Alisa mencoba berjalan mendekatinya, untuk memastikan sesuatu yang berada di balik pintu tersebut.
"Jangan-jangan di sana ada manusia-manusia yang sengaja di kumpulin buat di jual lagi. " Pikiran Alisa mulai liar mengingat ketiga istri dan anak-anak tuan Cipto sama sekali tidak pernah Alisa lihat ataupun mendengar tuan Cipto membahas mereka lebih jauh.
Langkah demi langkah Alea lalui, hingga akhirnya gadis itu sudah sampai di depan pintu yang membuatnya penasaran tersebut.
__ADS_1
Alisa kemudian mengangkat tangannya lalu dengan perlahan gadis itu menggapai pegangan pintu lalu memutarnya.
Bersambung...