Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)

Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)
Bagian 41 : Ratih Akting


__ADS_3

"Alisa, aku akan membantumu. "Ujar Agus pelan. Laki-laki itu membelokkan mobilnya ke arah kantor temoat tuan Cipto menjalankan bisnis kotornya itu.


###


Agus memeriksa berkas-berkas yang ada di ruang kerja tuan Cipto dengan seksama, ia bahkan sampai lupa waktu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Agus hanya mendapatkan berkas-bsrkas perjanjian hutang piutang dari pedagang-pedangang kecil yang ada di pasar.


"Apa jangan-jangan surat perjanjian itu benar-benar ada di dalam kamar ayah?. " Gumam Agus, hampir putus asa.


Akan tetapi karena niatnya membantu Alisa untuk segera pergi menjauh dari kehiduoanntuan Cipto membuat Agus melupakan rasa lelahnya.


"Tidak ada disini sudah pasti surat tersebut ada di kamar ayah!. " Seru Agus untuk yang kesekian kalinya.


Semua lemari di dalam ruangan itu telah di obrak abrik, tapi Agus tidak menemukan apapun.


Ia kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke rumah tuan Cipto dan memikirkan langkah selanjutnya keesokan hari.


###


Rumah tuan Cipto.

__ADS_1


Alisa terlihat masih melakukan aktivitas layaknya pembantu rumah tangga di rumah tersebut padahal Ratih, keponakan dari bi Kasih yang harusnya melakukan pekerjaan rumah tangga, bukannya Alisa.


Akan tetapi karena tuan Cipto tidak mengingat jika Alisa sudah menjadi istrinya dan justru menganggapnya sebagai pembantu, mau tidak mau Alisa harus melakukan pekerjaan tersebut.


Ratih nampak tersenyum kegirangan, tatapan matanya menatap remeh ke arah Alisa yang saat ini sedang mengelap piring-piring dan gelas kaca yang baru selesai di cucinya.


"Makanya jadi orang jangan kegeeran, tuan Cipto itu juga bukan orang bego. " Cibir Ratih.


Alisa menghentikan aktivitasnya dan menatap Ratih dengan ekspresi kebingungan.


"Maksud mbak Ratih apa yah?. "


"Kamu nggak ngerti juga? Tuan Cipto itu cuman mau ngetes kamu tau, apakah kamu bener-bener mau jadi istrinya atau cuman mau rebut hartanya aja. " Ujar Ratih yang seketika membuat perasaan Alisa mencelos mendengarnya.


Alisa bukannya tidak pernah merasa kesal pada Ratih yang terus-terussan mencemoohnya dan menjudge dirinya sebagai gadis penggoda, Alisa hanya menhan diri untuk tidak melawan perempuan itu.


"Ya udah kabur aja sana, menggelandang di jalanan, hahahaha. " Ledek Ratih, perempuan itu benar-benar keterlaluan.


Alisa tidak ingin menanggapinya dan kembali fokus menyelesaikan tugasnya. Tidak berapa lama kemudian Ratih tiba-tiba saja datang ke arahnya lalu meraih kaca yang Alisa pegang dengan tergesa-gesa.


Karena tidak siap dengan hal itu, tangan Alisa justru tidak sengaja melepaskan kaca tersebut hingga kacanya terjatuh ke lantai lalu pecah.

__ADS_1


Brak


Prang


"Astaghfirullah, mbak Ratih? . "Pekik Alisa terkejut dan reflek memundurkan tubuhnya.


Ratih juga sama terkejutnya, namun cepat-cepat perempuan itu berjongkok dan memunguti pecahan kaca tersebut.


" Ada apa ini?. " Tegur suara seseorang yang tiba-tiba saja muncul di pintu dapur.


Alisa dan Ratih kembali terperanjat kaget.


Agus yang baru saja tiba di rumah itu mendengar suara benda jatuh dan langsung menghampiri sumber suara, mendapati Akisa dan Ratih sedang berada di dapur.


"Ah anu tuan Agus, ini nyonya Alisa nggak sengaja mecahin gelas kaca, padahal mbak Ratih udah bilangin nggak usah biar nanti mbak bawain ke kamar aja, tapi nyonya malah maksa buat ngambil gelas sendiri dan malah pecah kayak gini. " Jelas bi Karsih dengan pelan dan lembut seolah-olah yang terjadi barusan murni kesalahan Alisa.


"Hah? Tapi saya kan... " Alisa belum sempat menyelesaikan kata-katanya Ratih segera memotong.


"Aduh Nyonya, mbak Ratih tadi udah bilang nggak usah capek-capek turun dari lantai atas cuman buat ambil gelas, tinggal panggil mbak aja. "


Alisa mengernyitkan kedua alisnya melihat tingkah Ratih yang sedang berakting.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2